|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Darwin, 64 tahun, adalah pria berpenampilan sederhana. Ia ditemui AKSES di sela-sela kesibukannya mengikuti Pameran Produk Unggulan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah atau kerap disebut Festival SME’sCO pada 5-9 Juli 2006, di Jakarta. Secara terbuka dan bersemangat dia menularkan kiat dan pengalamannya memasuki pasar China. Dia nekat memasarkan teh chin cau ke China didasarkan pada hobinya mengutak-atik dan meramu racikan tradisional untuk pengobatan penyakit diabetes mellitus yang dialaminya pada 2000. Dalam tempo tiga bulan setelah mengkonsumsi jamu godok chin cau, dia dinyatakan sembuh total. Perjalanan Darwin untuk memulai memproduksi dan menjual jamunya cukup panjang. Adapun pengobatan tradisional sudah akrab dia kenal sejak masa kanak-kanak. Ayah dan kakeknya adalah sinshe, ahli pengobatan tradisional China. Hobi itu kemudian diperdalam dan ditekuni melalui pendidikan di Singapura. Tahun 1979, Darwin mendapat gelar bachelor of Chinese medicine dari Research Centre of OrientalMedicine, Singapura. Berbekal pengetahuan tersebut, ia pun menjadi sinshe, selain mengajar ilmu bela diri. Pemegang dan II taekwondo serta dan II keishinkan karate ini juga gemar mempelajari kungfu sejakkanak-kanak. Kegemaran berolahraga itu tercermin dari postur tubuhnya yang masih terlihat gagah dan kekar, walaupun usia sudah mencapai kepala enam. Sebagai olahragawan dan sinshe, Darwin tidak menyangka pada September 2000 divonis mengidap penyakit diabetes mellitus. Mata dia terserang katarak. Beragam obat tradisional diabetes pada umumnya hanya berfungsi menjaga agar penyakit itu tidak berkembang lebih parah lagi. Demi mengobati diri sendiri, Darwin pun membongkar buku-buku yang dimilikinya, sekaligus mengingat kembali teori pengobatan China yang digelutinya, yang terdiri dari kayu, api, tanah, emas, dan air. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami, Darwin menjadikan dirinya sebagai eksperimen jamu racikannya. Ia juga menjalani pola makan sayur dan olahraga untuk membantu mengefektifkan pengobatan. Secara rutin ia melakukan pengujiankadar gula darahnya ke laboratorium kesehatan. Setelah tiga bulan mengonsumsi jamu godok teh chin chau-nya, dari hasil laboratorium padaJanuari 2001, Darwin dinyatakan semb uh dari diabetes dan katarak. “Setelah saya sembuh, saya ingin jamu ini juga bisa menolong dan menyembuhkan orang lain,” ujarnya. Bermodalkan pengalaman tersebut dan niat menolong sesama, Darwin dengan penuh keyakinan dan keberanian mengikuti pameran di Beijing pada 2003. Yang dipromosikan, tak lain adalah t he chin chau Mediabetea hasil temuan dan produksinya. Setelah itu, dia kembali mengikuti pameran di China, yaitu di Xia Men Expo tahun 2004, dan Nanking Expo tahun 2005. Usaha dan jerih payah dia tak sia-sia. Sebanyak 10 dos teh chin chau Mediabetea yang dibawa ke pameran pertama di Beijing habis terjual. Kini, Darwin malah sudah punya agen pemasaran di Hong Kong dan Singapura, - serta sedang menjajagi pemasaran ke India dan Inggris. “Yang penting, para pengusaha Indonesia jangan segan-segan dan takut untuk mempromosikan produksinya ke luar negeri,” kata Darwin penuh semangat. Apa yang dilakukan Darwin adalah mendorong pengusaha Indonesia agar berani tampil. “Asal yakin produksinya berbeda, dan memiliki kelebihan dengan produksi dari Negara lain,” ia menambahkan. Kiat Darwin agar produknya bisa masuk dan diterima masyarakat China? Darwin paham bahwa rakyat ‘’negeri panda’’ itu memiliki kebiasaan suka minum teh. Maka, produknya diberi embel-embel kata ‘’teh’’. Usaha yang awalnya dikerjakan di rumah dia, di bilangan Cengkareng Indah, itu berkembang pesat. Bapak dua anak laki-laki —yang besar S-2 di IBI dan yang kecil S-1 lulusan Universitas Trisakti— itu akhirnya memiliki pabrik sendiri di dekat rumahnya. Dengan rendah hati ia katakana bahwa pabriknya itu, “Mesinnya buatan lokal. Produksinya baru 1.000 dos per bulan.” Untuk mendukung usaha dia dan meningkatkan penghasilan orang lain, dia melibatkan para petani di beberapa daerah di Pulau Jawa dan Kalimantan. Mereka diorder untuk mengumpulkan beberapa jenis dedaunan dan rumput-rumputan yang diperlukannya. Berkat usaha dan kerja kerasnya itu, Darwin Kiro memperoleh penghargaan dari Suryadharma Ali, Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia, pada acara Malam Ajang Apresiasi Bagi Entrepreneur UKM di Balai Kartini, Jakarta, pada 23 Juni 2006.
Saat ini,
Darwin tengah berjuang meyakinkan dunia, khususnya pada Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) bahwa hasil temuan dia menggambarkan alam Indonesia memiliki
kayaan herbal yang luar biasa. Dan, saat ini, tiada lagi yang menertawakan
Darwin.
|