|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Indonesia kebanjiran produk China. Masyarakat menyukainya karena murah. Mampukah kita membendung?
Naga raksasa itu makin menggeliat. Ekornya mengibas ke seluruh penjuru mata angin, seakan bernafsu merengkuh dunia. Itulah ungkapan paling tepat menggambarkan kedahsyatan pertumbuhan ekonomi China. Betapa tidak, tahun 2050 nanti, China diprediksi jadi pemain terkuat dunia menggusur Amerika Serikat, diikuti India di posisi ketiga. Negara tersebut bukan hanya menarik dan berkembang sebagai pasar, melainkan juga sebagai markas produksi aneka manufaktur yang memasok pasar global. Bayangkan, saat ini saja, produk China merangsek 50% lebih produksi kamera dunia, 30% AC, 30% televisi, 25% mesin cuci, 20% kulkas, dan masih banyak lagi. Merebaknya industri China itu tentu saja menyebabkan negara-negara yang basis industrinya masih redup praktis terbanjiri produk ‘’negeri tirai bambu’’ tersebut. Dengan pertumbuhan ekspor yang meningkat sebesar 51% pada 2005, serbuan produk China makin menenggelamkan negara-negara lain, termasuk Indonesia. Mainan anak-anak adalah salah satu produk China yang menggelontor ke Indonesia. Sebagai gambaran, bulan lalu dilaporkan lebih dari 90% produk yang ditawarkan di sejumlah toko grosir di Purwokerto, Jawa Tengah, adalah mainan anak-anak asal China. Maklum, harganya murah, kualitas tidak buruk-buruk amat, dan modelnya variatif. Banjir produk China juga merambah sector garmen. Fenomena ini tidak hanya memukul industri besar, melainkan juga menyabet penjahit terakhir, pasar tekstil nasional juga ditengarai masih diterjang oleh produk sejenis yang masuk secara ilegal. Produk ini mampu meraih pasar karena harganya —lagi-lagi— murah, selain unggul dalam desain. Industri sepatu juga “kecolongan” pengusaha China, yang menggunakan dokumen Pemerintah Indonesia untuk ekspor. Mereka, kabarnya, berani membeli surat keterangan asal (SKA) dengan harga US$ 500 per dokumen. Indikasi adanya penggunaan dokumen ekspor sepatu kulit RI ini mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Perindustrian Fahmi Idris dan anggota Asosiasi Pengusaha Sepatu (Aprisindo), Maret lalu. Walaupun demikian, tahun ini volume ekspor diprediksi masih menyisakan peningkatan 20% dengan nilai ekspor US$ 1,8 milyar. Fahmi Idris mengatakan, dari segi kompetensi, industri sepatu dalam negeri sudah mampu membuat produk berkualitas standar ekspor. “Secara kualitas, produk Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan produk-produk dari China,” ia menambahkan. Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo), Ambar Cahyono, juga menyampaikan keluhan tentang tingginya harga rotan dan kayu di dalam negeri. “Akibat kenaikan biaya angkut perjalanan menuju produsen,” katanya. Itulah sebabnya, menurut pengusaha mebel Slamet Raharjo, mebel Indonesia kalah bersaing dengan produk sejenis dari China. “Sekitar 10%- 15% ekspor kita turun akibat kalah saing,” ia menegaskan.
Selain angka impor resmi garmen China yang melonjak hingga 380% dalam lima tahun kelebihan pasokan sebanyak 116 juta ton pada 2006. Komoditas tersebut diramalkan akan mengalir ke Indonesia dengan harga kompetitif. Saat ini produk baja PT Krakatau Steel (KS) sudah terpojok oleh produk impor asal China, karena kalah dalam persaingan harga. Padahal, jika KS menurunkan harga jual, akan menuai kerugian sangat besar. Di China, spesialisasi dalam proses produksi diutamakan guna menghasilkan produk dengan biaya rendah dan kualitas yang tetap terjaga. Bagaimana ‘’negeri panda’’ ini melakukannya? Pertama, menurut Deloitte Research, dewasa ini perusahaan-perusahaan teknologi asing berebut masuk untuk berinvestasi dan memanfaatkan akses ke pasar China yang besar dan tumbuh dengan cepat. Kedua, perusahaan lokal yang menarik modal dari investor asing (terutama Taiwan) semakin terampil memproduksi barang-barang berteknologi tinggi. Ketiga, perguruan-perguruan tinggi China sangat cerdik mencetak insinyur baru dalam jumlah besar. Setiap tahun, Negara ini menghasilkan 2-2,5 juta sarjana, 60% di antaranya adalah insinyur. Sebagai perbandingan, di Indonesia lulusan jurusan teknik hanya 18%, Amerika Serikat 25%, dan India 50%. Keempat, pemerintah mampu menyediakan infrastruktur yang sangat baik. China, dengan jumlah penduduk 1,3 milyar, memiliki 88.775 kilometer jalan arteri, dan 100.000 kilometer jalan tol. Sebagai perbandingan, Indonesia dengan 220 juta warga baru memiliki jalan arteri 26.000 kilometer dan jalan tol 620 kilometer. Kelima, kebijakan pemerintah sangat mendukung, termasuk perizinan investasi, perpajakan, dan kepabeanan. Keenam, munculnya zona-zona ekonomi khusus sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, sehingga pembangunan infrastruktur menjadi lebih efisien. Sebaliknya, bila meneropong Indonesia, yang terlihat adalah banyaknya mata rantai kegiatan ekonomi yang buruk. Mulai infrastruktur yang sangat kurang mendukung perkembangan industri, pungutan liar yang membebani pengusaha, sistem perpajakan dan perizinan yang cenderung berbelit, impor ilegal yang sering merajalela, kesulitan memperoleh pinjaman modal dari bank, sampai kenaikan harga BBM. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad S. Hidayat, menyatakan bahwa kelemahan terbesar Indonesia adalah persoalan strategi berinvestasi. “Sejauh ini, Indonesia belum memiliki strategi besar (grand strategy) di bidang industri,” ujarnya. Akankah Indonesia diam? Tentu tidak. Kita perlu niat dan usaha keras dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah dapat saja mengambil kebijakan regulasi dan birokrasi, yaitu dengan memberi-kan safeguard secepatnya. Tapi masalahnya bukan sekadar berhenti di situ. Bank Indonesia hendaknya juga melakukan usaha penyelamatan dengan membuka diri pada sektor industri yang sulit bersaing, sekaligus menekan suku bunga pinjaman agar pengusaha kecil dan menengah tidak terlalu repot mendapatkan pinjaman modal. Pada sisi lain, sektor swasta nasional harus berusaha untuk bersaing dengan produk dari luar, misalnya dengan membuat desain yang menarik dan pengemasan yang apik. Menurut Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Rhenald Kasali, pelaku usaha industri garmen nasional tidak boleh berdiam diri. “Mereka harus gencar melakukan penetrasi pasar di berbagai negara, seperti di Timur Tengah, untuk mengimbangi tekanan China,” ujar dia. Adapun untuk kepentingan jangka panjang, Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Langkah-langkah ini pun besar kemungkinan akan menemui banyak hambatan dengan keterbatasan Indonesia dalam berbagai hal, seperti dana, teknologi, high cost economy, serta masalahmasalah non-ekonomi lain.
Di sisi
lain, masih tersisa optimisme dari berbagai pihak tentang kemampuan
Indonesia untuk bertahan dari ancaman produk China. Menteri Perindustrian
Fahmi Idris mengatakan bahwa volume ekspor hasil industri di Indonesia
diprediksikan akan meningkat. Ini bisa terjadi karena kecenderungan
menurunnya ekspor China akibat kebijakan anti-dumping Amerika Serikat dan
Uni Eropa, yang mendorong meluasnya pasar ekspor tekstil Indonesia. Orang
bijak mengatakan, optimisme ini harus dibarengi dengan usaha keras. Tanpa
itu, bakal melempem. Apalagi, tahun 2007, kebijakan anti dumping Amerika
Serikat dan Uni Eropa kemungkinan akan dihapuskan.
|