HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VIII Maret  2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 30 March, 2008

 

 

 

WAWANCARA EDISI  VIII 2008

Tak kenal maka tak sayang

Oleh: Aji Setiawan

 

Saat AKSES bertandang ke kantor Kedutaan Besar Uzbekistan di bilangan Gatot Soebroto, kesan pertama yang didapat adalah kesederhanaan. Ruangan rapatnya ditata rapi dengan lemari pajangan, lengkap dengan beberapa buku Uzbekistan diatas meja. Penerangannya pun tidak beda dengan kantor pada umumnya. Tapi kesan biasa itu langsung hilang saat Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedubes Uzbekistan di Indonesia, Mr. Kahramon A. Shakirov bersemangat menjelaskan potensi hubungan ekonomi antara Uzbekistan dan Indonesia. Diplomat berpenampilan necis ini telah cukup memahami keadaan perekonomian kedua negara. Berikut petikan wawancara AKSES dengan KUAI Uzbekistan yang baru tujuh bulan menjalankan tugas diplomatiknya di Indonesia.  

Sebagai bagian dari wilayah Asia Tengah yang sedang berkembang perekonomiannya dewasa ini, bisa dijelaskan mengenai keadaan perekonomian di Uzbekistan ?

Pada awal tahun 2008, Presiden Islam Karimov telah menyampaikan perkembangan yang baik dari pertumbuhan ekonomi Uzbekistan. Beliau menyebutkan tentang pertumbuhan ekonomi selama tahun 2007 yang mencapai 9,75%. Sektor industri pun telah mengalami pertumbuhan yang baik sebesar 12,1% sedangkan sektor pertanian sebesar 6,1%. Namun perlu diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut tercapai dengan adanya perubahan-perubahan struktural ekonomi yang antara lain mencakup reformasi pasar, kemampuan menarik investasi asing, mendorong sektor produksi untuk ekspor dan mendorong pertumbuhan entrepreneurship (kewirausahaan) di kalangan swasta.

Apa yang telah dilaksanakan Pemerintah Uzbekistan dalam mendorong munculnya wiraswasta tersebut?

Pemerintah Uzbekistan melihat pentingnya kewirausahaan didorong agar semakin berkembang. Hal ini diperlukan dalam mendorong kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan. Untuk itu telah dilakukan perubahan peraturan untuk melindungi hak-hak kepemilikan swasta, kemudahan dalam mengurus lisensi atau izin bagi berbagai kegiatan yang digolongkan sebagai private entrepreneurship. Sesuai dengan semangat privatisasi yang dilaksanakan di Uzbekistan, maka pada dasarnya saat ini Pemerintah Uzbekistan semakin mengurangi campur tangan dalam kegiatan usaha yang banyak melibatkan sektor industri kecil. Misalnya, mengingat pentingnya komoditi pertanian di Uzbekistan maka kelompok usaha swasta dengan skala kecil dan menengah dibidang tersebut dibantu dengan bantuan kredit bank dan fasilitas pengurangan pajak.

Bagaimana Anda melihat tingkat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Uzbekistan saat ini ?

Sebenarnya potensi kerjasama perkonomian kedua negara sangat besar. Dengan latar belakang sektor migas dan industri tekstil yang cukup besar maka Uzbekistan telah mengekspor kedua komoditas tersebut ke Indonesia. Sebaliknya komoditas Indonesia seperti teh, kopi, karet dan produk bahan kimia sudah memasuki pasar Uzbekistan.  Upaya kedua pihak untuk meningkatkan perdagangan terus dilakukan. Sebagai penghasil kapas kedua terbesar di dunia, beberapa bulan yang lalu sejumlah pengusaha produsen kapas dari Uzbekistan datang ke Indonesia untuk bertemu dengan kalangan industri tekstil Indonesia. Di sisi lain, Uzbekistan juga menyelenggarakan berbagai pameran yang dapat digunakan sebagai sarana pemasaran produk-produk Indonesia. Sebagai contoh dalam bulan Mei 2008 ini akan diselenggarakan pameran tahunan Agrominitech yang merupakan pameran hasil produk industri pertanian maupun alat-alat industri pertanian. Diharapkan dengan kerjasama yang baik dengan pemerintah Indonesia, maka akan ada banyak pengusaha Indonesia yang bisa berpartisipasi pada pameran tersebut.  

Dari segi daya saing, bagaimana sebenarnya dengan persaingan produk Indonesia dibanding produk-produk negara lain yang ada di pasar Uzbekistan?

Menurut saya setiap produk yang beredar di pasar mempunyai penggemar tersendiri. Jika konsumen sudah menyukai produk tersebut, tentunya produk tersebut akan selalu diminati konsumen Uzbekistan. Produk-produk kerajinan Indonesia selama ini cukup diminati di Uzbekistan. Begitu pula dengan produk garmen Indonesia.

Memang pasar di Uzbekistan juga menerima produk dari negara-negara sekitar, ditambah produk dari China, India dan sebagainya. Namun seperti saya katakan sebelumnya, dengan semakin banyaknya jenis produk Indonesia yang masuk ke pasar Uzbekistan maka peminatnya akan tetap ada.

Melihat pada jauhnya jarak antara Indonesia dan Uzbekistan, apakah ada peluang bagi sektor industri kecil dan menengah Indonesia untuk bisa bersaing di pasar Uzbekistan ?

Saat ini pemerintah kami menawarkan kepada para pengusaha asing untuk bisa melakukan produksi di Uzbekistan. Banyak fasilitas yang akan ditawarkan oleh Pemerintah kepada pengusaha tersebut, misalnya insentif pajak dan kemudahan bagi produk tersebut untuk memanfaatkan Uzbekistan untuk memasuki pasar Asia Tengah atau bahkan Eropa. Selama ini memang produk-produk Indonesia yang memasuki pasar Uzbekistan masih melalui negara ketiga. Untuk itu diharapkan para pengusaha Indonesia mau mempertimbangkan kesempatan melakukan produksi di Uzbekistan sebagai salah satu cara mengatasi kendala pengiriman hasil produksi dari Indonesia 

Sektor perbankan juga penting dalam transaksi ekspor- impor. Adakah hal-hal yang menghambat upaya peningkatan transaksi perdagangan jika dilihat dari kerjasama perbankan antara Uzbekistan dan Indonesia?

Saya tidak melihat adanya hambatan yang berarti dalam transaksi ekspor dan impor antar kedua negara khususnya dalam masalah pembiayaan antar bank. Selama ini  transaksi pembayaran yang harus dilakukan melalui korespondensi bank ketiga, namun demikian sekarang ini sudah ada pembicaraan antara bank-bank di Indonesia dengan di Uzbekistan untuk kerjasama antar bank. Saya berharap kerjasama itu dapat segera terlaksana.