HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi X NOPEMBER 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 11 Nopember, 2008

 

 

 

Tiada hari tanpa teh

 Oleh : Sunarti Ichwanto

 

Potensi pasar teh Asia Tengah cukup besar. Teh dan coklat Indonesia telah masuk salah satu negara kunci di wilayah yaitu Uzbekistan.

“Jewuska, Chai se lemonom, pazalusta”, (Neng, minta tehnya dong,  pake lemon ya….!). Itulah kira-kira ungkapan yang sering di dengar setiap kali kita berada di chai khona salon atau kedai teh di Uzbekistan, atau disetiap warung, bahkan restoran. Teh tubruk panas yang manis dengan beberapa iris lemon atau sekedar teh tawar panas. Teh yang disajikan dalam poci dan cawan-cawan biru atau oranye bergambar kembang kapas itu menjadi ciri khas di Uzbekistan, bahkan di Asia Tengah, (Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Turkmenistan). Chai khona salon merupakan tempat minum teh yang menjadi ciri dan tradisi rakyat Uzbekistan. Dimana umumnya para lelaki berkumpul untuk ngobrol, beramah tamah, berdiskusi, atau bahkan  ‘bertengkar’ tetapi ada satu peraturan yaitu dengan cara yang ‘tenang dan damai’.

 

Teh disajikan di Chaihona salon

Ketika mengetahui seseorang dari Indonesia, orang Uzbekistan biasanya berkomentar “teh dan coklatnya sangat enaakk!!”  Minuman teh di Uzbekistan sangat merakyat, dalam arti dinikmati oleh semua kalangan, daripada minuman kopi atau coklat. Seperti juga di Indonesia, sepertinya tidak ada rumah tanpa teh.  Pemandangan serupa di atas, juga ditemui di rumah-rumah di Uzbekistán, yang pada umumnya mempunyai halaman luas. Sehingga selalu mempunyai amben atau dipan kayu, yang di atasnya terdapat meja berkaki pendek atas untuk menaruh teh temani roti (labioska) atau somsa. Disinilah keluarga Uzbek sering bercengkerama.

Di Uzbekistán, citra Indonesia sebagai penghasil teh sudah terbentuk dalam benak rakyat. Di Tashkent, ibukota Uzbekistán, masyarakat terbiasa dengan meminum teh hitam. Tetapi di Samarkand dan daerah-daerah lain, lebih terbiasa dengan teh hijau.  Bila kita pergi ke pasar tradisional, kita akan menemukan berbagai bentuk teh yang tidak dipaket tetapi dapat dibeli dengan ditimbang. Harga per 100 gram, berkisar sekitar Rp 2000 rupiah s/d Rp. 20 000,-. Tetapi ada juga yang sudah dalam paket sederhana, dengan harga yang tidak kalah murahnya.

 Namun demikian, bukan berarti teh olahan modern sulit didapat. Di supermarket-supermarket dapat dibeli teh celup dan teh biasa dengan berbagai rasa dan merek yang di impor dari Srilanka, China, Inggris, Turki, dan Rusia. Berbagai bentuk kemasan kaleng maupun karton yang cantik-cantik terpajang dengan menarik. Sayangnya, tidak ada kemasan tersebut, yang buatan Indonesia, meskipun teh-nya sendiri, diimpor dari Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan teh dari Turki, yang sangat popular di Uzbekistan, dan juga Asia Tengah dikenal dengan “Beta Tea”.

Pasaran teh di Asia Tengah pun kini semakin ketat bersaing dengan munculnya berbagai jenis teh dari China. Produk teh dari China, yang dipasarkan secara agresif sangat bersaing dengan produk-produk yang sudah ada, baik dari variasi kualitas, kemasan, dan harga, bahkan pemasarannya. Kios-kios the China dihadirkan secara khusus dengan pelayanan menarik baik di supermarket maupun kios. Persaingan ini semakin semarak, karena IEG Uzbekistán, selalu menyelenggarakan pameran internasional secara teratur setahun sekali. Pameran tidak hanya teh, tetapi produk-produk pertanian lainnya serta alat-alat pertanian, pengolahan maupun pengepakan. Uzbekistán membuka diri untuk produk-produk internasional sekaligus merangasang rakyatnya untuk berpacu dalam persaingan internasional. Sebaliknya, bila suatu produk bisa masuk Uzbekistán, maka nampaknya tidak akan terlalu sulit untuk memasuki pasar negara-negara Asia Tengah lainnya, apalagi setelah diwujudkannya pasar bebas di Asia Tengah.

Tahun 2008 adalah tahun ke tiga Uzbekistán menyelenggarakan pameran internasional teh dan kopi yaitu International Specialized Exhibition – Festival Tea and Coffee yang akan diselenggarakan tanggal 28-30 November 2008 di Tashkent. Adapun pameran lainnya yang diselenggarakan setiap tahun adalah  pameran obat-obatan, pharmasi dan teknologi farmasi (April); kecantikan dan Oabt-obat estética (April); Makanan (Maret); Moda dan Textil (Oktober); Pertanian (AGRO WORLD UZBEKISTAN, April);  Peralatan untuk teknologi makanan dan pengolahannya (November); Pertanian (UZAGROEXPO/Oktober-November 2009); Printing, Packaging, Publishing & Advertising (Agustus 2009).