HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

RENUNGAN

edisi IV 2007

 

Memupus hutang Mr.B

oleh: M Aji Surya

 

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menebar pesona, sementara Managing Director IMF, Rodrigo de Rato mungkin pulang kampung membawa kecewa. Minggu ketiga Januari lalu, orang nomor satu di Indonesia itu, membuat kejutan positif dengan “membubarkan’’ Consultative Group for Indonesia (CGI), dan menolak utang lebih lanjut dari IMF.

Forum CGI, yang dulu bernama IGGI, beserta IMF telah lama malang melintang memberikan pinjaman talangan, baik untuk menutup defisit anggaran maupun dana pembangunan Indonesia di masa krisis moneter. Kini, iming-iming bunga di bawah patokan pasar serta bonus hibah (baca: kerja sama teknis), yang selama ini ditawarkan, tidak menarik lagi. Padahal, CGI yang dibentuk tahun 1992 dan beranggotakan 21 negara, serta 11 lembaga donor internasional itu, mampu menggelontorkan utang tahunan pada kisaran US$ 4 milyar plus bantuan kerja sama teknis US$ 1 milyar.

Pemerintah sendiri sudah memberikan hint penghentian utang tersebut tahun lalu, ketika menunda pelaksanaan pertemuan CGI. Memang, pesona utang akan segera sirna kalau kalkulasi ekonomi diterapkan. Bagaimana tidak, outstanding utang Pemerintah saat ini sudah mencapai US$ 60 milyar, atau pada kisaran 40% GDP nasional. Sedangkan pengembalian utang inti pertahunnya mencapai US$ 6 milyar plus bunga US$ 1 milyar. Kebijakan pemerintah yang berani itu, terus terang membuat saya tertegun.

Saya jadi ingat seorang teman lama yang sering saya panggil Mr. B (Borokokok), yang menurut ukuran umum sudah kelewatan kenekatannya. Bayangkan, Mr. B yang pegawai papan bawah ini, demi untuk gagah-gagahan tertantang mengajukan kartu kredit dari sebuah bank  ternama dengan data awal fiktif. Nah, dari sini masalah mulai bermunculan. Tagihannya merunyak, karena terlalu sering nggesek, sehingga cadangan kocek-nya cenderung defisit. Lalu, karena belajar pada kelakuan sebagian konglomerat yang dimuat banyak media, prinsip gali lobang tutup lobang pun dimainkan. Dengan boreg dari pihak tertentu, ia pinjam uang bank lain untuk menutup utang kartu kredit. Taruhannya jelas: 90% gajinya lenyap tiap bulan. Melihat keuangan yang fluktuatif tersebut, Mr. B tidak kurang akal. Ia pinjam uang ke kantor dengan cicilan sisa 10% gajinya itu.

Tapi, lagi-lagi, karena uang tidak pernah “diputar” dan hanya dipakai untuk konsumtif, pacaran, akhirnya amblas jua. Mr. B adalah tipe lelaki gagah, berwajah macho. Pundaknya bertato  burung merak. Dada bidang, kulit cokelat keemasan, dan tingginya di atas ratarata. Di mata banyak wanita, ia memang bukan lelaki sembarangan. Bicaranya yang tegas mengisyaratkan sepintas bahwa doi adalah seorang terpandang. Hanya saja, Mr. B menghadapi kesulitan besar d alam mengawinkan antara realita fisiknya yang yahud dengan kemampuan finansial yang pas-pasan. Akibatnya, ya, itu tadi, defisit anggaran selalu hinggap di kantongnya. Informasi terakhir, keinginan dia yang menggebu untuk kredit sepeda motor yang marak belakangan ini, tidak bisa dibendung lagi.

Berbekal optimisme akan dapat sejumlah uang proyek, dengan gagahnya doi mengajukan kredit Honda Tiger gres. Kalkulasinya cukup lumayan, sih: “Kalau tidak ada proyek, ya, bisa ngojek yang hasilnya untuk bayar cicilan.’’ Nah, celakanya, tiba-tiba ada cewek kece yang kesengsem dengan kemachoannya, saat dia nangkring di atas jok motor. Puncaknya, baru-baru ini, Borokokok tertunduk lesu di depan saya dengan setengah mengiba agar dipinjami uang untuk biaya perkawinannya yang tidak bisa ditunda lagi. “Pacar saya sudah berbadan double duluan”, katanya.

Mungkin, analogi antara Pemerintah dengan Mr. B, ada sedikit kemiripan. Di masa lalu, pemerintah kita justru menilai utang luar negeri adalah bentuk kepercayaan asing. Padahal, para Negara donor selalu saja menerapkan prinsip no free lunch, tak ada makan siang yang gratis. Saking banyaknya jumlah utangan, pada setiap sidang tahunan CGI, kabarnya pejabat penanggung jawab keuangan kita sempat repot menghitung utang yang jatuh tempo ditambah aneka bunganya. Di sisi lain, penyerapan bantuan tidak maksimal sehingga asas manfaat tidak terpenuhi.

Sementara itu, Mr. B, selalu saja merasa tidak terbebani dengan utangnya yang diluar debt service ratio itu. Tidurnya tetap nyenyak selama mampu berdandan necis, dan nangkring terus di jok “macan”nya. Ia tak pernah terusik oleh berbagai kemungkinan buruk di masa datang. Bahkan, dengan menyitir ayat Al- Quran yang jadi pegangannya, ia amat yakin bahwa, “Setelah kesulitan akan datang kemudahan.” Pesona Pemerintah untuk berhenti utang, perlu diacungi jempol. Sudah saatnya kita bisa mandiri dalam pembangunan.

Apabila jika kebocoran anggaran, yang konon mencapai 30% itu, dapat ditanggulangi. Saya yakin deficit anggaran tidak perlu menjadi kekhawatiran besar. “Mesih banyek sisenye,” kate orang Betawi. Nah, yang masih terus bermasalah adalah teman saya, Mr. B. Bila saja dia bertekad tidak utang lagi, dapat dipastikan sulit bertahan hidup, karena pendapatannya sudah super minus. Belum lagi, bila nanti calon mertuanya terus merangsek minta agar anaknya dikawini. Belum lagi, kalau istrinya hamil tua lalu harus berhenti kerja. Belum lagi, jika punya anak dan butuh biaya sekolah. Belum lagi, misalnya, jika proyek di kantor seret. Dan, masih ada sederet “belum lagi” yang menantinya.