HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi IX JUNI 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 02 Juli, 2008

 

 

 

 

Warung Indonesia di Balad

 

Oleh : DJOKO AGOENG RAHARDJO*

 

 

Bagi jamaah haji atau umrah Indonesia, nama Balad tidaklah asing. Tempat ini menjadi salah satu tujuan kunjungan wajib mereka yang ingin membeli oleh-oleh buat sanak saudara dan tetangga di tanah air.

“Barang bagus barang murah, silahkan mampir”. Demikian terde-ngar sapaan penjaga toko ketika melihat orang Indonesia yang berbelanja di daerah pertokoan di kota Al Balad, Jeddah.

Pak Mansur, salah satu jemaah umrah dari Jakarta yang sering  bolak-balik ke Tanah Suci, sambil bercanda mengatakan “rasanya nggak afdhol kalau nggak tawaf  ke Balad”.

Karena banyak warga Indonesia yang senang berbelanja, maka ada beberapa pengusaha setempat asal Bangladesh yang pandai melihat peluang dan kesempatan untuk meraup rejeki dari kocek “wisatawan religi” Indonesia ini. Tengok saja di dekat Chorniche Commercial Center yang juga jadi salah satu pusat keramaian di wilayah Balad.

Ada Toko Ali Murah, Toko Kurma Gani Murah, Toko Karpet Noor Murah dan kios-kios lainnya yang memakai nama depannya Toko dan di belakangnya kata Murah. Untuk menarik pelanggan penjaga toko juga menawarkan kemudahan kepada calon pembeli dapat membayar dengan rupiah. Sehingga orang yang tadinya tidak ingin membeli, akhirnya merogoh sakunya.

Namun tidak banyak “wisatawan religi” Indonesia mengetahui latar belakang Balad yang merupakan cikal bakal berdirinya kota Jeddah. Al Balad kalau diterjemahkan artinya “kota”.  Al Balad adalah kota tua di distrik Al Ammariyah, Jeddah yang di bangun di pinggir laut Merah sebagai kota nelayan yang berusia 2500 tahun.

Sampai saat ini di Balad, masih banyak dijumpai bangunan-bangunan antik dengan ciri-ciri khas yang tidak dijumpai di kota-kota lainnya. Kondisi dan bentuk bangunan di wilayah Balad ini, oleh pemerintah Saudi Arabia tetap dipertahankan seperti apa adanya. 

Dinding bangunannya tidak tegak lurus, seperti kebanyakan bangunan modern. Kemungkinan orang yang membangunnya tempo dulu tidak mengenal dan menggunakan bandul, sehingga bentuknya tidak beraturan.

Ada yang miring ke kanan dan ada yang miring ke kiri. Kekhasan lainnya adalah jendela dan balkon yang terbuat dari kayu dan tertutup sekat berlobang selain sebagai ventilasi juga untuk melihat. Balkon ini seolah-olah menyatu dari lantai bawah sampai atas. Jalan antara rumah satu dengan lainnya juga sempit bahkan ada yang lebarnya seperti gang-gang di kampung.

Kini Balad berkembang menjadi pusat kota Jeddah dan sebagai pusat perdagangan, baik untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga maupun barang-barang lainnya. Banyak perusahaan besar berkantor pusat di Balad, demikian juga toko-toko yang menjual pakaian atau barang fashion dengan merk ternama dapat dijumpai. Silahkan buktikan sendiri.

 * Konsul ekonomi KJRI Jeddah

 

 

 

 

Menyusuri sungai Mekong di Laos

Oleh: KUSWANDI

 

Sebagai sungai terbesar yang membelah negara Laos, Sungai Mekong juga menjadi sumber inspirasi bagi kegiatan kebudayaan dan kerohanian yang unik.

DI TEPIAN Sungai Mekong, sudah menjadi ritual tahunan masyarakat Laos khususnya di ibu kota Vientiane untuk menggelar serangkaian kegiatan festival. Salah satunya yang paling besar adalah Mekong River Festival di tiap bulan Oktober bersamaan dengan datangnya musim dingin di negeri seribu gajah ini.

Festival yang berupa pertandingan balap perahu ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat Laos, yang mayoritas beragama Budha, kepada Sang Maha Pencipta karena telah memberikan mereka Sungai Mekong atau juga disebut dengan “Great River” atau “Khong, Mother of Waters”.

Sungai yang terbesar di Asia Tenggara ini memiliki panjang total 4200 km. Laos yang mendapatkan bagian terbesar dari keseluruhan Sungai Mekong sangat memandang penting sungai ini dan terekspresikan dari gambar strip biru pada bendera nasional mereka.

Sungai Mekong yang juga mengaliri China, Myanmar, Thailand, Kamboja dan Vietnam telah menjadi jantung kehidupan penduduk Laos, selain juga sumber transportasi dan komunikasi. Oleh karenanya, Mekong disebut dengan ‘Laut Laos’, walaupun negara ini land-locked.

Di samping festival di atas, di tiap bulan November juga diselenggarakan That Luang Fair di sekitar kuil That Luang di pinggiran Sungai Mekong. Yang paling menarik untuk ditonton adalah festival lampion lai heua fai (festival terang bulan) yang digelar di sekitar kuil Budha yang berumur 500 tahun ini.

Selama festival berlangsung, rumah-rumah dan kuil-kuil disemarakkan dengan kerlap kerlip dari hiasan-hiasan lampion (atau khom fai). Pengunjung dapat menyaksikan lampion-lampion dihanyutkan ke sungai.

Di That Luang juga ada sebuah ritual menarik yang dapat disaksikan para pengunjung, yaitu prosesi morning alms atau pemberian makan bagi para biksu. Menurut ajaran Sang Budha, para biksu dilarang untuk memasak makanannya sendiri. Untuk itu, setiap jam 6 pagi, mereka berbaris di depan kuil tempat tinggal mereka dan mulai berjalan di sepanjang jalan-jalan di kota untuk menerima sedekah yang berupa makanan.

 

Berlayar di  sungai

Mau menjajal atraksi lainnya di Sungai Mekong? Cobalah menyusuri sungai dengan kapal-kapal pesiar kayu yang khusus disediakan untuk para pelancong. Kapal ini melayani rute berlayar dari Huai Say (perbatasan Laos dan Thailand) melewati Luang Say di dekat kota kecil Pakbeng hingga ke kota kuno Luang Prabang.

Jika merasa penat setelah berlayar, maka tersedia sarana pijat tradisional Khmu yang berguna untuk memulihkan kesegaran badan. Khmu adalah teknik pijat warisan dari suku Khmu – salah satu etnis terbesar di Laos – yang berdiam di daerah perbukitan sebelah utara.

Cara memijatnya dipusatkan pada bagian punggung yang biasanya terasa letih setelah bekerja di ladang-ladang daerah pegunungan. Klinik Khmu ini sangat populer dan begitu menjamur di pusat-pusat atraksi turis, khususnya di pinggiran Sungai Mekong.

Selain berjalan-jalan menyusuri sungai Mekong dan menikmati khmu, cobalah juga untuk mengitari kota Vientiane yang hampir seluruh bangunan tuanya – baik yang peninggalan Perancis maupun kuil-kuil Budha berusia ratusan tahun – terawat dengan apik. Di kala malam, nuansa tradisional dan keindahan di kota ini pun masih begitu terasa.

Keramaian pengunjung tidak hanya terpusat pada festival di sungai. Di sekitar area kuil That Luang diselenggarakan semacam bazaar atau pasar malam selama tiga hari berturut-turut di bulan November. Para wisatawan sangat menyukai aneka cinderamata khas Laos yang dijual di pasar malam ini. Khom fai adalah yang paling diminati di antaranya. Pasar malam yang lebih meriah juga dapat ditemukan di kota Luang Prabang yang terletak di muara Sungai Mekong.

Sambil menyusuri sungai dan berbelanja di pasar malam, pengunjung dapat berwisata kuliner di pinggir jalan sekitar kuil, khususnya di dekat gedung parlemen Laos. Berbagai makanan khas Laos dijajakan sedemikian rupa di talat laeng alias kedai petang hari.

Mulai dari aneka ikan sungai (jeun pa atau ping pa), panggang ayam (ping kai), panggang hati, hingga krupuk kulit kerbau (nang nyam), dendeng kerbau, dan tumis sayuran (khua pak baw). Di ujung-ujung gang sekeliling ibu kota Vientiane juga punya kedai makan (han khai foe) yang menyediakan fasilitas makan di tempat atau dine-in. Biasanya mereka menyodorkan satu spesialisasi saja dengan aneka lauk. Semua siap dinikmati.

Jika melancong ke Laos, jangan melewatkan kesempatan untuk menyusuri Sungai Mekong. Masih banyak lagi keunikan dan keindahannya yang dapat ditemukan dan layak untuk dinikmati.