|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Mebel yang dimaksudkan di sini adalah mebel yang terbuat dari kayu. Pembangunan yang pesat di bidang konstruksi di negara-negara Timur Tengah diikuti juga dengan pembangunan di bidang-bidang lainnya. Pembangunan hotel-hotel baru, perkantoran dan bandar udara yang baru, menjadi primadona di negara-negara yang kaya minyak itu. Perumahan, termasuk apartemen, merupakan bangunan yang paling banyak dibangun setelahnya. Tentu saja jika perumahan banyak dibangun, akan banyak pula sarana hiburan dan pelayanan umum yang didirikan. Jadi jika kita jeli melihat peluang-peluang yang ada di negeri-negeri padang pasir itu, kita dapat mengekspor banyak mebel yang dibutuhkan oleh mereka. Bayangkan, jika satu apartemen saja dibangun, berapa mebel yang mereka butuhkan sebagai perabotannya. Pada tahun 2004, produk mebel yang diimpor oleh Dubai tercatat sebesar US$ 293.399.-006,14. Dari jumlah impor yang besar itu, produk mebel Indonesia, yang terbuat dari kayu, tercatat hanya sebesar US$ 4.128.057. Namun dari situ pun sudah bisa dibuat kesimpulan bahwa produk mebel Indonesia sebenarnya sangat diminati oleh warga negara kaya itu dan memiliki prospek yang masih sangat bagus. Produk mebel Indonesia dapat masuk ke negeri emas hitam ini dengan mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan baik di Dubai maupun di Abu Dhabi. Dubai saat ini dikenal sebagai “Singapuranya Timur Tengah”. Sehingga sangat strategis artinya bagi perdagangan kita dengan negara-negara Timur Tengah lainnya. Menurut orang-orang Timur Tengah, mebel-mebel Indonesia banyak diminati karena memiliki kelebihan pada kualitas kayu dan keunikan ukiran-ukirannya. Hal ini tidak mengherankan karena mebel-mebel kayu dari Indonesia memang terkenal dengan ukiran-ukirannya yang indah, rumit dan khas. Kekhasan ini ternyata masih menjadi kelebihan produk mebel kita di mana-mana di luar negeri. Selain itu perabotan rumah tangga kita ini juga dikenal karena harganya yang relatif masih jauh lebih murah, jika dibandingkan dengan produk serupa dari negara-negara lain. Bahkan karena keunikan dan daya jualnya yang tinggi, produk mebel yang ber “made in Indonesia” tidak hanya dipasarkan oleh para pengusaha Indonesia saja, tetapi juga dijual oleh pengusaha-pengusaha dari Maroko, Tunisia, Mesir dan Turki. Dijualnya produk unggulan kita itu oleh para pengusaha-pengusaha Timur Tengah menunjukkan bahwa mebel-mebel buatan Indonesia juga populer di negara-negara itu. Seorang pengusaha Tunisia bahkan pernah mengatakan bahwa dia mendatangkan mebel dari Indonesia sekitar 100 kontainer per tahunnya yang bernilai kira-kira US$ 500 ribu. Ini baru cerita dari satu orang. Lain di Tunisia, lain lagi cerita soal mebel kita di Maroko. Menurut laporan dari KBRI di Rabat, Maroko, setiap ada pameran interna-sional di Casablanca, setidaknya ada empat pengusaha yang bukan orang Indonesia yang khusus menjual produk-produk mebel Indonesia. Hebatnya lagi para pengusaha asing tersebut biasanya telah mempunyai toko atau setidaknya ruang pamer di Maroko. Ini berarti mereka telah mengimpor mebel dari Indonesia secara rutin.
Secara
geografis, letak Maroko yang strategis juga dapat menjadi batu loncatan bagi
pemasaran produk-produk mebel Indonesia ke Afrika, Eropa dan juga Timur
Tengah sendiri. Bagaimana dengan perusahaan mebel anda?
|