HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI III 2006

TKI hanya butuh ijazah SD dan Tekad

Oleh: M. Aji Surya

RUMPUT tetangga lebih hijau daripada rumput rumah sendiri. Ungkapan itu agaknya pas untuk menggambarkan tentang maraknya para tenaga kerja terutama wanita Indonesia, yang mencari peruntungan bekerja di luar negeri. Maklum, lapangan kerja di Indonesia bagi mereka sangat terbatas dan kurang menjanjikan.

Melihat fenomena itu, kini tak sedikit para PJTKI yang membuka perwakilan hingga ke daerah-daerah terpencil. Perusahaan pengirim tenaga kerja itu gencar mengiming-imingi untuk menjadi TKI di luar negeri. Bahkan, di Pegandon, sebuah daerah kecamatan di Kendal, Jawa Tengah, ada PJTKI yang membuka perwakilan.

Padahal, melihat realita yang ada, tak selamanya bekerja di luar negeri menangguk sukses. Faktanya, banyak sekali masalah yang menimpa tenaga kerja wanita (TKW). Meski begitu, tak sedikit pula yang bernasib sebaliknya. Artinya ada TKW yang sukses hingga mempunyai modal usaha untuk mendapatkan kehidupan yang layak di Tanah Air.

Banyak alasan mengapa seseorang tertarik menjadi TKW. Selain yang disebutkan di atas, masalah ekonomi menjadi faktor utama yang menjadi roda pen­dorong mengapa seseorang mencoba mencari peruntungan di luar negeri.

Tak terkecuali yang dilakukan Rohmah, seorang mantan TKW asal Dukuh Jagalan RT 2 RW 4, Desa Penanggulan Pegandon, Kendal, Jawa Tengah. Bisa di­bilang, alasan utama wanita ke­lahiran 1956 ini menjadi TKI karena sehari-hari kesulitan mencari sesuap nasi.

Dengan hanya berbekal selembar ijazah Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) dan ke­nekatan—tanpa ketrampilan sedikit pun— Rohmah melenggang terbang ke Jeddah, Saudi Arabia, setelah melalui pintu Depart­emen Tenaga Kerja (Depnaker) di Se­marang. “Saat itu, sekitar tahun 1984, tak ada biaya sedikitpun alias gratis,” kata wanita yang menghabiskan waktunya di Arab selama 15 tahun ini.

Mengenai ijazahnya yang cuma lulusan SD, menurut Rohmah, saat itu tidak ada standar pendidikan minimal yang ditempuh. “Yang penting, dapat membaca tulisan, sudah cukup,” katanya.

Beruntung, di sana, tepatnya di daerah Khayi Shoffa, Jeddah, ia mendapatkan majikan yang cukup baik hati bernama Hassan Hillal dan istrinya, Karmey. Di keluarga itulah, hari-hari Rohmah dilalui dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT)

Di keluarga Hassan itu, Rohmah di­temani satu lagi pembantu rumah tangga. Namun, ia mengaku sehari-hari bekerja non-stop, sejak bangun pagi hingga malam hari. Jenis pekerjaannya beragam, dari memasak hingga mengepel, dari mencuci hingga menyetrika. Ibaratnya, selalu saja ada yang harus dikerjakan.

Berapa Rohmah digaji? “Saat itu gaji saya 500 real,” ujar wanita yang hingga kini memilih hidup sendirian itu.

Pernah mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, misalnya harus berurusan dengan yang berwajib di sana? Rohmah mengaku belum pernah mengalami. Ia hanya merasa pernah dibohongi ketika sistem gaji yang diterima tidak dalam bulanan, melainkan rapelan. Artinya, ia di­bayar beberapa bulan sekali.

Namun, akhirnya cara pembayaran itu tidak jadi masalah. Sebab, dengan begitu, dia justru bisa menabung. “Saya memang belum pernah berhubungan dengan pihak KBRI, misalnya. Karena saya termasuk TKW yang tidak punya kasus,” ungkapnya.

Sepanjang bekerja hingga belasan tahun itu, Rohmah juga tidak pernah mengalami tindakan kekerasan oleh majikan. Bisa jadi karena Rohmah beruntung mendapatkan majikan yang baik hati.

Celakanya, selama kerja di Arab dia tak mengabari keberadaannya pada sanak­famili di Tanah Air. Rohmah pun sempat dikabarkan hilang. Akhirnya Rohmah pulang kampung tahun 1999 dengan membawa segepok real. “Alhamdulillah ketika saya pulang saya berhasil membawa uang Rp 180 juta,” katanya dengan logat Jawa yang kental.

Dengan uang segitu, Rohmah bisa dikatakan sebagai TKI yang sukses. Kemis­kinan yang pernah diderita sudah terkubur. Saat ini, ia memiliki satu minibus, satu angkutan pedesaan, empat mobil dump-truck yang biasa untuk proyek, dan bebe­rapa ekor sapi, serta sejumlah simpanan dalam bentuk deposito.

Akan hal banyak TKW yang sepulang dari Arab membangun rumah gedung, dan setelah itu uangnya ludes, Rohmah lebih memilih hasil kerja di Arab sebagai modal usaha. Dengan begitu uangnya akan terus berkembang dan bukannya mandeg. Apa kiat sukses Rohmah? “Kalau bias tabunglah uang dari gaji kita, karena dengan begitu uang kita akan ngumpul. Dan setelah pulang ke Tanah Air, gunakanlah uang itu sebaik-baiknya, misalnya sebagai modal usaha. Dan bukan untuk foya-foya,” katanya. Apa yang diperoleh Rohmah tenyata berbanding terbalik dengan yang dirasakan Kunaedah. Meski telah dua kali ia mencari peruntungan di negara Arab, yang diperoleh tetap jauh dari harapan. “Keberhasilan orang yang pergi keluar negeri adalah ketika ia berhasil membangun rumah dengan sangat bagus, dan itulah yang belum bisa saya lakukan sampai saat ini,” tutur wanita beranak satu di rumahnya di RT 7 RW 6 Dukuh Getas, Desa Penanggukan Pegandon, Kendal, Jawa Tengah. Padahal, kata wanita kelahiran 20 Februari 1976 ini, ia telah dua kali ke Negara Arab. Yang pertama berangkat tahun 1998 dan kontrak berakhir dua tahun kemudian.

Saat itu ia ikut majikan bernama Hasan Muhammad Alnamer, yang tinggal di daerah Damman. Kali kedua ia bekerja pada majikan bernama Aminah Ahmad dan Yusuf Ahmad Hasan, yang bekerja di Al Fujaerah, Abu Dabi. Mengapa harus jadi TKW di luar negeri? Lulusan SD ini mengatakan kesulitan ekonomi yang menjadi  pendorong utama. Toh, menurut ibu dari Mutamiul ‘ula (2 tahun) ini, lulusan SD sudah memenuhi syarat untuk bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. “Soal ijazah atau ketrampilan saat itu tidak penting. Bahkan ijazah pun, kalau mau bisa dipalsukan,” tutur Kunaedah yang ke Arab lewat PJTKI Afida Jakarta ini. Ketika disinggung mengenai beberapa fakta bahwa TKW yang lulusan SD rentan kena tipu, Kumaedah tak  begitu merisaukan. “Yang penting gajinya tepat waktu,” katanya dengan santai.

Tentang bekal ketrampilan yang diperoleh, Kunaedah menuturkan hanya didapat di tempat penampungan selama dua bulan. Yaitu, pelatihan bahasa Arab dan pelatihan baby sitter. Apakah ia terkena “kasus” hingga ia merasa belum berhasil? “Tidak, saya tidak terkena kasus,” jawab Kunaedah tegas. Kunaedah yang bergaji 600 real per bulan, semestinya  cukup lumayan dibandingkan gaji pembantu rumah tangga di Indonesia. Namun, lanjut dia, ia sendiri tidak tahu mengapa gajinya tidak mampu diwujudkan membuat rumah di Tanah Air. “Mungkin, faktor waktu yang  lama yang juga mempengaruhi keberhasilan seseorang bekerja di Arab Saudi.” Mengenai perlindungan bagi para TKW di Arab Saudi yang biasa dilakukan oleh KBRI, sejauh ini Kunaedah belum pernah merasakan. Yang ia tahu dari cerita rekan sesama TKW, peran KBRI lumayan bagus, terutama ketika membela TKW  yang terkena kasus.

Misalnya, ada TKW yang gajinya yang tak dibayarkan tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Majikan yang diikuti, menurut Kunaedah, lumayan toleran. Ia hanya bekerja mulai pukul 6 pagi sampai jam 11 malam. Selain itu, setiap hari Kamis, ia diberi libur barang beberapa waktu untuk sekadar refresing jalan-jalan. Tentang kesehatan diri dia, majikan Kunaedah selalu memerhatikan dengan sungguh-sungguh. Lalu apa yang diperoleh dari kerja di Arab Saudi? Itulah yang malu untuk dibeberkan. Semua jauh dari harapan. Hingga kini, Kunaedah bersama suami dan anaknya masih numpang di rumah orang tuanya. Walau begitu, Kunaedah masih ingin kembali mencoba peruntungan di Arab Saudi. Ia masih punya harapan besar. “Saya kalau di rumah malah pusing, karena tak tahu apa yang mau dikerjakan,” ujarnya.

Sementara itu, Komsatun, seorang TKW lain asal Dukuh Getas RT 01 RW 06 Desa Penanggulan Pegandon, Kendal, Jawa Tengah, mengaku apa yang diperolehnya dari bekerja di luar negeri ternyata sudah lebih dari cukup. Kini, ia memiliki rumah cukup besar dengan cat warna cokelat berlantai keramik. Bekerja sejak tahun 1997 dan pulang pada Juni 2006 lalu, wanita kelahiran 1 Januari 1965 ini, ikut majikan Sami Saleh Al Muwallad yang bertempat tinggal di daerah Rabe, sekitar dua jam dari Jeddah dengan kendaraan mobil. Komsatun juga berbekal ijazah SD. Ia berangkat lewat PT Fajar Mustika, Jakarta, hanya bermodalkan kenekatan. Ternyata hasilnya pun cukup membanggakan. Di Arab Saudi, Komsatun digaji 600 real per bulan. Di negeri Arab, Komsatun mengaku biasa-biasa saja. Ia cukup bisa memahami budaya Arab.

Hanya saja, ada salah  seorang kawannya yang mengandung bayi dari ulah majikan. Menyikapi hal itu semuanya tergantung atau berpulang dari diri masingmasing. “Biasanya, kalau ada majikan seperti itu, seterusnya majikan itu tidak bias mengambil lagi TKW karena namanya sudah rusak,” kata wanita beranak tiga ini. Apakah “kecelakaan” itu terkait oleh TKW yang hanya bermodalkan ijazah SD dan kurang bisa membaca gelagat buruk, serta hanya bermodalkan kenekatan? “Saya pikir semuanya tergantung pada majikan yang kita ikuti,” kata Komsatun.

Adapun problem yang didapat Komsatun adalah majikannya ternyata tidak bisa membayar gaji yang seharusnya menjadi haknya. Cerita Komsatun, majikannya itu gemar berjudi dan main perempuan hingga akhirnya bangkrut. Dia pun di-PHK. Komsatun akhirnya dipekerjakan pada adik majikannya bernama Hazza. Pembayaran gaji yang tak beres ini, akhirnya membawa dia ke KBRI. Selama tujuh bulan, Komsatun mondar-mandir tak ada kerjaan di kedutaan. “Kalau saya ganti majikan, otomatis saya nggak akan lagi mendapatkan hak gaji saya selama bekerja di majikan saya yang dulu. Itulah yang membuat saya mondar-mandir di kedutaan selama tujuh bulan.”

Pihak KBRI, lanjut dia, sudah mati-matian berjuang membela apa yang dialaminya. Berbagai upaya dilakukan, meski akhirnya gagal. Beruntung, sebelum majikan bangkrut ia sudah punya tabungan yang cukup. Dari tabungan itulah akhirnya ia berhasil membangun rumah yang cukup megah saat ini. “Sampai saat pulang inipun sebenarnya saya masih punya uang sebesar 600 real kali 2 tahun yang belum dibayarkan kepada saya,” katanya kemudian. Kapok bekerja di Arab Saudi? “Saya tidak kapok, bahkan saya sudah berencana untuk berangkat lagi. Biasanya kalau sudah pernah berangkat ke sana prosesnya akan lebih cepat,” ujar Komsatun. Cukup mengandalkan ijazah SD? “Ijazah bagi saya tidak begitu penting, yang penting saya sudah pernah bekerja di sana. Jadi kalau mau, ya tinggal berangkat saja.”

foto dok GATRA