HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI IV 2007

Berbisnis ke India

Oleh: Garnijanto Bambang Wahjudi

 

India kini kian menjadi titik perhatian dunia, bukan saja karena penduduknya banyak atau teknologi nuklirnya semakin berkembang, tetapi pertumbuhan ekonomi India membuat kagum banyak orang. Banyak negara atau orang yang ingin berhubungan dagang dengan India. Namun bila ingin berhubungan dagang dengan mereka, persiapkanlah diri dengan baik dan bersabar. Beberapa orang yang pernah berhubungan bisnis mengingatkan untuk memahami yang namanya “Indian Standard Time” atau dapat diterjemahkan sebagai “Waktu ala India”. Sebuah survey menyebutkan bahwa dalam kehidupan bisnis seharí-hari dibandingkan negara lain, budaya lambat, penangguhan atau ada gangguan penyaluran pesanan merupakan hal biasa. Beberapa pengusaha mengatakan bahwa dunia pebisnis India seolah kurang memiliki kepekaan terhadap perlunya “kesegeraan atau kecepatan” bila dibanding dengan negara lain. Tapi mungkin itu adalah salah satu sifat kehati-hatian walaupun mereka dikenal mudah memberi janji muluk-muluk yang diumbar setiap hari tetapi lambat memenuhi janjinya.

Memulai hubungan bisnis, sama seperti yang lazim dilakukan para pebisnis, dapat dilakukan dengan mengirim surat ataupun faksimil kepada perusahaan-perusahaan yang tampak prospektif. Dalam surat tersebut perkenalkan langsung nama dan jenis usaha Anda serta jelaskan alasan Anda menyurati mereka. Tujukan surat pertama ke pimpinan tertinggi atau salah satu kepala departemen di perusahaan tersebut. Misalkan Anda ingin mengekspor barang Indonesia, tujukan surat tersebut kepada General Manager atau Managing Director. Bila surat di kirim melalui faksimil, jangan terlihat bahwa surat tersebut dikirim sekaligus kebeberapa perusahaan lainnya sehingga terkesan murahan. Satu surat dikirim khusus untuk satu perusahaan sehingga terlihat elegan dan menghormati si penerima surat. Kemudian tidak lanjuti surat tersebut dengan hubungan per-telepon atau bila memungkinkan dengan suatu kunjungan bisnis untuk perkenalan yang lebih dalam.

Perkenalan sudah terjalin, informasi lingkup usaha sudah saling diketahui dan kesepakatan untuk saling berbisnis juga sudah mulai terbuka maka jangan lupa usahakan untuk selalu membuat kontrak bisnis secara tertulis, lengkap dan jelas pada setiap transaksi perdagangan yang dilakukan. Ini adalah untuk saling melindungi masing-masing pihak dari berbagai salah penafsiran dalam bertransaksi dagang. Juga untuk melindungi diri bila terjadi perselisihan pendapat dan harus maju ke meja pengadilan dagang atau lainnya. Sebagai pebisnis, juga harus siap bila tiba-tiba suatu saat terjadi penunggakan pembayaran akhir. Artinya termin pembayaran awal sudah kita terima, barang sudah dikirim penuh kepada mereka, namun pembayaran pelunasan tak kunjung tiba. Hal ini dapat terjadi dengan siapa saja dan kadang terjadi. Untuk amannya, dalam transaksi ekspor import gunakan jasa perbankan melalui fasilitas Letter of Credit (LC).

 Kenalilah budaya India

Untuk memudahkan pergau-lan bisnis dengan mereka, ada baiknya kita banyak membaca cerita budaya India. Baik itu budaya kehi-dupan sosial seharí-hari, kehidupan kota dan pedesaan, agama ataupun cerita-cerita humor tentang mereka. Hal-hal ini sedikit banyak akan mempercepat dalam mengenal budaya dan karakter mereka sehingga mudah memahami mereka saat berhadapan langsung dalam suatu pertemuan sosial ataupun pertemuan bisnis.

Ada cerita dari seorang Amerika yang hampir putus asa melakukan bisnis di India. Setelah berhari-hari melakukan beberapa kali perundingan bisnis untuk menuju kesuatu kesepakatan transaksi, mereka belum juga dapat memutus kata akhir. Banyak sekali pertanyaan dan diskusi yang diajukan sehingga si orang Amerika mulai beranggapan mereka tidak serius dan kurang mampu. Setiap mendekati keputusan akhir dalam rapat harus selalu dikonsultasikan dengan pejabat senior yang lebih tinggi hingga banyak membuang waktu. Bagi si orang Amerika hal diatas dianggap tidak logis karena baginya pebisnis dipacu untuk bekerja efisien, tepat waktu, tepat janji dan di kejar-kejar oleh deadline. Jadi baginya segala sesuatu harus cepat dan dipenuhi sesuai rencana kerja.

Bagi si orang India, ditekan atau kita terlalu agresif meminta untuk cepatcepat memutus sesuatu atau harus bekerja cepat dapat menjadikan mereka tersinggung karena menganggap lawan bisnis mereka tidak menghormatinya. Jadi sebaiknya kita kenali budaya mereka karena budaya dapat membentuk karakter seseorang dalam berinteraksi dengan bangsa lain.

Sekali-kali ada baiknya kita mengenal pebisnis India sebagai seorang pribadi atau individu. Jadi kita undang mereka untuk makan pribadi siang atau malam. Bila kita diundang pribadi ke rumah, ada baiknya kita membawa sesuatu sebagai oleh-oleh atau hadiah semisal sekaleng permen, coklat atau bouquet bunga. Ini semua untuk membangun rasa saling percaya kedua belah pihak. Orang India sangat menghormati siapapun yang menghargai keluarganya dan jangan heran bila keluarga adalah nomor satu dan dapat mendahului kepentingan bisnis.

Didalam rapat atau grup diskusi, hanya orang yang tersenior yang boleh bicara, tetapi itu tidak berarti yang lain menyetujui pendapatnya. Peserta lainnya akan lebih memilih diam untuk memperlihatkan rasa hormatnya atau berusaha untuk menghindarkan diri dari memperlihatkan ketidak sukaan. Mengkritik ide seseorang atau kerja seseorang harus dilakukan dengan konstruktif tanpa melukai perasaan dan harga diri seseorang. Mereka sangat menghormati serta patuh pada atasan atau hirarki dalam jabatan di pekerjaan. Bagi orang India yang enggan atau malu mengatakan kata “Tidak” secara langsung, akan menjawab bahwa dia akan mencoba mengusahakannya. Bila kelak tidak ada hasil atas apa yang harus dipenuhinya, janganlah kaget.