HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

INFO PASAR  EDISI VI 2007

Sabun B-29 tembus pasar Afrika

Oleh: Dicky Fabrian

 

PADA 1970-an hingga awal 1980- an, iklan sabun B-29 hampir tiap hari nongol di televisi atau radio. Saking populernya, seorang pelawak wanita sampai menempelkan merek tersebut di belakang namanya, hingga dia populer dipanggil Ratmi B-29. Sekarang gaung produk sabun B-29 kurang terdengar di Tanah Air. Yang akrab di telinga adalah merek-merek: So Klin, Surf, Daia, Sunlight, Wings, dan Rinso. Apakah PT Sinar Antjol sudah tidak memproduksi lagi B-29? Adriyanto, eksekutif Sinar Antjol yang bertugas di Addis Ababa, Ethiopia, mengatakan bahwa B-29 sebagai sabun multi-purpose masih dijual di pasaran Indonesia. Tapi tidak menyasar masyarakat perkotaan, melainkan kaum pinggiran kota. Mengapa iklan B-29 sangat jarang ditemukan di media cetak ataupun elektronik? Menurut Adriyanto, biaya promosi di media-media tersebut sangat mahal. Perusahaan merasa tidak bijak untuk jorjoran bersaing dengan para kompetitor lewat iklan. Mereka memindahkan biaya promosi tersebut untuk hal lain seperti membuka pabrik di Addis Ababa.

PORTOFOLIO AFRIKA

Secara umum, Afrika dengan segala potensinya masih dipandang sebelah mata oleh penduduk Indonesia. Senada dengan itu, para entrepreneur kita pun masih sangat sedikit yang mau berinvestasi langsung di benua tersebut. Citra negatif Afrika berkaitan dengan kemiskinan, kerusuhan, penyakit, bencana alam, dan penyalahgunaan narkoba selalu menghantui pemikiran mayoritas masyarakat Indonesia. Kenyataannya, Afrika tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Dari 53 negara di benua tersebut, yang “bermasalah’’ hanya sekitar 10 negara. Tidak adil jika kita membuat generalisasi bahwa keadaan di 10 negara itu merupakan refleksi Afrika. Beberapa negara di kawasan tersebut bahkan tergolong maju, berpotensi untuk maju, atau sedang melakukan pembangunan. Salah satu negara di Afrika yang sedang membangun adalah Ethiopia.

BERPRODUKSI DENGAN MESIN-MESIN TUA

Peluang inilah yang ditangkap PT Sinar Antjol. Pada 2003, Sinar Antjol melakukan investasi langsung di negara itu, di bawah bendera 1st Indo-Ethiopia Plc. Sinar Antjol menggandeng mitra lokal berdasarkan asas simbiosis mutualisme, dengan saham mayoritas dipegang Sinar Antjol. Dalam konteks kerja sama ini disepakati, mitra lokal bertanggung jawab menyediakan lahan untuk pabrik dan perkantoran, sedangkan Sinar Antjol menyediakan mesin mesin yang diperlukan serta bahan baku sabun yang diimpor dari Tanah Air. “Mesin-mesin yang kami kirim bukanlah mesin baru, melainkan mesin mesin tua yang secara perhitungan perusahaan sudah tidak ada nilai ekonomisnya lagi,’’ kata Adriyanto. Alasannya sangat sederhana. “Kami masuk pasar Afrika gambling. Kalau berhasil, syukur. Kalau gagal, perusahaan tidak rugi-rugi amat karena mesin yang dikirim sudah out of date.’’ Ternyata pilihan berinvestasi langsung di Etiopia adalah pilihan tepat. Sinar Antjol segera mendulang emas keberuntungan tidak sedikit. Adriyanto menjelaskan, B-29 sekarang ini menguasai pasar Etiopia dalam bidang deterjen sebesar 40%, dengan penghasilan sekitar US$ 1 juta per bulan (Agustus 2007). Perusahaannya malah berencana melakukan ekspansi pasar dengan menambah mesin-mesin baru, sehingga produk yang dihasilkan dapat lebih banyak.

SABUN MANDI KALAH PAMOR

Sabun batangan multi-purpose B- 29 dijual dengan harga 3,5 birr per buah di Ethiopia (setara dengan Rp 3.500), dan ternyata laku keras. Sebaliknya, sabun mandi (beauty soap) yang dijual dengan harga 1,25 birr per buah (setara dengan Rp 1.250) tidak begitu laku. Ternyata itu karena alasan praktis. Pola pikir orang Ethiopia/Afrika adalah: sabun multipurpose, sesuai dengan namanya, bisa digunakan untuk mandi, cuci, sekaligus sampo. Sedangkan sabun mandi hanya untuk mandi. Di samping PT Sinar Antjol, ada beberapa perusahaan Indonesia yang telah melakukan investasi langsung di Afrika. Antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk di Nigeria, PT Kalbe Farma di Nigeria, dan PT Kedaung Group di Ghana. Berkaca pada pengalaman dan kisah sukses PT Sinar Antjol di Ethiopia, semoga tulisan ini menggugah para pengusaha Indonesia lainnya untuk melakukan investasi langsung di Afrika.

foto-foto:sinarantjol.com