|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 30 June, 2008
|
Cita rasa Nusantara di negeri kurma Oleh : AHMAD SYOFIAN
Bisnis restoran makanan Indonesia di Saudi tidak pernah surut dan terus berkembang. Alasannya sederhana, makanan khas Indonesia telah dikenal dan disukai oleh lidah orang Arab Saudi.
MATAHARI baru saja menghilang dari langit Jeddah. Sayup-sayup ter-dengar lafaz-lafaz wirid dari masjid terdekat, pertanda para jemaah baru saja selesai menjalankan Shalat Magrib. Greg..greg...geg.., terdengar suara tirai penutup pintu sebuah bangunan mulai terbuka. Di balik pintu, terlihat seorang pekerja berseragam sedang bergegas membukakan pintu dan kemudian me-nyapa AKSES dengan sopan. Di bagian depan sebelah atas pintu bangunan ini, terpasang tulisan indah berbahasa Arab dan Indonesia dengan warna kuning keemasan dan latar warna merah. Tulisan tersebut sama-sama berbunyi “PUTRI SRIWIJAYA, Indonesian Restaurant. Memang banyak restoran yang menyajikan makanan Indonesia di Arab Saudi. Namun, yang bisa dikategorikan restoran berbintang tidak banyak. Minimal ada dua restoran seperti itu di Jeddah; Jakarta Oriental dan Restoran Putri Sriwijaya. Putri Sriwijaya dikelola langsung oleh pemiliknya, Raden Bakri Aminuddin, seorang WNI asal kota ‘pek-empek’, Palembang. Bersama istri dan 2 anaknya, Bakrie Aminuddin tinggal di Arab Saudi sejak tahun 1984. Ia merintis usaha di bidang restoran sejak pertama kali datang ke Arab Saudi dan pada awalnya hanya bekerja sebagai tukang masak di Restoran milik abangnya yang bernama Restoran Sumatera. Lambat laun, setelah merasa cukup modal dan pengalaman, Bakrie membuka Restoran Putri Sriwijaya ini pada tahun 2006 dengan ijin pendirian menggunakan nama abangnya yang telah mendapatkan kewarganegaraan Saudi. Restoran yang setiap harinya buka setelah Shalat Zuhur sampai jam 1 tengah malam ini, menawarkan aneka makanan Indonesia dari berbagai daerah seperti pek-empek Palembang, Sate Padang dan Madura, nasi goreng, sup buntut, gulai kepala ikan, rawon, nasi ramers, nasi campur, rendang, dll. Meskipun jauh di tanah Arab, soal rasa tidak perlu diragukan lagi. “Saya buat masakan di sini tidak menyesuaikan selera siapa-siapa, tapi berdasarkan standar masakan Indonesia. Kalau mestinya pakai lengkuas, maka harus pakai lengkuas. Jangan sampe, gara-gara Saudi gak mau pedas, lengkuasnya saya kurangi, karena bagi yang suka pedas bisa ambil sambal sendiri”, jelas Bakrie sambil menawarkan satu porsi sate padang dan pempek kepada AKSES. Mmm... Ueenak tenan, cita rasa yang disajikan restoran ini persis sama seperti restoran di Indonesia. Karena meskipun sebagian bahan bakunya dari Jeddah, tapi juru masak dan bumbu-bumbu utamanya didatangkan dari Indonesia. Bahkan untuk sate, arangnya dibawa dari Indonesia, karena lebih bagus dan memiliki aroma bakar yang khas. Menjelang jam makan malam di Saudi yang biasanya antara jam 19.00 – 21.00, beberapa pengunjung mulai terlihat masuk ke restoran. Hampir semua adalah orang-orang Arab yang datang bersama keluarga. Memang, lokasi restoran ini tidak terlalu jauh dengan pantai, sehingga menjadi tempat persinggahan favorit bagi keluarga Arab yang ingin makan angin di pantai Laut Merah. Pada saat musim biasa, di luar high session yang biasanya terjadi pada waktu haji dan musim umroh, pelanggan rumah makan ini kebanyakan (sekitar 70%) adalah orang-orang Saudi, dan sisanya merupakan pengunjung dari berbagai negara. “Alhamdulillah, mantan Presiden Habibie dan ibu, raja Brunei-Sultan Hasanah Bolqiah, Menteri Agama-Maftuh Basyuni dan ibu, dan lain-lain pernah mampir ke restoran saya”, ujar Bakrie bangga. Selain bercerita tentang makanan favorite tamu-tamu VIP tersebut, Bakrie juga menjelaskan bahwa orang-orang Arab ketika datang ke tempatnya suka memesan sate, dendeng, nasi campur, nasi goreng dan rendang. Kebiasaan konsumen Saudi lainnya terutama yang datang bersama keluarga adalah mereka menginginkan ruangan khusus tertutup. Untuk itu, restoran Putri Sriwijaya menyediakan ruangan yang bersekat khusus memenuhi permintaan tersebut di lantai 2. Konsumen Saudi juga terkenal sangat peka dan lebih percaya pada cerita yang didengarnya langsung dari pengalaman sahabat-sahabat mereka. Oleh karenanya, “selain promosi restoran lewat koran Arab, yang lebih utama promosi dilakukan dari mulut ke mulut. Untuk itu, saya servis para pengunjung semaksimal mungkin agar mereka dapat cerita kepada temannya, Alhamdulillah berhasil” ujar Bakrie. Tentang pendapatan, omzet restoran Bakrie terus meningkat sejak dibuka. Dengan penjualan sekarang perhari yang bisa mencapai 5 – 6 ribu SR (Rp. 13 juta – 16 juta), Bakrie mampu menggaji 16 orang karyawan antara 1400 – 2000 SR (Rp.3,5 juta – 5 juta) belum termasuk service / tip charge perbulan. Peluang usaha makanan khas Indonesia sangat terbuka di Jeddah Untuk itu, saran Bakrie, langkah pertama hendaknya mencari partner yang berkewarganegaraan Saudi agar dapat mengajukan ijin pembukaan restoran. Persaingan restoran di Jeddah memang agak ketat terutama dengan restoran-restoran asing dari negara-negara seperti China, India dan Thailand. Namun, masing-masing restoran memiliki konsumen yang jelas. Untuk masakan Indonesia, Bakrie percaya bahwa cita rasa Indonesia lebih disukai oleh lidah orang-orang Saudi, karena sejak dahulu masyarakat Indonesia sudah memperkenalkan makanan khas Indonesia seperti rendang, dendeng, sate, dll. Ditanya tentang kendala, Bakrie yakin belum menemukan kendala yang berarti. “Asal kita menjaga kebersihan, menjaga mutu masakan yang harus selalu baru maka kita selamat”, jelas Bakrie. Selain itu, Bakrie juga memuji kinerja para pejabat kesehatan Jeddah. “Kotapraja disini langsung memeriksa higienitas makanan; dari dapur, membuka kulkas dan melihat tanggal kadarluarsa bahan makanan, dll”, ujar Bakrie. Berbeda dengan Indonesia, makanan di Saudi tidak boleh dipajang terbuka. Makanan tersebut harus ditutup, baru dan selalu panas. Pemeriksaan ini terkait dengan perpanjangan Ijin setiap dua tahun, atau bahkan jika ditemukan masalah, restorannya akan langsung didenda atau ditutup.
Nah,
inilah langkah sukses yang patut direnungkan, apalagi di tanah suci yang
sudah tentu mempunyai berkah.
|