|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 01 April, 2008
|
Fiji merupakan negara yang paling maju perekonomiannya diantara negara kepulauan di Pasifik. Beberapa produk Indonesia telah masuk ke pasar Fiji dan dikenal sebagai barang yang berkualitas dengan harga cukup bersaing.
PEMBUKAAN Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kota Suva, ibukota Fiji pada tahun 2002, mempunyai peran penting dalam meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara. Perekonomian Fiji ditunjang oleh sektor pertanian, hasil hutan, perikanan dan sumber mineral. Gula tebu merupakan sepertiga dari total ekspor Fiji. Selain itu sektor pariwisata juga memberikan kontribusi besar pada perekonomian negara kepulauan ini. Dilihat dari nilai pendapatan perkapitanya sebesar US$ 6.200 (tahun 2006), Fiji mempunyai potensi cukup bagus untuk menyerap produk impor termasuk dari Indonesia. Letak geografis negara kepulauan ini dapat dijadikan pintu gerbang untuk penetrasi ke seluruh negara kepulauan di Pasifik. Pelabuhan laut Fiji yang cukup baik dapat mendukung fungsi negara ini sebagai pusat penyebaran produk impor ke berbagai pelosok Pasifik. Jumlah penduduk negara kepulauan ini tidak lebih dari jumlah penduduk dua kecamatan di Jakarta yakni 873 ribu jiwa. Hal inilah yang menyebabkan pengusaha Indonesia menjual produknya melalui negara ketiga yaitu Singapura atau Australia. Selain itu, belum ada jalur pelayaran dari Indonesia ke Fiji. Jadi tetap saja harus melalui negara ketiga yaitu Australia. Produk Indonesia yang sudah mulai merambah pasar Fiji adalah kertas, serat tekstil, peralatan listrik, peralatan elektronik rumah tangga, mebel, produk kerajinan tangan, makanan ringan, kopi, produk plastik, sabun mandi, detergen, produk kimia serta kendaraan bermotor dan alat pertanian. Karena kedekatan letak geografis, Fiji merupakan pasar tradisional bagi produk Australia dan Selandia Baru. Produk China dan India juga telah lama bercokol di negara kepulauan itu. Produksi dalam negeri hampir tidak ada. Pengusaha Fiji mayoritas adalah etnik India yang sudah barang tentu mempunyai ikatan tradisional dengan tanah leluhurnya. Kondisi inilah yang menjadi kekuatan tawar menawar masuknya produk India ke Fiji. Sedangkan produk China yang dikenal murah memang tengah merambah pelosok dunia termasuk ke kepulauan Fiji.
Ditengah persaingan itu, produk Indonesia dikenal sebagai barang berkualitas dengan harga yang cukup bersaing. Dominasi pengusaha etnis India dapat dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia keturunan India untuk memenuhi kebutuhan pasar Fiji. Harga akan menjadi lebih murah karena secara geografis Fiji lebih dekat ke Indonesia dari pada India. Produk Indonesia secara umum masih cukup kompetitif dibandingkan produk Australia dan Selandia Baru. Untuk memulai memperpendek jalur perdagangan, pengusaha Indonesia dapat membuka kantor pemasaran dan distribusi di Fiji. Kantor pemasaran ini juga dapat dimanfaatkan untuk menjangkau negara-negara lainnya di kawasan Pasifik. Peluang lain adalah dampak pembentukan Pacific Island Countries Trade Agreement (PICTA) beranggotakan seluruh negara di kawasan kecuali Australia dan Selandia Baru. Bila perjanjian ini mulai berlaku pada tahun 2012, maka terbentuklah perdagangan bebas antara negara-negara anggota. Dengan menjadikan Fiji sebagai penghubung, produk Indonesia menembus pasar negara Pasifik lainnya. Pemerintah sementara paska kudeta Desember 2006 mencanangkan kebijakan Look North Policy yaitu memfokuskan hubungan dengan negara-negara Asia. Kondisi ini juga dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk membuka hubungan dagang langsung dengan Fiji. Dalam Trade Expo Indonesia ke-22 tahun 2007, sebanyak 17 orang pengusaha Fiji datang ke pameran tersebut. “Nilai transaksi yang dihasilkan sebesar US$ 286.400 untuk produk kerajinan tangan, gift serta mebel” ujar sebuah sumber di KBRI Suva. Jumlah ini mengalami peningkatan besar bila dibandingkan dengan nilai transaksi Fiji dalam pameran yang sama tahun 2006, yaitu hanya US$ 45.000. Melihat prospek negara ini, tidak ada salahnya mulai memikirkan ekspansi dan membuka agen pemasaran di Fiji. Lihatlah China, dimanapun ada peluang kecil atau besar tetap digarapnya. * Robert Sitorus, Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Suva
|