PADA 1970-an
hingga awal 1980- an, iklan sabun B-29 hampir tiap hari nongol di televisi
atau radio. Saking populernya, seorang pelawak wanita sampai menempelkan
merek tersebut di belakang namanya, hingga dia populer dipanggil Ratmi B-29.
Sekarang gaung produk sabun B-29 kurang terdengar di Tanah Air. Yang akrab
di telinga adalah merek-merek: So Klin, Surf, Daia, Sunlight, Wings, dan
Rinso. Apakah PT Sinar Antjol sudah tidak memproduksi lagi B-29? Adriyanto,
eksekutif Sinar Antjol yang bertugas di Addis Ababa, Ethiopia, mengatakan
bahwa B-29 sebagai sabun multi-purpose masih dijual di pasaran Indonesia.
Tapi tidak menyasar masyarakat perkotaan, melainkan kaum pinggiran kota.
Mengapa iklan B-29 sangat jarang ditemukan di media cetak ataupun elektronik?
Menurut Adriyanto, biaya promosi di media-media tersebut sangat mahal.
Perusahaan merasa tidak bijak untuk jorjoran bersaing dengan para kompetitor
lewat iklan. Mereka memindahkan biaya promosi tersebut untuk hal lain
seperti membuka pabrik di Addis Ababa.
PORTOFOLIO
AFRIKA
Secara umum,
Afrika dengan segala potensinya masih dipandang sebelah mata oleh penduduk
Indonesia. Senada dengan itu, para entrepreneur kita pun masih sangat
sedikit yang mau berinvestasi langsung di benua tersebut. Citra negatif
Afrika berkaitan dengan kemiskinan, kerusuhan, penyakit, bencana alam, dan
penyalahgunaan narkoba selalu menghantui pemikiran mayoritas masyarakat
Indonesia. Kenyataannya, Afrika tidaklah seburuk yang kita bayangkan. Dari
53 negara di benua tersebut, yang “bermasalah’’ hanya sekitar 10 negara.
Tidak adil jika kita membuat generalisasi bahwa keadaan di 10 negara itu
merupakan refleksi Afrika. Beberapa negara di kawasan tersebut bahkan
tergolong maju, berpotensi untuk maju, atau sedang melakukan pembangunan.
Salah satu negara di Afrika yang sedang membangun adalah Ethiopia.
BERPRODUKSI DENGAN MESIN-MESIN
TUA
Peluang
inilah yang ditangkap PT Sinar Antjol. Pada 2003, Sinar Antjol melakukan
investasi langsung di negara itu, di bawah bendera 1st Indo-Ethiopia Plc.
Sinar Antjol menggandeng mitra lokal berdasarkan asas simbiosis mutualisme,
dengan saham mayoritas dipegang Sinar Antjol. Dalam konteks kerja sama ini
disepakati, mitra lokal bertanggung jawab menyediakan lahan untuk pabrik dan
perkantoran, sedangkan Sinar Antjol menyediakan mesin mesin yang diperlukan
serta bahan baku sabun yang diimpor dari Tanah Air. “Mesin-mesin yang kami
kirim bukanlah mesin baru, melainkan mesin mesin tua yang secara perhitungan
perusahaan sudah tidak ada nilai ekonomisnya lagi,’’ kata Adriyanto.
Alasannya sangat sederhana. “Kami masuk pasar Afrika gambling. Kalau
berhasil, syukur. Kalau gagal, perusahaan tidak rugi-rugi amat karena mesin
yang dikirim sudah out of date.’’ Ternyata pilihan berinvestasi langsung di
Etiopia adalah pilihan tepat. Sinar Antjol segera mendulang emas
keberuntungan tidak sedikit. Adriyanto menjelaskan, B-29 sekarang ini
menguasai pasar Etiopia dalam bidang deterjen sebesar 40%, dengan
penghasilan sekitar US$ 1 juta per bulan (Agustus 2007). Perusahaannya malah
berencana melakukan ekspansi pasar dengan menambah mesin-mesin baru,
sehingga produk yang dihasilkan dapat lebih banyak.
SABUN
MANDI KALAH
PAMOR
Sabun
batangan multi-purpose B- 29 dijual dengan harga 3,5 birr per buah di
Ethiopia (setara dengan Rp 3.500), dan ternyata laku keras. Sebaliknya,
sabun mandi (beauty soap) yang dijual dengan harga 1,25 birr per buah (setara
dengan Rp 1.250) tidak begitu laku. Ternyata itu karena alasan praktis. Pola
pikir orang Ethiopia/Afrika adalah: sabun multipurpose, sesuai dengan
namanya, bisa digunakan untuk mandi, cuci, sekaligus sampo. Sedangkan sabun
mandi hanya untuk mandi. Di samping PT Sinar Antjol, ada beberapa perusahaan
Indonesia yang telah melakukan investasi langsung di Afrika. Antara lain PT
Indofood Sukses Makmur Tbk di Nigeria, PT Kalbe Farma di Nigeria, dan PT
Kedaung Group di Ghana. Berkaca pada pengalaman dan kisah sukses PT Sinar
Antjol di Ethiopia, semoga tulisan ini menggugah para pengusaha Indonesia
lainnya untuk melakukan investasi langsung di Afrika.