|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Jurus Atasi Pekerjaan Menumpuk
TAK ada yang menyangkal, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Dian Triansyah Djani, supersibuk. Dalam agenda tahunannya, terdapat ratusan pertemuan, baik di negara-negara ASEAN maupun dengan mitra dialog. Hari-harinya diisi dengan menyiapkan posisi yang dilanjutkan dengan aktivitas negosiasi, pendekatan, maupun membangun pengertian (CBMs). ASEAN Convention on Counter Terrorism hanyalah salah satu buah kepemimpinannya. Pada saat ini, diplomat senior yang selalu berpenampilan necis itu sedang menegosiasikan ASEAN Charter, yang akan menjadi dokumen monumental dan bersejarah. Sebuah konstitusi yang akan mengubah ASEAN menjadi organisasi yang legally binding dan rules oriented. Sebulan belakangan, dirjen gaul ini mencanangkan berbagai kegiatan dalam rangka ultah ke-40 ASEAN. Di dalam negeri, diadakan lomba band antar-SMA melantunkan lagu-lagu ASEAN, pemilihan 10 duta muda ASEAN, festival wayang dan film ASEAN. “Kami juga mengadakan acara unik berupa pertemuan antarpetani ASEAN dan mengirimkan seorang diplomat wanita, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, berpartisipasi dalam lomba layar keliling dunia dengan bendera ASEAN,’’ tuturnya. Hebatnya, sekalipun di bawah tekanan yang luar biasa, kolektor topi dan olahragawan ini masih mampu berkelakar dan membuat aneka joke. Tidak jarang, di sela-sela sidang, pemilik suara bariton itu kumpul dengan stafnya di satu kamar tertutup dan bercerita hal-hal yang membuat urat saraf jadi kendur. “Sekarang bukan zamannya work hard, tapi work smart dan perlu lebih outcome oriented dibandingkan dengan process oriented,’’ ujarnya sambil terkekeh. Ia juga punya idealisme untuk menciptakan lebih banyak diplomat muda yang profesional. Selain itu, untuk menerapkan konsep mensana incorporesano, ia suka mengayun stik golf di berbagai tempat. Baginya, bermain golf tidak ubahnya sebuah usaha dengan target dan tantangan yang jelas. Untuk mencapainya, diperlukan sikap sportif dan profesional. ‘’Jangan par dibilang birdie. Golf melatih pemainnya bersikap jujur,’’ katanya mengakhiri pembicaraan. M. Aji Surya
Mantan Staf Lokal Jadi Wakil Bupati
Tiba di kota kelahirannya, lulusan sastra Prancis UGM ini segera melirik kesempatan yang muncul dari era reformasi yang sedang menggebu. ‘’Saya harus jadi politisi,’’ demikian tekadnya. Berbekal keluwesan bergaul serta adanya titisan darah politisi dari sang bapak, yang sempat menjadi Ketua Cabang PNI dan PDI di Boyolali, Seno Samodro tak sulit menembus jabatan anggota DPRD dari PDI Perjuangan Kabupaten Boyolali. Ia juga aktif dalam kegiatan masyarakat sebagai ketua umum persatuan sepak bola dan penasihat grup band lokal. Seperti orang Jawa lainnya, Seno punya prinsip hidup sederhana: nrimo ing pandum (seadanya), tawakal, dan tidak aneh-aneh serta bersyukur atas nikmat Allah SWT. Mungkin prinsip inilah yang membuat Seno memenangkan pilkada langsung berpasangan dengan calon dari Partai Golkar, Drs. Sri Moeljanto. Pasangan ini berhasil meraup 41,7% suara, mengalahkan empat pasangan calon lainnya. Mulai tahun 2005 itulah Seno, sang mantan staf lokal KJRI Marseilles, resmi jadi Wakil Bupati Boyolali hingga saat ini. M. Aji Surya
Di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN di Manila, Agustus silam, Direktur Kerja Sama Intra-Kawasan Asia Pasifik & Afrika (KIK Aspasaf), Ibnu Hadi, jadi bintang panggung. Di atas panggung sebuah restoran terkemuka di kota metropolitan Manila, Ibnu unjuk kebolehan menari hula-hula di bawah sorotan lampu warna-warni.
Pria baby face ini dikenal superaktif dengan berbagai kegiatan high profile seperti APEC, ASEAN Regional Forum, dan New Asia-Afrika Strategic Partnership (NAASP). Penugasan di tempat-tempat penting seperti Hong Kong, Osaka, dan Washington membuatnya semakin cermat dan teliti. ‘’Hidup itu untuk berkarya. Jadi, kita harus memiliki kesungguhan melaksanakannya. Sama halnya dalam berhula-hula,’’ ujarnya sambil terkekeh. Meskipun sibuk, pejabat yang suka tebar senyum ini memberikan makna penting arti olahraga. Untuk mengimbangi kerja hingga larut, hampir setiap pagi sebelum berangkat kerja, dia sempatkan berenang setengah jam. Setelah dirasa bugar, segera ia mandi, makan pagi, lalu bersiap menuju kantor di Jalan Pejambon. Bahkan di sela-sela waktu senggang, ia paling suka menggiring stafnya untuk mengayun bola bowling serta hang out di kafe ternama Ibu Kota. ‘’Ada waktunya serius, ada waktunya santai. Hidup harus seimbang,’’ katanya kepada AKSES. M. Aji Surya
Tidak perlu ada yang takut. Kontan saja, para pengunjung berebut ke dekat panggung memburu sang macan. Jangan heran, mereka adalah Trio Macan betina yang mengaung dengan lagu andalannya, Kucing Garong. Tiga dara ayu itu bertingkah layaknya seekor kucing. Bergiliran meloncat ke panggung, merayap dan mengendusendus. Lalu mereka berjajar sambil memutar-mutar kepala hingga rambut panjang yang dicat pirang itu ikut bergoyanggoyang. Tidak jarang, kedua macan telentang, sementara yang lain bertingkah di atas kedua tubuh. Adegan Kucing Garong diakhiri dengan gerakan akrobatik yang membuat penonton makin gemas. Di belakang panggung, ketiga macan yang berpakaian ekonomis itu terus diburu penonton. Ada yang sekadar mengajak bersalaman atau foto bersama. Panitia tanggap. Biar bisa istirahat sambil minum teh botol, ketiganya segera digiring dan dikurung di ‘’kerangkeng’’ khusus. Sambil masih terengah-engah, tiga macan bergincu itu mengaku tidak punya resep khusus untuk tampil di Deplu. Hanya, ‘’Untuk menyesuaikan keadaan, kali ini kami menurunkan kualitas goyangan,’’ ujarnya kepada AKSES. Wow! (Aji Surya)
|