|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
SALAH satu kiat ekspansi bisnis, sebaiknya jangan terpaku pada kekuatan purchasing saja, melainkan juga memperhatikan faktor selera, desain, warna, dan ukuran.
Misalnya batik, baik untuk pria maupun wanita. yang laku dan digemari di komunitas Afrika pada umumnya bermotif cerah (ngejreng), seperti batik Pekalongan. Warna-warna cerah memang tak terpisahkan dari sebgaian besar bangsa Afrika. Tengoklah lambang dan bendera beberapa negara Afrika yang juga berwarnawarni, cerah, dan mencolok.
Motif batik tradisional dan konservatif, seperti batik Yogya dan Solo yang cenderung kalem dan dihiasi lukisan abstrak, kurang diminati.
Dari segi kualitas, batik yang disukai justru batik printing/cap di mana bolak-balik motifnya sama dan bukan terbuat dari bahan sutra atau batik tulis.
Yang disukai biasanya corak naturalis, dari dunia flora dan fauna. Untuk ukuran , umumnya konsumen batik di Afrika di atas triple-L, yaitu 4L, 5L. Demikian pula untuk wanitanya pada umumnya mempunyai lingkar dada/bust antara 110-120, lingkar pinggang antara 90-110/waist, dan lingkar pinggul/hip antara 110-125. Dalam konteks ini, persepsi kecantikan wanita bagi sebagian komunitas Afrika terletak pada keindahan bust dan hip.•
Furnitur menyiasati iklim
Untuk itu, para eksportir furnitur dan instansi teknis terkait perlu mengkaji ulang dan mengadakan kerjasama sinergis pola pembinaan kualitas produk untuk kepentingan bisnis jangka panjang. Segmen pasar dan daya beli di Afrika juga variatif sesuai dengan status sosial dan kemampuan ekonomi. Komunitas kulit putih cenderung membeli barang berkualitas, meskipun dengan harga relatif lebih mahal, karena memiliki daya beli cukup tinggi.
Furnitur yang disukai pada umumnya bermotif klasik, tradisional, dan mempunyai nilai seni dengan warna natural, seperti ukiran dari Jepara dan Bali. Adapun komunitas kulit hitam dan komunitas color/blasteran, karena daya beli relatif rendah cenderung berorientasi pada harga yang lebih murah, dengan konsekuensi mutu mutu lebih rendah. Dari sisi desain, selera terbagi. Sebagian menyukai furnitur seperti motif Madura yang berwarna-warni dan sebagian lagi model furnitur kotemporer. Untuk pasar Afrika, furnitur kantor sistem knock down lebih disukai, sedangkan untuk furnitur rumah tangga pengepakan utuh. Selain itu, komunitas kulit putih juga menyukai perabotan rumah tangga dari besi, khususnya untuk taman/garden furniture.
Penutup kepala perempuan Afrika Oleh : Catherine PANJAITAN
Pada waktu penyelenggaraan KTT Asia Afrika di Jakarta tahun lalu, para peserta konferensi dari negara-negara Afrika sempat mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan. Mereka sangat tertarik dengan produk busana muslim kita, karena model yang ditawarkan sangat banyak dan beragam. Mereka beranggapan, model busana muslim di negerinya sangat ketinggalan zaman dan monoton. Tentunya, ini kesempatan emas bagi para pengusaha busana muslim untuk menembus negara-negara di kawasan Afrika sebagai tujuan ekspor mereka. Di sana, setiap kali penyelenggaraan pergelaran mode busana muslim selalu mendapatkan antusiasme dari pengamat mode dan masyarakat peminat busana. Pergelaran mode merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih pasar Afrika. Salah satu yang menarik dan perlu mendapatkan perhatian adalah kebiasaan perempuan Afrika yang sangat menyenangi warna-warna berani, atau islilahnya ‘’ngejreng’’. Semakin kaya warna-warni berani, maka ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka sebagai pusat perhatian.
|