|
|
|
Menuju 'real event in the real world' |
|
Oleh:M. Aji Surya |
Semangat
Konferensi Asia Afrika terus bergaung dan memberikan inspirasi baru.
Hubungan kedua bangsa besar ini senantiasa terjaga dan semakin harmonis saja.
Tapi mengapa pengusaha Indonesia ketinggalan kereta. Membicarakan hubungan
dengan Afrika tidak pernah membosankan. Demikian juga ketika berbincang
dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Dr. Hasan Wirajuda. Menteri yang telah
mengemban amanah dari dua kabinet ini menuturkan harapanharapannya.
Berbicara tentang Afrika, kita senantiasa ingat KAA yang monumental.
Ya.
Bangsa Indonesia memang telah mengukir sejarah. Konferensi Asia Afrika tahun
1955 menjadi tonggak sejarah dan telah memberikan pengaruh besar bagi perjuangan Negara-negara Asia Afrika
melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
Relevansinya dengan masa kekinian?
Kalau
kita mau sedikit merenung, kita akan menyadari bahwa cita-cita yang ingin
dicapai untuk mempererat kerjasama dan mempererat solidaritas antar bangsa
di kedua benua masih relevan hingga saat ini. Itulah kenapa tahun lalu kita
berinisitatif menggelorakan kembali “Semangat Bandung” dan membangun
Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (New Asia - Africa Strategic
Partnership) melalui penyelenggaraan KTT Asia – Afrika 2005.
Apa
peran yang bisa dimainkan kalangan swasta dalam hal ini?
Tantangan yang dihadapi oleh bangsabangsa
di Asia Afrika pada saat ini tidak dapat diatasi oleh Pemerintah saja.
Tetapi perlu melibatkan peran aktif masyarakat, termasuk dunia usaha. Dalam
kaitan inilah saya me mandang kontak usaha melalui berbagai forum seperti
pameran dagang menjadi upaya yang penting.
Realitanya dengan pengusaha kita?
Saya
tidak pernah bosan mengatakan kepada kalangan dunia usaha Indonesia bahwa
sudah waktunya kita menterjemahkan kedekatan politis yang kita bangun dengan
berbagai negara dan kawasan, khususnya Afrika, menjadi interaksi ekonomi
yang produktif. Saya yakin peluang kita di pasar Afrika masih cukup
signifikan. Kesimpulan riset South Centre dan UNCTAD di Jenewa, peluang
pasar Afrika terbuka lebar bahkan ada kecenderungan peningkatan interaksi
ekonomi Asia Afrika.
Siapa
yang paling besar memetik keuntungan sejauh ini?
Sebagai
gambaran, pada dekade 1990an, perdagangan antara Afrika dan Asia telah
tumbuh 10% setiap tahunnya. Yang perlu dicatat, pertumbuhan itu adalah
dampak ekspansi yang dilakukan oleh pengusaha dari Cina, Korea Selatan dan
Malaysia. Hal ini tentunya merupakan tantangan bagi para pengusaha Indonesia
untuk lebih aktif memanfaatkan peluang pasar Afrika.
Bagaimana sih tingkat kemesraan hubungan kita dengan Afrika?
Ambil
contoh saja tahun 2005. Benin membuka kantor Konsul Kehormatannya di
Jakarta, demikian juga Somalia membuka kedubesnya. Ekspor Indonesia
meningkat pada kisaran 2 milyar dolar. Lalu terbentuk juga sister province
antara Sulsel dengan Western Cape dan DKI Jakarta dengan Kwazulu Natal di
Afrika Selatan, serta sister city antara DKI Jakarta dengan Maputo di
Mozambique. Indonesia juga mengirimkan 4 perwira TNI sebagai pengamat pada
UN Mission in Sudan serta 173 lainnya sebagai UN Peace Keeping Mission di
Republik Demokratik Kongo. Banyak kepala negara Afrika berkunjung ke
Indonesia, dan masih banyak yang lainnya.
Lalu,
apa aspek terpenting dalam hubungan luar negeri dengan Afrika?
Presiden
AS ke-35, John F. Kennedy mengatakan, “the purpose of foreign policy is not
to provide an oulet for our own sentiments of hope or indignation; it is to
shape real events in a real world.” Kalau di tahun sebelumnya kita telah
banyak menelorkan konsep-konsep baru maka tantangannya adalah
menterjemahkannya menjadi kenyataan. Menjadi “real events in real world.”
Tantangan yang dihadapi ke depan?
Secara
jujur saya akui bahwa sejak April 2005 memang belum banyak yang dapat
dilakukan dalam merealisasikan kemitraan strategis Asia Afrika. Tapi di
tahun 2006 ini Insya Allah akan banyak langkah konkrit. Kita, antara lain
sedang merancang kerjasama peluncuran satelit Asia Afrika. Di sisi lain,
saya pun juga berharap kiranya kalangan swasta juga gegap gempita dalam
memanfaatkan kesempatan kerjasama di semua bidang dengan Afrika. Don’t delay
until tomorror what you can do today.
|