HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi X NOPEMBER 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 11 Nopember, 2008

 

 

 

Penyakit Lebaran

Unik sekali pemahaman kita ini. Bagaikan orang yang baru sembuh dari sakit, kegiatan  yang pernah dilarang dokter mudah kembali kambuh. Bahkan, setelah sebulan berpuasa, kegiatan maksiatpun seolah dihalalkan Tuhan kembali.

Ingatkah kita akan kata-kata penting dari proklamator kita: Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Semua kita juga pasti tidak lupa, bahkan dengan fasih mampu melafalkannya di berbagai pidato politik. Namun untuk mengamalkannya, selalu saja dalam posisi wait and see. Tidak heran banyak yang bilang, bangsa kita adalah bangsa pelupa dan suka pura-pura lupa. Kejadian yang dikutuk bersama di masa lalu, tiba-tiba nongol lagi di jaman yang berbeda. Lalu dikutuk lagi, tapi kembali muncul di rejim yang berbeda. Suatu sifat jahiliyah yang mengancam kemajuan.

Uniknya, jaman reformasi ini akhirnya hanya banyak diisi oleh mereka yang pandai silat lidah, mencari justifikasi atas apa yang dilakukan, dan jarang yang mau menukik ke kedalaman hakekat. Seolah-olah semua polah tingkahnya merupakan intepretasi dari hukum positif yang berlaku, atau bahkan kalau perlu mengambil dari kitab suci. Meskipun, pelakunya tahu persis bahwa itu sesuatu yang tidak benar, bahwa tafsirannya salah, bahwa ia hanya mencari-cari untuk sekedar kekuasaan sesaat. Meskipun, ia tahu akan mendatangkan mudzarat daripada manfaat. Meskipun hal itu telah mengingkari sejarah dan pasti mencabik-cabik masa depan.

Uniknya lagi, itu dilakukan oleh sebagian orang yang pada masa lalu telah merontokkan tembok kebobrokan dan kemunafikan demi tegaknya demokrasi dan kebenaran sejati. Waktu itu, berbagai dalih baik yang bersifat universal maupun primordial dikemukakan dengan fasihnya. Bahkan, tidak kurang-kurang, juga dilakukan oleh para ahli agama yang lihainya memutarbalikkan dan menjungkirbalikkan ayat untuk kepentingan kekuasaan sesaat.

Unik juga mendengar mereka dengan wajah tanpa dosa di layar-layar kaca mengatakan: Ini politik bung. Politik itu kotor, kita harus main banyak cara bila ingin survive. Meskipun tanpa harus dengan suara yang sama, namun seolah seperti koor, beberapa ahli agama kadang juga terjerembab ke dalam jebakan politis yang jelas-jelas menafikan kebenaran hakiki dan akan menyeret mereka ke api neraka --berdasarkan petuah yang mereka ajarkan.

Uniknya mereka ini mampu untuk melakukan kamuflase dan metamorfosa di segala zaman. Tentulah di bulan Ramadhan menyatakan puasa, sore ikut tarawih dan pagi harinya menyampaikan kultum di depan jamaah. Disampaikan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat rahasia antara manusia dengan Tuhannya. Semua manusia bisa tidak mengetahui kebohongan puasa, kecuali sang Khalik. Puasa akan mendidik manusia untuk meningkatkan kesadaraanya akan eksistensiNya di semua masa dan jaman sehingga tiada satu lobang jarumpun yang lepas dari pengawasannya. Dengan berpuasa, manusia akan terlatih selalu dekat dengan Tuhannya dan patuh atas segala perintahNya. ”Sungguh Tuhan tidak melihat perutmu yang mengempis dan lapar, melainkan hanya memperhitungkan imanmu”.

Uniknya puasa juga dikatakan sebagai ibadah yang berdimensi sosial. Aneka perbuatan baik secara horizontal senantiasa diajarkan seperti zakat dan sedekah. Karena, antara dimensi transendental dan sosial bak dua sisi uang logam, ya sami mawon tidak ada bedanya. Aspek vertikal tidak akan menjadi lengkap tanpa aspek horizontal, demikian juga sebaliknya.

Unik juga sih, dalam kultum yang disampaikan, mereka mampu mengupas jelas ayat tentang puasa. Kata-kata ”la’allakum tattaqun (agar kamu bertaqwa)”  di akhir surat itu dengan jelas dan gamblang diartikan bahwa berakhirnya puasa bukan kulminasi dari sebuah upaya perbaikan selama sebulan. Karena kata ”tattaqun” itu secara gramatikal adalah fi’il mudari’ atau present and future tense, sehingga bertakwa disini bukan hanya untuk bulan puasa, namun juga sebelas bulan berikutnya, sampai ketemu puasa lagi. ”Seperti kemenangan dalam latihan sepakbola tidak bisa diartikan puncak keberhasilan. Prestasi baru muncul manakala bisa menang di galatama ataupun worldcup,” ucapnya mantap.

Unik memang unik. Mereka bisa-bisanya menyampaikan khotbah dengan menyitir bahwa dua pertiga dari ayat Qu’an adalah sejarah dan pengalaman umat terdahulu yang mesti disikapi sebagai edukasi agar hal-hal yang buruk tidak terulang kembali. Melalui puasa yang menggodok manusia di kawah condrodimukonya sang Khalik, maka akan muncul manusia-manusia yang penuh dengan dedikasi dan pengabdian baik kepada sesama manusia maupun kepada penciptaNya.

Unik pasti akan datang lagi, persis seperti tahun-tahun yang lalu. Meski semua khotbah telah dipahami oleh para jamaah apalagi khotibnya, keanehan yang bersifat kejahiliahan itu akan segera muncul dan muncul lagi. Berlalunya puasa banyak disikapi dengan kegembiraan lantaran seolah pintu segala larangan mulai dibuka kembali. Suasana lebaran hanya menjadi seremonial kultural yang kurang makna. Iedul Fitri hanya lebih dipahami dengan mudik pulang kampung dengan mobil dan baju baru. Kata-kata permintaan maaf pun hanya mampir di bibir dan di halaman-halaman surat kabar.

Semoga kita tidak bersama mereka yang berada di jalan sesat. Selamat kembali ke lembaran putih, fitrah Ilahi.