HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VIII Maret  2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 02 April, 2008

 

 

 

APRESIASI EDISI VIII 2008

Kiat bertahan Waroeng Wardhani di Auckland

Oleh: Aji Surya

 

Setelah menjadi tukang cuci piring selama 5 tahun, Freddy buka usaha makanan Indonesia di Auckland. Rasa masakannya kurang ”nendang”, namun mampu bertahan di tengah persaingan. Targetnya hanya satu, menyekolahkan anak-anaknya.

Meski sudah tinggal di Auckland lebih dari 15 tahun, Yance, WNI asal Manado, tahu betul cara mengatasi rasa homesick. Di sela-sela waktunya yang ketat, bersama istrinya yang asli Selandia Baru, ia hobby memburu makanan khas Indonesia. Salah satu bidikannya adalah Waroeng Wardani, yang berada di jantung kota Auckland, 30 menit dari rumahnya. “Sudah 3 hari nih perut belum kemasukan nasi goreng“ ujarnya suatu hari saat bertemu Freddy Iskandar, pemilik warung.

Yance tidak sendirian. Seorang gadis asal NTT yang sedang belajar di Auckland, sengaja ngacir dari kampusnya hanya untuk beli kerupuk udang goreng. Ia ingin lidahnya tetap  bergoyang sambil bernostalgia masakan tanah air. Teman-teman kampusnya yang sudah pernah berkunjung ke Indonesia juga tidak ketinggalan, ikut ngantri untuk menyantap rendang kesukaan.

Sesuai namanya, Warung Wardani bukanlah restoran. Melainkan semacam kantin di salah satu pusat makanan Food Alley di tengah-tengah kota terbesar di Selandia Baru, Auckland. Warung milik Freddy ini berada di paling belakang dari jajaran aneka restoran dan kantin. Di sebelahnya terdapat kantin semisal ,jualan makanan khas Thailand. Sedangkan di depannya hanya terdapat tiga bangku yang dapat diduduki oleh maksimal 12 pelanggan. ”Disini saya sewa mas. Per-minggunya komplit sekitar 1000 dolar,” aku Freddy datar.

Makanan yang dijajakan boleh dibilang komplit. Ada nasi goreng ayam dan kambing, gado-gado, mie trasi, ayam padang, soup ayam, sate, ayam Kalasan, nasi rendang, seafood balado, sop buntut, soto betawi dan lainnya.  Harganya bervariasi, namun rata-rata antara 8,5 hingga 10 dolar, persis dengan harga makanan Thai yang dijual di sebelahnya. Pengunjungnya juga bisa dibilang lumayan banyak. Pada hari biasa dapat mengundang 80 pelanggan, sedangkan pada akhir pekan bisa lebih. ”Duapertiga pelanggan warung adalah orang setempat, baik yang kulit putih ataupun suku Maori. Sisanya masyarakat Indonesia yang tinggal disini,” imbuh sang pemilik bangga.

Perhelatan UKM Freddy dirintis pada tahun 1996. Awalnya, berbekal penjualan restoran orang tuanya, pria asal Bali ini datang di Selandia Baru tahun 1991 untuk sekedar mencari pekerjaan. Lima tahun pertama dilaluinya dengan susah payah sebagai tukang bersih-bersih dan pencuci piring di restoran. Dengan gaji pas-pasan, dirasakan sangat sulit untuk dapat hidup dengan 2 anak. Apalagi anak ketiganya akan segera lahir. Untuk itu, secara nomaden ia mulai membuka restoran Indonesia kecil-kecilan. Kemudian, tahun lalu dengan modal 20 ribu dolar, didirikankanlah Waroeng Wardani di Food Alley. Sebuah nama yang mengingatkannya pada restoran yang laris manis di Bali.

Di tempat ini hokinya datang cepat dan perhitungannya tidak meleset. Dalam bilangan kurang dari tiga bulan, sudah break event point alias impas. Meski tidak terlalu menjanjikan, namun usahanya jalan terus. Sebulan ia bisa mengantongi pendapatan sedikit dibawah 10 ribu dolar.

Hingga saat ini, saingan restoran Indonesia di Auckland memang masih sangat sedikit. Hanya terdapat satu lagi restoran Indonesia yang berlokasi di Auckland University of Technology. Sementara itu, makanan Indonesia biasanya juga bisa didapat dengan memesan kepada warga Indonesia yang bermukim di sana. Minimnya persaingan ini yang membuka window opportunity bagi Freddy untuk tetap bertahan hingga saat ini.

Selain itu, aneka masakan yang disajikan memang sengaja dipoles sesuai dengan selera masyarakat setempat yang tidak begitu doyan rempah-rempah. “Jadi jangan heran, kalao rasanya kurang nendang,” ujar sang pemilik. Alasan lain, aneka bahan dasar dirasakan sangat mahal, seperti daun jeruk, terasi, lengkuas, kemiri, kencur, cabe dan jahe. Diakui, bagi pelancong asal Indonesia, makanannya cukup enak meski tidak terlalu maknyus.

Untuk menyiasati persaingan yang ada, Freddy Iskandar tidak mempekerjakan orang lain. Buruhnya tidak lain adalah istri, dua anaknya dan teman-teman anaknya. Teori memasak diajarkan kepada mereka secara terbuka sehingga, ketika Freddy berhalangan, bisnisnya tetap jalan. ”Selain itu, sebagian urusan rumah tangga seperti bensin, pulsa telpon dan listrik  dimasukkan dalam anggaran warung,” akunya sambil terkekeh.

Kini, di usianya yang berkepala lima, Freddy berketapan hati untuk bertahan tinggal di Auckland. Warungnya memang belum menghasilkan apapun, kecuali dua anaknya yang mengenyam pendidikan tinggi setempat, plus si bontot di sekolah dasar. ”Semuanya saya dedikasikan untuk anak-anak agar mereka bisa tumbuh subur dan baik secara jasmani dan rohani,” katanya mengakhiri pembicaraan dengan Akses.