HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

WAWANCARA EDISI IV 2007

Duta Besar India untuk Indonesia Yang Mulia Navrekha Sharma

Perekonomian India di Tengah Pergaulan ekonomi dunia

Oleh: Djoko Harjanto &  Widiyarso

MEMBICARAKAN hubungan bilateral Indonesia dengan India, sepertinya tak cukup ditulis dalam tiga atau empat halaman. Maklum, Indonesia dan India memiliki kesamaan, kedekatan emosional dan budaya yang terjalin sejak beberapa abad silam, serta hanya dipisahkan oleh laut Andaman. Kesan ini tersirat ketika Redaksi AKSES melakukan wawancara dengan Navrekha Sharma, Duta Besar India untuk Indonesia di ruang kerjanya, di Kedutaan Besar India, di Jakarta. Berikut petikan wawancara tersebut:

 

AKSES: Bagaimana Anda melihat hubungan bilateral India-Indonesia dewasa ini, dan sektor-sektor apa saja yang dapat ditingkatkan di masa mendatang?

Dubes Sharma: India menjalin hubungan bilateral sangat erat dengan Indonesia. Sebelum terjalinnya hubungan diplomatik secara resmi, India dan Indonesia telah menjalin hubungan sejak dulu kala. Dilihat dari jarak, India berbatasan sangat dekat dengan Indonesia. Kepulauan Andaman dengan Pulau Sumatera hanya berjarak sekitar 16 mil. India dan Indonesia juga saling membagi pengalaman dalam per­juangan kemerdekaan. Orang-orang India dan industriawan India sudah berinvestasi di Indonesia sejak 1960-an, terutama di bidang tekstil dan baja. Sejak Indonesia kembali menjadi negara demokrasi, India makin tertarik untuk berinvestasi dan berdagang dengan Indonesia. Sejak itu pula kita merasakan banyak kesamaan dan semakin merasa bahwa banyak pengalaman yang bisa dibagi bersama dengan Indonesia. Kami harap kerja sama yang telah ada dapat ditingkatkan. Sekarang ini perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 4 milyar. Setelah pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Manmohan Singh, diharapkan perdagangan India dengan Indonesia dapat ditingkatkan menjadi US$ 10 milyar tahun 2010. Itulah tantangan kita saat ini.

India dan Indonesia telah menanda­tangani Perjanjian Perdagangan pada 30 Januari 1953. Bagaimana pendapat Anda mengenai peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) dalam meningkatkan perdagangan dan kerja sama ekonomi kedua negara?

UKM sangat penting dalam perekonomian  India. Kemajuan perekonomian India saat ini, dengan pertumbuhan GDP lebih dari 9%, banyak digerakkan oleh UKM. Di India usaha kelas menengah banyak yang tumbuh dengan pesat. Mereka terutama bergerak dalam bidang industri energi dan obat-obatan, mobil, tekstil dan teknologi informasi. Selain itu, mereka menjadi pasar bagi produk-produk India sendiri. Reformasi ekonomi sebenarnya telah dilakukan sejak India masih menganut sistem ekonomi yang semi-sosialis dan tertutup. Reformasi ini terutama dilakukan dalam hu­bungannya dengan UKM. UKM India telah lama memainkan peran yang aktif, kreatif dan inovatif, serta dinamis dalam perdagangan internasional. Peran UKM India dalam per­dagangan internasional ini terjadi karena perusahaan-perusahaan besar sudah merasa nyaman untuk hanya berusaha di dalam negeri. Hal ini dikarenakan adanya monopoli dan kartel. Pemerintah India sangat mendukung UKM melalui bantuan teknis dan insentif serta kredit. Selain itu Pemerintah India memberikan perlakuan khusus bagi barang-barang yang diperlukan oleh UKM di masa lalu.

Bagaimana dengan kerja sama India-Indonesia yang berkait dengan UKM, apakah ada kesempatan bagi UKM Indonesia memasuki pasar India?

Sampai sekarang belum ada kerja sama erat dalam bidang UKM antara India dan Indonesia. Begitu pula dalam hal ekspor-impor. Sampai saat ini, perusahaan-perusahaan India yang masuk ke Indonesia dan berdagang dengan Indonesia adalah perusahaan-perusahaan besar. Barang-barang Indonesia yang masuk ke India masih berupa batubara, minyak sayur, yang juga hanya diproduksi oleh perusahaan besar. Kami sangat menginginkan Indonesia mengeksplorasi pasar di India, karena sebenarnya masih banyak peluang yang belum dimanfaatkan. Pada saat ini, potensi pasar di India sebesar 300 juta orang. UKM di India sendiri memproduksi kosmetik, kerajinan tangan, batu-batu berharga dan perhiasan, serta telah melakukan rekayasa produk. Sampai sekarang kami belum melihat banyak orang Indonesia yang datang ke India. Padahal India dan Indonesia dekat secara budaya.

Dalam bidang apa saja perusahan­perusahaan India saat ini tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia?

Saat ini banyak perusahaan baru dari India yang ke Indonesia untuk menanamkan modalnya. Untuk kendaraan roda dua, sudah ada dua perusahaan India yang masuk ke Indonesia. Bajaj misalnya, masuk kembali ke Indonesia dengan produk roda duanya dan roda tiganya, yang lebih berwawasan ling­kungan.

Perusahaan-perusahaan India mem­punyai minat yang besar pada batubara dan alumunium. Selain itu minat kerja sama dalam produksi minyak sayur juga sangat tinggi. Pariwisata juga sebenarnya sangat baik untuk dikembangkan. Orang India yang datang ke Indonesia untuk berwisata masih sangat sedikit. Untuk meningkatkannya Anda harus datang sendiri ke India, sehingga dapat melihat potensi pasarnya.

Perusahaan TI India juga sudah mulai datang ke Indonesia. Demikian juga perusahaan-perusahaan jasa konsultan dan bank. Perusahaan besar seperti Tata Consultancy serta Bank Negara India (State Bank of India) dan Bank of India sudah bergerak di Indonesia. State Bank of India malah sudah membeli satu bank kecil Indonesia. Jika bank-bank India sudah mulai masuk ke Indonesia, maka para pengusaha India akan lebih tertarik untuk datang ke Indonesia.

India juga tertarik berinvestasi di bidang tenaga listrik. Kami tertarik dengan rencana pembangunan tenaga listrik berbahan bakar batubara sebesar 10.000 megawatt yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia dua tahun yang lalu. Jika Anda berminat untuk mem­bangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) kami juga dapat membantu pendiriannya.

Bagaimana kebijakan umum Pemerintah India terhadap UKM?

Pemerintah India selalu mendukung UKM. Kami mengeluarkan banyak ke­bijakan untuk mendukung UKM. Pada masa lalu kami tidak memperbolehkan perusahaan-perusahaan besar untuk masuk ke bidang-bidang tertentu yang memang diperuntukkan bagi UKM. Namun, sekarang hal itu sudah berubah, seiring dengan adanya liberalisasi eko­nomi. Di masa lalu Pemerintah India punya perhatian lebih kepada UKM.

Itulah sebabnya sekarang ini mereka menjadi sangat kompetitif, maju secara teknologi, modern, dan sangat efisien. Dukungan Pemerintah India kepada UKM juga diwujudkan dalam bentuk dukungan penelitian, kredit, pelatihan, dan lingkungan usaha yang baik. Sekarang kebijakan UKM Pemerintah India sudah banyak berubah. Banyak proteksi barang untuk UKM yang di­hapus.

Ekonomi India sekarang ini sudah mulai menyatu dengan ekonomi dunia. Walaupun demikian, proteksi selama 30­40 tahun menjadikan UKM India sangat kuat, sehingga kita dapat bersaing dengan perusahaan lain di seluruh dunia. Sampai sekarang 40% ekonomi India bergantung pada UKM.

Menurut Anda, apa resep kemaju­an ekonomi India yang spektakuler itu?

Sebenarnya kami sudah memulai reformasi ekonomi sebelum tahun 1991. PM Rajiv Gandhi, sejak awal berkuasa pada tahun 1985, telah melakukan refor­masi ekonomi. Beliau sangat memper­hatikan bidang teknologi informasi (TI). Pada 1991, India mengalami krisis keuangan yang besar. Krisis ini sebenarnya tidak sebesar krisis yang dialami Indonesia beberapa tahun yang lalu, namun pada saat itu India sampai tidak memiliki cadangan uang dan devisa. Pada saat itu, PM Manmohan Singh menjadi menteri keuangan. Beliau berhasil mengimplementasikan beberapa perubahan ke­bijakan melalui reformasi struktural dalam bidang hukum, liberalisasi, dan privatisasi.

Sejak saat itu tarif masuk barang impor mengalami penurunan. Monopoli ditiadakan dan banyak proteksi yang dihapus. Seiring dengan hal itu dilakukan pula reformasi perburuhan, perbankan dan bea cukai. Sejak itu India tidak lagi menganut ekonomi sosialis, tapi menganut sistem ekonomi pasar bebas. Sebelumnya perdagangan luar negeri hanya menempati posisi yang rendah dalam perekonomian India.

Kami melakukan ekspor-impor hanya jika kami membutuhkan barang­barang yang sangat kami perlukan, seperti minyak bumi. Hal ini terjadi karena kami dituntut untuk bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Namun, sekarang ini tidak demikian. Kita mengimpor dan mengekspor lebih banyak di pasar internasional, terutama dalam bidang teknologi. Disadari bahwa jika India ingin berkompetisi di pasar dunia, India juga harus lebih banyak melakukan kegiatan ekspor-impor.

Bagaimana cara India untuk bisa lebih banyak menarik investor asing?

Sampai saat ini penanam modal yang masuk ke India masih sedikit, jika dibandingkan dengan Cina. Strategi India bukanlah untuk menarik penanam modal dalam jumlah yang besar dan membuat zona ekonomi khusus, sehingga perusahaan besar dunia datang dan mem­produksi barangnya untuk kepentingan ekspor. Strategi kami adalah mengimpor lebih banyak dari pada di masa lalu, terutama di bidang yang sangat kami butuhkan, yaitu teknologi. Kami berusaha untuk meningkatkan kemampuan tek­nologi dengan mengembangkan sumber daya manusia yang telah kita laksanakan sejak lama di India dengan adanya Institut Teknologi dan Institut Manajemen.

Sekarang ini kami memberikan insentif kepada lulusan-lulusan institut­institut tersebut untuk dapat mempro­duksi barang dan berinovasi. Diharapkan mereka dapat membuat perusahaan­perusahaan yang kecil dan efisien, se­hingga dapat membuat barang yang lebih baik dan lebih murah. Ini terjadi karena India lebih menitikberatkan pada usaha jasa, termasuk pariwisata, dan industri pembuatan barang jadi me­nempati prioritas kedua. Hal ini merupakan kebalikan dari Cina, yang lebih mengutamakan industri pembuatan barang jadi.

Saat ini India mengekspor lebih dari US$ 2 milyar obat­obatan, terutama ditujukan ke negara­negara Barat. 40% dari obat-obatan itu diekspor ke Amerika Serikat. Hal ini dapat terjadi karena di masa lalu India me­lakukan proteksi terhadap kegiatan pem­buatannya, dan bukan pada produknya. Pemerintah India mendorong agar para pengusaha India dapat membuat sesuatu dengan cara lain. Hukum dan peraturan India di masa lalu tidak mengatur mengenai hak paten barang, tapi mengatur mengenai paten proses produksi. Namun, sekarang hal ini tidak dapat lagi dilakukan, karena India sudah menjadi anggota WTO. Faktor­faktor ini membuat India dapat membuat obat generik, sehingga saat ini industri obat-obatan di India menjadi kuat. Ini berarti para pengusaha India dapat berinovasi, memperbaiki sistem dan memiliki nilai tambah.

Mengenai TI, India telah menjual jasa kepada perusahaan-perusahaan di Barat dan mengem­bangkan perangkat lunak serta me­miliki peraturan soal hal tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa banyak perusahaan asing yang datang ke India. Selain mendapatkan barang yang baik, dengan harga yang baik pula, juga mendapatkan sumber daya manusia yang sesuai dengan keinginan mereka. Tentu saja masih banyak yang harus dilakukan oleh India di masa depan. Hal tersebut sudah kami pikirkan. Saat ini, masalah yang ada adalah infrastruktur, terutama jalan yang jelek, listrik, dan pelabuhan yang tidak memadai. Saat ini Pemerintah India tengah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membenahi infrastruktur dengan mencari kerja sama dengan pihak swasta serta mencari sumber daya, penanam modal dan teknologi dari luar untuk pembangunan rel kereta api dan jalan, terutama jalan raya nasional. Saat ini di India banyak jalan mengalami ke­rusakan.

Kemudian bagaimana dengan telekomunikasi?

Telekomunikasi adalah yang paling cepat berkembang dan menjadi penggerak utama modernisasi India. Bagi India, telekomunikasi adalah bidang yang sama sekali baru dan berkembang dengan sangat cepat.

Kebijakan dan langkah yang ditempuh India dalam percepatan pembangunan TI seperti apa?

India memiliki Institut Teknologi India (India Institute of Technology) yang disubsidi oleh pemerintah. Jumlah institut itu hanya tujuh buah saja di seluruh India, dan terdapat di kota-kota besar. Kontribusi institut tersebut sangat besar. Orang-orang  India yang pergi ke Silicon Valley di Amerika Serikat semuanya ber­asal dari institut itu. Di masa lalu orang-orang ini kebanyakan pergi bekerja ke luar negeri, namun kemudian tidak kembali lagi ke India.

Hal ini menjadi masalah di dalam negeri dan parlemen selalu menanyakan mengenai hal tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa pemerintah masih membiayai pendidikan itu, jika lulusan­nya tidak ada yang mau bekerja di India. Itu akan membebani rakyat yang men­jadi pembayar pajak. Namun negara kami adalah negara demokrasi dan bukan negara diktatorial. Kami tidak bisa mencegah mereka untuk bekerja di luar negeri. Sekarang, ketika ekonomi India sudah mulai maju dengan adanya libe­ralisasi, masyarakat juga merasa bebas untuk berinovasi dan banyak hal meng­alami kemajuan.

Mereka yang 20, 15 atau 10 tahun lalu bekerja di Silicon Valley dan Eropa, akhirnya banyak yang kembali ke India, ke rumah mereka. Ini terjadi karena kondisi India sekarang tidak lagi sejelek dulu. Yang penting bagi mereka adalah bahwa kondisi India tidak sangat jelek. Selain itu, orang India yang tinggal di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, juga membantu masyarakat India. Mereka membantu yunior mereka di perguruan tinggi dan saudara-saudaranya dengan memberikan bimbingan, sehingga mereka mempunyai jaringan dan kesempatan kerja yang baik. Inilah waktunya bagi mereka untuk membayar kembali kepada masyarakat India. Hal ini sangat men­ janjikan bagi masa depan India.

Mengenai pariwisata, apakah Anda dapat menyebutkan berapa orang yang telah mengunjungi India dalam angka?

Sebenarnya wisatawan yang me­ngunjungi India tidak banyak. Mungkin lebih banyak wisatawan yang datang ke Bali, sebelum peristiwa bom Bali, dari pada wisatawan yang datang ke India sekarang ini. Walaupun demikian sekarang ini wisatawan yang ke India jumlahnya meningkat pesat. Masalahnya adalah dalam kurun waktu yang cukup lama Pemerintah India tidak mendorong sektor pariwisata.

Namun, kini potensi pariwisata sangat besar, dan hal ini mulai disadari Pemerintah India. Berkembangnya pen­didikan membuat masyarakat yang dulu­nya bekerja di sektor pertanian semakin banyak yang datang ke kota. Selama 40 tahun, komposisi masyarakat India adalah 70% di bidang pertanian dan 30% berada di kota. Sekarang per­bandingan penduduk di desa dan di kota adalah 60:40. Pariwisata adalah jawaban untuk mengatasi pengangguran di kota­kota itu, baik sekarang maupun di masa depan. Sumber daya yang ada sekarang ini juga banyak yang dipakai untuk membuat banyak infrastruktur par­iwisata, sehingga para wisatawan dapat menjadi lebih nyaman untuk berwisata ke dan di India.

Pada saat ini mulai banyak orang India yang berwisata ke laur negeri. Mungkin, sekitar 5-6 juta wisatawan dari India tiap tahunnya datang ke Asia Tenggara. Indonesia sebaiknya segera menangkap peluang tersebut dan mem­perkuat promosi pariwisatanya di India. Perlu juga bagi Indonesia untuk mem­buka kantor promosi pariwisatanya di India. Hubungan sejarah yang telah lama terjalin, bahkan sejak dahulu kala, dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Indonesia.

Garuda Indonesian Airways sangat diharapkan dapat membuka jalur pener­bangan langsung ke India. Penerbangan langsung dari India ke Indonesia sampai saat ini belum ada. Sementara itu, di Thailand terdapat penerbangan lang-sung ke India sampai dua kali dalam sehari. Padahal jarak antara India dengan Indonesia sangatlah dekat. Wisatawan India dikenal royal dalam ber­belanja. Anda akan mendapatkan banyak pemasukan dari para wisatawan India.