|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 02 April, 2008
|
Mesir mempunyai latar belakang historis sebagai jalur perdagangan tradisional bagi negara-negara sekitarnya. Potensi pasar negara penghasil migas ini cukup menguntungkan untuk dimanfaatkan. LUKITO terpaku menatap patung Spinx yang bertengger gagah seolah menjaga tiga piramida Giza dibelakangnya. Disela-sela mengikuti sebuah pameran dagang di Cairo International Convention & Exhibition Centre, Nasr City, pengusaha mebel asal Jepara ini menyempatkan diri menyaksikan kehebatan peninggalan sejarah Mesir. Seolah terbayang akan kejayaan Firaun dan kerajaannya ribuan tahun lalu, Lukito mulai berjalan penuh semangat kearah piramid. Seorang mahasiswa Indonesia di Cairo yang menemaninya ke Giza tergopoh-gopoh mengikuti langkah Lukito. Bekas pedagang lumpia ini yakin betul bahwa kalau tidak masuk ke piramid maka perjalanannya ke Mesir tidak sah. Siapa tahu ada berkat tersendiri setelah melihat piramid. Luas negara yang sedang dikunjungi Lukito ini mencakup Semenanjung Sinai dan sebagian besar wilayah adalah bagian dari Afrika Utara. Mesir dikelilingi oleh Libya di sebelah Barat, Sudan di Selatan, Jalur Gaza dan Israel di sebelah Utara – Timur. Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di Utara dan Laut Merah di Timur. Dengan jumlah penduduk sebesar 79 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi 7,1% tahun 2007, pendapatan perkapita Mesir mencapai US$ 1.430 (tahun 2007). Berbekal daya beli yang cukup lumayan itu, gaya hidup orang Mesir telah bergeser dari pemilihan barang berdasarkan harga menjadi penggemar barang bermerek dengan kualitas agak bagus. Produk Indonesia yang dianggap berkualitas cukup bagus menjadi salah satu pilihan favorit. Dengan jumlah penduduk yang cukup besar dan daya beli lumayan, Mesir sesungguhnya pasar potensial bagi produk Indonesia.
Menurut catatan Kedutaan Besar RI di Cairo, per-dagangan Indonesia – Mesir untuk periode Januari – September 2007 mencapai US$ 224 juta, menurun sedikit dibandingkan periode yang sama tahun 2006. Namun nilai perdagangan tahun 2006 mengalami kenaikkan besar dibandingkan tahun 2005 yaitu sekitar 44%. Produk Indonesia yang masuk ke pasar Mesir antara lain adalah sawit dan produk sawit, tekstil dan produk tekstil, karet dan produk karet, coklat, barang elektronik, perlengkapan ke-sehatan, alat tulis kantor selain kertas, obat tradisional dan udang. Perdagangan kedua negara terus ditingkatkan melalui berbagai mekanisme termasuk forum komisi bersama kedua negara. “Mesir cukup stra-tegis untuk pengembangan ekspor Indonesia ke kawasan Afrika Tmur dan Eropa” ujar Menteri Perdagangan RI Marie E. Pangestu dalam suatu kesempatan. Sementara itu dalam sebuah pertemuan komisi bersama kedua negara, pihak Mesir menyatakan hubungan dagang dengan Indonesia perlu ditingkatkan dan keseimbangan neraca perdagangan perlu terus dipelihara. Mesir saat ini tengah berupaya meningkatkan hubungan dagang dengan berbagai pihak dan menerbitkan sejumlah kebijakan untuk memfasilitasi kegiatan ekonomi luar negeri. Disamping itu, sebagai konsekuensi dari keanggotaannya sebagai anggota World Trade Organization, Mesir telah menurunkan tarif impor untuk produk tertentu. Untuk memperkuat kepercayaan dunia perdagangan internasional, Mesir menerapkan nilai tukar fleksibel (floating currency) terhadap nilai tukar pound (mata uang Mesir) terhaddap US$. Selain itu, pemerintah Mesir menghapuskan bea masuk di pelabuhan yang bisa mencapai 20% digantikan dengan sales tax 10%. Kebijakan lain yang menunjang kegiatan perdagangan adalah berbagai kemudahan ekspor impor terutama untuk memasok kebutuhan industri dalam negeri. Mesir juga terlihat getol mengiming-imingi investor asing dengan sejumlah insentif yang diberikan melalui revisi UU investasi.
Gerbang perdagangan Fasilitas dan kebijakan-kebijakan tersebut menjadikan Mesir sebagai pasar yang cukup menjanjikan, serta sebagai pintu gerbang yang strategis untuk menembus pasar Afrika, Timur Tengah dan bahkan Eropa. Apakah yang dimaksud sebagai pintu gerbang adalah seperti Singapura atau Dubai? “Posisi Mesir dalam tidaklah demikian, negara ini tidak menjadikan negaranya sebagai re-distributor komoditi impor, meskipun mempunyai terusan Suez dan pelabuhan lainnya” ujar Ghafur A. Dharmaputera, Kepala Bidang Ekonomi merangkap Plt Atase Perdagangan KBRI Cairo. Ghafur juga menyatakan bahwa sejauh ini, produk-produk Indonesia yang ada di Mesir, sedikit sekali yang di re-ekspor ke negara-negara tetangganya. Oleh karena itu, sangat sulit memantau komoditi impor yang dijual kembali ke negara lain. Disamping itu, Capmas (BPS Mesir) tidak memiliki data-data terbaru mengenai statistik perdagangannya. Disamping itu jalur transportasi darat di negara-negara Afrika tidak mendukung adanya pengiriman barang dalam jumlah besar dari Mesir ke negara-negara di bagian Barat dan Selatan Afrika. “Bagi pengusaha Indonesia, sistem re-distribusi model Singapura atau Dubai, sistem re-ekspor sedikit-sedikit ala Mesir atau sistem pesan langsung ke eksportir Indonesia untuk dikirim ke negara tertentu, sama-sama tidak menguntungkan dalam jangka panjang karena semuanya itu dilakukan melalui pihak ketiga” papar Ghafur. Diplomat senior ini menyarankan pengusaha Indonesia sebaiknya melakukan ekspor langsung melalui channel yang dimiliki, sehingga harga barang bisa bersaing dengan produk serupa dari negara lain. Mengenai bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan Mesir sebagai pintu gerbang bisnis/perdagangan Indonesia ke Afrika, Ghafur menyatakan bahwa yang dimaksud pintu gerbang disini adalah bagaimana Indonesia bisa berinvestasi di Mesir. “Dengan joint venture atau murni 100% Indonesia, baik dalam bentuk pengolahan 100% di Mesir atau Assembling (setengah jadi) di Mesir, sehingga dapat mengeluarkan produk made in Egypt “ jelas Ghafur. Produk Indonesia yang diolah di Mesir itu dapat bebas masuk ke negara-negara anggota COMESA, Amerika atau Eropa sesuai dengan bentuk dan isi perjanjian bebas yang dimiliki Mesir dengan negara-negara tersebut.
|