HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

SOROT EDISI 1 2006

Menuju 'real event in the real world'

Oleh:M. Aji Surya

Semangat Konferensi Asia Afrika terus bergaung dan memberikan inspirasi baru. Hubungan kedua bangsa besar ini senantiasa terjaga dan semakin harmonis saja. Tapi mengapa pengusaha Indonesia ketinggalan kereta. Membicarakan hubungan dengan Afrika tidak pernah membosankan. Demikian juga ketika berbincang dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Dr. Hasan Wirajuda. Menteri yang telah mengemban amanah dari dua kabinet ini menuturkan harapanharapannya.

 

Berbicara tentang Afrika, kita senantiasa ingat KAA yang monumental.

 

Ya. Bangsa Indonesia memang telah mengukir sejarah. Konferensi Asia Afrika tahun 1955 menjadi tonggak sejarah dan telah memberikan pengaruh besar bagi perjuangan Negara-negara Asia Afrika melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

 

Relevansinya dengan masa kekinian?

 

Kalau kita mau sedikit merenung, kita akan menyadari bahwa cita-cita yang ingin dicapai untuk mempererat kerjasama dan mempererat solidaritas antar bangsa di kedua benua masih relevan hingga saat ini. Itulah kenapa tahun lalu kita berinisitatif menggelorakan kembali “Semangat Bandung” dan membangun Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (New Asia - Africa Strategic Partnership) melalui penyelenggaraan KTT Asia – Afrika 2005.

 

Apa peran yang bisa dimainkan kalangan swasta dalam hal ini?

 

Tantangan yang dihadapi oleh bangsabangsa di Asia Afrika pada saat ini tidak dapat diatasi oleh Pemerintah saja. Tetapi perlu melibatkan peran aktif masyarakat, termasuk dunia usaha. Dalam kaitan inilah saya me mandang kontak usaha melalui berbagai forum seperti pameran dagang menjadi upaya yang penting.

 

Realitanya dengan pengusaha kita?

 

Saya tidak pernah bosan mengatakan kepada kalangan dunia usaha Indonesia bahwa sudah waktunya kita menterjemahkan kedekatan politis yang kita bangun dengan berbagai negara dan kawasan, khususnya Afrika, menjadi interaksi ekonomi yang produktif. Saya yakin peluang kita di pasar Afrika masih cukup signifikan. Kesimpulan riset South Centre dan UNCTAD di Jenewa, peluang pasar Afrika terbuka lebar bahkan ada kecenderungan peningkatan interaksi ekonomi Asia Afrika.

 

Siapa yang paling besar memetik keuntungan sejauh ini?

 

Sebagai gambaran, pada dekade 1990an, perdagangan antara Afrika dan Asia telah tumbuh 10% setiap tahunnya. Yang perlu dicatat, pertumbuhan itu adalah dampak ekspansi yang dilakukan oleh pengusaha dari Cina, Korea Selatan dan Malaysia. Hal ini tentunya merupakan tantangan bagi para pengusaha Indonesia untuk lebih aktif memanfaatkan peluang pasar Afrika.

 

Bagaimana sih tingkat kemesraan hubungan kita dengan Afrika?

Ambil contoh saja tahun 2005. Benin membuka kantor Konsul Kehormatannya di Jakarta, demikian juga Somalia membuka kedubesnya. Ekspor Indonesia meningkat pada kisaran 2 milyar dolar. Lalu terbentuk juga sister province antara Sulsel dengan Western Cape dan DKI Jakarta dengan Kwazulu Natal di Afrika Selatan, serta sister city antara DKI Jakarta dengan Maputo di Mozambique. Indonesia juga mengirimkan 4 perwira TNI sebagai pengamat pada UN Mission in Sudan serta 173 lainnya sebagai UN Peace Keeping Mission di Republik Demokratik Kongo. Banyak kepala negara Afrika berkunjung ke Indonesia, dan masih banyak yang lainnya.

 

Lalu, apa aspek terpenting dalam hubungan luar negeri dengan Afrika?

 

Presiden AS ke-35, John F. Kennedy mengatakan, “the purpose of foreign policy is not to provide an oulet for our own sentiments of hope or indignation; it is to shape real events in a real world.” Kalau di tahun sebelumnya kita telah banyak menelorkan konsep-konsep baru maka tantangannya adalah menterjemahkannya menjadi kenyataan. Menjadi “real events in real world.”

 

Tantangan yang dihadapi ke depan?

 

Secara jujur saya akui bahwa sejak April 2005 memang belum banyak yang dapat dilakukan dalam merealisasikan kemitraan strategis Asia Afrika. Tapi di tahun 2006 ini Insya Allah akan banyak langkah konkrit. Kita, antara lain sedang merancang kerjasama peluncuran satelit Asia Afrika. Di sisi lain, saya pun juga berharap kiranya kalangan swasta juga gegap gempita dalam memanfaatkan kesempatan kerjasama di semua bidang dengan Afrika. Don’t delay until tomorror what you can do today.