|
Edisi X NOPEMBER 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 11 Nopember, 2008
|
Peluang Emas di Tanah Emas Oleh : Imada Sagita Akibat gejolak politik yang tak kunjung reda, Myanmar hingga kini nyaris luput dari target pasar bagi produk-produk asal Indonesia. Padahal bila dicermati, banyak cara untuk mendapatkan ‘emas’ di negeri ini. Pada suatu masa sebelum Masehi, sekelompok orang Mon menelusuri daratan Asia bagian tengah dan terus berbelok ke Selatan menuju Sungai Thanlwin dan Sittoung. Mereka saling bercakap-cakap dalam dialek bahasa keluarga Mon-Khmer, dan kemudian menjadi orang-orang pertama yang diketahui mendiami wilayah Burma, atau yang sekarang disebut dengan Myanmar. Orang Mon yang mencintai emas dan melapisi pagoda-pagodanya dengan emas lalu menyebut kawasan tersebut sebagai “The Golden Land” atau Tanah Emas. Mereka mempraktekkan ajaran Budha untuk pertama kalinya di Asia Tenggara, dan berdagang dengan Raja Ashoka dari India. Dua puluh satu abad kemudian, dengan penduduk 54 juta, Uni Myanmar merupakan pasar potensial untuk penetrasi produk-produk asing. Tak diragukan lagi tulang punggung ekonomi negara ini adalah sektor pertanian, di mana 75% penduduknya bekerja di sektor ini, sementara sektor andalan lainnya adalah perdagangan, pertambangan, dan industri. Sistem ekonomi pasar telah diterapkan Myanmar sejak 1988 karena sistem sosialis dianggap gagal, namun peran pemerintah masih dominan.
Perdagangan Perdagangan luar negeri Myanmar kerapkali dilakukan dengan cara barter dengan hasil pertanian karena terbatasnya uang tunai akibat sanksi ekonomi Barat dan badan-badan keuangan internasional sejak tahun 1996. Strategi dagang Myanmar berfokus pada negara-negara ASEAN, China, India, Bangladesh, Jepang, dan Korea Selatan. Hampir 50% perdagangan dilakukan dengan negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Indonesia saat ini berada di urutan ke-9 sebagai mitra dagang Myanmar, di bawah China, Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, India, Korea Selatan dan Hong Kong. Nilai ekspor Myanmar ke Indonesia selama periode 2006-2007 mencapai US$ 104,50 juta, sedangkan nilai impor mencapai US$ 121,12 juta. Beberapa jenis produk yang punya potensi memasuki pasar kedua negara, misalnya Myanmar saat ini membutuhkan produk pupuk dan minyak kelapa sawit dari Indonesia, dan sebaliknya Indonesia dapat mengimpor kayu jati dari Myanmar. Beberapa produk unggulan Indonesia yang memiliki potensi memasuki pasar Myanmar seperti komponen/suku cadang kendaraan bermotor, produk kertas, sepatu, palm oil, kerajinan tangan, produk-produk kimia organik dan inorganik, tekstil dan produk tekstil, peralatan medis dan alat-alat rumah tangga. Saat ini ada sejumlah perusahaan Indonesia di Myanmar yang bergerak di bidang usaha dan trading antara lain migas, peternakan ayam induk modern, industri pakan ternak, industri makanan, dan perdagangan umum, termasuk salah satunya adalah PT Japfa Comfeed. Meskipun telah menguasai lebih dari 50% pangsa pasar di Myanmar, perusahaan ini tetap harus bersaing ketat dengan Perusahaan Thailand.
Peluang Menurut KBRI Yangon, kendala akses yang selama ini menghantui pengusaha Indonesia yang ingin mengadu untung di Myanmar, sesungguhnya dapat diatasi melalui kerjasama perdagangan dan pengaturan ekspor-impor kedua negara, terutama untuk produk makanan dan manufaktur yang selama ini diekspor ke Myanmar melalui Singapura atau Malaysia. Di tambah lagi, Indonesia dapat membuka jalur langsung baik udara maupun laut bagi pengiriman produk-produk Indonesia ke Myanmar. Pasar Myanmar juga dapat menjadi entry point memasuki pasar Kamboja, Vietnam, Laos, maupun Thailand. Cara lainnya adalah dengan memanfaatkan perbankan di Singapura, Malaysia dan Thailand – yang memiliki kerja sama perbankan dengan Myanmar – untuk kegiatan ekspor-impor, dan Indonesia dapat memanfaatkan kayu jati Myanmar yang lebih murah dan berkualitas untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Yang paling penting adalah untuk selalu mengangkat kembali potensi produk-produk andalan Indonesia ke pasar Myanmar pada berbagai kesempatan bisnis, tentunya dengan menonjolkan kualitas dan terjangkaunya harga barang-barang Indonesia, seperti produk-produk suku cadang kendaraan bermotor, kertas, pupuk, alat-alat pertanian, palm oil, semen, minyak mentah yang diminati di Myanmar.
|