HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VIII Maret  2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 01 April, 2008

 

 

 

RENUNGAN

edisi VIII 2008

 

STOP E-G-P

oleh: M. Aji Surya

 

Suatu istilah yang muncul dalam masyarakat biasanya bukan tanpa sebab. Bisa jadi, hanya karena keisengan belaka, namun dapat juga karena sebuah proses sosiologis-antropologis. Suatu akumulasi atas kelakukan dan kebiasaan?

Ada kelakar setengah serius di Perancis. Kalau hampir seluruh bahasa dunia mengenal kata “mahal” dan ”murah”, tidak demikian di negerinya Sarkozy ini. Mereka hanya memiliki kosa kata ”mahal” atau cher. Sedangkan untuk kebalikan kata itu, mereka hanya menyebut ”tidak mahal” atau pas cher, bukan ”murah”. Tidak heran bila kemudian banyak yang berkesimpulan: ”Memang di sana serba mahal sih.” Kalau tidak percaya, datang saja dan belanjalah dengan euro, pasti terasa ”mak ngek”. Sebagai ilustrasi, ngopi dengan roti dua orang di restoran Potsdamer Platz Berlin, kantong akan mengempis 10 euro atau kurang lebih Rp 140 ribu. Sedangkan di restoran kawasan Avenue des Champs Elyeees Paris, siapkan minimal 18 euro. Adakah kaitan antara ketiadaan kosa kata murah dengan harga di Paris? Wallahu a’lam, yang jelas ada buktinya.

Nah, dalam beberapa tahun belakangan ini, kita juga kedatangan kosa kata baru, terdiri dari tiga huruf (e-g-p) yang bisa dibaca langsung ”emang gue pikirin”. Walau tidak dikenal dalam kamus Poerwodarminto, kata egepe berarti tidak perduli, cuek, tidak mau tahu, biar orang saja yang bertanggung jawab, toh nanti bener sendiri, ga’ ada hubungannya dengan saya, don’t care, je m’en fiche, mbuh ra weruh, kumaha engke wae dan sebagainya. Istilah simpel tadi memang awalnya berasal dari kalangan anak muda Jakarta, tapi bak virus cikungunya, dengan cepat menyebar dan menginfeksi banyak orang, bahkan ke semua daerah di Indonesia.

Dalam batas-batas tertentu, egepe lebih merupakan sikap mental, bukan sembarang kata tanpa makna sosiologis. Dahulu kosa kata egepe hanya muncul di kalangan anak muda yang cuek alias tidak perduli terhadap teman, guru, ortu maupun lingkungannya. Nadanya lebih bernada joke, kelakar atau guyon. Namun, saat ini seolah semua orang dengan enteng mengatakan egepe. Kata singkatan itu mudah didengar di sembarang tempat: bus kota, angkot, mall, mobil mewah sampai dengan rapat-rapat penting. Virus egepe harus dicermati dengan seksama karena diperkirakan mencerminkan sikap mental egois, individual, tidak bervisi dan cenderung destruktif.

 

 

 

Egepe lingkungan

Kalo diperhatikan sampai detail, mental egepe terhadap lingkungan sudah pada stadium naudzubillahi min dzalik. Dampak yang dibuatnya betul-betul membuat repot semua orang meski root causes yang satu ini sering dilupakan. Kalau mau jujur, banjir yang lagi ngetren sekarang juga disebabkan oleh soal sepele, egepe lingkungan. Ingat, jangan cepat-cepat menuding Tuhan. Sebab dalam Qur’an termaktub peringatan-Nya: ”Telah jelas, kerusakan daratan dan lautan akibat ulah manusia”.

Untuk membuktikannya, mari kita lihat hal-hal simpel di seputar kita saja. Tidak hanya di kampung-kampung, tapi juga di tengah kota yang merupakan pusat peradaban, masyarakat dengan entengnya membuang sampah sembarangan. Tangannya sangat ringan melempar aneka benda ke got maupun jalan raya. Werr... ”Ah ntar kan juga ada yang bersihin.” katanya. ”Kalau ga’ kita buang begitu, ntar tukang sapu ga’ ada kerjaan,” kata yang lain tanpa dosa. Atau, di tempat mewah ber-ac, sering terlihat goyangan ujung kaki tiga kali begitu puntung rokok disentilkan jemari manis tangan perokok. Bahkan, dari mobil kinyis-kinyis berharga milyaran yang meluncur dengan kecepatan tinggi di jalan tol, tiba-tiba cendela terbuka, lalu wess... kulit pisang atau bungkus Mc. Donald mampu terbang tinggi meski tak bersayap.

Akibat dari olah raga tangan dan kaki itu, sangat mudah dikalkulasi akibatnya. Ambil contoh, satu kampung punya 500 KK dengan 2000 penduduk. Bila mereka semua bermental egepe dan membuang sampah sembarangan, plus dari war wer ulah para pengguna jalan seperti tukang sayur, tukang bakso hingga yang dari mercedes tadi, praktis saja got langsung mampet dalam waktu seminggu. Tidak percaya? Sesekali tengok got depan rumah, pasti ada akumulasi aneka makhluk yang berlainan mulai dari sandal jepit bekas, botol plastik, gelas pecah, rongsokan kunci, daun-daunan, kertas majalah, ball point, mainan anak-anak dan lainnya. Semua bercampur jadi satu dalam bentuk yang menjijikkan dan tidak sedap untuk dipandang, dihirup, apalagi di”rasa”kan.

Kalau aktivitas war-wer itu belum bisa dihentikan, please jangan pernah protes bila got di semua kota Indonesia tidak memiliki air bening – sebagaimana di negara maju. Semua serba pekat, hitam dan menjadi sarang aneka kuman penyakit. Sungai yang melintas juga merupakan arena penghantar kotoran sehingga airnya berwarna keruh, kelam dan berbau busuk. Tak ayal, orang-orang yang tinggal di pinggirnya, juga jadi sakit-sakitan. Dari gatal-gatal, diare, malaria, demam berdarah, cikungunya hingga sesak napas.

Akibat egepe juga, usaha mengeruk got dengan susah payah melalui mekanisme gotong royong, tidak banyak memberikan solusi. Apalagi, got-got di depan rumah banyak yang dibeton dan didirikan bangunan di atasnya, sehingga membersihkan sampah di dalamnya menjadi termehek-mehek. Hari Minggu dikeruk, Sabtu depanya sudah mampet lagi. Nah, sewaktu musim hujan tiba, air tidak lagi mengalir melalui jalan yang semestinya alias emoh melenggang via drainase yang sumpek dan bau. Air dengan segala nalurinya lebih suka meluap semua ke jalan raya dan menciptakan ”kebersamaan” baru dengan mobil mengkilap mercedes, bajaj, taksi, bus kota dan Trans Jakarta.

Dalam kondisi itu, air yang merupakan sumber kehidupan telah berubah menjadi  monster yang tidak ada lawannya. Mereka muncul dari lobang-lobang drainase lalu merayap dan semakin lama semakin besar. Ada yang menampakkan kekuasaannya di pegunungan, desa, kampung, pinggir kota, hingga jalan protokol Sudirman dan Thamrin Jakarta.  Air bah itu membuat pengguna jalanan (tukang bajaj, menteri sampai presiden) takluk dibuatnya. Para pengendara sontak menginjak rem dan berjalan ekstra hati-hati. Kemacetan yang luar biasa tiba-tiba terjadi dimana-mana. Semua menumpuk jadi satu. Yang semula hanya perlu perjalanan 5 menit, kini jadi 50 menit. Dari 1 jam jadi 4 jam. Semua orang mengumpat dan marah-marah dibuatnya.

Uniknya, di tengah kemacetan tersebut, dari dalam mobil ada seorang pengumpat yang tanpa sadar melayangkan sesuatu ke arah jalan, mak werrr.... tisu basah pembersih lipstik mengenai muka seorang pengendara motor sebelum jatuh ke bumi. Bisa ditebak, dua hati yang panas karena banjir menjadi terpanggang. Keributan pun tidak dapat dihindarkan. Tangan-tangan melayang sesukanya dan urusanpun baru berhenti di pengadilan.

Bicara soal egepe, memang tidak pernah ada habisnya. Monster ini seolah telah terkloning secara tidak sengaja lalu lahir dimana-mana. Hutan lindung ditebang. Minyak subsidi diselundupkan. Kasus hukum dijual belikan. Pajak tidak dibayarkan. Narkoba dipasarkan di penjara dan sekolah. Jualan sayuran di jalan raya. Pak Ogah bikin macet di perempatan. Kaki lima buka warung diatas trotoar. Pengendara motor selap selip seenaknya. Pengendara mobil lupa memberi ruang bagi motor. Lampu merah tidak diperdulikan. Gara-gara egepe, segala aturan dan norma demikian mudah disepelekan meski dampaknya fatal bagi kehidupan. Aduh cape deh dibuatnya. Makanya, stop egepe. Emang Gue Pikirin….