|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 June, 2008
|
Oleh : AHMAD SYOFIAN
Produk makanan dan bahan makanan Indonesia ternyata mempunyai pasar yang sangat menjanjikan di Arab Saudi. Indomie, krupuk, sambal ABC sampai biskuit dari Indonesia telah mengisi sebagian besar dapur rumah tangga penduduk Arab Saudi. SUHU udara yang panas di Jeddah membuat banyak orang enggan untuk keluar ruangan ber-ac pada siang hari. Terik matahari, debu berterbangan dan hingar–bingar bunyi mesin kendaraan roda empat turut menambah suasana gersang di sepanjang jalan Khalid bin Walid di kawasan As-Sharafiyah, Jeddah. Dulu kawasan As-Sharafiyah ini dikenal oleh pendatang-pendatang Indonesia sebagai ‘Kampoeng Melayoe’, karena banyaknya warga asing terutama yang berasal dari Indonesia, Philipina dan Thailand bermukim di kawasan ini. Ratusan kepala keluarga WNI yang tinggal disini rata-rata adalah pekerja di bidang formal dan semi formal seperti; perusahaan listrik, guru, pegawai KJRI, sopir dan pekerja-pekerja lainnya. Konsulat RI Jeddah juga pernah berkantor di sekitar kawasan ini. Konon, sebelum dipugar lima atau enam tahun lalu, ada pagar yang melingkari kawasan tersebut. Oleh Pemerintah Saudi, rumah-rumah di kawasan ini, sekarang telah dipugar menjadi apartemen kelas menengah yang dapat disewa dengan harga rata-rata 300 dolar AS perbulan. Sampai kini, sebagian besar penghuninya tetap orang-orang Indonesia dan beberapa warga negara asing lainnya seperti Turki, India, Bangladesh, Philipina dan sedikit Malaysia.
Toko Indonesia Di sepanjang kawasan ini, berjejer lebih kurang 25 toko yang menjual produk-produk Indonesia (jumlah toko serupa di Jeddah berjumlah + 200an). Semua milik warga Arab Saudi, namun para penjaganya adalah orang-orang Indonesia. Hal ini dikarenakan untuk mendapatkan ijin, bisnis tersebut harus menjadi milik warga negara Arab Saudi. Untuk itu, jika pengusaha Indonesia tertarik berbisnis di Saudi, maka dia harus mendapatkan partner warga negara Saudi dan kemudian ijin pendirian bisnisnya akan diberikan atas nama partner warga negara Saudi ini. Produk-produk Indonesia memiliki konsumen yang banyak dan cenderung meningkat. Tidak hanya karena konsumennya berasal dari masyarakat Indonesia yang ada di Saudi (+ 600 ribu WNI legal di Arab Saudi), tetapi juga saat ini, selera dan cita rasa Indonesia mulai digemari oleh orang-orang asli Saudi. Banyak yang bilang, orang Saudi bahkan lebih dulu kenal masakan Indonesia dari pada masakan negara lain seperti China dan Thailand. Hal ini berkat hubungan dan ‘kontak-kontak’ kebudayaan antara nenek moyang Indonesia yang pergi haji dengan warga Mekkah dan Madinah. Jemaah haji Indonesia, karena berbulan-bulan meninggalkan tanah air, membawa bekal makanan dan bumbu-bumbu asli Indonesia untuk dimasak selama di perantauan. Merekalah yang pertama kali memperkenalkan makanan Indonesia kepada masyarakat Mekkah dan sekitarnya, yang tentu saja pada waktu itu ladang minyak Saudi belum ditemukan dan ekonominya belum semakmur sekarang. Menurut Ridwan, salah seorang penjaga Toko Singaparna yang berlokasi persis di dekat persimpangan masuk Jalan Khalid bin Walid kawasan As-Sharafiyah tersebut, tokonya sangat ramai dikunjungi oleh para pembeli, tidak hanya orang-orang Indonesia, tapi juga warga negara lain termasuk warga negara Saudi. Bagi WNI di sana, kedatangan mereka ke toko Ridwan tentu saja untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Memang, tidak hanya shampoo, sabun dan perlengkapan mandi lainnya yang berasal dari Indonesia, tetapi juga makanan khas Indonesia mulai dari berbagai jenis kerupuk dan emping melinjo, sampai dengan ikan asin, tempe, tahu, mie, bumbu-bumbu rendang, rawon, soto, aneka minuman ringan (teh kotak, kacang hijau, buavita) dan sarden tersedia di toko tersebut. Di saat AKSES bertandang ke Toko Singaparna, kelihatan banyak pengunjung yang keluar masuk. Beberapa dari yang datang adalah orang-orang Indonesia. Namun, dari raut dan tampilan yang lain, jelas adalah orang-orang Arab. Pengunjung berpenampilan Arab ini membeli beberapa bungkus kacang, coklat dan emping melinjo serta sekardus (isi 40 bungkus) mie merek Indonesia. Tidak berapa lama rombongan ini pergi, masuk orang-orang Arab lainnya untuk berbelanja. Menurut Ridwan, tokonya memang tidak pernah sepi. Karenanya, jangan heran kalau dalam satu bulan perputaran uang toko tersebut mencapai 300 ribu SR (+ Rp 780 juta) dengan keuntungan berkisar 10 – 15%. Saingan produk makanan Indonesia ternyata kebanyakan dari Thailand, seperti produk buah olahan, sardines, dan lain-lain. Diakui oleh penjaga beberapa toko Indonesia di sana, harga produk Thailand murah dan mudah didapat. Sedangkan Indonesia, meskipun mempunyai banyak macam, tapi kualitas relatif kurang baik dan jaminan kontinuitas / keberlanjutan supply produk kurang stabil. Anehnya pula, beberapa produk Thailand menggunakan merek asli Indonesia, seperti ‘beras Pandan Wangi’ guna menarik perhatian pembeli yang berminat dengan produk Indonesia. Produk makanan
Orang Saudi suka sekali kerupuk. Hal ini terbukti, pasar Saudi dapat menyerap penjualan kerupuk Indonesia sekitar 10-12 kontainer (1300 ton) per tahun dan SBTC menjual 2/3 dari jumlah tersebut. Senada dengan Bawazier, Bambang Gunawan, Manajer Pabrik Pinehill Arabia Food Limited, sebuah pabrik mie yang didirikan secara patungan oleh PT. Indofood-Indonesia dan SBTC-Jeddah milik Bawazier, juga mengungkapkan bahwa pasar Timur Tengah sangat menyukai mie Indonesia. Dalam satu bulan, pabriknya bisa menghasilkan + 50 juta bungkus Indomie. 50-60% mie tersebut dipasarkan di Saudi dan sisanya diekspor ke negara-negara Timur Tengah lainnya (Irak, Aljazair, Yordania, Kuwait, Oman, Bahrain, Mesir dan Sudan). Tentang harga, produk Indonesia sangat kompetitif. Harga mie di tiap-tiap toko Indonesia bermacam-macam, mulai dari 5 SR - 10 SR / bungkus (+ Rp 13.000 – 26.000), dan emping melinjo dapat dibeli dengan harga 12 SR – 15 SR / paket 0,5 kg (+ Rp 30.000 –45.000). Namun seperti yang dijelaskan oleh Faisal Bawazier, “harga tidak masalah bagi konsumen Arab Saudi, mereka akan beli berapapun itu, asalkan produk tersebut adalah sesuatu yang mereka sukai dan berkualitas baik”. Untuk itu, saran Faisal, “eksportir makanan Indonesia hendaknya dapat mengetahui tuntutan dan selera pasar Arab Saudi, yang antara lain suka kemasan dengan warna-warna cerah dan menarik, berukuran besar/jumbo, dan rasa agak sedikit pedas”. Di samping itu, selain kualitas produk harus terjamin baik dan dapat bertahan lama, orang Arab harus yakin bahwa produk tersebut merupakan bagian dari makanan Arab alias bukan makanan asing yang ‘di-Arab-kan’. Oleh karena itu, lanjut Faisal, “kata-kata pada kemasan produk makanan Indonesia hendaknya tidak hanya sekedar diterjemahkan dalam bahasa Arab atau ditulis dengan huruf Arab, tetapi juga kalau perlu meng-Arab-kan namanya sehingga terasa lebih dekat di telinga konsumen Arab”. Seperti yang lainnya, Faisal Bawazir optimis pangsa pasar produk makanan Indonesia memiliki harapan yang baik di Arab Saudi. Selain kerupuk dan emping Melinjo, produk Indonesia lainnya seperti santan dan biskuit dipastikan dapat merebut selera pasar Arab Saudi. Namun sayang, saat ini kedua produk terakhir tersebut diimpor dari Thailand dan Malaysia. Kesempatan juga datang akibat keraguan konsumen terhadap makanan dari China. “Sekarang makanan dan produk lain-lain dari China sedang diragukan oleh konsumen Saudi. Ini kesempatan Indonesia, untuk bersaing lagi seperti dulu,” jelas Bawazir mantap. Namun demikian, dia mengharapkan, upaya menembus pasar Saudi perlu dukungan dari semua pihak termasuk harus lebih gencar lagi melakukan promosi seperti tahun-tahun silam. “Indonesia dulu-dulu masih nampak di pameran, sekarang jarang dan berkurang. Promosi punya pengaruh langsung agar para konsumer dan retailer bisa lihat produk kita,” aku Faisal. Dia juga menyayangkan mengapa sekarang Indonesia tidak punya ITPC (Indonesian Trade Promotion Centre) dan HIP (House of Indonesian Product) di Jeddah yang dulu sempat ada. Namun demikian, meskipun Indonesia memiliki banyak peluang dan harga produk makanan Indonesia selalu dapat bersaing, ada beberapa hal yang membuat negara-negara lain enggan mengimpor dari Indonesia. Faisal menambahkan, “jaminan ketersediaan supply atau keberlanjutan pengiriman barang (kontinuitas), pelayanan (service), urusan pengapalan (shipping), administrasi pemerintah yang berbelit-belit, dan lain-lain selama ini telah membuat orang tidak yakin untuk mengambil barang dari Indonesia”. Lanjut Faisal, “beruntung pihak saya mempunyai induk perusahaan di Indonesia (Indofood), yang dapat menyelesaikan semua kendala ini. Bayangkan orang yang tidak punya mother company yang dapat bertanggung jawab untuk itu di Indonesia, pastinya mereka akan merasa enggan mengimpor barang dari Indonesia karena membayangkan kesulitan yang dihadapi”.
Walau
bagaimanapun, masalah ini tentunya akan dapat teratasi jika ada
keseriusan dan ketekunan para pelakunya. Untuk itu, Faisal Bawazir juga
memberikan saran kepada UKM yang berminat melakukan ekspor ke Arab
Saudi, “yang paling penting adalah siapa yang menjadi distributornya
di Saudi. Kalau tidak memiliki distributor, siapa agen
penjualannya di sini”. Faisal yakin bahwa keberhasilan para distributor
Saudi adalah keberhasilan penjualan eksportir Indonesia. Oleh karena itu,
bagi Faisal, “cari cara agar mendapatkan distributor yang tepat
di Saudi. Salah satunya adalah perkenalkan produk
Anda
melalui pameran”.
|