|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
MEMASUKI kawasan Siem Reap sekilas seperti berada di salah satu daerah di Indonesia. Baik suasana alam, lingkungan, maupun bentuk rumah mereka mencerminkan wilayah tropis yang dihiasi pohon-pohon tinggi dan ilalang rendah berwarna coklat. Begitu apa adanya. Adalah tulisan berbahasa Khmeryang jadi penanda mutlak bahwa kota ini bukan wilayah Indonesia. Terhampar di antara persawahan dan dialiri Sungai Siem Reap. Kota Siem Reap adalah pintu gerbang menuju situs arkeologi terkenal di dunia, dan telah menjadi salah satu situs peninggalan dunia oleh UNESCO, Angkor Wat. Taman wisata arkeologis Angkor Wat merupakan kompleks kuil-kuil yang terdiri dari Angkor Wat, Bayon, dan Banteay Srey. Tak jauh dari kompleks tersebut, terdapat kuil Ta Prohm yang sebagian besar telah ditumbuhi belukar dan pepohonan tinggi yang telah tua. Jauh sebelumnya, Angkor adalah ibu kota kerajaan dari dinasti Khmer, yang menguasai sebagian besar wilayah Kamboja saat ini. Angkor pernah menjadi kota suci tujuan para peziarah dari seluruh kawasan Asia Tenggara. Kala bangsa Thai menguasai wilayah ini pada 1431, Angkor kemudian ditelantarkan selama berabad, sehingga keberadaanya tak urung hanya sebagai sebuah dongeng suci belaka.
Angkor Wat secara harafiah berarti ‘ibu kota’ atau ‘kota suci’. Ketika sebagian besar Kamboja dikuasai oleh kekaisaran Khmer, dari abad 12 sampai abad 19, Angkor lebih dikenal sebagai ibu kota Kerajaan Khmer. Adapun kompleks percandian Angkor Wat yang dikenali saat ini adalah peninggalan Ibu Kota Angkor yang mencerminkan ciri khas arsitektur, seni dan peradaban kekaisaran Khmer. Percandian di Angkor Wat dibangun antara tahun 802 (pada zaman Suryavaram II) sampai tahun 1220. Diperkirakan alasan pendirian candi di daerah tersebut karena lokasinya yang secara militer strategis, dan memiliki potensi pertanian yang baik. Tapi beberapa ilmuwan berasumsi tata letak Angkor Wat secara geografis bertalian erat dengan perhitungan ilmu perbintangan kuno. Angkor Wat merupakan candi Hindu yang dibangun sebagai penghormatan kepada Dewa Wisnu, dan sebagai simbol kosmologi Hindu. Hal ini terlihat, antara lain dari banyaknya simbol. TA PROHM
Pepohonan besar dan tinggi itu telah berkembang sedemikian rupa di antara ruang-ruang candi, dan sampai kini dibiarkan tumbuh dengan akar menjalar di atas batu-batu candi. Inilah daya tarik Ta Prohm. Suasana percandian yang redup, karena pepohonan tinggi yang mengelilinginya, dapat membawa pengunjung menyelami ke masa berabad lalu. Ta Prohm didirikan pada abad ke XII oleh Raja Jayavarman VII. Candi Budha tersebut dipersembahkan sang Raja kepada ibunya. Ta Prohm bukan lagi tempat suci yang merefleksikan kebaikan budi pekerti sang Raja. Saat itu, Ta Prohm adalah magnet besar bagi para petualang dan pecinta fotografi. Koridor candi yang semarak dijalari akar pohon tinggi dan besar, dan suasana temaram kompleks percandian adalah tantangan bagi para fotografer untuk merekam kesuraman Ta Prohm yang indah. Kicauan burung dan ributnya serangga hutan saling melengkapi dengan pertunjukan musik tradisional oleh para veteran perang Kamboja yang dapat ditemui di jalan setapak menuju candi. Tentu saja pemandangan ini membawa para pengunjung pada suatu kesadaran bahwa perang saudara bagi sebuah bangsa adalah bentuk persinggungan nilai-nilai luar dan tradisional yang menuntut perubahan tatanan masyarakat seiring perkembangan dunia. Melihat keadaan para seniman korban ranjau darat di pelataran Ta Phorm memunculkan ironi yang membawa kesadaran bahwa semua perubahan, baik itu penciptaan bangunan yang megah sampai kesengsaraan, adalah bermula dari akal dan pikiran manusia. SIEM REAP Siem Reap adalah pintu gerbang bagi kita untuk mengunjungi Angkor Wat, Ta Prohm, dan candi-candi peninggalan bangsa Khmer lainnya. Sebagai daerah agraris, Siem Reap dialiri sungai Siem Reap dengan penduduk yang mengolah industri pariwisata utama di Kamboja. Pada mulanya, Siem Reap hanyalah desa kecil yang dibangun di sekitar kompleks candi-candi Angkor. Kedatangan Prancis kemudian membawa kota ini semakin berkembang seiring meningkatnya perhatian dunia pada Angkor Wat. Bangunan berarsitektur Prancis masih terasa kental di pusat kota Siem Reap. UNESCO memasukkan Angkor Wat sebagai world cultural heritage.
Upaya pemerintah Kamboja untuk mengangkat nama Siem Reap sebagai tujuan wisata dunia tidak hanya dengan promosi yang bersifat cultural, namun juga dikelola dengan pendekatan bisnis yang patut dicermati. Wisata konferensi adalah pendekatan fenomenal dalam mengemas pariwisata dan bisnis menjadi salah satu sektor industri yang menguntungkan. Hal ini tampak nyata dengan banyaknya penyelenggaraan pertemuan bisnis, workshop, dan konferensi yang bersifat internasional di Siem Reap. Kedatangan para delegasi dari manca negara tidak hanya menghadiri pertemuan bisnis, melain juga jadi peluang bagi pemerintah setempat untuk memperkenalkan Angkor Wat dan candi-candi peninggalan bangsa Khmer. Juga menjadi ajang promosi produk kerajinan tangan masyarakat setempat sebagai kenang-kenangan bagi para anggota delegasi. Cara Kamboja mengemas dan mengelola peninggalan sejarah memang bisa dijadikan masukan bagi para pemerintah daerah di Indonesia serta kalangan pengusaha pariwisata. Hanya saja, pengembangan industri wisata yang berorientasi bisnis seperti ini juga harus diimbangi dengan kesadaran perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya yang kita miliki. Agaknya, potensi Siem Reap bias dijadikan peluang para pengusaha Indonesia memperluas pasarnya. Dari segi budaya dan pariwisata, tampak kesamaan ciri khas budaya Indonesia, khususnya masyarakat Jawa dengan bangsa Khmer di Kamboja. Saat ini, Pemda Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Siem Reap tengah menjajaki kerja sama sister temple antara Angkor Wat dengan Candi Borobudur. Kerja sama ini dapat jadi peluang para pengusaha di bidang pariwisata untuk memasuki pasar Kamboja. Industri perhotelan, pertunjukan seni dan budaya, serta garmen merupakan potensi yang bisa dijajaki. OLD MARKET
Suasana lokal yang kerap dilengkapi celotehan bahasa Inggris dengan aksen Khmer itu, semakin menambah pengalaman bagi para pelancong. Siem Reap adalah bagian Kamboja yang selama ini merupakan negara net importing dengan kecenderungan impor yang terus meningkat, karena basis ekonominya yang sempit dengan industri dan sektor swasta yang belum berkembang.
Tahun 2004,
impor Kamboja US$ 3,175 milyar, melebihi kemampuan ekspornya yang US$ 2,49
milyar. Hubungan bilateral ekonomi Kamboja dengan negara tetangga yang
berbatasan langsung, seperti Thailand dan Vietnam, mempunyai arti penting.
Bagi Thailand dan Vietnam, pasar Kamboja berperan penting menyerap produk
ekspor mereka. Perekonomian Kamboja, selama tahun 2005, diperkirakan tumbuh
sebesar 6,5% dengan kontribusi utama sektor garmen (meningkat 13 %), diikuti
sektor konstruksi dan pariwisata.
|