HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XI APRIL 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 29 April, 2009

 

 

 

Negeri yang ditaburi jutaan pagoda ini ternyata menyimpan peluang yang dapat dimanfaatkan dunia UKM Indonesia. Walau potensi ekonomi negara ini masih kecil namun celah bisnis yang ada perlu diamati.

Myanmar? Aung San Suu Kyi!! Begitulah jawaban yang sering  kita dapatkan ketika ditanya kesan pertama tentang Myanmar. Tetapi selain itu, banyak yang masih terkesan dengan kesederhanaan rakyat Myanmar yang akrab dengan sarung, atau Burma yang dulu kita kenal sebagai ‘lumbung padi’ di Asia. Kita merasa dekat dengan tetangga kita ini, tetapi kedekatan ini belum dibarengi dengan maraknya perdagangan antara pelaku usaha dari kedua negara. 

Myanmar, negeri yang luasnya sekitar satu-setengah kali Pulau Sumatera, berpenduduk 56 juta orang, yang terdiri dari 135 etnik grup dengan bahasa dan dialeknya masing-masing, banyak menawarkan peluang. Pasar Myanmar diramaikan oleh barang-barang impor dari Singapore, Malaysia, Thailand, China, India, dan Korea Selatan. Produk Indonesia belum banyak beredar dan dikenal di pasar Myanmar, kecuali kertas dan produknya, minyak kelapa sawit, migas, besi, baja, tembakau, dan karet.

 

Potensi Myanmar

Ekonomi Myanmar termasuk yang paling tertinggal diantara negara-negara ASEAN. Bagaimana tidak tertinggal bila embargo ekonomi dari negara-negara Barat yang berlangsung sejak tahun 1996, terus berlanjut?  Ditambah lagi, campur tangan pemerintah dalam perdagangan di Myanmar yang masih kental, menunjang lambannya pertumbuhan investasi asing di negeri ini. Namun pemerintah Myanmar telah mencoba menerapkan ekonomi pasar sebagai koreksi dari sistim sosialis. Nyatanya, semua itu tidak mengurangi nilai budaya masyarakat Myanmar yang terbiasa dengan gaya hidup sederhana.

Pasar-pasar tradisional, meskipun sederhana, terbuat dari bambu, tetapi tetap bersih dan nyaman, dan bahkan lebih bersih dibanding dengan di Indonesia. Pedagang-pedagang kaki lima terkelompok dengan rapi. Begitu kesan Amin Maulana, seorang diplomat muda yang pernah ditugaskan di Kedutaan Besar RI di Yangoon, Myanmar. Lalu, dapatkah kita menemui barang-barang dari Indonesia?

“Di pasar-pasar tradisional memang agak susah ditemukan, tetapi di supermarket- supermarket, barang kelontong seperti kecap, sambal, bumbu-bumbu dapur, mie instant, sirup, rokok, sabun, obat-obat flu, makanan kering buatan Indonesia tidak sulit ditemukan” ujar Amin. Batik Indonesia juga sangat di kenal di Myanmar. Ternyata produk UKM Indonesia bukanlan barang baru bagi masyarakat Myanmar.

Negeri  yang memiliki empat musim ini, berbatasan langsung dengan Thailand, Bangladesh, China, Laos, dan India. Myanmar memiliki pelabuhan-pelabuhan sungai yang cukup besar. Selain itu, Myanmar memiliki pantai di tepian  Laut Andaman dan Teluk Benggala. Meskipun pesisir pantainya tidak jauh dari Indonesia, belum menyumbang peningkatan perdagangan kedua negara. 

Sungguh ini merupakan alternatif bagi jalur penyeberangan produk ekspor Indonesia. Selain ke Myanmar sendiri, jalur ini mungkin bisa dimanfaatkan untuk menembus pasar ke negara-negara  tetangga yang berbatasan dengan Myanmar dan bahkan mungkin ke Asia Tengah. Sayangnya, transportasi langsung antara Indonesia-Myanmar, belum dikembangkan, baik melalui laut maupun udara. Sebaliknya, negara-negara tetangga langsung Myanmar-lah yang lebih beruntung karena dapat mengadakan perdagangan langsung ke Myanmar dengan ‘ongkos’ yang lebih murah dibanding dengan mengadakan perdagangan dengan Indonesia.

 

Potensi bisnis

Seperti negara-negara ASEAN lainnya, Myanmar juga mempunyai mata dagangan yang sama dengan Indonesia yaitu semen, kayu, tambang, mineral, dan produk pertanian. Tujuan ekspor utama Myanmar adalah Thailand. Sementara volume perdagangan tertinggi adalah dengan RRC. Komoditi ekspor andalan Myanmar antara lain minyak sayur, alat-alat pertanian, garmen dan semen. Sementara produk-produk yang diinginkan pasar Myanmar adalah elektronik, pupuk, farmasi, garmen, ban, radiator, ikan/udang, kelapa sawit, produk-produk kehutanan, telekomunikasi, pertanian, konstruksi, perikanan, pertambangan, minyak dan gas, manufaktur, transportasi, hotel dan pariwisata, pembangunan perumahan, dan pengembangan kawasan industri.

Indonesia dan Myanmar telah memiliki perjanjian di bidang pertanian dan perikanan serta P3B (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda). Myanmar mengharapkan investor Indonesia untuk menanamkan investasi dan mengembangkan usahanya di Myanmar. Perjanjian perdagangan dengan Indonesia sedang dijajagi dengan adanya Komisi Bersama antara kedua negara yang telah mengadakan pertemuan sejak tahun 2007. Perdagangan selama ini dilakukan berupa imbal dagang. Barang-barang Indonesia masuk ke Myanmar melalui negara ketiga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Banyak pengusaha-pengusaha Myanmar yang telah datang ke Indonesia baik pengusaha besar maupun eceran untuk membeli produk-produk Indonesia. Nampaknya, inilah cara yang lebih efisien untuk mengatasi kendala-kendala seperti belum adanya kerjasama perbankan kedua negara, belum adanya LC, dan masih adanya pasar gelap di Myanmar. Selain itu, beberapa pengusaha yang masih kecil kapasitasnya untuk mengimpor, dapat mengimpor secara  gabungan.

Indonesia sangat dekat di hati rakyat Myanmar karena hubungan kedua negara yang memang terjalin sangat erat sejak dulu, ketika negara ini masih dikenal dengan Burma. Seperti yang diungkapkan Amin Maulana, produk kita dikenal luas oleh konsumen Myanmar. Walau potensi bisnis dengan negara ini relatif kecil dibandingkan dengan negara sekitarnya seperti Vietnam atau Thailand namun tidak ada salah untuk mulai mempelajari perkembangan pasar Myanmar. “Industri mereka masih terbatas dan sebagian kebutuhan pokok masih diimpor” tambah Amin Maulana. Sejalan dengan perkembangan ekonominya, potensi bisnis di Myanmar pun akan tumbuh. Sebuah kesempatan yang patut dicermati.