|
Edisi X NOPEMBER 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 11 Nopember, 2008
|
Jurus berbisnis di QatarOleh : Gatot Amrih Dj Pengusaha Qatar dan Arab pada umumnya tidak asing dengan Indonesia. Kesamaan budaya ini dapat dijadikan salah satu jembatan untuk mempererat hubungan dengan mereka. Namun dalam transaksi bisnis, azas profesionalitas dan saling menguntungkan tetap menjadi acuan yang selalu digunakan. MASIH banyak orang awam bahkan kalangan pengusaha Indonesia yang hanya mengetahui setengah-setengah informasi berbisnis di Qatar. Sebagai gambaran bahwa Qatar merupakan negara yang berada di peninsula kecil di utara Persatuan Emirat Arab dengan penduduk kurang lebih 1 juta jiwa dimana 2/3 dari jumlah tersebut adalah pendatang asing. Negara tersebut kini sedang membangun besar-besaran dan dengan sumber gas alamnya penghasilan perkapita negara itu mencapai US$63.000. Negeri gurun tersebut telah disulap menjadi padang hijau ditengah pusat-pusat industri dari manca negara. Data BPEN menunjukan nilai total neraca perdagangan Indonesia-Qatar tahun 2007 sebesar USD 188.2 juta dengan impor sebesar USD 41.8 juta dan ekspornya USD 146 juta. Kedekatan Pribadi Sebelum menjalin hubungan dagang dengan mitra di Qatar, pengusaha Indonesia sebaiknya mengetahui karakter bisnis, sifat dan budaya lokal termasuk kredibilitas dan bonafiditas mereka. Mencari tahu kredibilitas mitra di Qatar tentunya tidaklah sulit mengingat adanya Kantor Kedutaan Besar RI di Doha yang dapat dimintai bantuan. Untuk urusan ini sudah tentu KBRI akan berkoordinasi dengan instansi terkait di Doha Qatar. Mengingat Qatar bukanlah negara maju, maka mengetahui kredibilitas dan bonafiditas mitra usaha lokal merupakan salah satu kunci sukses. Efek positif tentunya akan timbul dari rasa percaya terhadap kredibilitas perusahaan mitra tersebut. Mengenali mitra usaha secara pribadi memang tampaknya susah-susah gampang. Namun kenal pribadi atau biasa disebut personal contact akan membuat segala sesuatu tidak kaku, layaknya berbisnis dengan mitra lama. Dengan memahami budaya orang Qatar tentunya kita akan mengetahui adat istiadat dan kebiasaannya serta latar belakang dan kemampuan networkingnya. Kemampuan jejaring yang kuat, akan timbul kontak, dan dengan kontak maka akan terjadi bisnis. Para pengusaha di Qatar masih kental dengan sistem kekeluargaan, sebagai contoh, ada proyek untuk mengisi kebutuhan furnitur di sebuah apartemen milik pribadi warga Qatar. Beberapa penawaran untuk memasok telah masuk dari berbagai perusahaan. Biasanya yang memenangkan proyek tersebut adalah teman dekat yang juga warga negara Qatar. Mereka masih menggunakan pendekatan primordialis atau pendekatan kekeluargaan yang sangat kuat. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya bermitra usaha dengan orang-orang yang sudah mempunyai bisnis yang cukup lama serta mempunyai jaringan dengan pemerintahan, kadin maupun perusahaan swastanya. Berkaitan dengan mitra yang telah dipilih tentunya hal lain yang masih perlu diperhatikan adalah kedekatan secara fisik dalam arti sering adakan tatap muka baik pertemuan formal maupun informal. Hal tersebut memang kelihatan sepele, namun dampak ditimbulkan akan sangat memudahkan dan membantu dalam berbisnis di negara yang banyak fulusnya tersebut.
Iklim berusaha Qatar memberikan kemudahan membuka bisnis dengan iklim perdagangan dan investasi yang baik. Untuk mendirikan perusahaan di Qatar, perusahaan asing maupun lokal harus mendapatkan Company Registration (SIUP) yang dikeluarkan oleh Kementerian Ekonomi dan Perdagangan. Beberapa jenis perusahaan yang ditawarkan oleh pemerintah Qatar antara lain perusahaan swasta dengan Limited Liability (WLL) , sebagai persyaratan bahwa pendirian perusahaan WLL harus memiliki biaya kapital minimal Qrs. 200,000 (1 US$ = 3.65 Qatar Real) Pada umumnya proses pembuatan Company Registration tersebut membutuhkan waktu lebih kurang 3 bulan dengan kepemilikan saham 51% local patner (Qatari) dan 49% asing dan tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan usaha dalam bidang asuransi, perbankan dan broker investasi. Model kerjasama inilah yang sering dipakai dalam melakukan bisnis di Qatar dewasa ini. Sementara jenis usaha lain yang dapat dilakukan oleh perusahaan dari Indonesia antara lain adalah Kemitraan (Partnership) dimana perusahaan yang didirikan berdasarkan kerjasama kemitraan, maka masing-masing pihak akan menanggung pengeluaran/hutang perusahaan tersebut. Ketiga, Kantor cabang perusahaan asing (hanya untuk perusahaan BUMN atau perusahaan swasta yang bereputasi internasional). Sedangkan untuk menjadi Agen/Distributor/Franchise, agen komersial ataupun perseorangan yang memiliki hak jual untuk mendistribusikan atau menjual produk/barang atau memberikan jasa dalam kerangka agen atas nama pemilik untuk mendapatkan keuntungan/komisi dan besarnya komisi tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Ekonomi dan Perdagangan adalah sebesar 5%. Bea masuk rata-rata hanya sebesar 4-5%, kecuali peralatan Hi-fi dikenakan tariff impor sebesar 10%, rekaman & instrument musik dikenakan tariff impor sebesar 15%, besi dan semen dikenakan tariff impor sebesar 20%, urea dikenakan tariff impor sebesar 30%, alkohol dan tembakau dikenakan tariff impor sebesar 100%. Dengan kondisi tersebut sebaiknya pengusaha Indonesia pada tahap awal tidak perlu membuka kantor WLL, akan tetapi dapat bekerjasama dengan sistem kemitraan atau agen/distributor. Pilihan kerjasama dimaksud tentunya berpulang kepada kepentingan dan kebijakan masing-masing perusahaan di Indonesia.
Yang perlu diketahui Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh pengusaha asing dalam berhubungan dengan pengusaha Qatar atau arab pada umumnya. Kelihatannya sepele tapi mempunyai akibat yang dapat mengganggu kelancaran proses bisnis. Pertama mengenai menggunakan tangan, sama seperti budaya kita bahwa menggunakan tangan kiri untuk menunjuk atau makan tidaklah sopan. Kemudian janganlah menumpangkan kaki apalagi sampai terlihat tapak sepatu. Pelihara kontak mata selama berbicara dengan mitra bisnis Arab, jarangnya ada kontak mata dapat membuat mereka kehilangan kepercayaan terhadap apa yang anda bicarakan, bahkan terhadap reputasi anda. Jabat tangan biasa saja, tak perlu terlalu erat hingga meremas tangan. Jangan sekali-kali menyodorkan tangan untuk bersalaman kepada wanita Arab, kecuali mereka dulu yang mengajak berjabat tangan. Sebaiknya anda selalu mengenakan pakaian resmi informal (jas berdasi) dalam setiap pertemuan bisnis dengan pengusaha Arab. Selanjutnya, bila dalam suatu jamuan anda ditawari minuman, cocktail atau makanan lainnya, jangan menolak, walaupun pada akhirnya tidak dimakan dan ditaruh di tempat tersembunyi. Kopi hitam pekat merupakan minuman kehormatan pada budaya Arab, jangan pernah menolak bila ditawarkan. Cangkirnya sangat kecil mungkin cukup untuk dua atau tiga tegukan. Bila anda tak ingin tambah, angkat cangkir itu sehingga terlihat petugas yang siap mengisi cangkir kosong namun goyangkan sedikit. Itu artinya anda sudah cukup minum kopi, jangan ditambah lagi. Pelajari topik pembicaraan ringan yang sedang trend di negara setempat untuk memulai pembicaraan. Hindari penggunaan body language yang berlebihan. Didalam sebuah rapat dengan pengusaha Arab, jangan heran bila tuan rumah sering menerima telepon, menerima atau mengirim SMS atau memanggil stafnya ketika anda sedang presentasi. Mereka tetap menghormati tamunya, namun merasa harus melakukan sesuatu yang juga dianggap penting. Jangan menunjukkan mimik kesal atau marah dengan hal itu. Anda juga kemungkinan akan di interupsi di tengah presentasi, namun jawab semua pertanyaan dengan sabar. Bila terdengar suara azan, rapat biasanya langsung di tunda dan diteruskan setelah selesai sholat. Mitra usaha dari Arab biasanya mengemukakan banyak komentar, kadang-kadang sampai jauh dari topik pembicaraan. Hindari membicarakan urusan politik, apalagi sampai menyangkut keluarga penguasa / raja.
|