HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi IX JUNI 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 02 Juli, 2008

 

 

 

 

 

                                                                                   Oleh : NOVIYANTI NURMALA

 

Mungkin pepatah kuno yang berbunyi, ”If you don’t use it, you will lose it” bisa menggambarkan keseriusan Benny Bahana Dewa dalam asah otak alias belajar. “Untuk pengembangan diri, pada setiap tugas penempatan di luar negeri saya selalu menyempatkan untuk bersekolah” ungkap pria yang pernah menjalankan tugas di benua Amerika dan Eropa ini.

Bekerja sekaligus menimba ilmu bukanlah perkara mudah. Bisa-bisa urusan pekerjaan malah jadi amburadul. Tapi tidak demikian bagi lulusan S-2 Ekonomi Manajemen, Vrije Universiteit Brussel ini. Jabatannya sebagai  Sekretaris Ditjen Amerika dan Eropa (Amerop) dengan segudang aktivitas tidak menghalangi tekadnya meneruskan ke jenjang S-3 Kajian Wilayah Eropa di Universitas Indonesia. ”Niat saya kuliah bukan untuk karir, tapi lebih ke arah intellectual  exercise supaya nantinya tidak pikun”, ujarnya dengan mimik serius.

Tak puas ’makan bangku kuliah’, kegiatan belajarnya pun diteruskan di kantor. Disela-sela kesibukannya berkutat dibidang koordinasi substansi, perencanaan dan keuangan, pria yang hobi fotografi dan jalan-jalan ini melahap banyak literatur. ”Sekarang dengan agak terpaksa saya memang harus banyak membaca”, jelasnya sambil tertawa.  Mungkin itu sebabnya pria kelahiran Yogyakarta ini selalu sediakan waktu untuk menjambangi perpustakaan kecil di lingkungan Sekretariat Amerop. ”Bukunya banyak sekali, lho. Mulai dari sejarah perang Eropa hingga Pasifik lengkap tersedia. Soalnya saya suka sekali membaca buku sejarah perang”, imbuhnya dengan semangat menutup pembicaraan. Benar-benar suri tauladan yang patut ditiru....

 

 

 

                                                                                         Oleh : M. AJI SURYA

 

ORANGNYA kalem dan banyak senyum. Hobbynya “balap” Mercedes kuno. Tidak heran ketika ditempakan di perwakilan RI Jenewa pada kisaran tahun 1993, ia memilih Mercedes 190E vintage 2,6 liter. Sesuai adrenalinnnya saat itu, mobil sempat digeber hingga 220 km perjam dan mampu menempuh jarak 600 km dari Jenewa ke Monaco dalam waktu 5 jam saja. “Itu dulu, sekarang sudah sepuh,” ujar Arif Hafas Oegroseno.

Indahnya naik Mercedes mulai dirasakan sejak ia kecil ketika sang ortu memiliki Mercedes 220 S tahun 1963. Hatinya sempat pilu manakala mobil itu harus dilego karena butuh uang alias BU. Sejak itu, lulusan Harvard University ini terus ternginang-ngiang empuknya menunggang Mercedes. Itulah sebabnya, saat ini Direktur Perjanjian Politik Keamanan dan Kewilayahan Deplu ini tetap setia memacu Mercedes dengan seri Sport 300 CE, dua pintu tahun 1984.

Pilihan Mercedes bukan untuk gagah-gagahan, tapi lebih pada kenyamanan. “Harganya jauh di bawah Avanza, lho mas,” celotehnya. Tidak hanya itu, harga suku cadangnya juga bisa lebih murah dari Kijang Innova. Ada banyak pilihan, mulai buatan Jerman, Ceko, Polandia, Taiwan, Malaysia atau China. “Shock breaker saja cuma 750 ribu rupiah,” tuturnya fasih.

Meski dikenal sering membuat lawan negosiasi keder, pecinta olahraga badminton ini tetap kelihatan tidak angker. Sifat “macan”nya baru nongol manakala wilayah Indonesia akan diserobot musuh. “Salah satu cita-cita saya yang belum kesampaian adalah memiliki Mercedes Pagoda 300 SEL, Cabriolet, 2 pintu, tahun 1969,” ujarnya mengakhiri pembicaraan sambil menunjukkan foto Mercedes Pagoda di komputernya. Ck ck ck.

 

                                       Resep harmonis keluarga Aidil

                                                                               Oleh: NOVITANTI NURMALA

 

TUGAS sebagai Direktur Timur Tengah, Deplu, tentunya sangat menyita waktu Drs. Aidil Chandra Salim, M.Com. Mulai dari hubungan bilateral Indonesia dengan negara–negara di kawasan tersebut hingga keterlibatannya dalam penyelenggaraan konferensi Capacity Building for Palestine pada pertengahan Juli mendatang. “Indonesia sekarang mulai diperhitungkan oleh banyak negara untuk berperan pada proses perdamaian Timur Tengah,” ujarnya. Bulan lalu misalnya, pria kelahiran Roma ini nyaris beredar dimana-mana, alias di Jakarta hanya 10 hari saja. “Akhir bulan Mei ini saya juga akan terbang menjadi delegasi RI (Delri) pada pertemuan International Conference on Iraq di Stockholm, Swedia,” imbuhnya sangat serius.

Meskipun sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, ternyata bapak tiga anak ini menyimpan resep rahasia menjaga keharmonisan keluarga. “Kalo pas di Jakarta, sesibuk apapun saya selalu menyempatkan waktu berkomunikasi dengan keluarga, terutama pada waktu sarapan,” ungkap pria lulusan S2 Ekonomi Internasional Wollongong University, New South Wales, Australia ini. Baginya teknologi komunikasi canggih seperti telepon ataupun email tetap tidak bisa menggantikan kehebatan tatap muka. “Dengan mengobrol langsung, saya bisa melihat secara jelas ekspresi anak-anak dan istri. Rasanya lebih puas daripada lewat telepon atau email,” ujarnya sambil terkekeh.

Figur kebapakannya semakin menonjol saat bercerita tentang rutinitasnya di pagi hari. Pria yang memiliki motto work hard, work smart dan working together in a team ini selalu berusaha mengantarkan anak-anaknya sekolah sebelum berangkat kerja. “Karena jam masuk sekolah 7.00 pagi, maka saya selalu berangkat pagi-pagi dari rumah. Keuntungannya selain bisa lebih lama bercengkrama dengan anak-anak, saya pun bisa mulai beraktifitas di kantor jam 7.30 pagi,” tuturnya sambil tersenyum menutup pembicaraan dengan AKSES.