|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Resep bugar ala Primo A. Joelianto
“Awalnya sih, luapar tenan. Perut terasa melilit. Tapi sekarang sudah biasa,” katanya. Ketika di rumah harus makan malam bersama keluarga misalnya, menu khusus sudah disediakan. Yang mau makan nasi ya boleh, tapi yang nyirik disediakan buah dan sayuran. Bahkan, kebiasaannya itu sekarang justru ditiru oleh salah satu putranya. Katanya sih, membuat badan sehat dan tetap langsing. Tapi apa itu saja resepnya? Tidak juga. Setiap hari Selasa dan Kamis pagi, sebelum jam ngantor, mantan Dubes Indonesia untuk Selandia Baru ini selama 2 jam mengayuh raket tennis. “Dan, kadangkala juga main golf,” tambahnya. Nah, biar tidak keroncongan ketika berolahraga, maka sang perut cukup diganjal dengan sesobek roti yang diolesi madu plus segelas sereal. Kunci lain, dalam menghadapi berbagai masalah yang memerlukan pikiran dan keputusan yang cermat, harus senantiasa tenang. Bahkan, “Dalam keadaan kesal dan stress, saya ambil gitar dan nyanyi suka-suka,” lanjut penggemar Samson ini. Walhasil, Dubes Primo selalu tampak sehat, bugar serta bersuara merdu manakala memegang mikrofon di depan publik. (M. Aji Surya)
Budiarman raup berkah di tempat terpencil
Menghadapi kota yang tidak metropolis dan masih “liar” malah membuatnya menjadi lebih matang. Dengan komunitas diplomat negara lain yang terbatas, sekat jenjang diplomat justru terkikis. Pergaulannya semakin luas. “Jaringan dengan diplomat senior mudah didapat sehingga membuat saya antusias. Hal ini tentu susah didapat di New York atau Paris,” kata Sekretaris Ditjen Aspasaf Deplu itu kalem. Dari sisi pribadi, unsur-unsur transcendental justru bisa didapat di Yaman (Timur Tengah) ini. Masyarakat setempat yang relatif relegius seolah membius Budiarman untuk ikut arus. Sholatnya menjadi semakin rajin dan puasanya tidak bolong-bolong lagi. Bahkan sang isteri terlihat semakin dekat dengan yang di atas. Jadi, penempatan ini membawa berkah dunia dan akherat. Lalu bagaimana dengan penempatan di Melbourne sebagai Konjen? Pria yang suka tantangan ini mengaku akan menjalaninya dengan tanpa beban. Memang, Australia bukanlah Yaman (Timur Tengah) yang dialaminya di masa mudanya, tapi bukan pula sesuatu yang sangat luar biasa. “Kuncinya hanya Bismillah dan bertindak professional.” (M. Aji Surya)
“THE DIPLOMATS” akan release album
DI
tengah-tengah riuh rendahnya band-band baru Indonesia belakangan ini, muncul
kelompok musik yang menamakan dirinya “The Diplomats”. Diawaki oleh para
pegawai Deplu yang suka musik, maka diikrarkanlah berdirinya grup musik ini.
Unjuk perdananya tidak main-main, langsung manggung di Jak-Jazz pada akhir
tahun 2006. “Lumayan juga apresisasi yang diberikan para penonton,” ujar
gitaris Harry Purwanto. Terakhir, The Diplomats muncul di Diplomatic
Gathering di awal tahun ini.
Sebenarnya, kepiawaian
para diplomat Indonesia ini telah lama diasah.
Mulai gonjrang gonjreng di basement kantor hingga akhirnya latihan rutin di bilangan Sisingamangaraja, Jakarta. Karena semakin mengkristal, arah musik yang dipilih adalah mainstreamer, dari jazz sampai yang kontemporer. “Jadi ya bisa main apa saja, tergantung kebutuhan,” lanjut Harry yang juga Direktur Amerika Utara dan Tengah. Melihat talenta yang ada, rasanya The Diplomats dapat mengalami kemajuan bila latihan rutin. Apalagi, rata-rata pemainnya adalah jebolan luar negeri ketika menimba ilmu permusikan. Meski demikian, menurut Umar Hadi, Direktur Diplomasi Publik Deplu, awak band ini tidak mendapat dispensasi kerja ketika harus latihan. “Mereka latihan setelah jam kerja,” katanya. Kabar terakhir, The Diplomats sedang ancang-ancang merilis album perdananya. Warna musik yang digarap menurut sumber tertentu yang ditemui AKSES, cukup lain dari yang lain. Mampukan The Diplomats yang dimotori oleh diplomat Bagas Hapsoro ini bersaing dengan band anak-anak muda sekarang? Kita tunggu saja. (M. Aji Surya) |