HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi X NOPEMBER 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 12 Nopember, 2008

 

 

 

Menukar baju pahlawan

 Oleh : Cut Dinawati

Peluang kerja sektor formal di luar negeri cukup banyak untuk dapat dimanfaatkan. Sudah waktunya pengiriman TKI sektor formal ditingkatkan dan diupayakan dengan sungguh-sungguh.

HANI tampak bingung mencari tempat duduk yang kosong. Ruangan yang tidak begitu besar itu  terlihat sudah sesak, semua kursi dipenuhi orang yang terus berdatangan. Semuanya nampak serius menyimak penjelasan seseorang yang berdiri di ujung ruangan. Mereka adalah warga negara Indonesia yang mayoritas tenaga kerja Indonesia (TKI). Datang dari berbagai kota di Korsel memenuhi undangan KBRI Seoul untuk menerima mengikuti sosilisasi kekonsuleran dan ketenagakerjaan. Pagi itu, Akhmad D.H. Irfan, Pelaksana fungsi Konsuler KBRI Seoul terlihat bersemangat memaparkan berbagai kebijakan di bidang kekonsuleran di hadapan puluhan TKI. Hani dan mereka yang berkumpul mendengarkan penjelasan Irfan itu adalah sebagian dan dari segelintir TKI yang bekerja di luar negeri di sektor formal.

Pasar kerja

Terdapat dua kategori jenis pekerjaan yaitu sektor formal dan informal. Sektor formal adalah profesi yang mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan berbadan hukum. Sedangkan sektor informal pekerjaan yang dilakukan untuk perseorangan. Dari peta lowongan kerja untuk tenaga kerja asing dari negara-negara berkembang, terlihat bahwa sebagian besar yang bekerja di negara-negara Arab umumnya di sektor informal seperti pembantu rumah tangga. Namun sejumlah negara seperti Filipina dan India telah naik kelas dimana persentase pekerja di sektor formal meningkat.

Disamping sektor informal, kebutuhan akan tenaga kerja sektor formal juga menggelembung. Hal ini diakibatkan oleh pembangunan sektor riil yang meroket terutama di negara-negara Teluk. Sementara kapasitas tenaga kerja lokal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang besar itu. Lowongan kerja itu umumnya di bidang konstruksi, perminyakan seperti pengeboran lepas pantai, perhotelan, rumah sakit, restoran, transportasi dan kegiatan retail seperti supermarket.

Pasar kerja di belahan dunia lainnya seperti Asia Timur lebih didominasi oleh sektor formal. Di Jepang dan Korea Selatan, tenaga kerja asing umumnya bekerja industri manufaktur berkategori usaha kecil dan menengah. Data BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan TKI) menyebutkan bahwa di Jepang dibutuhkan sekitar 600 ribu perawat untuk rumah sakit dan rumah jompo. Sedangkan di Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Singapura jumlah tenaga kerja asing di sektor informal masih cukup banyak. Kesempatan kerja di wilayah Asia Pasifik lainnya adalah Australia dan Selandia Baru. Di negeri kanguru itu terdapat ratusan ribu lowongan kerja di sektor pertambangan, restoran, perhotelan, bengkel, pertanian, rumah sakit dan pendidikan. Sedangkan di Selandia Baru, tenaga kerja asing dari negara berkembang umumnya bekerja di sektor perkebunan dan pengepakan.

Tenaga kerja Indonesia

Data BNP2TKI menyebutkan bahwa jumlah TKI yang bekerja di luar negeri saat ini sekitar 3,2 juta orang. Sebagian besar yaitu hampir 50% mengadu nasib di negeri jiran Malaysia yang mayoritas di sektor informal. Catatan Atase Ketenagakerjaan KBRI Kuala Lumpur menunjukkan bahwa jumlah TKI di Malaysia mencapai 1,2 juta orang. TKI mendominasi jumlah tenaga kerja asing di Malaysia yaitu sekitar 66%. Kedua terbesar adalah negara-negara Arab, ini pun sebagian besar bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Selebihnya di negara lain seperti Hongkong, Taiwan, Singapura, yang juga berlomba meraup TKI untuk sektor informal. Sedangkan TKI yang mengadu untung di sektor formal antara lain berada di Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru dan beberapa negara di Eropa dan Amerika. Komposisi kedua sektor ini adalah 31% % untuk sektor formal dan 69% sektor informal pada tahun 2007. Persentase sektor formal diharapkan meningkat pada tahun 2008 ini. “Permintaan akan tenaga kerja Indonesia untuk sektor formal sebenarnya cukup banyak namun TKI kebanyakan tidak dapat memenuhi persyaratan ketrampilan yang diminta” ujar Menakertrans Erman Suparno kepada AKSES beberapa waktu lalu.

Walaupun masih didominasi oleh sektor informal, devisa yang dihasilkan cukup mengejutkan. Menurut catatan Bank Indonesia, nilai devisa yang diboyong TKI pada tahun 2003 – 2008 mencapai Rp. 167 triliun, sekitar Rp 24 triliun setahun! Itu belum termasuk yang mereka bawa sendiri. Pemasukan nomor dua terbesar setelah migas. Padahal sebagian besar masih bekerja di sektor informal yang tentu saja mendapat gaji lebih kecil dibandingkan sektor formal. Kita mungkin akan kaget dan tidak percaya bila mengetahui bahwa remitansi (kiriman uang) yang diterima satu daerah saja seperti Banyumas mencapai Rp 2 milyar sehari. Menjelang lebaran jumlah itu membangkak menjadi dua kali lipat. Apalagi kalau dilihat penerimaan remiten oleh kantong-kantong TKI terbesar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur dan NTB. Bahkan di sebagian wilayah, jumlah remiten yang diterima sebagai devisa dari TKI jauh melampaui APBD-nya! Bayangkan bila 90% TKI bekerja di bidang formal, pemasukan devisa dari remiten pasti akan berlipat lipat. Namun sayangnya dana tersebut sebagian besar digunakan untuk konsumsi ketimbang investasi atau produksi. Sehingga pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi daerah itu sangat terbatas.

Pahlawan yang merana. Mungkin itulah kata yang dapat menggambarkan kondisi para pengirim devisa ini yang bekerja di sektor informal. Kita semua tahu nasib yang dialami para pekerja di sektor ini terutama pembantu rumah tangga. Diantara yang sukses, tidak jarang yang pulang dengan kondisi kurang menguntungkan. Walaupun pemerintah telah berupaya keras untuk mengeliminir sandungan-sandungan itu, tetap saja timbul permasalahan TKI. Hal yang dihadapi oleh perwakilan RI di negara-negara penerima TKI sebagian besar adalah membantu menyelesaikan permasalahan para penyumbang devisa ini. Bahkan ada yang mempunyai penampungan khusus untuk TKI di kantor perwakilan.

Ganti baju

Pahlawan harus dihormati, demikian kata pepatah. Sudah saatnya kita mengganti baju tenaga kerja Indonesia. Dari baju pembantu rumah tangga atau buruh yang kumal dengan baju pegawai hotel, kantoran, rumah sakit, kapal pesiar yang bersih dan harum. Tentu saja tidak sekedar membelikan baju baru yang wangi. Sistim pembinaan dan penyeleksian TKI harus dibenahi. Sektor formal membutuhkan tenaga kerja berketrampilan. Setidak-tidaknya penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris. BNP2TKI mendata bahwa terdapat ratusan ribu lowongan kerja untuk sektor formal di luar negeri. Lembaga ini telah melakukan road show ke sejumlah negara di Asia Pasifik, Eropa maupun Amerika untuk mencari peluang kerja untuk TKI. Namun bila permintaan sudah didapat, apakah kita sanggup memenuhinya? Masih banyak kendala yang menggayuti TKI terutama minimnya kemampuan berbahasa asing.

Lowongan kerja formal membutuhkan pekerja berketrampilan. Ratusan ribu lowongan kerja, misalnya di Australia, menyaratkan kemampuan berbahasa Inggris yang dibuktikan dengan ujian International English Language Testing System (IELTS) sebagai hal yang tak bisa ditawar. Konsulat RI di Perth pernah menginformasikan bahwa sekurang-kurangnya ada 400 ribu lowongan kerja yang terbuka saat ini dan dapat dimanfaatkan oleh TKI. “Namun bagi pekerja dari negara yang bukan berbahasa Inggris harus melalui test IELTS” demikian laporan KRI Perth. Skor IELTS yang harus dipenuhi adalah 4,5 (TOEFL pbt 475) sedangkan untuk perawat harus 7 (TOEFL pbt 600). Tingginya skor untuk perawat adalah guna menghindari kesalah-pengertian yang mungkin dapat membahayakan nyawa pasien. KJRI Sydney juga pernah melaporkan banyaknya lowongan kerja di bidang teknologi informasi, perawat, juru masak dan akuntan. Demikian juga di kota Darwin, dimana terdapat sejumlah lowongan kerja untuk tenaga mekanik, restoran, hotel dan perwawat.

Itu baru tiga kota di Australia. Masih ratusan ribu bahkan jutaan lowongan kerja yang menanti di puluhan negara lainnya. Kendala bahasa ternyata kelemahan TKI yang paling utama untuk merebut berbagai peluang. Inilah keunggulan tenaga kerja negara tetangga kita Filipina dimana umumnya mereka menguasai bahasa Inggris dengan baik. Oleh sebab itu, marilah mulai belajar, tidak ada kata terlambat. Rebutlah peluang itu !

Ketika melancong ke Filipina, Hani memandang heran pada bentangan karpet merah di bandara Ninoy Aquino, Manila. Karpet itu nampak terpasang rapi setelah pintu imigrasi. “Mungkin ada tamu negara” pikirnya. Sekelompok orang kemudian nampak melewati karpet merah itu dan disambut sejumlah pejabat pemerintah. Tapi hei! Hani mengenali sebagian dari mereka yang berjalan di karpet merah itu adalah orang Filipina teman sekerjanya di Seoul. Setibanya di luar bandara, Hani menyapa mereka dan bertanya mengenai karpet itu. Amelia, seorang dari mereka menjawab “We are heroes........”