|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Maroko, yang terletak di belahan Utara Benua Afrika, merupakan negara yang berbentuk Monarki Konstitusional. Kepala Negara dipegang oleh Raja secara turun temurun.Raja memilih, mengangkat dan memberhentikan Perdana Menteri dan para Menteri.Raja juga dapat membubarkan Parlemen. Sejak meraih kemerdekaan pada tahun 1956, 3 (tiga) raja dinasti Alawi --dipercaya merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad SAW-- telah memimpin Maroko yaitu Raja Mohammad V, Raja Hasan II, dan Raja Mohammad VI. Nilai Perdagangan RI – Maroko Data neraca perdagangan kedua negara selalu surplus untuk Indonesia, dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai misal, pada tahun 2005, nilai perdagangan RI _Maroko tercatat mencapai angka US$76,28 juta. Dari jumlah tersebut, impor RI adalah sebesar US$25,20 juta). Angka di tahun 2005 ini menunjukkan peningkatan 26% dibanding tahun 2004 yang baru mencapai angka US$60,54 juta. Perdana Menteri Maroko, Driss Jettou, dalam pertemuan dengan Ketua dan Wakil Ketua MPR RI di Rabat pada akhir Juli 2006 menyampaikan harapannya agar peningkatan perdagangan kedua negara terus berlanjut. Dikatakan bahwa produk-produk Indonesia seperti makanan, minuman, kopi, rempah-rempah, kerajinan kaca, minyak kelapa sawit, tekstil, TV, radio, kayu, kertas, ban mobil, karton, plastik, furniture, benang, karet, kabel listrik dan tembakau, sangat disukai oleh masyarakat Maroko. Dengan demikian, kedua negara sangat potensial untuk menjalin kerja- sama ekspor impor secara lebih insentif. PM Driss Jettou juga mengemukakan pentingnya Indonesia memanfaatkan posisi strategis negaranya yang secara geografis dekat dengan Eropa dan telah melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa serta dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Turki, Jordania, Tunisia, Mesir, dan Uni Emirat Arab. Menurutnya, Indonesia dapat menjadikan Maroko sebagai batu loncatan bagi pemasaran produk-produk Indonesia ke negara-negara tersebut. Adapun dari maroko, Indonesia mengimpor produk pospat dan asam pospat. Walaupun belum besar secara angka, produk-produk Indonesia yang telah berjaya masuk ke pasar Maroko dapat dikategorikan dalam 5 (lima) kelompok yaitu produk makanan dan minuman, produk mentah hewani/nabati, produk jadi peralatan industri, produk jadi siap pakai (konsumsi) dan produk setengah jadi Untuk produk makanan dan minuman, kopi menduduki peringkat teratas dengan nilai US$7,42 juta. Urutan kedua adalah rempah-rempah dengan nilai US$592 ribu. Untuk produk mentah hewani/nabati, produk minyak sawit mentah menduduki peringkat pertama dengan nilai US$7,75 juta, diikuti minyak sawit olahan dengan total US$1,08 juta. Untuk produk jadi peralatan industri, perangkat mesin otomotif dan perlengkapannya mendominasi dengan angka US$4,69 juta. Peringkat selanjutnya ditempati oleh ban mobil dan pipa untuk industri mobil yang mencapai angka US$309 ribu. Sementara itu produk konsumsi dipuncaki oleh perangkat radio dan TV yang mencapai angka US$5,86 juta. Setelah itu, kain sintetis dan serat buatan dengan angka US$1,83 juta. Adapun untuk produk setengah jadi, bahan pewarna kimia menduduki peringkat atas dengan angka US$850 ribu.
Hingga tahun
2004, Indonesia merupakan mitra dagang utama Maroko di Asia Tenggara, yaitu
RI berada di urutan 35, diatas Thailand (39), Malaysia (42), Singapura (64),
Philipina (69), dan Brunei Darrusalam (130). Dengan kehadiran Indonesia di
Maroko yang telah melewati 4 dekade tersebut, tidaklah aneh jika banyak
produk Indonesia yang telah dikenal secara luas oleh masyarakat negara ini.
Sekarang, tinggal bagaimana dunia usaha kita menangkap peluang yang telah
terpampang di depan mata itu, sehingga produk-produk Indonesia dapat lebih
banyak lagi masuk di Maroko, yang pada gilirannya akan meningkatkan devisa
negara.
|