|
Edisi IX JUNI 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 29 June, 2008
|
Meneropong Pasar Afrika Selatan Oleh : Cut Dinawati & Noviyanti Nurmala Ekspansi ke pasar Afrika Selatan ternyata kebijakan yang menguntungkan karena sekitar 1 juta jiwa penduduk keturunan Indonesia, yang merupakan pasar potensial untuk batik dan produk muslim, telah bermukim di negara ini. JIKA bicara tentang pasar ekspor Indonesia, nama Afrika Selatan mungkin terdengar asing. Padahal secara tradisional, hubungan antara masyarakat Indonesia dan Afrika Selatan sudah berlangsung sejak abad ke-17 Masehi. Tepatnya pada saat Syekh Yusuf al-Macassari bersama keluarga dan sejumlah pengikutnya asal Makasar diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan pada tahun 1694. Tapi kalau dilihat dari sudut politik, memang hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Republik Afrika Selatan baru terjalin jauh sesudah kedua negeri itu merdeka. Tepatnya pada bulan September 1994, setelah Republik Afrika Selatan terbebas dari sistem apartheid yang diterapkan oleh pemerintah dan masyarakat kulit putih (Afrikaner). Kini negara Nelson Mandela ini merupakan kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Afrika, mewakili 25% dari keseluruhan GNP dan memproduksi sekitar 50% tenaga listrik di benua tersebut. Tahun 2006 IMF menempatkan Afrika Selatan sebagai ekonomi menengah dengan ranking ke-29 setelah Denmark dan sebelum Irlandia dan Argentina. Sekedar diketahui, negara ini juga tergabung dalam Southern Afrika Customs Union (SACU) yang mendapat perlakuan bebas pajak antar anggotanya, serta The Common market for Eastern and Southern Africa (COMESA). Lebih dari itu negara dengan jumlah penduduk sebesar 47,4 juta jiwa (2007) ini berada di urutan ketiga dari 14 negara anggota The Southern Africa Development Community (SADC) yang mempunyai pendapatan perkapita tertinggi di atas 5000 dolar AS setelah Mauritius dan Botswana. Itu sebabnya ia memegang peranan penting dalam perdagangan dunia, termasuk antar kawasan regional dan sub-regional. Negeri ini merupakan motor penggerak dan pintu masuk bagi aktivitas ekonomi dan perdagangan di Afrika, khususnya bagian selatan. Dengan memasuki pasar Afrika Selatan, Indonesia dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang diperoleh Afrika Selatan untuk menerobos pasar negara-negara SACU dan COMESA. Tidak hanya itu, Afrika Selatan yang memiliki fasilitas infrastruktur modern dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mendukung distribusi barang ke sentra ekonomi utama di seluruh Afrika Selatan maupun negara-negara tetangganya. Dalam kunjungannya ke negara penghasil emas terbesar di dunia ini bulan Maret 2008 silam, Presiden SBY pun mengakui potensi ekonominya. “Afrika Selatan adalah negara dengan perekonomian yang sedang tumbuh, sedangkan Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Bila kedua potensi itu disatukan dalam kerjasama, dipastikan akan membawa manfaat yang nyata,” kata SBY. Sementara itu Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki bahwa baik Afrika Selatan maupun Indonesia telah melihat adanya peluang di sektor perdagangan, investasi, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. “Pemerintah Afrika Selatan akan memfasilitasi untuk memanfaatkan peluang itu,” kata Thabo Mbeki. Menurut data pada tahun 2006, nilai ekspor Indonesia ke Afrika Selatan tercatat 423,25 juta dollar AS atau meningkat 32,5 % dibandingkan dengan 2005. Adapun prosentase produk UKM masih terbilang yakni hanya sekitar 2,5 %.
Empat Kategori Pasar Menurut Sugeng Rahardjo, Dubes RI untuk Afrika Selatan, Kerajaan Lesotho dan Kerajaan Swaziland, pasar Afrika Selatan dapat dibedakan ke dalam empat kategori. Yang pertama adalah Pasar Kulit Putih yang jumlahnya 9,2% dari penduduk Afrika Selatan. Jenis produk yang dapat dipasarkan adalah yang berkualitas tinggi dan unik seperti furniture ukiran, kemeja batik sutera, kosmetik tradisional ternama, terutama untuk spa. Kedua, Pasar Kulit Hitam yang merupakan pasar terbesar di Afrika Selatan dengan jumlah penduduk 37,5 juta jiwa, tapi memiliki daya beli yang relatif rendah. Peluang pasar untuk kategori ini adalah furnitur dan kemeja batik. Ketiga, Pasar Keturunan India yang tercatat mencakup 2,5% dari total jumlah penduduk Afrika Selatan. Mereka memiliki daya beli yang relatif cukup tinggi karena sebagian besar bergerak di sektor swasta. Adapun jenis produk yang potensial dipasarkan dikalangan ini adalah produk garmen dan tekstil, makanan (halal dan oriental food) dan produk-produk ukiran. Keempat adalah Pasar keturunan Indonesia (Cape Malay). Produk yang bisa dikembangkan untuk masyarakat yang berjumlah 1 juta jiwa ini adalah produk-produk batik, halal and oriented food dan produk budaya yang bernafaskan Islam (ukiran ayat al Quran dari kayu, gypsum dan aksesori muslim).
Penggalangan Jaringan Untuk menggarap pasar Afrika Selatan dibutuhkan penggalangan jaringan. Dubes RI mengatakan bahwa produk Indonesia dikenal dengan kualitasnya yang terjamin dibandingkan dengan produk sejenis buatan China atau dengan India dan harganya lebih terjangkau daripada buatan Eropa. "Produk ukiran kayu tak menghadapi persaingan berarti dari negara lain. Furnitur Indonesia juga telah menciptakan trademark serta kelas tersendiri. Meski bersaing dengan negara-negara lain khususnya ASEAN (Malaysia, Vietnam dan Filipina) dan China, pemasaran produk Indonesia di pasaran Afrika Selatan cukup terbuka lebar. Produk budaya Indonesia yang sudah mulai beredar di Afrika Selatan adalah kursi bambu, osier dan cane, kursi dengan frame kayu, funitur dan produk kayu lainnya, tikar anyaman, patung dan ornamen lain yang terbuat dari keramik, ukiran tangan yang terbuat dari lilin, tambang, resin dan lilin model, lukisan tangan dan ukiran pahatan. Untuk itu, diperlukan upaya yang lebih giat lagi dari para pengusaha Indonesia untuk membangun jejaring kerja dengan pihak Afrika Selatan.
Piala Dunia 2010 Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan memang masih 2 tahun lagi. Tapi perhelatan sepakbola akbar ini merupakan peluang bisnis yang tidak dapat dilewatkan begitu saja untuk memasarkan produk unggulan Indonesia seperti produk kerajinan tangan dan cinderamata. Memang salah satu masalah serius yang menghambat upaya produk ekspor Indonesia tersebut ke Afrika Selatan adalah tidak adanya akses transportasi langsung. Nah, kiat menjalin joint production dan joint marketing nampaknya merupakan jalan keluar yang tepat, guna memperlancar pengiriman barang dan akses produk Indonesia ke ajang Piala Dunia 2010 mendatang. Kiat tersebut nampaknya paling cepat dan yang paling memungkinkan. Selain memudahkan produk Indonesia masuk ke pasar Afsel, kerjasama ini bersifat win-win solution (sama-sama menguntungkan) karena memberikan peluang kerja bagi warga Afrika Selatan sekaligus menjamin pasar bagi bahan baku produk yang dihasilkan di Afrika Selatan. Sejumlah pengusaha Indonesia yang bergerak dibidang furnitur, kerajinan/cinderamata, batik, tekstil dan peralatan pertanian (traktor), yang berada dibawah koordinasi KADIN Indonesia kawasan Selatan Afrika dan G-15, telah menandatangani kerjasama produksi dan pemasaran dengan Eastern Cape Development Cooperation (ECDC/Kantor BUMN) Afrika Selatan. Bahkan dalam suatu kesempatan, Sekjen Komite Kawasan Selatan Afrika dan G-15, Auliya Martam mengatakan, “Pengusaha Indonesia tidak boleh lagi memandang sebelah mata potensi pasar di Afrika Selatan dan inilah saat yang tepat (Piala Dunia 2010) bagi produk Indonesia melakukan penetrasi pasar sekaligus menggarap kawasan Selatan Afrika sebagai pasar baru, selain pasar tradisional (AS dan Uni Eropa)”.
Mengingat prospek Afrika Selatan yang begitu menjanjikan, rasanya para
UKM nasional perlu jeli memanfaatkan peluang yang ada, khususnya
menjelang Piala Dunia 2010 ataupun dalam perdagangan umum lainnya.
|