HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com akan resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id

 

Edisi VI Oktober 2007

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

Daftar UKM

 

 

Departemen Luar Negeri

 

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 10 November, 2007

 

 

LAPORAN UTAMA EDISI IV 2007

Kiprah "Daud Industri" India diantara "Goliath" ekonomi dunia

Oleh: Punjul S. Nugraha

 

UKM (Usaha Kecil dan Menengah) merupakan tulang punggung ekonomi sebagian besar negara berkembang. Ia merupa-kan aktor industri utama dan berkontribusi penting untuk ekspor dan per-tumbuhan ekonomi. Data tahun 2006 menunjukkan di India terdapat sekitar tiga juta UKM. Mereka menyumbang kepada 50 persen output industri dan 42 persen total ekspor India. UKM juga merupakan sektor penyedia lapangan kerja yang paling besar.

Di India UKM mampu menyerap 50 persen tenaga kerja, dan 30 – 40 persen di antaranya meliputi sektor manufaktur. Dengan produk yang sangat beragam – berkisar 8.000 jenis, UKM merupakan motor penggerak pembangunan kawasan berimbang. Berdasarkan atas data dari Small Industries Development Organisation (SIDO), industri makanan merupakan penyedia lapangan pekerjaan yang paling besar, sejumlah 13.1 persen, atau sebesar 0,48 juta orang. Dua besar lainnya adalah hasil tambang non-metal dengan lapangan kerja bagi 0,45 juta orang, atau 12,2 persen dan produk metal dengan 0.37 juta orang atau sebesar 10,2 persen dari total tenaga kerja di India.

UKM juga merupakan penyumbang utama bagi ekspor India. Sekitar 45 sampai 50 persen ekspor India merupakan sumbangan dari UKM. Ekspor lang-sung dari UKM sendiri mencakup 35 persen dari keseluruhan ekspor. Dari seluruh produk ekspor UKM tersebut, 95 persen di antaranya merupakan produk non-tradisional. Ekspor sektor UKM India mengalami peningkatan yang pesat pada dekade saat ini. Prestasi tersebut didorong utamanya oleh industri sandang, kulit, batu mulia dan perhiasan.

Peran Pemerintah India dalam Pengembangan UKM

Pesatnya pertumbuhan UKM di India didukung oleh reformasi regulasi industri, melalui penetapan Kebijakan Industri tahun 1991. Kebijakan tersebut membuka peluang pasar untuk UKM, setelah sebelumnya aktivitas pasar dikontrol penuh oleh negara. Kebijakan pemerintah dalam pengembangan UKM di India dilakukan oleh Kementerian Industri Skala Kecil (Ministry of Small Scale Industries). Tugasnya adalah untuk merancang kebijakan, program-program dan proyekproyek. Hal tersebut dilakukannya secara kolaborasi dengan berbagai pihak dengan tujuan untuk membantu pengembangan dan pertumbuhan UKM. Sementara untuk pelaksanaannya diselenggarakan melalui Small Industries Development Organisation (SIDO) dan National Small Industries Corporation (NSIC). NISC merupakan organisasi swasta yang melaksanakan berbagai wewenang yang diberikan oleh Kementerian Industri Skala Kecil.

Di samping itu, Pemerintah India juga menyelenggarakan tiga tingkat pelatihan peningkatan kapasitas dan jiwa kewiraswastaan bagi UKM yang ada. Pusat pelatihan itu adalah National Institute of Small Industri Extension Training (NISIET), di Hyderabad, National Institute of Enterpreneurship and Small Business Development (NIESBUD), di Noida, dan Indian Institute of Enterpreneurship (IIE) di Guwahati. Pada tahun 2006, Pemerintah India menerbitkan peraturan perundangan mengenai UKM yang dikenal dengan Undang-Undang No. 27 tahun 2006 tentang pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah.

Selain dukungan sektor regulasi, Pemerintah India juga gencar mengikuti dan mengadakan berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri tiap tahunnya. Fasilitas diberikan pula terhadap UKM yang mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Pemerintah juga mengadakan berbagai survey dan penelitian untuk meningkatkan daya saing UKM. Sebagai contoh, Pemerintah India baru-baru ini mengadakan riset sector specific market studies – atau riset pasar sektor tertentu untuk menentukan dukungan bagi kategori UKM tertentu.

Karakteristik dan Performa UKM India

Sektor usaha skala kecil dan menengah di India pada umumnya tidak berjalan sendiri, namun membentuk suatu cluster. Pengelompokan tersebut berdasarkan atas kesamaan hasil produksi. Sebagai contoh, pengusaha sepatu kulit berkumpul di Agra dan Kanpur, katun di Kolkata dan Delhi, selimut di Panipat dan pengasah berlian di Surat. Menurut Ramesh Subramaniam, pengamat UKM di India, ”suatu kelompok usaha dikategorikan sebagai UKM berdasar atas pemasukan pertahunnya. Namun demikian, standar tersebut berbeda dari satu negara ke negara lain”. Sebagai contoh ujarnya menambahkan, “di belahan bumi barat, kelompok usaha dengan pemasukan kurang dari satu miliar dolar AS digolongkan sebagai UKM”. Namun menurut Ramesh, “di India, UKM adalah kelompok usaha dengan pendapatan kurang dari 20 juta dolar, atau sekitar 200 miliar rupiah”. Berdasarkan atas definisi tersebut, Ramesh memperkirakan bahwa lebih dari 70 persen perusahaan di India merupakan UKM.

Menurut Dr. P.M. Mathew, Direktur Institute of Small Enterprise Development menyatakan situasi saat ini memberikan celah yang lebar bagi UKM India untuk memasuki pasar Eropa. Direktur lembaga penelitian yang berbasis di Inggris tersebut, perkembangan UKM India menjadi kekuatan yang bisa dipertimbangkan. Terlebih lagi apabila UKM di India mampu melakukan inovasi-inovasi yang diperlukan bagi penetrasi pasar Eropa. Inovasi, menurutnya, merupakan salah satu faktor utama pendorong UKM. “Pertokoan-pertokoan tingkat tinggi dibanjiri dengan produk-produk pertanian lokal dengan harga yang super murah karena subsidi. Barang-barang manufaktur dari Eropa sebagian besar merupakan produksi industri masal. Barang tanpa merk yang membanjiri pasar Eropa pada umumnya terdiri atas pakaian jadi, produk kulit, dan sebagainya yang berasal dari Asia dan Afrika. Barang-barang bermerk yang ada biasanya berupa peralatan olah raga yang berasal dari Punjab, India serta Pakistan dan juga China,” ujar Dr. Mathew menjelaskan. Menurutnya, situasi pasar semacam itu merupakan peluang besar bagi UKM India untuk menunjukkan daya saingnya. Ditambahkan olehnya bahwa, “Pendorong utama di Eropa adalah teknologi. Potensi-potensi tersebut antara lain terdapat pada produk pertanian, hasil laut dan produk-produk perkakas teknik, komponen dan produk elektronik. Beberapa UKM juga mulai mengembangkan ekspor perangkat lunak komputer.

Peluang dan Tantangan UKM India

Salah satu kendala yang dihadapi oleh UKM di India, dan mungkin juga di mana saja di dunia ini, selain modal, adalah penguasaan terhadap teknologi informasi (TI). Apabila organisasi besar telah berinvestasi cukup besar untuk membangun dukungan teknologi informasi, hal tersebut belum dapat ditemui pada sebagian besar UKM. Meskipun tertinggal oleh perusahaan besar dalam hal penerapan teknologi –berdasarkan hitungan, ketertinggalan mereka antara tiga sampai lima tahun, namun UKM di India telah menjadi favorit bagi vendor besar TI seperti Microsoft, Computer Associates maupun Oracle. UKM di India merupakan pasar yang besar bagi para penyedia TI tersebut. Dengan penyesuaian oleh para vendor, penguasaan TI oleh UKM di India hanya menunggu waktu saja.

Meskipun demikian, UKM di India nampaknya tidak berdiam diri terhadap ketertinggalan tersebut. Penggunaan Internet oleh kalangan UKM telah menunjukkan peningkatan signifikan semenjak tahun 2002. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya kepedulian di kalangan UKM untuk memiliki website atau homepage-nya sendiri. Perkembangan tersebut didorong oleh kenyataan bahwa India saat ini merupakan produsen TI yang besar untuk kawasan Asia. Berkembangnya Asian Silicon Valley yang dipicu oleh internet boom di tahun 2000-an di Mumbay mendorong pertumbuhan tersebut.

Namun pertumbuhan UKM juga memberikan dampak lain dari sisi lingkungan. Penerapan teknologi pendukung industri secara besar-besaran memunculkan potensi polusi udara, air termasuk sampah padat. Menurut Dr. Anil Agarwal, Direktur Pusat Pengembangan Teknologi dan Lingkungan India, keseluruhan industri UKM di India menyumbangkan 40 persen dari total polusi air di sana. Total polusi yang dihasilkan adalah sekitar 69.000 liter polusi air. Sumber utama polusi adalah pewarna garmen yang banyak digunakan. Hal tersebut terjadi karena penerapan teknologi industri model barat tidak diikuti dengan penerapan teknologi pengontrol polusi. Teknologi terkini untuk mengontrol polusi dinilai masih terlalu mahal untuk diterapkan oleh UKM. Di sisi lain, sampah-sampah illegal yang dihasilkan oleh UKM di India sulit untuk dikontrol. India tidak memiliki peraturan khusus untuk menempatkan UKM ke lokasi dengan penduduk kurang dari satu juta orang.

Trend yang terjadi di India saat ini memang menunjukkan peningkatan pesat UKM, dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Sinergi yang erat antara Pemerintah India dan para pelaku UKM di sana merupakan salah satu pendorong bagi peningkatan tersebut. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi di antaranya adalah penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi, pengelompokan usaha dan satu yang pasti, keuletan dalam bekerja dan mencari celah pasar.

Sinergi juga terjadi antara UKM yang mampu menyediakan kebutuhan bahan dasar untuk mendukung industri besar di dalam negeri. Kolaborasi-kolaborasi tersebut pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi makro India. Seperti cerita Daud dan Goliath dari jaman dulu, hanya saja, di sini Daud dan Goliath saling bahu-membahu membangun ekonomi suatu bangsa.