|
Edisi X NOPEMBER 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 13 November, 2008
|
Yang busuk jangan masuk Oleh : Nayeon Fadhilah
Lebih dari separuh kebutuhan bahan makanan Korsel dipenuhi melalui impor. Pasar yang potensial bagi produk makanan Indonesia. Hanya produk berlabel wellbeing yang boleh masuk. “DULU sangat susah mencari pisang, kalaupun ada harganya mahal” ujar Ha Myung-ja, warga negara Indonesia keturunan Korea. Wanita ini pun bercerita bagaimana sulitnya mendapatkan buah-buahan tropis di Korea Selatan (Korsel) ketika ia masih kecil. Saking mahalnya, hanya orang kaya yang sanggup membeli. “Dulu di sekolah bila ada murid membawa bekal makan siang dengan pisang, teman-temannya pasti iri ” kenang Myung-ja. Apakah cerita wanita yang bersuamikan pria Indonesia ini berlebihan? Mungkin itulah kesan orang Indonesia karena dari dulu kita mendapatkan pisang dengan mudah dan murah. Ternyata memang itulah yang terjadi di Korsel waktu itu. Pisang hanya tumbuh di pulau Jeju dan itupun harus dipelihara dalam rumah kaca ketika musim dingin tiba. Biaya produksi yang tinggi menyebabkan harga pisang lokal selangit. Apalagi pintu untuk buah impor masih ditutup. Ketika pisang impor dari Filipina masuk dan membanjiri pasar Korsel, harga buah tropis ini pun melorot. Perkebunan pisang di pulau Jeju hampir semua gulung tikar karena tidak sanggup bersaing. Pisang lokal nyaris menghilang dari pasar. Namun masyarakat Korsel dikenal sebagai bangsa yang bangga dan cinta akan produk dalam negerinya. Myung-ja mengungkapkan bahwa setelah demam pisang impor mereda, konsumen Korsel kembali ke pisang lokal. Walaupun fisik pisang dari Jeju lebih kecil namun diyakini oleh konsumen Korea lebih enak dan sehat. Namun untuk ukuran negara tropis penghasil pisang seperti Indonesia, harga buah ini di Korsel masih terhitung mahal. Setengah sisir pisang di supermarket di Seoul ditempel harga 1500 sampai 2000 won (sekitar Rp. 9.000 sampai Rp. 16.000)!
Hidup sehat Sejalan dengan peningkatan kualitas kesejahteraan dan pendidikan, masyarakat Korsel memiliki kepedulian yang tinggi akan kesehatan. Terutama sejak tahun 2002 dimana sebuah stasiun televisi terkemuka di Korsel menyiarkan hasil penelitian mengenai berbagai zat berbahaya yang ditemukan dalam makanan sehari-hari. Program televisi yang disiarkan dalam beberapa seri itu berdampak besar pada perubahan pola konsumsi makanan masyarakat Korsel. “Penjualan daging sempat anjlok sementara beras merah menghilang dari pasar karena tidak sanggup memenuhi permintaan yang mendadak melonjak” ujar Ha Seung-dong, pemilik sejumlah supermarket di Seoul. Sejak itu, semua produk makanan, buah dan sayuran yang diyakini memiliki khasiat kesehatan yang tinggi sangat diminati. “Terutama brokoli, paprika dan tomat” tambah Seung-dong. Pemerintah pun melancarkan program hidup sehat dan mendorong petani untuk meningkatkan produksi sayuran dan buah organik. Minat konsumen lokal yang besar menyebabkan penjualan produk organik meningkat pesat. Tingginya permintaan membuat produsen lokal kewalahan. Pintu impor untuk produk makanan organik pun dibuka sehingga membanjiri pasar. Namun demikian, sebagian konsumen Korsel beranggapan bahwa produk lokal lebih sehat dan aman. Sehingga permintaan akan produk lokal yang tetap tinggi menyebabkan harganya berlipat dibanding produk impor. “Daging produk lokal tiga sampai empat kali lebih mahal dari daging impor” ujar Seung-dong. Kecenderungan masyarakat akan makanan sehat ini merubah haluan para pelaku bisnis di sektor ini. Mereka terlihat berlomba-lomba menciptakan berbagai produk makanan sehat. Bila kita masuk ke rumah makan, diantara menu yang sudah dikenal terkadang terdapat menu baru. Pemilik restoran pun bertanding dalam berkreasi menemukan masakan baru yang mempunyai khasiat kesehatan. Demikian halnya di dapur rumah tangga, ibu-ibu berusaha menggunakan membuat masakan sehat bagi keluarganya. Tidak jarang Myung-ja memaksa suaminya untuk mencoba suatu masakan kreasinya yang diyakini berkhasiat, ketika sang suami terlihat ragu untuk mencicipinya. Peningkatan kepedulian konsumen negeri ginseng ini akan produk makanan sehat pernah diramalkan oleh sebuah lembaga penelitian lokal. Lembaga penelitian milik kelompok Samsung ini menyatakan bahwa well-being adalah kunci utama bagi segala produk untuk masuk ke pasar Korsel. Tidak hanya makanan, berbagai jenis produk lainnya dikaitkan dengan keselamatan dan kesehatan. Mulai dari tempat tidur yang dikombinasikan dengan batu – batuan berkhasiat, jam tangan berlapis metal yang dapat melancarkan darah sampai sandal untuk kesehatan jantung. Bahkan perlengkapan elektronik seperti kulkas, microwave dan televisi diciptakan dengan efek bagi peningkatan kesehatan.
Potensi pasar Korsel
Dibukanya pintu bagi produk impor ini sebenarnya tidak hanya karena kebutuhan domestik yang melonjak. Tekanan pihak luar seperti kesepakatan dalam organisasi perdagangan dunia (WTO), perjanjian perdagangan bebas serta perjanjian bilateral lainnya memainkan peran penting. Bila Korsel bersikukuh memagari pasarnya, maka bencana lain akan menimpa produknya yang diekspor ke luar negeri. Negara lain pun akan menutup pintu bagi produk Korsel. Sementara sektor ekspor adalah kontributor yang signifikan bagi perekonomiannya. Oleh karena itu, produk impor dapat masuk bak air bah. Semua produk makanan yang memiliki konsep hidup sehat mempunyai prospek bagus di pasar Korsel. Perubahan pola makan konsumen Korsel yang kini cenderung memilih makanan segar telah membuka peluang tersendiri bagi produk makanan impor jenis ini. Menurut catatan Atase Perdagangan RI di Seoul, konsumsi buah segar masyarakat setempat meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. “Konsumsi buah segar mencapai 5 kg per orang per bulan” ujar Arief Fadhilah, Atperdag RI di Seoul. Dengan jumlah penduduk sebesar 48 juta jiwa, dapat dibayangkan besarnya kebutuhan akan buah segar di Korsel. Korsel memproduksi buah segar namun kuantitasnya tidak dapat memenuhi tuntutan permintaan. Hampir semua buah segar diimpor, seperti pisang, nanas, kiwi, anggur, mangga, jeruk dan ceri serta buah tropis lainnya. Buah-buah impor dapat dijumpai di hampir setiap supermarket bahkan di pedagang kaki lima pinggir jalan. Walaupun sebagian besar masyarakat Korsel mengonsumsi buah non tropis seperti anggur, apel, pir namun permintaan akan pisang, mangga dan nanas juga meningkat. Tidak hanya untuk dikonsumsi langsung namun diolah menjadi berbagai produk minuman dan makanan. Korsel juga memproduksi sayuran segar, namun tetap mengimpor sayuran tertentu seperti bawang bombay, jahe, kentang dan bawang putih, terutama pada musim dingin. Amerika Serikat adalah eksportir hasil pertanian terbesar ke Korsel, disusul oleh RRC, Australia dan Brazil.
Peluang Indonesia Kedutaan Besar Korsel di Jakarta menyatakan bahwa Indonesia adalah mitra dagang ke-9 terbesar. Nilai impor Korsel dari Indonesia pada akhir Juli 2008 mencapai US$ 7,8 milyar, meningkat sebesar 55% dibandingkan periode yanga sama tahun 2007. Sejak tahun 2003 nilai impor non migas dari Indonesia terus meningkat dan akhirnya melampaui komoditi migas pada tahun 2007. Produk non migas Indonesia yang diminati oleh negeri ginseng itu antara lain produk elektronik, tekstil, mebel, sepatu dan produk karet. Produk makanan dan bahan makanan belumlah banyak namun potensinya cukup menjanjikan. Catatan Departemen Perdagangan RI menunjukkan bahwa sejumlah produk makanan dan bahan makanan Indonesia telah terpajang di rak-rak toko atau digunakan dalam produk makanan Korsel. Produk tersebut antara lain pemanis, telur ikan, keripik singkong, produk laut, rumput laut, biskuit, mi, coklat dan produk coklat, kopi dan kacang-kacangan. Minat pasar Korsel terhadap produk makanan Indonesia nampak mulai berkembang. Dalam sejumlah pameran makanan internasional seperti Seoul Food & Hotel 2008, terlihat minat dunia usaha Korsel yang meningkat akan produk Indonesia. Beberapa pengusaha Korsel menanda-tangani kontrak pembelian sejumlah produk makanan Indonesia seperti kopi, coklat, kacang kedelai dan kacang mete dalam pameran itu. BPEN mencatat nilai transaksi dari pameran ini mencapai lebih dari US$ 9 juta. Transaksi ini adalah salah satu dari sekian kontak dagang yang terjadi dalam berbagai pameran dan kegiatan promosi produk Indonesia di Korsel. Untuk pasar buah segar, beberapa negara tetangga Indonesia telah memiliki pelanggan di negeri kimchi itu. Kalau melihat pisang ambon yang besar di pasar, pasti konsumen setempat mengatakan itu produk Filipina. Sejak tahun 1999 buah segar dari Filipina terutama pisang telah masuk pasar Korsel. Belakangan Thailand dan Malaysia pun meramaikan pasar buah Korsel. Bagaimana dengan buah segar Indonesia? Ternyata tidak mudah memasuki pasar Korsel. Badan karantina Korsel menetap 8 syarat yang harus dimiliki buah segar impor. Antara lain tingkat kematangan, kemulusan, kualitas rasa yang prima, tidak ada bibit ulat atau insect. “Buah segar kita umumnya baru memenuhi 3 tahapan” ujar Arief Fadilah. “Namun sejumlah kecil pisang dan nanas produksi sebuah perusahaan Indonesia telah masuk ke pasar Korsel” tambah Atperdag RI di Seoul ini. Pemanfaatan peluang ini tergantung dari keseriusan kita untuk meningkatkan kualitas produk agar memenuhi standar negara tujuan ekspor. Dulu Myung-ja pernah terheran-heran melihat setandan pisang diberikan kepada monyet-monyet di kebun binatang Ragunan. “Aduh sayangnya, pisang kan mahal” pikirnya waktu itu. Setelah sepuluh tahun lebih tinggal di Indonesia, pisang tidak lagi menjadi buah favoritnya. Terlalu banyak buah tropis Indonesia lainnya yang belum pernah dijumpainya di Korea!
|