|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 02 April, 2008
|
Kondisi geografis yang sulit tidak terlalu menghalangi negara-negara Asia Tengah untuk menimbun devisa dari hasil penjualan migas. Daya beli yang melejit ini merupakan peluang yang patut dilirik dan dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia. MASIH terngiang ditelinga kita sewaktu di sekolah dasar guru sejarah menjelaskan asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, sebuah daerah di Asia Tengah (Hindia belakang). Teori yang telah lama dijejalkan ke anak-anak sekolah ini sekarang banyak dibantah oleh ahli arkeologi dan biologi modern. Namun, paling tidak dari pelajaran yang diragukan itu terlihat bahwa peradaban di Asia Tengah telah lama ada. Jalur sutera (silk road) yang menghubungkan daratan China dan Asia Barat dan Eropa telah berjasa besar membuka mata dunia pada Asia Tengah. Walaupun pada awalnya suka merampok kereta dagang China yang melewati wilayahnya, suku-suku masyarakat Asia Tengah akhirnya ikut memanfaatkan potensi jalur perdagangan itu. Terdapat berbagai definisi mengenai negara-negara yang dikategorikan sebagai bagian Asia Tengah, namun yang akan kita bahas adalah lima negara bekas bagian dari Uni Soviet yaitu Kazakhstan, Kyrgyzstan, Turkmenistan, Tajikistan dan Uzbekistan. Dari kelima negara tersebut Kazakhstan yang paling besar wilayahnya dan mempunyai cadangan migas terbesar serta GDP perkapita tertinggi (US$ 7000 tahun 2007). Kazakhstan juga penghasil gandum, besi, baja dan alumunium. Negara lain yang mempunyai sumber alam migas adalah Turkmenistan dan Uzbekistan. Dua negara lainnya mengandalkan pendapatan dari hasil pertanian, buah-buahan, kapas, wool dan daging sapi. Disisi selatan dan barat kelima negara ini berbatasan dengan Iran, Afghanistan dan China sedangkan di utara dibatasi oleh Rusia. Tidak berpantai sehingga kegiatan ekspor impor komoditi non migas harus melalui negara ketiga. Komiditi migas didistribusikan melalui pipa yang umumnya melewati Rusia. Pertumbuhan ekonomi kawasan ini mencapai 8% (2006) dengan GDP sebesar US$ 100 milyar (2006).
Peluang dagang
Apa artinya hal ini bagi kita? Tentu saja kesempatan. Pasar yang potensial untuk produk kita. China telah lebih dulu menggarap wilayah ini, karena berbatasan langsung dengan propinsi Xinjiang. Kalau negara pengekspor lain harus melalui negara ketiga, maka China beruntung bisa langsung nyebur menikmati rezeki minyak di negara tetangganya. Tapi jangan berkecil hati dulu. Sejumlah produk kita sudah dikenal di beberapa negara Asia Tengah seperti Uzbekistan dan Kazakhstan. Produk kayu Indonesia seperti mebel, ukiran dan perlengkapan bangunan, obat-obatan dan spare parts kendaraan bermotor telah dikenal oleh pasar Uzbekistan. Dalam forum bisnis dan investasi Indonesia – Uzbekistan tahun 2007, terlihat minat negara ini untuk meningkatkan berbagai kerjasama perdagangan dan investasi dengan Indonesia. Melihat potensi produk Indonesia yang telah masuk pasar mereka, negara ini berniat untuk menambah keragaman produk kita untuk di ekspor ke Uzbekistan. Keberadaan Kedutaan Besar RI di Tashkent yang merangkap negara Asia tengah lainnya dapat membantu upaya penetrasi pasar produk Indonesia di kawasan ini. Karena kondisi negara-negara ini yang memang tidak berpantai, maka untuk menghemat ongkos transportasi kita harus memanfaatkan pasar lain yang berbatasan langsung dengan Asia Tengah yaitu salah satunya Iran. Bisa saja langsung terbang ke Asia Tengah dengan angkutan udara, tapi biaya transportasi tidak sebanding dengan nilai produk yang akan dijajakan. Menteri Perdagangan Rini Suwandi tahun 2001 pernah menyatakan bahwa kita akan memanfaatkan Iran sebagai pintu gerbang ke pasar Asia Tengah. Selama ini sebagian besar produk impor yang masuk ke wilayah ini khususnya Uzbekistan melalui Bandar Abas di Iran. Jadi, ekspor ke Iran sekaligus untuk Asia Tengah. Mungkin biaya pengiriman akan sedikit bertambah. Namun peluang untuk mengail untung di negara yang banjir minyak itu tak akan terlewatkan.
|