Mungkin
pepatah kuno yang berbunyi, ”If you don’t use it, you will lose it” bisa
menggambarkan keseriusan Benny Bahana Dewa dalam asah otak alias
belajar. “Untuk pengembangan diri, pada setiap tugas penempatan di luar
negeri saya selalu menyempatkan untuk bersekolah” ungkap pria yang
pernah menjalankan tugas di benua Amerika dan Eropa ini.
Bekerja sekaligus
menimba ilmu bukanlah perkara mudah. Bisa-bisa urusan
pekerjaan malah jadi amburadul. Tapi tidak demikian bagi lulusan S-2
Ekonomi Manajemen, Vrije Universiteit Brussel ini. Jabatannya sebagai
Sekretaris Ditjen Amerika dan Eropa (Amerop) dengan segudang aktivitas
tidak menghalangi tekadnya meneruskan ke jenjang S-3 Kajian Wilayah
Eropa di Universitas Indonesia. ”Niat saya kuliah bukan untuk karir,
tapi lebih ke arah intellectual exercise supaya nantinya tidak
pikun”, ujarnya dengan mimik serius.
Tak puas ’makan
bangku kuliah’, kegiatan belajarnya pun diteruskan di kantor.
Disela-sela kesibukannya berkutat dibidang koordinasi substansi,
perencanaan dan keuangan, pria yang hobi fotografi dan jalan-jalan ini
melahap banyak literatur. ”Sekarang dengan agak terpaksa saya memang
harus banyak membaca”, jelasnya sambil tertawa. Mungkin itu sebabnya
pria kelahiran Yogyakarta ini selalu sediakan waktu untuk menjambangi
perpustakaan kecil di lingkungan Sekretariat Amerop. ”Bukunya banyak
sekali, lho. Mulai dari sejarah perang Eropa hingga Pasifik
lengkap tersedia. Soalnya saya suka sekali membaca buku sejarah perang”,
imbuhnya dengan semangat menutup pembicaraan. Benar-benar suri tauladan
yang patut ditiru....
Oleh : M. AJI SURYA
ORANGNYA kalem dan
banyak senyum. Hobbynya “balap” Mercedes kuno. Tidak heran ketika
ditempakan di perwakilan RI Jenewa pada kisaran tahun 1993, ia memilih
Mercedes 190E vintage 2,6 liter. Sesuai adrenalinnnya saat itu,
mobil sempat digeber hingga 220 km perjam dan mampu menempuh jarak 600
km dari Jenewa ke Monaco dalam waktu 5 jam saja. “Itu dulu, sekarang
sudah sepuh,” ujar Arif Hafas Oegroseno.
Indahnya
naik Mercedes mulai dirasakan sejak ia kecil ketika sang ortu memiliki
Mercedes 220 S tahun 1963. Hatinya sempat pilu manakala mobil itu harus
dilego karena butuh uang alias BU. Sejak itu, lulusan Harvard University
ini terus ternginang-ngiang empuknya menunggang Mercedes. Itulah
sebabnya, saat ini Direktur Perjanjian Politik Keamanan dan Kewilayahan
Deplu ini tetap setia memacu Mercedes dengan seri Sport 300 CE, dua
pintu tahun 1984.
Pilihan Mercedes
bukan untuk gagah-gagahan, tapi lebih pada kenyamanan. “Harganya jauh di
bawah Avanza, lho mas,” celotehnya. Tidak hanya itu, harga suku
cadangnya juga bisa lebih murah dari Kijang Innova. Ada banyak pilihan,
mulai buatan Jerman, Ceko, Polandia, Taiwan, Malaysia atau China. “Shock
breaker saja cuma 750 ribu rupiah,” tuturnya fasih.
Meski dikenal sering
membuat lawan negosiasi keder, pecinta olahraga badminton ini tetap
kelihatan tidak angker. Sifat “macan”nya baru nongol manakala wilayah
Indonesia akan diserobot musuh. “Salah satu cita-cita saya yang belum
kesampaian adalah memiliki Mercedes Pagoda 300 SEL, Cabriolet, 2 pintu,
tahun 1969,” ujarnya mengakhiri pembicaraan
sambil menunjukkan foto Mercedes Pagoda di komputernya. Ck ck ck.
TUGAS
sebagai Direktur Timur Tengah, Deplu, tentunya sangat menyita
waktu Drs. Aidil Chandra Salim, M.Com. Mulai dari hubungan
bilateral Indonesia dengan negara–negara di kawasan tersebut
hingga keterlibatannya dalam penyelenggaraan konferensi
Capacity Building for Palestine pada pertengahan Juli
mendatang. “Indonesia sekarang mulai diperhitungkan oleh banyak
negara untuk berperan pada proses perdamaian Timur Tengah,”
ujarnya. Bulan lalu misalnya, pria kelahiran Roma ini nyaris
beredar dimana-mana, alias di Jakarta hanya 10 hari saja. “Akhir
bulan Mei ini saya juga akan terbang menjadi delegasi RI (Delri)
pada pertemuan International Conference on Iraq di
Stockholm, Swedia,” imbuhnya sangat serius.
Meskipun sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, ternyata bapak
tiga anak ini menyimpan resep rahasia menjaga keharmonisan
keluarga. “Kalo pas di Jakarta, sesibuk apapun saya selalu
menyempatkan waktu berkomunikasi dengan keluarga, terutama pada
waktu sarapan,” ungkap pria lulusan S2 Ekonomi Internasional
Wollongong University, New South Wales, Australia ini. Baginya
teknologi komunikasi canggih seperti telepon ataupun email tetap
tidak bisa menggantikan kehebatan tatap muka. “Dengan mengobrol
langsung, saya bisa melihat secara jelas ekspresi anak-anak dan
istri. Rasanya lebih puas daripada lewat telepon atau email,”
ujarnya sambil terkekeh.
Figur kebapakannya semakin menonjol saat bercerita tentang
rutinitasnya di pagi hari. Pria yang memiliki motto work
hard, work smart dan working together in a team ini
selalu berusaha mengantarkan anak-anaknya sekolah sebelum
berangkat kerja. “Karena jam masuk sekolah 7.00 pagi, maka saya
selalu berangkat pagi-pagi dari rumah. Keuntungannya selain bisa
lebih lama bercengkrama dengan anak-anak, saya pun bisa mulai
beraktifitas di kantor jam 7.30 pagi,” tuturnya sambil tersenyum
menutup pembicaraan dengan AKSES.