|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Negara Australia dengan pendapatan perkapita sekitar US $ 33.000 dan berpenduduk sekitar 20 juta jiwa merupakan suatu pangsa pasar yang sangat potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan survey pasaran dan referensi dari para pengusaha Indonesia, di Australia ada beberapa produk atau komoditas yang telah berhasil menembus serta berkembang di Australia, salah satunya adalah produk-produk makanan & minuman.
Bisakah Bapak ceritakan sekilas sejarah perusahaan yang Bapak pimpin ini? Perusahaan CV. Surya Lestari ini didirikan pada tahun 1996, karena kita melihat Sulawesi Selatan ini memiliki sumber daya alam buah markisa yang sangat berlimpah. Saya memulai industri rumah tangga ini bersama-sama dengan istri dan kedua anak, saya sebut dengan industri rumah tangga karena dari dulu hingga sekarang yang mengelola (pegawai tetap bidang produksi-red.) perusahaan ini sebanyak tujuh orang (kalau termasuk Bapak Chairul maka delapan orang). Tapi pengalaman saya berkecipung di dunia sirup markisa telah dialami jauh hari sebelum kami mendirikan CV. Surya Lestari ini, yaitu pada tahun 1989. Ini dikarenakan dengan pengalaman saya sebagai pegawai dalam mengelola dan mengembangkan produk sirup markisa pada perusahaan orang lain. Upaya saya untuk mendirikan perusahaan ini, selain dikarenakan perusahaan tempat saya bekerja mengalami kebangkrutan juga dikarenakan adanya kreativitas serta jiwa dagang (berwiraswasta-red.) dari sang istri yang cukup besar. Ketika saya berkecimpung di dunia markisa, sering saya membawa pulang buah markisa banyak. Istrilah yang mulai melakukan upaya pembuatan sirup markisa, yang kemudian dikenal sebagai sirup markisa merk cemerlang, produk andalan perusahaan kami. Awalnya sirup markisa buatan istri, kami bagi-bagikan kepada saudara, tetangga, kolega bahkan tukang becak di sekitar rumah kami. Hal ini sengaja kami lakukan sebagai suatu survey reaksi pasar terhadap sirup markisa yang diproduksi oleh perusahaan kami. Dari sinilah kami mulai berkembang. Berapa besar kapasitas produksi perusahaan Bapak dulu? Jumlah produksi perusahaan kami tidak menentu, karena kapasitas produksi kami masih mengikuti dengan jumlah permintaan pasar lokal yang ada. Namun sebagai gambaran diawal usaha kami dulu, kami dapat memproduksi sekitar 1000 liter per bulan. Jadi produksi kami dahulu masih belum optimal dikarenakan persaingan diantara perusahaan-perusahaan sejenis di Makasar (Sulawesi Selatan-red.) juga sangat ketat. Tercatat ada sekitar 60-70 perusahaan yang memproduksi minuman khas Makasar ini. Berapa besar kalau kapasitas produksi perusahaan Bapak sekarang? Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa ini merupakan industri rumah tangga bahkan kami masih melakukan produksinya di perumahan kami sendiri dan bukan di pabrik. Oleh karena itu besaran produksi yang kami lakukan masih tergantung kepada permintaan pasar yang ada. Tapi secara kapabilitas produksi kita dapat memproduksi sirup markisa dalam jumlah yang besar. Kondisi produksi kami sekarang memungkinkan kami untuk memproduksi sekitar 10.000 liter per bulan. Bahkan dari segi pegawai di bidang produksi, seiring dengan adanya permintaan Australia, kami juga melakukan penambahan tenaga kerja tidak tetap sekitar tiga puluh lima (35) orang. Bicara tentang Australia, bagaimana awal mula ketertarikan Bapak untuk masuk ke Pasar Australia?
Untuk menyiasati keadaan tersebut, maka kami berusaha bergandengan dengan berbagai instansi pemerintah dalam hal ini salah satunya dinas perdagangan untuk dapat mengikutsertakan kami dalam berbagai pameran.Terus terang terkadang dalam pameran yang kami ikuti, hasil penjualan tidak dapat menutupi seluruh biaya pameran yang kami keluarkan, apalagi biaya pameran merupakan pembiayaan sendiri. Tapi alhamdulillah seiring doa Istri dan Anak, ceritanya produk saya ada yang naksir (pembeli/buyer dari Australia-red.). Pada tahun 2005 akhir, saya berhasil melakukan ekspor perdana pulp sirup markisa ke Australia sebanyak satu (1) kontainer (sama dengan dua puluh /20 ton-red). Ekspor ini baru dilakukan setelah kami melakukan upaya penawaran dan komunikasi sejak tahun 2003 kepada sekitar lima sampai enam (5-6) calon buyer Australia. Jawaban penawaran dari Australia baru kami terima pada awal tahun 2005, yaitu setelah kami melakukan penawaran yang kelima kalinya. Satu hal yang unik adalah pada saat pengiriman sampling produk, saya mengirimkan sampling produk nomor dua, hal itu dikarenakan pada bulan april 2005 ketersediaan buah markisa sudah mulai berkurang. Tapi syukurlah walau dengan kadar kemanisan di bawah 12 brick (standar-red.), buyer Australia mau membeli produk saya sebanyak 20 kontainer per tahun (terdiri dari 6 kontainer pulp sirup markisa dan 14 kontainer sirup markisa murni). Menurut pandangan Bapak, seberapa penting peranan pameran itu? Pameran menurut saya paling penting dan paling manjur dalam memperkenalkan serta menjual produk kita. Karena di pameran adalah tempat bertemunya antara pembeli dan penjual. Selain itu, keikutsertaan kita dalam pameran juga menunjukan kepada para calon konsumen dan calon pembeli tentang keseriusan kita. Apabila kita telah mengikuti pameran kemudian sekali saja tidak ikut maka orang-orang akan mempertanyakan bahwa ’Wah, Pak Chairul tidak serius ne (mengembangkan usahanya-red.)’. Dalam pameran belum lama ini (semanggi expo agrofood 2007-red.), kami baru saja menerima permintaan dari pengusaha Shanghai/Cina untuk mengirimkan sekitar lima (5) container per bulan. Bahkan dari belanda dan perancis, ada juga permintaan sari buah markisa yang belum dapat kami garap. Apakah permintaan dari Australia ini telah stabil dan terpenuhi dengan baik? Terus terang kami sekarang mengalami kesulitan bahan baku untuk memenuhi pasar ekspor di Australia yang mencapai 20 kontainer per tahun ini. Bahkan pada tahun 2006, kami tidak banyak melakukan ekspor karena kemarau panjang menyebabkan persediaan buah berkurang. Puncak panen buah maskisa memang terjadi di musim penghujan yaitu sekitar bulan Desember-Januari. Terakhir kami mengekspor adalah pada April 2006. Bagaimana Bapak mengatasinya permasalahan kurangnnya pasokan bahan baku ini? Mau tidak mau kami mulai menjalin kemitraan atau kerjasama dengan beberapa kelompok tani di Gowa dan Toraja. Kemitraan itu, saya mulai membagikan kepada para kelompok tani tersebut bibit markisa untuk mereka semaikan di lahan mereka. Sebagai feedback nya para petani kami minta untuk mulai memperhatikan kualitas buah yang biasa kami olah untuk dijadikan bahan baku sari markisa kualitas ekspor. Berapa banyak kelompok tani yang Bapak ajak bekerja sama? Di Kabupaten Gowa ada sekitar sembilan (9) kelompok tani dan di Kabupaten Toraja ada sekitar lima belas (15) kelopok tani. Masing-masing kelompok tani sedikitnya memiliki sekitar 10 - 20 orang anggota. Jadi jika kita pakai hitungan paling jelekpun, saya mampu menjalin kerjasama dengan sekitar 240 orang pentani (24 kelopok tani X 10 orang anggota = 240 orang petani-red.) Dan terus terang Pak, dengan adanya pasar ekspor sekarang ini para petani kembali bergairah untuk menanam buah markisa. Karena selama ini buah maskisa masih menjadi tanaman selingan para petani di Sulawesi Selatan, selain dari tanaman sayuran yang biasa mereka tanam. Kemudian menurut Bapak, bagaimana perananan dari pemerintah dalam membantu usaha Bapak mengakses pasar luar negeri? Wah, peranannya besar sekali. Tanpa support dan dukungan dari Instansi terkait mungkin sampai sekarang saya belum bisa ekspor. Yah semua ini juga tidak terlepas juga dari kehendak Allah SWT yang telah memberikan jalan kepada saya. Tanpa kehendaknya istilahnya ’kaki jadi kepala, kepala jadi kaki’ pun usaha kita belum tentu akan sukses, karena bagaimanapun kita ini masih merupakan industri rumah tangga Pak.Saat ini, saya bersyukur alhamdulillah bahwa pemerintah kota Makasar telah memberikan pinjaman sebanyak 25 juta tanpa bunga dan tanpa jaminan, namun kebutuhan modal kerja kita dalam memenuhi permintaan luar/pasar ekspor jauh lebih besar. Hambatan-hambatan apa saja yang Bapak alami dalam mengakses pasar di Australia? Tidak ada tuh Pak. Lalu bagaimana pendapat Bapak tentang kesulitan para pengusaha Indonesia dalam menembus pasar Australia (luar negeri) yang selalu terhambat oleh berbagai peraturan lingkungan atau standar mutu? Yang penting adalah komunikasi sebaik-baiknya dengan buyer kita, ini utama sekali. Dulu sebelum mengekspor saya minta tolong kepada buyer saya untuk memberitahu peraturan-peraturan apa saja yang harus kami patuhi supaya kita bisa masuk (pasar Australia-red.).Kemudian dia kasih tahu, peraturan ini, ini dan ini. Dia kasih petunjuk, kita ikuti dan hasilnya adalah barang saya bisa masuk ke Australia tidak ada masalah. Karena logikanya buyer yang membeli barang, tentunya berpikir bagaimana caranya mempermudah barang masuk dan bukan mempersulitnya. Walaupun selama ini hubungan saya dengan buyer hanya sebatas hubungan via faks, tapi hubungan kami cukup baik. Terus terang Pak, saya belum kenal orangnya (buyer australia-red.). Perihal sertifikat keamanan produk, ternyata dapat kami atasi dengan melampirkan sertifikat P3ED (Pusat Pelatihan Promosi Ekspor Daerah) di yang kami dapat dari PPEI (Pusat Pengembangan Ekspor Indonesia) Grogol, Jakarta. Padahal itu merupakan sertifikat pelatihan dan bukan setifikat produknya, karena kalau sertifikasi produk yang diminta, yang berasal dari Sucofindo atau Unggul Lestari itu biayanya cukup mahal bisa mencapai 20-25 juta. Yang penting, kita harus berani, harus nekad lah. Kita harus berani menawarkan produk kepada pasar luar negeri dan jangan sampai belum apa-apa sudah takut terkena peraturan lingkungan lah, standar mutu lah atau keamanan pangan. Masalah aturan-aturan itu masih bisa kita usahakan. Berbicara tentang pasar ekspor, seberapa besar Pak perbedaan margin keuntungannya jika dibandingkan pasar lokal? Jujur yah Pak, berbicara tentang margin keuntungan kita lebih baik melakukan ekspor. Selain itu, kendala pasar lokal adalah arus perputaran uang sangat lama. Contoh, jika kita memasok ke pasar swalayan, walau produk kita telah habis dijual dan mereka memesan persediaan produk lagi. Pembayarannya kepada kita tetap dilakukan dalam jangka waktu satu bulan. Yah, sebagai perbandingan jika kita bermain di pasar lokal margin keuntungan kita berada dikisaran 10-15 % lah, sedangkan jika kita bermain di pasar luar negeri (ekspor-red) maka margin keuntungan kita lebih dari 25%. Dengan keuntungan yang besar tersebut, bagaimana rencana Bapak mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar di Austaralia? Saya bersama-sama istri dan anak-anak komit (commitment-red) untuk selalu menggunakan bahan baku terbaik. Karena apa gunanya mesin canggih, jika bahan baku yang dipakai adalah yang masih mentah atau sisa. Ini sudah menjadi prinsip kami kepada konsumen. Kita tidak ingin konsumen yang mengonsumsi produk kita, merasakan perbedaan di setiap produk yang kita hasilkan. Oleh itu, sejak dari awal usaha saya sudah mengatur putri-putri saya untuk dapat berperan. Putri pertama kami, saya sekolahkan ke teknik pertanian, malahan dia baru lulus S2 dari IPB, Bogor Februari 2007 lalu. Putri kedua kami, saya masukan ke Sastra Inggris. Jadi ceritanya putri pertama yang di dapur, sedangkan putri kedua yang jualan.Dengan pengetahuan yang mereka miliki, maka upaya kami untuk selalu menjaga kualitas produksi dan jalur komunikasi yang baik dapat dilaksanakan dengan sendirinya.Tapi yang jelas Pak, dengan permintaan satu buyer dari Australia ini saja kita sudah kewalahan memenuhi permintaannya. Alhamdulillah, walaupun ekspor kami terhambat akibat kekurangan bahan baku, mereka tetap menekankan bahwa ‘our customers prefer your products’.Untuk pegembangan usaha Pak, kita kan membutuhkan lahan yang luas, untuk itu kita butuh dana besar. Dana yang kita dapat dari Pemerintah (skema pembiayaan KUKM-red.) masih terbatas dan belum dapat mempercepat pengembangan usaha kita. Terus jika kita ke bank maka kita terhambat oleh masalah jaminan dan suku bunga yang tinggi (sekitar 18-20 % pertahun-red.). Kedepan kita juga masih membutuhkan komitmen dari dunia perbankan untuk membantu pengembangan KUKM dengan meringankan masalah penjaminan dan menurunkan suku bunga, yah, sekitar 10-12% pertahun masih oke lah Pak. Produk atau usaha lain apa yang dapat dipasarkan serta berkembang di Australia? Semua buah-buahan. Sebetulnya dia (buyer Australia-red.) minta banyak buah-buahan, contoh buah jambu batu yang berwarna pink itu, mereka juga minta kita untuk menyediakannya. Sebenarnya begini, buyer saya itu adalah pengusaha buah-buahan, dia sempat tanya kepada saya buah apa saja yang banyak di Indonesia yang bisa di ekspor ke Australia. Untuk daerah Makasar, selain markisa saya menyebutkan potensi buah mangga dan jambu batu pink. Bahkan tahun lalu dia sempat mengundang saya untuk datang ke Australia, untuk membicarakan peluang-peluang apa yang bisa digarap. Pesan atau tips apa yang dapat Bapak sampaikan kepada para pengusaha KUKM kita untuk bisa menembus pasar luar negeri? Aktif di pameran, kita jangan jadi penjaga gawang yaitu diam menunggu permintaan datang ke kita. Rajin-rajin dan harus berani menawarkan barang layaknya seperti pedagang asongan. Kita jangan takut dengan peraturan-peraturan, memang jangan sampai dilanggar. Tapi komunikasi yang baik dengan buyer, terbukti dapat mengatasi berbagai kendala dilapangan.
Yang penting
jalan saja dulu, nyelonong saja dulu, kemudian kurang ini kurang itu dapat
kita perbaiki sambil jalan. Ibaratnya kapan kita bisa diberitahu sama
buyer jika kita sendiri tidak memulainya.
|
|||||||||||||||||||