|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 30 March, 2008
|
Pengusaha Indonesia kalah lincah mengenali peluang di pasar Asia Tengah di Uzbekistan dibandingkan pengusaha dari Malaysia dan China khususnya. Padahal produk mebel, mesin dan perlengkapan serta tekstil Indonesia cukup diminati.
Untuk urusan tujuan ekspor Indonesia, Asia Tengah mungkin tidak sepopuler AS, Eropa dan Jepang. Kawasan negara-negara eks pecahan Uni Soviet ini meliputi Tajikistan, Kazakhstan, Turkmenistan, dan Kyrzygstan. Padahal berdasarkan neraca perdagangan dari Departemen Perdagangan, ekspor non migas Indonesia tahun 2007 ke lima negara tersebut semuanya menunjukan kecenderungan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Khususnya Uzbekistan, kondisi perekonomian negara yang penduduknya paling padat di Asia Tengah ini dari tahun ke tahun meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan perkapita (US$1.983, data US Department of State tahun 2006) dan daya beli masyarakatnya. Untuk mempromosikan perdagangan dan investasi, Pemerintah Uzbekistan sepanjang tahun 2006 mengeluarkan serangkaian kebijakan reformasi di bidang perpajakan, penyederhanaan prosedur investasi dan pendirian usaha, liberalisasi investasi dan reformasi di sektor properti. Namun sayang pesona Uzbekistan masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar pengusaha Indonesia, sementara negara lain seperti China, India, Turki dan Vietnam dan bahkan Malaysia diam-diam sudah lama menyadarinya. Mereka tengah membanjiri pasar Uzbekistan dengan berbagai jenis produk dengan harga yang bersaing seperti palm oil, mebel, electronic goods, consumer goods, tekstil, teh dan lainnya. Selain itu peluang pasar di Uzbekistan sangat besar mengingat hampir 80% barang-barang konsumsi di Uzbekistan diimpor dari negara lain. Penyebabnya adalah kemampuan industri di negara tersebut masih terbatas untuk memproduksi berbagai barang kebutuhan. Ketergantungan Uzbekistan terhadap barang impor dari negara lain dapat dimanfaatkan sebagai celah untuk memasukkan dan memasarkan berbagai produk Indonesia. Mereka juga dapat ikut serta dalam pembangunan properti dan perumahan yang sedang tumbuh di Uzbekistan.
Potensi yang Menggiurkan Menurut analisa KBRI Taskhent, prospek peningkatan hubungan ekonomi bilateral diperkirakan akan semakin memberikan keuntungan bagi Indonesia dengan telah resminya Uzbekistan diterima sebagai anggota EurAsian Economic Community (EAEC) pada Januari 2006, terutama setelah diberlakukannya penyeragaman tarif. Kebijakan penyeragaman tarif ini akan membuka peluang yang lebih luas untuk pemasaran produk-produk ekspor Indonesia dengan memanfaatkan Uzbekistan sebagai pintu masuk maupun melalui negara anggota lainnya seperti Rusia. Tercatat produk ekspor Indonesia yang berhasil masuk ke pasar Uzbekistan terdiri dari produk rotan, tekstil dan produk tekstil, karet, makanan olahan (kaleng), teh, produk kayu, sabun mandi, shampoo, coklat bubuk, minyak sawit, peralatan mesin, ban mobil, peralatan listrik, tembakau dan obat-obatan. Khusus produk teh, selama ini Indonesia masih mengekspor dalam partai besar langsung dari perkebunan teh (bahan mentah) dan dikemas ulang dengan merk teh Uzbekistan. Maka dari itu peluang untuk memasarkan teh dalam kemasan siap konsumsi masih terbuka lebar. Dan meskipun pasar negara berpenduduk 23 juta orang ini kurang diminati oleh pengusaha Indonesia, kenyataannya ada beberapa pengusaha Uzbekistan yang berhasil menjalin kerjasama dengan pengusaha di Indonesia seperti PT. Sayap Mas Utama yang mengekspor bahan pembersih (sabun GIV dan shampo Emeron) dan PT. Bumi Tangerang Mesindotama (produk coklat). Untuk produk Indonesia lainnya seperti furnitur, tekstil dan produk tekstil, elektronik (komputer), pakaian olah raga dan lain-lain sudah banyak dipasarkan melalui negara ketiga. Dari pihak pemerintah Indonesia upaya memperkenalkan produk-produk nusantara di Uzbekistan dan Asia Tengah pun telah dilakukan. KBRI Taskhent memfasilitasi sebuah perusahaan Uzbekistan untuk membuka House of Indonesia di Tashkent. House of Indonesia merupakan semacam showroom pameran permanen bagi produk Indonesia. Pada 19 Desember 2007, telah ditandatangani MoU Kerjasama antara Permodalan Nasional Mandiri (PNM) dan Perusahaan Uzbekistan ”OOO Azia” di Kantor PNM, Jakarta untuk memasok barang-barang Indonesia ke House of Indonesia. Pendirian House of Indonesia ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam peningkatan ekspor Indonesia ke Uzbekistan dan negara-negara Asia Tengah. Rencananya House of Indonesia akan mulai dibuka pada Maret 2008. Bak gayung bersambut, reaksi pemerintah Uzbekistan juga tak kalah positif. Pada Indonesia-Uzbekistan Investment Seminar and Bussiness Forum di Jakarta bulan April 2007 yang lalu, Ketua KADIN Uzbekistan, Alisher Shaykhov mengungkapkan keinginan Pemerintah Uzbekistan ingin belajar soal industri dan investasi dari Indonesia ."Indonesia ini merupakan negara yang sangat menarik bagi kami, sebab selain mempunyai beberapa persamaan, Indonesia juga telah maju di sejumlah bidang, seperti industri, teknologi komunikasi, elektronik, industri makanan, tekstil, dan sebagainya" jelasnya. Lebih lanjut menurut Shaykhov, saat ini Uzbekistan telah mencapai pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi sekaligus kondusif untuk investasi karena kondisi politik yang stabil. Berinvestasi di Uzbekistan sangat menguntungkan sebab investor asing mendapat banyak kemudahan di negara tersebut
Menyiasati Kendala Meski telah dilakukan sejumlah reformasi pada sektor ekonomi, pengusaha Indonesia khususnya UKM masih merasa kesulitan berbisnis di Uzbekistan. Masalah-masalah yang sering dikeluhkan mereka antara lain sistem perbankan, peraturan yang berubah-ubah, transportasi yang harus melewati negara ketiga, dan pajak yang tinggi. Keadaan ini juga diperparah dengan anggapan bahwa pasar di Uzbekistan masih sulit dijajaki dan memerlukan waktu untuk dibangun dibandingkan dengan pasar Eropa, Amerika Serikat, ataupun Jepang. Akibatnya pengusaha Indonesia kalah bersaing dan kalah cepat untuk berkiprah di pasar Uzbekistan. Lalu, apa yang sebenarnya menjadi kendala untuk berdagang di Uzbekistan? Di bidang perbankan, negara ini masih menerapkan kebijakan tight money. Konsekuensinya adalah membatasi peran perbankan Uzbekistan untuk melakukan kegiatan transaksi pembayaran dengan mata uang asing. Kebijakan ini dilakukan melalui pembatasan peredaran mata uang asing. Prioritas diberikan hanya untuk ekspor impor produk bahan mentah. Sistem perbankan mereka pun masih menggunakan sistem transfer dan cash and carry. Tapi jangan cemas, menurut keterangan dari KBRI Takshhent kendala ini dapat diatasi dengan dua cara. Pertama adalah dengan melakukan transaksi di luar negeri melalui pembukaan off shore account. Cara kedua adalah menggunakan jasa perbankan Korean Development Bank dalam pembayaran transaksi perdagangan dengan mata uang asing. Bank tersebut memiliki cadangan devisa mata uang asing tersendiri. Untuk mempermudah transaksi bisnis pengusaha Indonesia, saat ini KBRI Tashkent tengah mengupayakan kehadiran Bank Muamalat Indonesia yang dapat memberikan credit line bagi pelaku bisnis dalam transaksi ekspor-impor kedua negara seperti yang dilakukan oleh Korean Development Bank. Bahkan pada kesempatan terpisah, KUAI Kedubes Uzbekistan Mr. Kahramon A. Shakirov memberikan pernyataan yang mendukung. ”Untuk saat ini pihak kami juga menjajaki kemungkinan kerjasama dengan beberapa bank Indonesia seperti BRI, BCA dan Bank Mandiri”, jelasnya.
Disamping perbankan ada kendala lain yakni perjanjian perdagangan bilateral. Hingga awal tahun 2007 kedua negara belum juga menandatangani perjanjian perdagangan yang dapat memungkinkan harga barang produksi Indonesia kompetitif dengan barang produksi negara lain di pasaran Uzbekistan. Meski demikian, diharapkan perjanjian perdagangan kedua negara dapat ditandatangani pada saat kunjungan Presiden Karimov ke Indonesia yang direncanakan dilakukan pada tahun 2008 ini. Di bidang transportasi, keadaannya pun setali tiga uang. Secara umum pengiriman barang antar kedua negara harus melewati negara-negara lainnya seperti Iran, China dan Pakistan. Konsekuensinya biaya transportasi menjadi mahal. Rute Iran adalah melalui pelabuhan Bandar Abbas menuju Turkmenistan lalu ke Uzbekistan menggunakan truk dan kereta api. Jika memilih lewat China, rutenya adalah melalui pelabuhan di China menuju ke Kyrgyzstan lalu ke Tajikistan dan kemudian ke Uzbekistan melalui jalan darat. Sedangkan rute Pakistan dimulai dari pelabuhan Karachi menuju ke Afghanistan dan masuk ke Uzbekistan melalui jalan darat. Untuk mengatasi biaya transportasi yang mahal, saat ini kedua negara tengah mempelajari biaya dan keuntungan dari pembukaan jalur penerbangan langsung. Bahkan dalam perjanjian perdagangan Indonesia dan Uzbekistan yang belum ditandatangani telah dimasukkan pula klausul penghapusan biaya lintas perbatasan Uzbekistan. Bisa dikatakan, meski ada banyak kendala untuk berbisnis di Uzbekistan, tapi negara ini menyimpan potensi keuntungan yang tinggi. Ibarat berlian mentah yang belum digosok dan sedang menanti pengusaha Indonesia yang memiliki keberanian untuk menjadi pelopor. Anda berminat?
|