|
Edisi XI APRIL 2009
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 01 May, 2009
|
Bau rendang di lautan Pasifik Oleh : Sulastriningsih
Walaupun biaya hidup sangat tinggi, ceuk Yayah berhasil mengatasinya dengan memikat selera penduduk melalui masakan tanah air. Kerja keras itu ternyata berbuah hasil lumayan untuk jalan-jalan keliling dunia dan investasi properti di kampung halaman.
Urusan perut adalah masalah yang paling utama bagi turis dari Indonesia bila berkunjung ke luar negeri. Kekuatiran mencari makanan yang sesuai dengan lidah bahkan lezat seperti masakan ala Indonesia sangat sulit dijumpai, kalaupun ada restoran atau warung Indonesia jauh dari jangkauan. Tapi bila berkunjung ke Noumea, New Caledonia anda dijamin tidak akan susah menemui masakan Indonesia. Beberapa orang Indonesia yang sudah lama menetap di Noumea membuka restoran Indonesia. Ceuk Yayah adalah salah satu diantaranya, yang telah merintis usahanya sejak tahun 1994. Awalnya hanya karena menyalurkan hobi memasak untuk bertahan hidup di Noumea. Meskipun sudah tinggal di Noumea lebih dari 15 tahun, wanita asal Cimahi Jawa Barat ini tahu cara mengatasi biaya hidup di New Caledonia yang terbilang mahal. Menurut hasil survey tahun 2005 harga barang-barang termasuk makanan di Noumea 65% lebih mahal daripada Paris ( pasti tidak ada yang percaya kalau belum menginjakkan kakinya ke Noumea). Ia bersama suaminya yang warga negara Perancis dibantu anaknya membuka rumah makan yang diberi nama La Balinaise, terletak tidak jauh dari pusat kota, kurang lebih 10 menit dengan mobil dari Konsulat Jenderal RI di Noumea. Sesuai namanya rumah makan ini banyak memakai asesoris dari pulau Dewata. Para pelanggannya dapat dibilang cukup banyak yang kebanyakan orang kulit putih alias Perancis atau asing lainnya baik dari kalangan biasa sampai pejabat. Tentunya termasuk warga negara Indonesia dan keturunannya yang berjumlah sekitar 10 ribu orang lebih. Pada hari biasa tidak kurang dari 100 pengunjung mendatangi Restoran La Balinaise ini. Setiap hari buka pagi jam 10.00 s/d jam 14.00 dan sore jam 18.00. s/d jam 21.30, kecuali hari Minggu dan hari Senin libur. Keuntungan? “Bisalah buat jalan-jalan ke luar negeri sekeluarga, dan bahkan bisa investasi properti di tanah air” ujar ceuk Yayah. Makanan yang disajikan cukup komplit mulai nasi goreng, rendang, ikan asem manis, opor ayam, ayam goreng, udang masak kare sampai gado-gado juga ada. Harganya bervariasi namun rata-rata 15 s/d 20 US$ belum termasuk minum. Kursi untuk pelanggan diletakan di taman cukup nyaman untuk bersantai sambil menikmati pemandangan kota Noumea yang asri. Rasa masakannya cukup lumayan, setidaknya dapat mengobati kerinduan akan makanan kampung halaman. “Tantangan yang kami hadapi pada awal buka rumah makan ini cukup berat juga, namun dengan ketekunan, kerja keras dan keyakinan pada sang Khalik akhirnya bisa bertahan sampai sekarang” kata pemilik Restoran yang selalu ramah menyapa para pelanggannya ini. Dan satu lagi kiat ceuk Yayah adalah selalu menyisihkan sebagian rejekinya untuk zakat yang dikirim ke kampung halamannya di Jawa Barat. Ia merasa puas dan senang dapat membantu saudaranya di Indonesia. Yayah berkeinginan kira-kira 6 tahun lagi ia beserta suami akan kembali ke Indonesia untuk membuka usaha di Jawa Barat, sedangkan Restoran La Balinaise ini akan diteruskan dan dikelola oleh anaknya yang sekarang sudah berkeluarga. (kita doakan mudah-mudahan terkabul). Sulastriningsih, staf KJRI Noumea
|