HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

JALAN-JALAN EDISI IV 2007

Pesona Angkor Watt

Oleh: Emilia H. Elisa

 

MEMASUKI kawasan Siem Reap sekilas seperti berada di salah satu daerah di Indonesia. Baik suasana alam, lingkungan, maupun bentuk rumah mereka mencerminkan wilayah tropis yang dihiasi pohon-pohon tinggi dan ilalang rendah berwarna coklat. Begitu apa adanya.

Adalah tulisan berbahasa Khmeryang jadi penanda mutlak bahwa kota ini bukan wilayah Indonesia. Terhampar di antara persawahan dan dialiri Sungai Siem Reap. Kota Siem Reap adalah pintu gerbang menuju situs arkeologi terkenal di dunia, dan telah menjadi salah satu situs peninggalan dunia oleh UNESCO, Angkor Wat.

Taman wisata arkeologis Angkor Wat merupakan kompleks kuil-kuil yang terdiri dari Angkor Wat, Bayon, dan Banteay Srey. Tak jauh dari kompleks tersebut, terdapat kuil Ta Prohm yang sebagian besar telah ditumbuhi belukar dan pepohonan tinggi yang telah tua.

Jauh sebelumnya, Angkor adalah ibu kota kerajaan dari dinasti Khmer, yang menguasai sebagian besar wilayah Kamboja saat ini. Angkor pernah menjadi kota suci tujuan para peziarah dari seluruh kawasan Asia Tenggara. Kala bangsa Thai menguasai wilayah ini pada  1431, Angkor kemudian ditelantarkan selama berabad, sehingga keberadaanya tak urung hanya sebagai sebuah dongeng suci belaka.

Sampai suatu hari, ketika para pendeta Budha yang berkelana melewati hutan yang lebat secara tidak sengaja menemukan reruntuhan kuil-kuil batu. Mereka pun menelusuri kebenaran legenda kota suci yang menjadi kediaman para dewa di bumi itu. Pada 1860, pengelana asal Prancis, Henri Mouhot membawa Angkor Wat menjadi pusat perhatian dunia. Keindahan Angkor Wat begitu mempesona bagi para petualang Prancis, sehingga sejak 1908 upaya penggalangan dana guna restorasi mulai digalakkan.

Angkor Wat secara harafiah berarti ‘ibu kota’ atau ‘kota suci’. Ketika sebagian besar Kamboja dikuasai oleh kekaisaran Khmer, dari abad 12 sampai abad 19, Angkor lebih dikenal sebagai ibu kota Kerajaan Khmer. Adapun kompleks percandian Angkor Wat yang dikenali saat ini adalah peninggalan Ibu Kota Angkor yang mencerminkan ciri khas arsitektur, seni dan peradaban kekaisaran Khmer.

Percandian di Angkor Wat dibangun antara tahun 802 (pada zaman Suryavaram II) sampai tahun 1220. Diperkirakan alasan pendirian candi di daerah tersebut karena lokasinya yang secara militer strategis, dan memiliki potensi pertanian yang baik. Tapi beberapa ilmuwan berasumsi tata letak Angkor Wat secara geografis bertalian erat dengan perhitungan ilmu perbintangan kuno. Angkor Wat merupakan candi Hindu yang dibangun sebagai penghormatan kepada Dewa Wisnu, dan sebagai simbol kosmologi Hindu. Hal ini terlihat, antara lain dari banyaknya simbol.

TA PROHM

Berkunjung ke Siem Reap utamanya adalah perjalanan wisata arkeologis dan budaya yang menarik. Selain Angkor Wat yang megah, jangan lewatkan kemistisan Ta Prohm, yang saat ditemukan tersembunyi di antara belantara hutan tropis. Upaya restorasi telah berhasil menyelamatkan bangunan candi yang awalnya rapuh ditumbuhi belukar itu.

Pepohonan besar dan tinggi itu telah berkembang sedemikian rupa di antara ruang-ruang candi, dan sampai kini dibiarkan tumbuh dengan akar menjalar di atas batu-batu candi. Inilah daya tarik Ta Prohm. Suasana percandian yang redup, karena pepohonan tinggi yang mengelilinginya, dapat membawa pengunjung menyelami ke masa berabad lalu.

Ta Prohm didirikan pada abad ke XII oleh Raja Jayavarman VII. Candi Budha tersebut dipersembahkan sang Raja kepada ibunya. Ta Prohm bukan lagi tempat suci yang merefleksikan kebaikan budi pekerti sang Raja. Saat itu, Ta Prohm adalah magnet besar bagi para petualang dan pecinta fotografi.

Koridor candi yang semarak dijalari akar pohon tinggi dan besar, dan suasana temaram kompleks percandian adalah tantangan bagi para fotografer untuk merekam kesuraman Ta Prohm yang indah. Kicauan burung dan ributnya serangga hutan saling melengkapi dengan pertunjukan musik tradisional oleh para  veteran perang Kamboja yang dapat ditemui di jalan setapak menuju candi.

Tentu saja pemandangan ini membawa para pengunjung pada suatu kesadaran bahwa perang saudara bagi sebuah bangsa adalah bentuk persinggungan nilai-nilai luar dan tradisional yang menuntut perubahan tatanan masyarakat seiring perkembangan dunia. Melihat keadaan para seniman korban ranjau darat di pelataran Ta Phorm memunculkan ironi yang membawa kesadaran bahwa semua perubahan,  baik itu penciptaan bangunan yang megah sampai kesengsaraan, adalah bermula dari akal dan pikiran manusia.

SIEM REAP

Siem Reap adalah pintu gerbang bagi kita untuk mengunjungi Angkor Wat, Ta Prohm, dan candi-candi peninggalan bangsa Khmer lainnya. Sebagai daerah agraris, Siem Reap dialiri sungai Siem Reap dengan penduduk yang mengolah industri pariwisata utama di Kamboja.

Pada mulanya, Siem Reap hanyalah desa kecil yang dibangun di sekitar kompleks candi-candi Angkor. Kedatangan Prancis kemudian membawa kota ini semakin berkembang seiring meningkatnya perhatian dunia pada Angkor Wat. Bangunan berarsitektur Prancis masih terasa kental di pusat kota Siem Reap. UNESCO memasukkan Angkor Wat sebagai world cultural heritage.

Namun, pada 4 Juli 2004, Pemerintah Kamboja telah memusatkan perhatian dalam membangun Siem Reap guna mendorong pertumbuhan industri pariwisata. Hotel berbintang, penginapan murah, restoran yang menyajikan menu tradisional, dan menu dari bangsa lain, toko-toko cenderamata dan Bandar internasional, adalah bentuk nyata upaya menjadikan Siem Reap sebagai tujuan wisata dunia. Tapi upaya pembangunan itu tetap diimbangi dengan memberikan pelindungan atas keberadaan situs-situs bersejarah tersebut. Itu terasa pada kebersihan di tempat wisata.

Upaya pemerintah Kamboja untuk mengangkat nama Siem Reap sebagai tujuan wisata dunia tidak hanya dengan promosi yang bersifat cultural, namun juga dikelola dengan pendekatan bisnis yang patut dicermati. Wisata konferensi adalah pendekatan fenomenal dalam mengemas pariwisata dan bisnis menjadi salah satu sektor industri yang menguntungkan.

Hal ini tampak nyata dengan banyaknya penyelenggaraan pertemuan bisnis, workshop, dan konferensi yang bersifat internasional di Siem Reap. Kedatangan para delegasi dari manca negara tidak hanya menghadiri pertemuan bisnis, melain juga jadi peluang bagi pemerintah setempat untuk memperkenalkan Angkor Wat dan candi-candi peninggalan bangsa Khmer. Juga menjadi ajang promosi produk kerajinan tangan masyarakat setempat sebagai kenang-kenangan bagi para anggota delegasi.

Cara Kamboja mengemas dan mengelola peninggalan sejarah memang bisa dijadikan masukan bagi para pemerintah daerah di Indonesia serta kalangan pengusaha pariwisata. Hanya saja, pengembangan industri wisata yang berorientasi bisnis seperti ini juga harus diimbangi dengan kesadaran perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya yang kita miliki.

Agaknya, potensi Siem Reap bias dijadikan peluang para pengusaha Indonesia memperluas pasarnya. Dari segi budaya dan pariwisata, tampak kesamaan ciri khas budaya Indonesia, khususnya masyarakat Jawa dengan bangsa Khmer di Kamboja. Saat ini, Pemda Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Siem Reap tengah menjajaki kerja sama sister temple antara Angkor Wat dengan Candi Borobudur. Kerja sama ini dapat jadi peluang para pengusaha di bidang pariwisata untuk memasuki pasar Kamboja. Industri perhotelan, pertunjukan seni dan budaya, serta garmen merupakan potensi yang bisa dijajaki.

OLD MARKET

Pasar atau dalam bahasa Khmer disebut “Phsar” lebih identik dengan pasar tradisional, seperti di Indonesia. Produk pariwisata maupun makanan lokal dapat ditemui di sini. Misalnya, di Phsar Chas (Old Market), di sebelah selatan Sungai Siem Reap dekat dengan Old French Quarter. Pasar antik tradisional adalah tempat menarik bagi pelancong mencari kenang-kenangan dari Siem Reap. Para pedagang lokal menawarkan produk khas Kamboja, seperti miniatur Angkor Wat dari batu atau kayu, patung, batu alam serta kerajinan tangan atau kain sutra.

Suasana lokal yang kerap dilengkapi celotehan bahasa Inggris dengan aksen Khmer itu, semakin menambah pengalaman bagi para pelancong. Siem Reap adalah bagian Kamboja yang selama ini merupakan negara net importing dengan kecenderungan impor yang terus meningkat, karena basis ekonominya yang sempit dengan industri dan sektor swasta yang belum berkembang.

Tahun 2004, impor Kamboja US$ 3,175 milyar, melebihi kemampuan ekspornya yang US$ 2,49 milyar. Hubungan bilateral ekonomi Kamboja dengan negara tetangga yang berbatasan langsung, seperti Thailand dan Vietnam, mempunyai arti penting. Bagi Thailand dan Vietnam, pasar Kamboja berperan penting menyerap produk ekspor mereka. Perekonomian Kamboja, selama tahun 2005, diperkirakan tumbuh sebesar 6,5% dengan kontribusi utama sektor garmen (meningkat 13 %), diikuti sektor konstruksi dan pariwisata.