HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

SIAPA MENGAPA EDISI IV 2007

Resep  bugar ala Primo A. Joelianto

SEMUA a orang ingin sehat dan bugar setiap saat, apalagi di usia lanjut. Namun tidak banyak yang mau berkorban dari menikmati makanan. Tidak demikian dengan Primo A. Joelianto. Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Deplu ini telah lama menjauhi karbohidrat yang bernama nasi. Sejak penugasan di Paris pada medio 1990-an, nasi sudah mulai dihindari dan diganti dengan buah dan sayuran semata.

“Awalnya sih, luapar tenan. Perut terasa melilit. Tapi sekarang sudah biasa,” katanya. Ketika di rumah harus makan malam bersama keluarga misalnya, menu khusus sudah disediakan. Yang  mau makan nasi ya boleh, tapi yang nyirik disediakan buah dan sayuran. Bahkan, kebiasaannya itu sekarang justru ditiru oleh salah satu putranya. Katanya sih,  membuat badan sehat dan tetap langsing. Tapi apa itu saja resepnya? Tidak juga. Setiap hari Selasa dan Kamis pagi, sebelum jam ngantor, mantan Dubes Indonesia untuk Selandia Baru ini selama 2 jam mengayuh raket tennis. “Dan, kadangkala juga main golf,” tambahnya.

Nah, biar tidak keroncongan ketika berolahraga, maka sang perut cukup diganjal dengan sesobek roti yang diolesi madu plus segelas sereal. Kunci lain, dalam menghadapi berbagai masalah yang memerlukan pikiran dan keputusan yang cermat, harus senantiasa tenang. Bahkan, “Dalam keadaan kesal dan stress, saya ambil gitar dan nyanyi suka-suka,” lanjut penggemar Samson ini. Walhasil, Dubes Primo selalu tampak sehat, bugar serta bersuara merdu manakala memegang mikrofon di depan publik. (M. Aji Surya)

 


 

Budiarman raup berkah di tempat terpencil

PENUGASAN  di “pojok dunia” sering menciptakan kegerahan bagi kebanyakan orang. Tapi tidak demikian bagi seorang Budiarman, calon konjen RI di Melbourne. Walau ketika berangkat ke  Sanaa, Yaman pada 1992 ayahanda sedang sakit serius, pencetus Majalah AKSES ini menjalaninya dengan niat pengabdian. “Izin dari ibu membuat kegalauan saya sirna,” ujarnya.

Menghadapi kota yang tidak metropolis dan masih “liar” malah membuatnya menjadi lebih matang. Dengan komunitas diplomat negara lain yang terbatas, sekat jenjang diplomat justru terkikis. Pergaulannya semakin luas. “Jaringan dengan diplomat senior mudah didapat sehingga membuat saya antusias. Hal ini tentu susah didapat di New York atau Paris,” kata Sekretaris Ditjen Aspasaf  Deplu itu kalem.

Dari sisi pribadi, unsur-unsur transcendental justru bisa didapat di Yaman (Timur Tengah) ini. Masyarakat setempat yang relatif relegius seolah membius Budiarman untuk ikut arus. Sholatnya menjadi semakin rajin dan puasanya tidak bolong-bolong lagi. Bahkan sang isteri terlihat semakin dekat dengan yang di atas. Jadi, penempatan ini membawa berkah dunia dan akherat. Lalu bagaimana dengan penempatan di Melbourne sebagai Konjen? Pria yang suka tantangan ini mengaku akan menjalaninya dengan tanpa beban. Memang, Australia bukanlah Yaman (Timur Tengah) yang dialaminya di masa  mudanya, tapi bukan pula sesuatu yang sangat luar biasa. “Kuncinya hanya Bismillah dan bertindak professional.” (M. Aji Surya)

 


 

“THE DIPLOMATS” akan release album

DI tengah-tengah riuh rendahnya band-band baru Indonesia belakangan ini, muncul kelompok musik yang menamakan dirinya “The Diplomats”. Diawaki oleh para pegawai  Deplu yang suka musik, maka diikrarkanlah berdirinya grup musik ini. Unjuk perdananya tidak main-main, langsung manggung di Jak-Jazz pada akhir tahun 2006. “Lumayan juga apresisasi yang diberikan para penonton,” ujar gitaris Harry Purwanto. Terakhir, The Diplomats muncul di Diplomatic Gathering di awal tahun ini. Sebenarnya, kepiawaian para diplomat Indonesia ini telah lama diasah.

Mulai gonjrang gonjreng di basement kantor hingga akhirnya latihan rutin di bilangan Sisingamangaraja, Jakarta. Karena semakin mengkristal, arah musik yang dipilih adalah mainstreamer, dari jazz sampai yang kontemporer. “Jadi ya bisa main apa saja, tergantung kebutuhan,” lanjut Harry yang juga Direktur Amerika Utara dan Tengah. Melihat talenta yang ada, rasanya The Diplomats dapat mengalami kemajuan bila latihan rutin. Apalagi, rata-rata pemainnya adalah jebolan luar negeri ketika menimba ilmu permusikan.

Meski demikian, menurut Umar Hadi, Direktur Diplomasi Publik Deplu, awak band ini tidak mendapat dispensasi kerja ketika harus latihan. “Mereka latihan setelah jam kerja,” katanya. Kabar terakhir, The Diplomats sedang ancang-ancang merilis album perdananya. Warna musik yang digarap menurut sumber tertentu yang ditemui AKSES, cukup lain dari yang lain. Mampukan The Diplomats yang dimotori oleh diplomat Bagas Hapsoro ini bersaing dengan band anak-anak muda sekarang? Kita tunggu saja. (M. Aji Surya)