|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 June, 2008
|
Riyal memang "real" Oleh : AHMAD SYOFIAN
Peluang apa yang dapat Indonesia manfaatkan dari peningkatan ekonomi Saudi? Pasar Saudi tentunya memberikan peluang besar bagi ekspor produk non-migas Indonesia. Disamping itu, rencana investasi Saudi di bidang pangan dapat dimanfaatkan Indonesia. Tentang rencana investasi ini, pendekatannya harus sesuai dengan upaya untuk memanfaatkan kebutuhan Saudi terhadap Pangan. Ini sebuah kesempatan baik bagi Indonesia. Negara lain seperti Thailand, China dan Sudan telah menyanggupi untuk menyiapkan lahan bagi investasi Saudi di bidang pangan. Bagaimana hubungan dan kerjasama kedua negara di bidang perdagangan dan bagaimana persepsi masyarakat Saudi terhadap Indonesia? Sejauh ini nilai impor Indonesia lebih besar dari pada angka ekspor ke Saudi. Ditambah kenaikan harga minyak, otomatis melambungkan angka impor Indonesia tersebut, karena Indonesia banyak mengimpor migas Arab Saudi. Sampai dengan Oktober 2007, total impor Indonesia mencapai 2,7 miliar dolar AS dan ekspor hanya 749 juta dolar. Tentang Indonesia, sejauh ini masih positif. Indonesia dianggap sebagai sesama saudara Muslim. Leluhur kita yang berangkat haji ratusan tahun silam, ada yang menetap dan menjadi penduduk Mekkah. Bahkan, diperkirakan saat ini 50% penduduk Mekah adalah keturunan Indonesia. Hal ini bisa diketahui dari nama-nama belakang (family name) mereka yang mengindikasikan asal daerah leluhur, sebut saja misalnya: Al-Banjari (Kalimantan), Al-Ampanani (Ampenan-Lombok), Al-Falemban (Palembang-Sumatera Selatan), Al-Jawi (Jawa) dan Al-Mandurah (Madura). Ikatan batin itu masih ada. Apakah banyaknya jumlah WNI / TKI di Saudi berpengaruh pada peningkatan permintaan produk Indonesia? Produk apa yang digemari masyarakat Saudi? Saat ini, terdapat + 600 ribu WNI di Saudi. Banyaknya TKI secara langsung mempengaruhi permintaan produk khususnya makanan asal Indonesia. Di Jeddah, paling sedikit ada sekitar 200 toko milik orang-orang Arab yang menyediakan produk Indonesia, contohnya: beras, jamu, obat gosok, koran, majalah dan buku-buku Indonesia. Selain itu, saat ini terdapat banyak produk non-migas lainnya yang diimpor Saudi dari Indonesia, antara lain: minyak kelapa sawit, ban mobil, pakaian, kertas, alat-alat listrik, otomotif, dll. Apa kira-kira strategi eksportir China sehingga berhasil penetrasi di pasar Saudi? China itu pedagangnya tekun. Mereka sering datang ke Saudi untuk mengamati potensi pasar. Coba lihat pengusaha Indonesia, meskipun banyak yang umroh ke tanah suci, sedikit sekali yang bisa sambil menilai potensi ekonomi Saudi. Produk China juga luar biasa. Apa saja tersedia. Dari mobil sampai jagung dan peniti, mereka siapkan dengan harga yang sangat kompetitif. Namun yang menonjol dan membuat mereka berbeda adalah, pengusaha China rajin; rajin berkunjung dan berkomunikasi dengan pengusaha Arab Saudi. Apa yang harus dilakukan UKM baru untuk memulai hubungan perdagangan dengan Saudi? Di tiap provinsi ada kantor-kantor dinas Kementerian UKM, Kadin Timur Tengah dan lain-lain yang dapat dimintakan informasi. Secara mandiri para pengusaha juga dapat langsung menghubungi KJRI Jeddah untuk mendapatkan informasi dan mohon bantuan fasilitasi penyelenggaraan pameran. Untuk pameran, minimal diperlukan waktu 3 – 4 bulan sebelumnya. Untuk bertemu dengan pejabat Pemerintah Saudi, minimal informasi sudah disampaikan 20 (dua puluh) hari sebelumnya kepada Perwakilan RI. Hal penting berikutnya adalah eksportir Indonesia hendaknya menjual produk berdasarkan permintaan dan selera pembeli. Mengenai selera pasar di Saudi, KJRI sangat bersedia memberikan masukan dan informasi kepada para pengusaha.
Pertama, rajin, termasuk rajin memasarkan, memperkenalkan dan berkunjung. Pesaing kita banyak. Kalau kita tidak rajin, Saudi akan melihat pesaing kita yang relatif menawarkan lebih banyak keunggulan. Kedua, memperhatikan kemasan produk. Buatlah kemasan yang menarik untuk menunjukan kualitas produk. Kemasan harus ditulis lengkap termasuk komposisi produk dengan minimal dua bahasa (Arab dan Inggris) serta expiry date nya sangat ketat. Selanjutnya, membangun trust / kepercayaan. Hal ini terkait dengan disiplin waktu dan janji. Apa kendala dan solusi dalam bertransaksi dengan pebisnis Arab Saudi? Pertama, pedagang Indonesia kurang rajin untuk terus melakukan komunikasi. Kedua, lamban dalam merespon. Ketika Saudi minta dikirimkan data tentang bahan tertentu, seringkali pengusaha Indonesia tidak atau terlambat membalas. Ketiga, pengusaha Indonesia seringkali melupakan perbedaan waktu. Disini Kamis dan Jumat libur dan di Indonesia Sabtu dan Minggu. Jadi, waktu efektif hanya dari Senin sampai Rabu. Senin – Rabupun, terpotong dengan selisih jam kerja. Masalah lainnya, transpotasi pengiriman banyak melalui pihak ketiga yaitu Singapura. Ternyata, kita tidak mempunyai flight cargo khusus ke Jeddah. Sehingga untuk menghadirkan produk makanan yang fresh dalam jumlah besar di pasar Saudi sangat sulit apabila menggunakan angkutan kapal. Namun dibalik itu semua, hambatan fundamental kita adalah keseriusan. Saat ini sebagian besar pengusaha Indonesia tidak tertarik dengan Timur Tengah dan lebih suka pasar-pasar Eropa dan Amerika. Ini merupakan suatu kendala fundamental dimana para pengusaha Indonesia masih berorientasi pada pasar-pasar tradisional tersebut. Kapan waktu yang tepat untuk berbisnis dengan Arab Saudi? Pertama, dari bulan Ramadhan sampai Haji, hendaknya pebisnis Indonesia tidak mengundang pengusaha Saudi ke Indonesia atau sebaliknya berkunjung ke Saudi. Karena pada bulan tersebut, orang Saudi sangat serius menjalankan ibadahnya dan pada musim haji, kebanyakan sibuk dengan bisnis hajinya. Kedua, kalau datang ke Saudi, sebaiknya juga tidak pada musim panas (Juli – Agustus), pebisnis Arab Saudi banyak ke luar kota untuk ‘plesiran’. Tetapi, waktu ini sangat tepat untuk mengundang mereka datang ke Indonesia untuk bisnis sambil berlibur.
|