HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XII OKTOBER 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Statistik kunjungan

Free counter and web stats

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 03 October, 2009

 

 

 

 

Merebut devisa di negeri jiran

Oleh: Masriati Lita Saadia Pratama

Siapa yang tidak kenal Singapura, hub finansial dan perdagangan kawasan Asia Tenggara? Dengan jarak yang relatif hanya “sepelemparan batu” dari Indonesia, negeri Singa ini merupakan salah satu tujuan ekspor dan ajang promosi beragam produk UKM Indonesia ke kancah internasional.

SINGAPURA sejak lama menganut sistem perekonomian terbuka, yang kemudian membawanya mencapai pertumbuhan ekonomi (PDB) hingga rata-rata 7 persen per tahun (2004-2007). “Mengingat terbatasnya sumber daya alam Singapura, maka ketergantungan perekonomian Singapura terhadap sektor perdagangan luar negeri, baik barang, jasa dan pariwisata, sangatlah besar”, papar Djunari Inggit Waskito, Atase Perdagangan Kedutaan Besar RI di Singapura kepada AKSES. “Selain itu, kita semua sudah mafhum bahwa fondasi perekonomian Singapura  ditopang oleh sektor jasa (63% dari PDB) dan manufaktur (27% dari PDB). Sehingga, jasa dan manufaktur merupakan mesin utama penggerak roda perekonomian Singapura”, jelas Djunari lebih lanjut. Perubahan kondisi perekonomian negara lain dan bahkan perubahan sosial keamanan di luar negeri, sangat mempengaruhi kemajuan perekonomian di Singapura. Peristiwa 11 September, SARS, krisis Asia, dan terakhir krisis finansial secara global, mengakibatkan kemandegan pertumbuhan ekonomi Singapura.

 

Perdagangan dengan Indonesia

Para saudagar Melayu telah lama hilir mudik berniaga dan menjalin kontak dagang dengan saudagar-saudagar di kawasan yang kini adalah Singapura. Apa yang kini terlihat lebih merupakan kelanjutan suatu hubungan ekonomi antara Indonesia dan Singapura, sebagai dua negara berdaulat. Saat ini, keduanya menjalin hubungan ekonomi perdagangan yang dapat dikatakan saling melengkapi.

Dalam konteks percaturan perdagangan, masing-masing Indonesia dan Singapura menduduki peringkat atas sebagai mitra dagang. Indonesia merupakan mitra dagang ke-5 bagi Singapura, setelah Malaysia, China, EU dan AS. Sedangkan bagi Indonesia, Singapura merupakan mitra dagang terbesar ke tiga, setelah Jepang dan AS. Hingga kini, komoditas seperti produk petroleum refinery, peralatan kantor serta alat dan mesin data processing masih jadi andalan ekspor Indonesia. Sedangkan, ekspor utama Singapura ke Indonesia antara lain produk petroleum, electrical machinery, peralatan perkantoran dan data processing.

Saat ini kinerja perdagangan bilateral kita dengan Singapura tengah lesu dengan data penurunan ekspor domestik produk non-migas sebesar 21 persen pada Mei 2009. yang disebabkan pertumbuhan negatif ekspor produk elektronika sebesar minus 27 persen dan produk non-elektronika sebesar minus 19 persen. Total nilai transaksi perdagangan Singapura dengan Indonesia sekitar SGD 50,17 milyar atau 18,5 persennya dari total perdagangan internasionalnya. Kesimpulannya, ke depan kondisi seperti ini dapat dijadikan modal untuk memperluas pasar Indonesia di Singapura melalui peningkatan ekspor produk-produk andalan, khususnya komoditas sektor industri kecil dan menengah.

 

Peluang UKM

Indonesia dengan karakteristik sumber daya manusia dan alam yang cukup tinggi memang telah lama mengarah pada swasembada di semua sektor kebutuhan. Oleh karenanya tidaklah sulit untuk memilih produk apa yang dianggap berpeluang untuk memenuhi kebutuhan negara tetangga, baik karena surplus dalam negeri, maupun pengupayaaan peningkatan produksi dengan tujuan ekspor. Namun juga tidak tertutup kemungkinan apabila pengusaha lokal kita ‘menciptakan’ produk baru bagi pemenuhan kebutuhan Singapura, yang notabene produk tersebut sama sekali tidak menjadi konsumsi masyarakat kita, misalnya produk makanan atau minuman yang karena alasan agama tidak dikonsumsi masyarakat kita (produk makanan non-halal atau minuman tradisional beralkohol).

Dengan jarak tempuh yang relatif kecil, Singapura sangat ideal untuk dibidik sebagai sasaran sektor industri kecil dan menengah di tanah air, misalnya industri di Kepulauan Riau. Walaupun Singapura hanya berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa, dan bukan merupakan pasar yang besar, namun daya beli masyarakatnya yang cukup tinggi dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dan jangan lupa, masyarakat Singapura juga mencakup sejumlah besar wisatawan asing yang tengah melancong ke kota Singa itu yang membuat perputaran uang di Singapura semakin dinamis.

Di negeri yang dikenal sebagai salah satu macan ekonomi Asia ini, pasar untuk produk makanan sehat, seperti sayur dan buah segar masih terbuka lebar. Dengan letak geografis yang dekat dan modal bahan baku Indonesia yang melimpah, maka peluang ini perlu terus diupayakan. Selain itu bagi eksportir Indonesia, bea masuk Singapura 0% bagi sebagian besar barang impor merupakan peluang untuk mendapuk emas, karena dengan demikian bea yang biasanya dimasukkan ke dalam harga jual bisa menjadi keuntungan tambahan bagi eksportir Indonesia.

Bagaimana sebaiknya berniaga di Singapura? Seperti halnya pasar negara-negara maju lainnya, memasuki pasar Singapura berarti kita harus siap dengan kompetisi ketat (baca: kompetisi sehat) dengan produk-produk negara lain, yang tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kompetisi harga, kualitas produk, inovasi, kemasan/label produk yang bisa dimengerti pasar, promosi dan kontinuitas produksi. Faktor-faktor tersebut tentu saja belum termasuk upaya pemasaran yang dilakukan rekan bisnis atau agen pengusaha kita di Singapura.

Kiat lainnya, rajin-rajinlah berpromosi melalui keikutsertaan dalam pameran internasional yang sering diselenggarakan di Singapura. Hal ini perlu untuk meningkatkan daya saing dan memperluas jejaring usaha melalui pengenalan produk. Diversifikasi produk mancanegara umumnya dapat ditemui pada pameran berskala internasional di Singapura. Hal ini membuat buyers seolah-olah melakukan one-stop-shopping pada sebuah pameran di Singapura. Sebut saja mulai dari produk riil seperti alat berat sekelas traktor, hingga produk jasa yang tidak kasat mata. Rentang diversifikasi ini tidak terbatas pada jenis atau item produk, namun juga merek yang tersedia bagi setiap jenis produk yang merupakan impor Singapura dari seluruh pelosok dunia, mengingat negara pulau ini juga sekaligus pelaku ekspor yang andal dan diperhitungkan di level internasional.