|
Edisi VI Oktober 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 10 November, 2007
|
Citra gelap Afrika sebagai wilayah terbelakang, miskin, rawan kelaparan, sarat dengan konflik, sumber penyakit AIDS dan Ebola, rawan kejahatan dan keamanan serta merupakan sumber peredaran narkoba selama ini dikenal oleh orang Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan keengganan di kalangan pengusaha Indonesia untuk melakukan kontak usaha ke negaranegara di Afrika. Mitos yang berkembang tersebut tidak mencerminkan potret Afrika Timur sebenarnya, demikian dikemukakan oleh Rhenal Kasali. Lebih lanjut dinyatakannya bahwa yang terpenting adalah bagaimana menentukan strategi pengembangan ekspor Indonesia ke Afrika, antara lain kita harus dapat menentukan negara “emerging market” yang berpotensi sebagai “entry point” atau pintu gerbang untuk dapat masuk ke kawasan Afrika.
Sebagai contoh dikatakannya Indonesia mengembangkan posisi Afrika Selatan dan Mesir sebagai “entry point” pemasaran produk non migas Indonesia. Selain itu kita harus memposisikan Afrika sebagai pasar alternatif tujuan ekspor menentukan program kegiatan promosi terpadu (TTI) yang terarah dan terencana serta meningkatkan kegiatan promosi ke wilayah Afrika melalui keikutsertaan pada pameran dan misi dagang. Jumlah penduduk kawasan Afrika lebih dari 800 juta jiwa merupakan peluang yang harus digarap secara serius oleh kalangan dunia usaha maupun pemerintah, mengingat pangsa pasar Indonesia masih kecil sedangkan market size-nya cukup besar. Dengan kedekatan hubungan negara-negara di kawasan sekitarnya, kita dapat manfaatkan sebagai “entry point” seperti Afrika Selatan untuk kawasan Afrika bagian Selatan. Kawasan Afrika Timur melalui ex USSR, India dan Pakistan. Mesir sebagai entry point untuk kawasan Afrika bagian Utara.
Selain itu peluang yang ada tersebut di atas, kita masih menghadapi tantangan untuk dapat mengembangkan ekspor Indonesia ke Afrika, antara lain karena belum adanya pengapalan langsung ke Afrika, kurangnya informasi timbal balik, Indonesia belum banyak dikenal sebagai “resource country”, pelaku bisnis Indonesia masih berorientasi ke pasar tradisional dan citra kawasan Afrika yang belum mendukung.
Namun demikian, dalam menghadapi tantangan tersebut, terdapat beberapa pengusaha Indonesia yang telah berhasil menangkap peluang dan melakukan ekspornya ke wilayah Afrika bahkan melakukan investasi untuk mengembangkan pangsa pasarnya. Sebut saja, perusahaan sabun B-29 yang menurut Dubes RI di Ethiopia telah melakukan investasinya di Ethiopia sejak tahun 2000, dalam jangka waktu 5 tahun saja B-29 telah berhasil menguasai 30% pasar di Ethiopia.
Bahkan menurut Dubes RI di Addis Ababa, Ethiopia, Deddy Sudarman pada acara diskusi interaktif di Deplu-Jakarta, perusahaan B-29 ini juga turut meningkatkan ekspor bahan baku dari Indonesia ke Ethiopia untuk menunjang industrinya tersebut. Kalau pada awal B-29 hanya mengekspor 1 atau 2 kontainer sebulan, sekarang pada waktu yang sama mengekspor berpuluh-puluh kontainer. B-29 yang semula hanya melakukan ekspor hasil produknya ke Ethiopia, kemudian berkembang ke investasi karena melihat dan dapat menangkap peluang yang baik di Ethiopia.
Situasi dan kondisi tersebut antara lain disebabkan adanya citra baru mengenai Afrika, dimana pada pertemuan tahunan negara G-8 di Gleneagles pada tanggal 6 – 8 Juli 2005, dinyatakan banyak kemajuan di Afrika dan berkomitmen untuk menghapus kendala-kendala yang menghambat pembangunan. Dengan kebijakan pembangunan ekonomi, dalam kurun waktu relatif singkat telah membuat pasar Afrika bertambah menarik bagi para investor. Seperti negara C’ote d’Ivpire, Ghana, Uganda dan Afrika Selatan saat ini tengah bergerak bersama dengan Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, China dan India sebagai “hot new markets for foreign capital”. Selain itu 53 negara Afrika yang tergabung dalam African Union (AU) dan yang bernaung dalam New Economic Partnership for Africa’s Development (NEPAD) menjadikan abad ke-21 sebagai “the African Renaissance” agar kawasan Afrika yang didiami oleh sekitar 800 juta jiwa dan income per kapitanya sekitar US $400 atau dua kali lipat dari Indonesia, lebih terintegrasi secara politik, ekonomi, sosial budaya dan militer.
Sebagai gambaran mengenai potensi pasar di Afrika Timur, Rhenald Kasali menjelaskan lebih lanjut bahwa berdasarkan data yang diperoleh dari WTO tahun 2005, produk-produk stationery di Afrika Timur tumbuh dua digit, produk-produk kosmetik dan toilet tumbuh tertinggi di dunia, furniture tumbuh dua digit, ban dan produk karet tumbuh dua digit, barang-barang konsumsi seperti sabun, deterjen dan lain-lain tumbuh dua digit, serta bahan-bahan bangunan juga tumbuh dua digit.
Menurut Dubes RI di Nairobi, para pengusaha Indonesia harus lebih aktif dan jangan menunggu Afrika bangkit, karena beberapa negara pesaing Indonesia lebih agresif. Sebut saja China, India, dan Malaysia. Total ekspor China pada tahun 2005 saja sebesar US$ 14 milyar dan saat ini terdapat 77 perusahaan patungan China di Afrika Timur, dengan produk unggulannya berupa ban, spareparts mobil, stationery, parfum, kosmetik, komputer, furniture dan mesinmesin. Rhenald Kasali menambahkan bahwa strategi yang dipergunakan China adalah menjual produk-produk dengan harga rendah, ekspor langsung dan membangun kepercayaan dengan jejaring mitra bisnisnya di Afrika.
Demikian pula halnya India yang meluncurkan “Focus: Africa” dengan targetnya negara-negara Mauritius, Kenya dan Ethiopia. Produk unggulan yang ditawarkan India antara lain mesin dan peralatan transportasi, produk bahan bakar, kertas dan produk kayu, tekstil, besi dan baja, plastik dan produk linoleum, produk industri karet, produk pertanian, kimia dan produk pharmasi. Strategi penetrasi India sedikit berbeda dengan China, walaupun harga produknya rendah namun India juga melakukan pendekatan antar pemerintah atau GtoG disamping menggunakan network India di Afrika.
Sukses atau tidaknya para pengusaha Indonesia dalam
menerobos pasar di Afrika tergantung di tangan para pengusaha Indonesia
sendiri dalam menghilangkan mitos negatif negara-negara Afrika. Kesempatan
dan peluang yang baik ini diharapkan jangan disia-siakan, sehingga Indonesia
tidak selalu kalah bersaing dengan negara-negara tetangga kita dalam
menyerbu pasar Afrika.
|