HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VIII Maret  2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 02 April, 2008

 

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI VIII 2008

Menguak pasar Uzbekistan

Oleh: J. Subagja Made

Membuka pasar baru dengan jarak yang tidak dekat bukan soal mudah. Atas keberaniannya, APEX menjadi salah satu pionir eksportir ke Uzbekistan.

Inilah contoh UKM perintis yang berani melawan arus. Di kala banyak pengusaha merasa nyaman, adem ayem, dan terlena dengan pasar tradisional yang damai, APEX berani mengambil resiko untuk mencoba medan baru yang belum banyak diketahui orang, dengan mengail devisa di Uzbekistan, salah satu negara di Asia Tengah. Ketidak laziman tersebut membuat APEX menjadi menarik untuk dilihat pengalamannya menembus pasar Asia Tengah.

Menurut Malia, staf APEX yang bermarkas di daerah Tebet Jakarta Selatan, negara-negara Asia Tengah saat ini mulai berpaling ke wilayah  Asia timur untuk menjajaki kerjasama ekonomi.  Negara-negara Asia Tengah yang sedang giat membangun memang membutuhkan barang-barang investasi dan “consumer goods” dari Asia. Tetapi investor mana yang berani ambil resiko? “Para pengusaha kecil dengan modal cekak jarang yang berani mencoba medan baru yang penuh dengan petualangan dan resiko tinggi”, ujar Malia. “Banyak pengusaha merasa sudah puas dengan pasar di dalam negeri yang jumlah konsumennya melampaui 200 juta dibanding 26 juta pasar Uzbekistan”, ujarnya lagi.

APEX yang awal mulanya adalah sebuah perusahaan event organizer, sejak 4 tahun lalu mulai merintis usaha ekspor furniture Indonesia ke Uzbekistan, utamanya kerajinan rotan yang banyak diproduksi di daerah Cirebon. Dalam tahun 2006 dan 2007, APEX telah berhasil mengirimkan msing-masing 2 kontainer mebel dengan nilai masing-masing US$ 30.000 dan US$ 40.000. Jika kerjasama dengan pengusaha lokal berjalan mulus, diharapkan akan dapat dikirimkan 400an kontainer dalam setahun.  Sebenarnya bukan hanya rotan yang diminati di pasar Uzbekistan, tetapi banyak komoditi lain yang memiliki prospek yang cerah di pasar Asia Tengah, seperti alat-alat kecantikan, bumbu-bumbu, mie  instan, produk makanan laut, minyak goreng, ban, kertas, dan furnitur.

“Kalau ada yang menawarkan komoditi-komoditi seperti di atas kami dengan senang hati akan membantu menyalurkannya,” kata Malia yang telah lebih 10 tahun bergabung dengan APEX.  Saat ini APEX tengah menjajaki kerjasama dengan Pemda Maluku yang menawarkan produk furnitur. APEX juga mendorong pemda-pemda lain yang memiliki kemampuan ekspor untuk ikut  mencoba masuk pasar Asia Tengah.

Lebih lanjut staf APEX ini menginformasikan bahwa pada akhir Oktober atau awal November 2008, APEX bekerjasama dengan KBRI Tashkent akan mengadakan pameran Indonesian Furniture and Home Decor di Uzbekistan. Dalam konteks ini, APEX bersedia membantu pengurusan berbagai dokumen seperti visa, pengangkutan, stan dan informasi lainnya, jika ada perusahaan lain yang berminat berpartisipasi. Selain mengekspor berbagai komoditi Indonesia, APEX juga berinvestasi di bidang kuliner melalui restoran Indonesia yang dinamai Nusantara, Indonesia Food Restaurant  di Tashkent, Uzbekistan.

Bila dilihat secara geografis, rasa-nya sulit memba-yangkan seorang pengusaha Indo-nesia mampu mendapat keun-tungan di pasar yang letaknya sangat jauh dari kepulauan Indonesia. Selain itu, sebagai ne-gara  yang tidak memiliki pelabu-han laut, Uzbe-kistan sering di-anggap membuat biaya pengiriman menjadi tinggi. Bagaimana APEX mengatasi berbagai kendala ini?  Tentang hal ini, Malia berujar,   “bila Brazil saja, yang jarak penerbangannya mencapai 12 jam,  mampu menjual pisang di Uzbekistan, mengapa Indonesia yang memiliki jarak penerbangan hanya 9 jam tidak bisa?”. “Persoalannya adalah “channel”!”, kata Malia seraya menjelaskan bahwa, channel dapat diartikan sebagai networking. Channel juga dapat diartikan sebagai komoditi yang jarang dicari orang sehingga tidak banyak menemui persaingan.  Setiap eksportir pemula  mesti mengenali channel-channel dimaksud sehingga dapat menghasilkan transaksi yang menguntungkan.

Meski Uzbekistan berdekatan dengan India, menurut Malia, saingan komoditi Indonesia bukan dari India, karena India tidak memiliki komoditi seperti Indonesia. India unggul di bidang teknologi informasi. Saingan utama produk Indonesia adalah China, katanya, karena China mampu menjual komoditi apa saja yang dijual Indonesia dengan harga lebih murah. Ini sudah bukan rahasia lagi.  Ada banyak praktek label produk buatan Indonesia diganti menjadi buatan negara lain agar nampak lebih credible. Selain itu, banyak pengusaha Indonesia yang puas mengekspor barangnya sampai pelabuhan asing terdekat meskipun dengan keuntungan minimal. Banyak investor puas melakukan bisnis sampai di Dubai saja. Tetapi APEX berani menerobos perbatasan Iran (pelabuhan Abbas) menuju Turkmenistan dan Uzbekistan serta  juga memasukkan barang melalui perbatasan Rusia.  

Selain bisnis komoditi, sangat disarankan agar pengusaha Indonesia tidak mengabaikan potensi wisata. Seperti diketahui, Uzbekistan memiliki situs sejarah bidang keagamaan yaitu, masjid Imam Buchori, yang sangat popular di kalangan kaum muslim Indonesia. Selain itu, Uzbekistan memiliki keindahan alam dan lokasi-lokasi untuk bermain ski, yang tidak dimiliki oleh banyak negara. Tidaklah mengherankan apabila Uzbekistan dikunjungi oleh sekitar 6 juta wisatawan mancanegara dalam setiap tahunnya.  Berkat kegigihan APEX mengembangkan hubungan bisnis dengan Uzbekistan, APEX kini telah ditunjuk menjadi agen wisata, Uzbek Tourisiemme.

Sejauh ini, maskapai penerbangan Uzbekistan telah mencapai Kuala Lumpur dan saat ini tengah dijajaki kemungkinan meneruskan “link” ke Jakarta. Jika hal ini terwujud maka peluang untuk pengembangan industri wisata antara Indonesia dan wilayah Asia Tengah akan lebih terbuka lebar.

“Semua upaya APEX merintis usaha di Uzbekistan dibiayai dengan modal sendiri” ujar Malia. “Mana ada bank yang tertarik untuk berspekulasi? Bank itu kan ibarat semut. Di mana ada gula di situ ada semut,” ujarnya.  Seiring dengan meningkatnya hubungan bisnis antara Indonesia dan Uzbekistan dan negara-negara Asia Tengah lainnya, bank-bank lambat laun akan lebih tertarik.

Negara-negara Asia Tengah juga menyimpan deposit gas dan minyak bumi terbesar di dunia setelah Timur Tengah. Diramalkan bahwa dalam waktu singkat akan tercipta economic miracle atau keajaiban ekonomi di wilayah itu dengan mengalirnya investasi asing dan dimulainya eksplorasi gas alam dan minyak bumi. Untuk itu, tidak ada salahnya para UKM Indonesia mulai menjajaki pasar Uzbekistan dan Asia Tengah lainnya sebelum terlambat dan ketinggalan dari pesaing-pesaing dari negara lain.