Siapa
yang tidak kenal Singapura, hub finansial dan perdagangan kawasan Asia
Tenggara? Dengan jarak yang relatif hanya “sepelemparan batu” dari
Indonesia, negeri Singa ini merupakan salah satu tujuan ekspor dan ajang
promosi beragam produk UKM Indonesia ke kancah internasional.
SINGAPURA
sejak lama menganut sistem perekonomian terbuka, yang kemudian
membawanya mencapai pertumbuhan ekonomi (PDB) hingga rata-rata 7 persen
per tahun (2004-2007). “Mengingat terbatasnya sumber daya alam Singapura,
maka ketergantungan perekonomian Singapura terhadap sektor perdagangan
luar negeri, baik barang, jasa dan pariwisata, sangatlah besar”, papar
Djunari Inggit Waskito, Atase Perdagangan Kedutaan Besar RI di Singapura
kepada AKSES. “Selain itu, kita semua sudah mafhum bahwa fondasi
perekonomian Singapura ditopang oleh sektor jasa (63% dari PDB) dan
manufaktur (27% dari PDB). Sehingga, jasa dan manufaktur merupakan mesin
utama penggerak roda perekonomian Singapura”, jelas Djunari lebih lanjut.
Perubahan kondisi perekonomian negara lain dan bahkan perubahan sosial
keamanan di luar negeri, sangat mempengaruhi kemajuan perekonomian di
Singapura. Peristiwa 11 September, SARS, krisis Asia, dan terakhir
krisis finansial secara global, mengakibatkan kemandegan pertumbuhan
ekonomi Singapura.
Perdagangan dengan Indonesia
Para
saudagar Melayu telah lama hilir mudik berniaga dan menjalin kontak
dagang dengan saudagar-saudagar di kawasan yang kini adalah Singapura.
Apa
yang kini terlihat lebih merupakan kelanjutan suatu hubungan ekonomi
antara Indonesia dan Singapura, sebagai dua negara berdaulat. Saat ini,
keduanya menjalin hubungan ekonomi perdagangan yang dapat dikatakan
saling melengkapi.
Dalam
konteks percaturan perdagangan,
masing-masing Indonesia dan Singapura menduduki peringkat atas sebagai
mitra dagang. Indonesia merupakan mitra dagang ke-5 bagi Singapura,
setelah Malaysia, China, EU dan AS. Sedangkan bagi Indonesia, Singapura
merupakan mitra dagang terbesar ke tiga, setelah Jepang dan AS.
Hingga kini, komoditas seperti
produk petroleum refinery, peralatan kantor serta alat dan mesin
data processing
masih jadi andalan ekspor Indonesia.
Sedangkan, ekspor utama Singapura ke Indonesia antara lain produk
petroleum, electrical machinery, peralatan perkantoran dan data
processing.
Saat
ini kinerja perdagangan bilateral kita dengan Singapura tengah lesu
dengan data penurunan ekspor domestik produk non-migas sebesar 21 persen
pada Mei 2009. yang disebabkan pertumbuhan negatif ekspor produk
elektronika sebesar minus 27 persen dan produk non-elektronika sebesar
minus 19 persen. Total
nilai transaksi perdagangan Singapura dengan Indonesia sekitar SGD 50,17
milyar atau 18,5 persennya dari total perdagangan internasionalnya.
Kesimpulannya, ke depan kondisi seperti ini dapat dijadikan modal untuk
memperluas pasar Indonesia di Singapura melalui peningkatan ekspor
produk-produk andalan, khususnya komoditas sektor industri kecil dan
menengah.
Peluang
UKM
Indonesia
dengan karakteristik sumber daya manusia dan alam yang cukup tinggi
memang telah lama mengarah pada swasembada di semua sektor kebutuhan.
Oleh karenanya tidaklah sulit untuk memilih produk apa yang dianggap
berpeluang untuk memenuhi kebutuhan negara tetangga, baik karena surplus
dalam negeri, maupun pengupayaaan peningkatan produksi dengan tujuan
ekspor. Namun juga tidak tertutup kemungkinan apabila pengusaha lokal
kita ‘menciptakan’ produk baru bagi pemenuhan kebutuhan Singapura, yang
notabene produk tersebut sama sekali tidak menjadi konsumsi masyarakat
kita, misalnya produk makanan atau minuman yang karena alasan agama
tidak dikonsumsi masyarakat kita (produk makanan non-halal atau minuman
tradisional beralkohol).
Dengan
jarak tempuh yang relatif kecil, Singapura sangat ideal untuk dibidik
sebagai sasaran sektor industri kecil dan menengah di tanah air,
misalnya industri di Kepulauan Riau. Walaupun Singapura hanya
berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa, dan bukan merupakan pasar yang besar,
namun daya beli masyarakatnya yang cukup tinggi dapat dimanfaatkan
semaksimal mungkin. Dan jangan lupa, masyarakat Singapura juga mencakup
sejumlah besar wisatawan asing yang tengah melancong ke kota Singa itu
yang membuat perputaran uang di Singapura semakin dinamis.
Di negeri
yang dikenal sebagai salah satu macan ekonomi Asia ini,
pasar untuk produk makanan sehat, seperti
sayur dan buah segar masih terbuka lebar. Dengan letak geografis yang
dekat dan modal bahan baku Indonesia yang melimpah, maka peluang ini
perlu terus diupayakan. Selain itu bagi eksportir Indonesia, bea
masuk Singapura 0% bagi sebagian besar barang impor merupakan peluang
untuk mendapuk emas, karena dengan demikian bea yang biasanya dimasukkan
ke dalam harga jual bisa menjadi keuntungan tambahan bagi eksportir
Indonesia.
Bagaimana
sebaiknya berniaga di Singapura? Seperti halnya pasar negara-negara maju
lainnya, memasuki pasar Singapura berarti kita harus siap dengan
kompetisi ketat (baca: kompetisi sehat) dengan produk-produk negara
lain, yang tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kompetisi
harga, kualitas produk, inovasi, kemasan/label produk yang bisa
dimengerti pasar, promosi dan kontinuitas produksi. Faktor-faktor
tersebut tentu saja belum termasuk upaya pemasaran yang dilakukan rekan
bisnis atau agen pengusaha kita di Singapura.
Kiat
lainnya, rajin-rajinlah berpromosi melalui keikutsertaan dalam pameran
internasional yang sering diselenggarakan di Singapura. Hal ini perlu
untuk meningkatkan daya saing dan memperluas jejaring usaha melalui
pengenalan produk. Diversifikasi produk mancanegara umumnya dapat
ditemui pada pameran berskala internasional di Singapura. Hal ini
membuat buyers seolah-olah melakukan one-stop-shopping
pada sebuah pameran di Singapura. Sebut saja mulai dari produk riil
seperti alat berat sekelas traktor, hingga produk jasa yang tidak kasat
mata. Rentang diversifikasi ini tidak terbatas pada jenis atau item
produk, namun juga merek yang tersedia bagi setiap jenis produk yang
merupakan impor Singapura dari seluruh pelosok dunia, mengingat negara
pulau ini juga sekaligus pelaku ekspor yang andal dan diperhitungkan di
level internasional.