|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
SADAR atau tidak, cellular phone atau yang sering keren disebut hape, telah menggerus waktu, energi dan menguras isi kantong kita. Boleh dibilang, benda mungil itu berhasil melakukan penjajahan jutaan masyarakat Indonesia. Fenomena ini cocok seperti istilah yang pernah diteriakkan oleh presiden pertama kita, Ir. Soekarno: “neo-kolonialisme”. Suatu pergeseran model penjajahan, dari bentuk langsung, eksploitatif, tanpa kemanusiaan, menjadi teratur, tidak terasa dan berdasarkan hukum. Persamaannya jelas: kerugian dalam jumlah yang massif. Masih tegar di ingatan, betapa banyak kerugian yang diderita nenek moyang kita semasa penjajahan. Dengan cara yang tidak manusiawi, sumber daya manusia dan alam Indonesia digaruk sebanyak mungkin. Alam kita jadi rusak, sementara Belanda menjadi makmur dan maju. Jutaan rakyat kita mati kelaparan akibat kerja paksa, sedangkan orang Belanda duduk manis sambil makan roti dan keju. Tidak heran, para pejuang marah besar terhadap kaum penjajah dan mengobarkan perlawanan “merdeka atau mati”. Nah, di zaman serba global saat ini, penjajahan tetap saja eksis. Amerika Serikat mengemasnya dengan sebutan penyebaran “pop culture”. Tidak melulu menggunakan pasukan perang dengan senjata super canggih. Batalyon tentara itu telah berubah bentuk menjadi multinational company seperti Mc. Donald, Kentucky Fried Chicken, Texas Fried Chicken dan lainnya. Bahkan dalam dunia film, kita disuguhi pahlawan ajaib dan tidak masuk akal seperti Rambo hingga Spiderman. Eloknya, bak makanan lezat saat perut kita keroncongan. Kita lalap habis semua, tanpa ampun. Terasa betul-betul gurih, renyah, pas dengan lidah kita. Pokoknya “mak nyus” lah. Lihat saja berapa banyak orang yang ngantri di Mc. Donald dan Kentucky yang tesebar di Jakarta saat makan siang. Tanyakan anak kita, mana yang lebih enak, nasi padang atau steak. Lebih suka nonton film nasional atau made in Hollywood? Atau bahkan kita tanya diri kita, seberapa jauh kita masih bangga terhadap produk nasional? Fenomena Hape Hape adalah sebuah “tuhan” baru di era teknologi informasi. Ia adalah simbol jatidiri dan bukan lagi sekadar alat telekomunikasi. Para pembantu rela tidak membawa uang ketika pulang kampung lebaran asal ada hape di tangan Meskipun, pembantu saya misalnya, tidak bisa dikontak saat mudik karena tidak mampu beli pulsa. Tidak hanya itu, setelah menyelesaikan satu proyek bangunan, barang utama yang dibeli semua tukang batu dan kayu adalah hape. Mereka bisa tidak perduli terhadap keperluan uang sekolah anaknya. “Malu bos, kalau pulang tidak ada hape” katanya. Inilah hebatnya kaum kapitalis. Biar lebih menarik sesuai dengan sifat pop culture, hape dibuat demikian ragam. Pertama keluar, hape adalah alat komunikasi an sich. Lalu ditambahi dengan fitur lain, mulai radio, kamera, alat rekam, bahkan perangkat searching internet. Kini, hape tercanggih bisa untuk nonton teve dan film. Kamera yang dipasang juga membius konsumen agar terus melakukan penggantian hape. Kemampuan pikselnya bertambah setiap tahun, mulai dari ribuah hingga beberapa mega. Di kalangan pegawai krah putih, adu hape adalah hal yang biasa. Bagi mereka, hape yang paling canggih dengan fitur-fitur mutakhir yang memudahkan untuk melakukan berbagai hal secara simultan, merupakan kebanggaan. “Communicator” merek tertentu adalah simbol kebonafidan, apalagi memorinya bisa ditingkatkan menjadi sekian giga. Tidak heran, kalau semua fitur difungsikan, kehebatan hape model tertentu melebihi sebuah PC. Harganya-pun bisa di atas Rp 10 juta. Padahal jujur saja, 90 persen fungsinya hanya dua: menelpon dan sms-an. Bagi kalangan mahasiswa dan remaja, yang menjadikan hape kebanggaan adalah seberapa besar mega piksel kamera photo dan seberapa bening suara radio atau musik yang dihasilkan. Bahkan, bentuk dan warnanya menjadi sangat penting. Dengan kebutuhan semacam ini, maka hape bisa didapat dengan range harga antara Rp 4-5 juta. Bagi kalangan ekonomi pas-pasan yang menjadikan hape adalah simbol keberhasilan, yang terpenting bisa mejeng dengan hape di tangan. Akan ada nilai tambahnya bila bisa untuk jeprat-jepret, meskipun lebih sering pulsanya zero. Bukan hanya itu, para ibu rumah tangga juga sangat mencintai hape. Walau sudah ada telepon fiks di rumah, rasanya tidak afdol bila ke warung dan pasar becek sebelah tidak bawa handphone. “Rasanya ada yang kurang, gitu lho,” akunya. Yang agak aneh adalah anak-anak yang masih katagori ingusan tapi dibekali hape di sekolah dengan alasan mempermudah komunikasi. Karena belum tahu sulitnya mencari uang, mereka menuntut hape yang mewah dengan harga yang cukup mahal. Kelompok ini paling suka kirim sms dengan jatah pulsa yang terbatas. Nah, ketika pulsanya sudah habis, pulsa di hape bokap dan nyokapnya pun kadang diembat. Bagi kalangan eksekutif, pulsa sebulan dua juta rupiah kein problem, sedangkan masyarakat kelas pembantu rumah tangga, harus memangkas seperlima dari gajinya. Dari sisi waktu, bisa jadi Tuhan marah dengan perlakuan manusia terhadap hape. Bagaimana tidak, waktu kutak kutik hape lebih jauh lama waktunya dibanding waktu shalat 5 waktu. Tidak hanya itu, waktu belajar bagi anak-anak pun semakin menyempit. Tangan mereka tak pernah bisa dihentikan dari mengirim sms dengan tema yang tak jelas juntrungnya. Meskipun tidak pernah dihitung secara jelas, tetapi terdapat perkiraan bahwa biaya gonta ganti hape dan pembelian pulsa rata-rata perbulan pada kisaran Rp 500 ribu per-orang. Atau Rp 2,5 juta, bila dalam satu rumah terdapat 4 hape. Adapun penggunaan rata-rata perhari bisa mencapai lebih setengah jam.
Tidak terasa memang, sebagian
kita terus dan terus saja terjajah. Pertanyaannya, apabila nenek moyang kita
dengan gagah gempita mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda, mampukah
kini kita melawan penjajahan hape yang sia-sia? “TnySjPd
RmptYgBrgyng…”
|