HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi XII OKTOBER 2009

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Statistik kunjungan

Free counter and web stats

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 03 October, 2009

 

 

 

 

Gemerlapnya kota Singa

Oleh : Vahd Nabyl Mulachela

 

Singapura yang dulunya adalah sebatas tempat penyaluran barang ekspor-impor dari negara produsen ke negara konsumen; sekarang menjadi pusat manufaktur industri tersendiri.

Jika kita berdiri di tepi utara Pulau Batam, dan melempar pandangan ke arah cakrawala, kita akan melihat samar-samar di kejauhan bentangan daratan “Kota Singa”. Itulah negeri Singapura. Rumah Sang Merlion, patung berkepala singa-berbadan ikan yang dikenal akrab di benak banyak orang sebagai ikon pariwisata Singapura. Sambil duduk di alas berbentuk gelombang ombak, dan menyemburkan air dari mulutnya, “byuuuur…,” Merlion - patung karya desainer Fraser Brunner itu - menyambut jutaan pelancong yang datang ke Singapura. “Cheese!”, begitulah seru wisatawan yang berpose untuk difoto dengan latar Sang Merlion tadi.

Singapura memang ramai dikunjungi banyak turis. Bayangkan, tahun lalu saja, lebih dari 10 juta wisatawan berkunjung ke negeri itu. Dengan jumlah turis yang se-abreg itu, Singapura meraup devisa sebesar S$ 14,8 milyar, yang hampir setara dengan 102 trilyun rupiah  di tahun 2008. Lebih hebatnya lagi, angka wisatawan itu adalah dua kali lebih besar dari jumlah seluruh penduduk Singapura yang totalnya sekitar 4,6 juta jiwa. Luar biasa bukan? Padahal, luas daratan pulau utama negeri itu tidaklah terlalu besar. Luasnya kurang dari 700 kilometer persegi, atau lebih kecil dari luas wilayah Jakarta yang sekitar 740 kilometer persegi. Pemerintah Singapura memang berupaya memperluas wilayah pulaunya dengan cara reklamasi. Tapi ukuran wilayah Singapura dan sumber kekayaan alam yang terbatas itu, kontras dengan pertumbuhan ekonominya yang selangit.

 

Industrialisasi di Bumi Temasek

Semua orang cukup tahu bahwa Singapura, yang dulu dikenal juga dengan nama “Temasek”, telah tumbuh pesat menjadi pusat perdagangan dan industri di Asia Tenggara. Letaknya yang dekat dengan garis katulistiwa menjadikan Singapura negara beriklim tropis yang mirip dengan negara kita. Mayoritas penduduk Singapura adalah etnis Tionghoa. Selain itu, di Singapura juga terdapat warga etnis Melayu, India, dan etnis minoritas lain. 

Negeri ini mempunyai GDP per kapita yang setara dengan di negara-negara maju, yakni US$ 52 ribu per tahun. Tapi mungkin yang belum banyak diketahui orang yaitu bahwa salah satu arsitek perekonomian Singapura yaitu Dr. Albert Winsemius. Ia adalah ekonom berkebangsaan Belanda yang pada tahun 1961-1984 pernah menjadi penasihat ekonomi Pemerintah Singapura. Ia ikut merancang program pembangunan 10 tahunan untuk menciptakan industrialisasi di Bumi Temasek. Ia merubah Singapura dari pelabuhan perantara (entrepot) menjadi pusat manufaktur dan industri. Hasilnya luar biasa! Singapura yang dulunya adalah sebatas tempat penyaluran barang ekspor-impor dari negara produsen ke negara konsumen; sekarang menjadi pusat manufaktur industri tersendiri. Di negeri ini dibangun basis pemrosesan berbagai komoditi untuk selanjutnya diekspor dengan nilai jual yang lebih tinggi. Contohnya, Singapura mempunyai tempat penyulingan dan distribusi minyak, meskipun negeri itu sendiri tidak punya sumber minyak bumi. Minyak yang diolahnya berasal dari negara lain. Shell dan Esso, dua perusahaan minyak raksasa, misalya, membuka penyulingan di negara tersebut.

Selain itu, dengan tersedianya lebih dari 130 bank yang beroperasi di sana, Singapura bisa dikategorikan sebagai salah satu pusat keuangan terpenting Asia. Negara ini juga didukung dengan jaringan komunikasi yang canggih dan tersambung ke seluruh dunia melalui sistem telepon dan telegraf satelit 24 jam. Fasilitas modern dengan teknologi maju berkontribusi terhadap kesuksesan Singapura menjadi pusat aktivitas bisnis.

Singapura juga pemasok utama komponen elektronik dan memiliki keahlian di bidang pembuatan dan reparasi kapal. Terdapat lebih dari 600 jalur pelayaran yang mengirimkan kapal super tanker, kapal-kapal kontainer dan kapal-kapal penumpang, serta kapal-kapal nelayan dan sampan kayu, yang menjadikan Singapura salah satu pelabuhan paling sibuk di dunia.

 

Potensi Bagi Pengusaha Indonesia

Lalu, apa yang bisa dimanfaatkan pengusaha Indonesia dari Singapura? Tentu saja banyak. Misalnya, Singapura setiap harinya memerlukan seribu ton sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan warganya. Dari total kebutuhan tersebut, petani lokal hanya mampu memenuhi lima persennya saja. Sisanya, dipenuhi dengan cara mengimpor. China, Malaysia, Vietnam, Thailand dan Indonesia adalah sumber komditi yang mensuplai kebutuhan tersebut. Sayangnya, porsi Indonesia masih secuil. Hanya lima persen. Padahal, Indonesia memiliki potensi untuk memasarkan produk pertanian dan perkebunan di Singapura.

Ketua Singapore Fruits & Vegetables Importers & Exporters Association (SFVIEA), Mr. Tay Khiam Back, mengatakan bahwa Indonesia mempunyai berbagai komoditas yang berpotensi dipasarkan ke Singapura. Pisang mas, pepaya, nanas, manggis, mangga, duku, ubi, singkong, kentang dan salak adalah sebagian komoditi yang mempunyai pasar cukup baik di Singapura. Hal ini disampaikan sewaktu ia mengadakan misi dagang ke Jawa Tengah pada Juli 2009 bersama KBRI Singapura.

Tingginya pertumbuhan ekonomi di Singapura juga membuka kesempatan bagi Indonesia. Itulah sebabnya pada Januari 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka kawasan perdagangan bebas antara Batam, Bintan, Karimun (BBK) yang bersebelahan dengan Singapura. Mudah-mudahan lewat kerjasama dengan negeri tetangga, berkah yang dinikmati Sang Merlion bisa mampir juga ke negeri kita… Cihuiy!