HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

INFO PASAR EDISI II 2006

Peluang palm oil dan vegetable oil Indonesia di Ethiopia

Oleh: Djoko Agung Rahardjo

 

SETIAP ibu rumah tangga pasti mengenal minyak goreng yang berasal dari vegetable oil dan palm oil. Minyak tersebut dapat dikatakan sangat dibutuhkan dan dikonsumsi para ibu saat memasak di dapur, termasuk masyarakat Ethiopia. Negeri ini memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor produk tersebut, mengingat sumber daya alamnya yang terbatas. Keterbatasan dan ketergantungan Ethiopia akan vegetable oil dan palm oilini merupakan peluang yang tidak boleh disia-siakan. Mampukah Indonesia menghadapi negara pesaing?

KELAPA SAWIT

Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Mesir adalah negara-negara pengekspor vegetable oil. Mereka berlomba menguasai pasar Ethiopia, sedangkan Indonesia sebagai negara produsen utama palm oil masih jauh tertinggal dengan Singapura yang punya lahan terbatas. Memang, faktanya, produk Indonesia itu masih belum cukup dikenal.

Berdasarkan catatan Deddy Sudarman, Duta Besar RI di Addis Ababa, Ethiopia mengalami peningkatan kebutuhan vegetable oil termasuk palm oil setiap tahunnya rata-rata mencapai 15%. Tahun 2005, nilai impor vegetable oil dan palm oil Ethiopia dari negara-negara eksportir mencapai US$ 66,6 juta. Diperkirakan, pada 2006 ini, kebutuhan produk tersebut akan meningkat menjadi US$ 75 juta.

NILAI IMPOR PALM OIL ETHIOPIA (2003-2006)                 NILAI IMPOR VEGETABLE OIL ETHIOPIA (2003-2006)

NEGARA

2003

2004

2005

Amerika Serikat

28,7

30,0

34,0

Malaysia

5,5

5,6

8,9

Singapura

2,9

2,8

5,3

Mesir

1,0

2,8

4,2

Djibouti

4,6

3,3

1,5

Saudi Arabia

0,2

0,6

1,0

Uni Emirat Arab

1,3

0,9

0,8

Indonesia

0,8

0,3

0,4

Turki

1,8

0,6

0,1

Lain-lain

10,4

4,8

10,4

Total

57,2

51,7

66,6

DALAM JUTA US$

SUMBER: ETHOPIAN CUSTOM

NEGARA

2003

2004

2005

Malaysia

5,4

4,2

8,0

Mesir

1,0

2,2

3,7

Singapura

1,7

1,4

2,4

Djibouti

3,7

2,5

1,4

Saudi Arabia

0,2

0,4

1,0

Uni Emirat Arab

1,2

0,7

0,7

Amerika Serikat

0,2

0,5

Indonesia

0,05

0,2

0,4

Lain-lain

2,75

0,2

0,2

Total

16,0

12,0

18,3

DALAM JUTA US$

SUMBER : ETHOPIAN CUSTOM

 

Dari seluruh pangsa produk vegetable oil, Indonesia hanya menguasai pasar kurang dari 1%. Sedangkan untukpalm oil, Indonesia hanya menguasai pangsa pasar 2,5% atau rata-rata pada tahun 2005 senilai US$ 0,4 juta. Nilai ekspor yang relatif kecil tersebut tentunya membuat Indonesia berpeluang untuk meningkatkan nilai ekspor vegetable oil dan palm oil-nya ke Ethiopia. Produk palm oil memegang porsi hampir 30% dari total nilai kebutuhan impor minyak tumbuhan/goreng di Ethiopia.

Sebagai negara net-importir, Ethiopia mengimpor produk-produk minyak tumbuhan/goreng dari sejumlah negara eksportir. Sejauh ini, Amerika Serikat dalam tiga tahun terakhir tetap merupakan eksportir terbesar yang menguasai pangsa pasar lebih dari 50%.

Sementara itu, tahun 2005, Malaysia berada di urutan kedua yang menguasai pasar sebanyak 15%, dan Singapura di urutan ketiga dengan pangsa pasar 10%. Sisanya dibagi oleh tujuh negara lain, yakni Mesir, Djibouti, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Indonesia, Turki, dan lain-lain.

Sangat ironis sekali. Indonesia sebagai negara produsenpalm oil terbesar berada di urutan kedelapan, sementara Malaysia, Mesir, dan Singapura, yang boleh dikatakan tidak memiliki lahan, merupakan negara eksportir terbesar ke Ethiopia (lihat tabel).

Hampir seluruh produk vegetable oil dan palm oil Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura mendominasi pasar Ethiopia, baik di supermarket besar maupun toko-toko dan warung-warung setempat. Hal ini disebabkan oleh kualitasnya yang cukup baik dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan produk sejenis dari negara lain. Sebagai perbandingan harga dapat dilihat pada tabel merek dan harga vegetable oil/palm oil yang beredar di pasaran Ethiopia.

Berdasarkan catatan KBRI Addis Ababa, saat ini terdapat dua agen perusahaan distributor Ethiopia yang punya jaringan dan menguasai pangsa pasar produk vegetable/palm oil yang besar, yaitu Get-AS International Plc dan Hassen Suleyman General Trading Plc. Kedua perusahaan tersebut masingmasing mengedarkan produk merek OKI, Refined USA, Viking, dan Chief.

Dari pengamatan langsung KBRI di Addis Ababa di lapangan, pada sejumlah toko swalayan maupun warung/toko makanan setempat di ibu kota Ethiopia, seperti di supermarket Bambis, Fantu, dan SHOA, belum terdapat produk vegetable/palm oil dengan merek atau buatan Indonesia yang beredar.

Mungkin, karena pasar dan nilai ekspor produk Indonesia tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan produk-produk sejenis dari negara eksportir lain. Sehingga, produk Indonesia belum beredar luas di pasaran Ethiopia. Kondisi tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh para pengusaha Indonesia dalam menembus peluang cukup besar di Ethiopia.

PERSYARATAN PRODUK

Sebagaimana ketentuan yang berlaku dari Pemerintah Ethiopia, bagi produk-produk tertentu seperti produk makanan/minuman dan obat-obatan, termasuk vegetable oil/palm oil, diperlukan izin khusus dari Kementerian Kesehatan Ethiopia. Sedangkan untuk produk-produk lain tidak diperlukan persyaratan standar kualitas tertentu/khusus.

Salah satu cara agar tidak terjadi pemalsuan merek dagang, sebaiknya pihak produsen/pengusaha Indonesia harus mendaftarkan merek dagangnya di Kementerian Perdagangan dan Industri Ethiopia, dengan melampirkan surat keterangan dan legalisasi dari Departemen Kehakiman RI, Departemen Luar Negeri RI, dan KBRI Addis Ababa. Hal ini diperlukan mengingat upaya pemalsuan merek dagang saat ini cukup rawan di Ethiopia, khususnya untuk merek-merek dagang yang telah terkenal dan mendapatkan minat cukup tinggi dari konsumen Ethiopia.