HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI IV 2007

India, peluang pasar yang menarik

Oleh: T. Zulkaryadi

 

Susah-susah gampang memang untuk masuk pasar India. Hampir seluruh negara di dunia ini melirik India sebagai pasar yang menarik karena pertumbuhan ekonominya yang konsisten sekitar 7% per tahun dan jumlah penduduk yang mencapai 1 milyar lebih dengan jumlah kalangan ekonomi menengah menca-pai 300 juta orang lebih. Walaupun India telah membuka pasarnya secara bertahap, masih banyak hambatan tarif dan non tariff yang berlaku. Pemerintah India sejak pertengahan 1990 sangat berhati-hati dalam hal ini yang memberikan kesan bergerak sangat lambat. Sistem tarif bea masuk masih membingungkan dan seringkali para pebisnis terjebak di dalamnya. Hal ini diperparah dengan proses birokrasi yang masih sangat lambat, kurangnya pember-dayaan intellectual property right, inefisiensi pada tubuh pemerintah, dan juga tingkat korupsi yang masih tinggi.

Permasalahan besar lain dalam memulai bisnis di India ialah kurangnya infrastruktur termasuk jalan, rel kereta, pelabuhan, Bandar udara, pembangkit listrik dan juga telekomunikasi. Proses liberalisasi telah berjalan namun lambat dengan pembukaan sektor-sektor perdagangan secara bertahap seperti teknologi informasi, maskapai penerbangan dan telekomunikasi serta masuknya pemain swasta di pelabuhan udara, pelabuhan laut, jalan dan beberapa sektor infrastruktur lainnya. Namun jika diamati lebih jauh, kebutuhan pembangunan infrastruktur di India ini sangat besar yang memberikan peluang besar pula bagi para pebisnis dunia termasuk Indonesia.

Total perdagangan luar negeri India mencapai kurang lebih US$ 300 milyar pada tahun 2006. Impor India yang mencapai kurang lebih US$ 188 milyar ternyata lebih besar dari total ekspornya yang mencapat kurang lebih US$ 112 milyar. Nilai impor ini naik sekitar 9% lebih dari tahun 2005 yang menunjukkan semakin kuatnya daya beli India disamping adanya permintaan yang tinggi untuk memenuhi keperluan industri domestiknya.

Peluang ini ternyata belum dimanfaatkan dengan baik oleh para pengusaha Indonesia. Ekspor Indonesia ke India baru sebesar US$ 2,8 milyar pada tahun 2005. Menteri Perdagangan RI mengatakan bahwa “pangsa pasar produk Indonesia masih terlalu kecil karena baru mencapai 1% dari total impor India”. Menurut Mari, “kecilnya pangsa pasar Indonesia di India karena pemerintah belum memaksimalkan potensi pasar India, ada banyak hambatan-hambatan perdagangan”.

Rencananya Pemerintah RI akan mengembangkan kerjasama perdagangan dengan India yang lebih luas dan terintegrasi. Sebelum itu harus diperhatikan juga berbagai hambatan-hambatan perdagangan yang ada antara Indonesia dan India seperti kebijakan anti dumping yang ketat, kurang serius dan keengganan eksportir Indonesia, mengingat masih tingginya tarif bea masuk yang harus ditanggung oleh beberapa komoditi ekspor utama Indonesia, tingginya biaya transportasi karena tidak adanya jalur transportasi langsung antar kedua negara, kurang memadainya dukungan sektor keuangan/perbankan serta tingkat penyelundupan dan korupsi yang tinggi. Namun yang cukup parah dan sampai saat ini masih ada ialah persepsi citra yang kurang baik terhadap pengusaha India, istilahnya “tipu-tipu India,” yang diperoleh baik karena pengalaman maupun informasi sepihak dari sumber yang belum tentu dapat dipercaya.

 

Di luar hambatan itu semua, masih banyak produk Indonesia yang dicari oleh konsumen India. Komoditi ekspor utama Indonesia ke India adalah: minyak nabati dan lemak nabati, bijih logam dan sisa logam, barang kayu dan produk kayu, batu bara kokas dan briket, bagian dari kendaraan bermotor, benang tenun, kain tekstil dan hasilnya, kimia organik, logam tidak mengandung besi, kertas karton dan olahannya, pulp dan kertas, kopi, teh, coklat dan rempah-rempah. Komoditi Indonesia yang mempunyai nilai ekspor lebih dari US$ 10 juta adalah barang kayu dan produk kayu; benang tenun, kain tekstil dan olahannya; minyak dan lemak nabati; buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya kacang mete; kertas karton dan olahannya dan bahan kimia organik. Selain itu beberapa produk Indonesia yang berpeluang sukses besar di India ialah batubara yang banyak digunakan untuk bahan pembangkit tenaga listriknya, produk-produk untuk bayi dan anak-anak, peralatan mesin baik untuk otomotif maupun industri, peralatan medis, tekstil dan peralatan mesin tekstil, bahan-bahan kimia, serta produkproduk agriculture seperti: katun, makanan kalengan berupa buah kering, produk-produk kayu, buah-buah segar, minyak kelapa sawit, bibit tanaman, bahan baku kulit.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonominya, terjadi perubahan gaya hidup orang India pada umumnya, perubahan struktur keluarga serta peningkatan pendapatan sebagian besar masyarakat India, terutama yang tinggal di perkotaan. Perubahan ini mendorong peningkatan pasar retail-nya yang saat ini mencapai US$ 202 milyar diperkirakan akan tumbuh 30% dalam lima tahun ke depan. Produk-produk retail yang banyak dicari orang berupa barang konsumsi rumah tangga seperti televisi, pesawat telepon, telepon genggam, peralatan komputer dan barang elektronik lainya. Pangsa pasar produk-produk seperti ini semakin membesar dan makin menjanjikan.

Membaca peluang di atas, sudah saatnya pengusaha Indonesia take action. Dalam kunjungannya ke India, akhir Januari lalu, Wakil Presiden RI menyebutkan bahwa India adalah pasar besar dan amat potensial bagi produkproduk Indonesia. Walaupun memang masih ada hambatan-hambatan yang ada, tetapi seyogyanya tidak menghambat penjajagan untuk memasuki pasar India yang berpotensi amat besar tersebut. Memang resikonya tinggi, namun yang harus diingat bahwa semakin tinggi resiko, maka semakin besar untung yang dapat diperoleh.