|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
“SILAHKAN menikmati. Thank you. Terima kasih. Monggo,’’ demikian selalu terdengar di ruangan ini. Rasa kangen pada makanan khas Indonesia hilang sudah. Rasa penasaran yang hinggap di lidah terpenuhi dengan sajian khas berselera milik sopir asal Madura, Achmad Madjid. Hampir semua makanan khas Indonesia tersedia di Sari Rasa Restaurant di kawasan bisnis di Darwin, Australia, ini. Mulai soto ayam, bakso sapi, sate kambing, nasi lemak, nasi goreng, rendang, gule kalio, semur, balado, hingga opor. Pengunjung cukup merogoh kocek 8 dolar Australia untuk porsi sedang dengan tiga macam lauk. Sedangkan porsi besarnya cuma 9 dolar. Ruangan 5 x 9 meter itu setiap siang dijubeli pengunjung dengan ‘’penyakit’’ yang sama: perut keroncongan. Ada bule Australlia, keturunan Aborigin, dan mahasiswa Indonesia. ‘’Setidaknya, terdapat 60 pengunjung setiap jam makan siang,’’ ujar Achmad, bangga. Meskipun laris manis, karena kesibukan keluarga, restoran bernuansa kantin ini hanya buka lima jam sehari. Mulai pukul 11.00, tutup pukul 15.00. ‘’Alhamdulillah, semua menu setiap hari ludes,’’ kata sang penjaga. Sebenarnya Achmad Madjid adalah pemain baru. Pemilik lama restoran ini sering dipanggil Bu Nur, yang mendirikannya tahun 1995 dengan modal 10.000 dolar. Setelah wanita asal Sumatera itu mengelola lebih 10 tahun, beberapa bulan lalu datanglah investor baru asal Madura yang sehari-hari kerjanya sebagai sopir. Akuisisi berjalan mulus dan penuh persahabatan. Bahkan Bu Nur masih ditunjuk sebagai juru masak utama. Kini karyawannya ada tiga orang dengan gaji mingguan 150 hingga 500 dolar. ‘’Tergantung jam kerja dan keahliannnya,’’ ujar Ny. Achmad. Beban mengelola restoran ini rupanya cukup berat. Sewa tempat mencapai 500 dolar per minggu, belum lagi ditambah biaya listrik dan aneka pajak yang bersifat progresif. Menurut kalkulasi Madjid, perusahaan barunya ini baru bisa mencapai break even point (BEP) manakala setiap hari terdapat 50 pengunjung. Dalam beberapa hari terakhir ini, pria yang masuk Australia tahun 1988 itu mengaku mampu meraup keuntungan sekitar 1.500 dolar per bulan. Salah satu kiat supaya dagangannya yang dijajakan model ‘’warteg’’ Indonesia itu tetap laris adalah menjaga mutu makanan agar tetap sesuai dengan selera setempat. Sementara itu, kebersihan dan higienitas sudah menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi. ‘’Gulai dan kare adalah dua masakan favorit pelanggan,’’ kata Achmad. Ia mengaku hingga kini belum bisa menikmati hasil perhelatannya. Pak Achmad hanya bisa berusaha dan berdoa agar pelanggan Sari Rasa makin berjibun.
Meski begitu, ia tidak
pernah bertindak setengah-setengah. Bila kelak berkecukupan modal, ia
berencana pindah ke tempat yang lebih strategis. Dan pekerjaan sopir pun
akan tetap digeluti. ‘’Kalau lagi jalan ke Darwin, jangan lupa mampir di
Sari Rasa. Dijamin maknyus,’’ kata sang sopir, mantap.
|