Singapura yang dulunya adalah sebatas tempat penyaluran barang
ekspor-impor dari negara produsen ke negara konsumen; sekarang menjadi
pusat manufaktur industri tersendiri.
Jika kita
berdiri di tepi utara Pulau Batam, dan melempar pandangan ke arah
cakrawala, kita akan melihat samar-samar di kejauhan bentangan daratan
“Kota Singa”. Itulah negeri Singapura. Rumah Sang Merlion, patung
berkepala singa-berbadan ikan yang dikenal akrab di benak banyak orang
sebagai ikon pariwisata Singapura. Sambil duduk di alas berbentuk
gelombang ombak, dan menyemburkan air dari mulutnya, “byuuuur…,”
Merlion - patung karya desainer Fraser Brunner itu - menyambut jutaan
pelancong yang datang ke Singapura. “Cheese!”, begitulah seru
wisatawan yang berpose untuk difoto dengan latar Sang Merlion tadi.
Singapura
memang ramai dikunjungi banyak turis. Bayangkan, tahun lalu saja, lebih
dari 10 juta wisatawan berkunjung ke negeri itu. Dengan jumlah turis
yang se-abreg itu, Singapura meraup devisa sebesar S$ 14,8 milyar,
yang hampir setara dengan 102 trilyun rupiah di tahun 2008. Lebih
hebatnya lagi, angka wisatawan itu adalah dua kali lebih besar dari
jumlah seluruh penduduk Singapura yang totalnya sekitar 4,6 juta jiwa.
Luar biasa bukan? Padahal, luas daratan pulau utama negeri itu tidaklah
terlalu besar. Luasnya kurang dari 700 kilometer persegi, atau lebih
kecil dari luas wilayah Jakarta yang sekitar 740 kilometer persegi.
Pemerintah Singapura memang berupaya memperluas wilayah pulaunya dengan
cara reklamasi. Tapi ukuran wilayah Singapura dan sumber kekayaan alam
yang terbatas itu, kontras dengan pertumbuhan ekonominya yang selangit.
Industrialisasi di Bumi Temasek
Semua
orang cukup tahu bahwa Singapura, yang dulu dikenal juga dengan nama “Temasek”,
telah tumbuh pesat menjadi pusat perdagangan dan industri di Asia
Tenggara. Letaknya yang dekat dengan garis katulistiwa menjadikan
Singapura negara beriklim tropis yang mirip dengan negara kita.
Mayoritas penduduk Singapura adalah etnis Tionghoa. Selain itu, di
Singapura juga terdapat warga etnis Melayu, India, dan etnis minoritas
lain.
Negeri ini
mempunyai GDP per kapita yang setara dengan di negara-negara maju, yakni
US$ 52 ribu per tahun. Tapi mungkin yang belum banyak diketahui orang
yaitu bahwa
salah satu arsitek perekonomian Singapura yaitu Dr. Albert Winsemius. Ia
adalah ekonom berkebangsaan Belanda yang pada tahun 1961-1984 pernah
menjadi penasihat ekonomi Pemerintah Singapura. Ia ikut merancang
program pembangunan 10 tahunan untuk menciptakan industrialisasi di Bumi
Temasek. Ia merubah Singapura dari pelabuhan perantara (entrepot)
menjadi pusat manufaktur dan industri. Hasilnya luar biasa! Singapura
yang dulunya adalah sebatas tempat penyaluran barang ekspor-impor dari
negara produsen ke negara konsumen; sekarang menjadi pusat manufaktur
industri tersendiri. Di negeri ini dibangun basis pemrosesan berbagai
komoditi untuk selanjutnya diekspor dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Contohnya, Singapura
mempunyai tempat penyulingan dan distribusi minyak, meskipun negeri itu
sendiri tidak punya sumber minyak bumi. Minyak yang diolahnya berasal
dari negara lain. Shell dan Esso, dua perusahaan minyak
raksasa, misalya, membuka penyulingan di negara tersebut.
Selain itu,
dengan tersedianya lebih dari 130 bank yang beroperasi di sana,
Singapura bisa dikategorikan sebagai salah satu pusat keuangan
terpenting Asia. Negara ini juga didukung dengan jaringan komunikasi
yang canggih dan tersambung ke seluruh dunia melalui sistem telepon dan
telegraf satelit 24 jam. Fasilitas modern dengan teknologi maju
berkontribusi terhadap kesuksesan Singapura menjadi pusat aktivitas
bisnis.
Singapura
juga pemasok utama komponen elektronik dan memiliki keahlian di bidang
pembuatan dan reparasi kapal. Terdapat lebih dari 600
jalur pelayaran yang mengirimkan kapal super tanker, kapal-kapal
kontainer dan kapal-kapal penumpang, serta kapal-kapal nelayan dan
sampan kayu, yang menjadikan Singapura salah satu pelabuhan paling sibuk
di dunia.
Potensi
Bagi Pengusaha Indonesia
Lalu, apa
yang bisa dimanfaatkan pengusaha Indonesia dari Singapura? Tentu saja
banyak. Misalnya, Singapura setiap harinya memerlukan seribu ton sayur
dan buah untuk memenuhi kebutuhan warganya. Dari total kebutuhan
tersebut, petani lokal hanya mampu memenuhi lima persennya saja. Sisanya,
dipenuhi dengan cara mengimpor. China, Malaysia, Vietnam, Thailand dan
Indonesia adalah sumber komditi yang mensuplai kebutuhan tersebut.
Sayangnya, porsi Indonesia masih secuil. Hanya lima persen.
Padahal, Indonesia memiliki potensi untuk memasarkan produk pertanian
dan perkebunan di Singapura.
Ketua
Singapore Fruits & Vegetables Importers & Exporters Association (SFVIEA),
Mr. Tay Khiam Back, mengatakan bahwa Indonesia mempunyai berbagai
komoditas yang berpotensi dipasarkan ke Singapura. Pisang mas, pepaya,
nanas, manggis, mangga, duku, ubi, singkong, kentang dan salak adalah
sebagian komoditi yang mempunyai pasar cukup baik di Singapura. Hal ini
disampaikan sewaktu ia mengadakan misi dagang ke Jawa Tengah pada Juli
2009 bersama KBRI Singapura.
Tingginya
pertumbuhan ekonomi di Singapura juga membuka kesempatan bagi Indonesia.
Itulah sebabnya pada Januari 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
membuka kawasan perdagangan bebas antara Batam, Bintan, Karimun (BBK)
yang bersebelahan dengan Singapura. Mudah-mudahan lewat kerjasama dengan
negeri tetangga, berkah yang dinikmati Sang Merlion bisa mampir juga ke
negeri kita… Cihuiy!