|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 01 April, 2008
|
Perekonomian negara kawasan Asia Tengah yang dulunya merupakan bagian dari Uni Soviet (Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Turkmenistan dan Tadjikistan) sudah mengalami kemajuan pesat, terutama dalam liberalisasi perdagangan dengan masyarakat internasional. Sektor perdagangan penting Asia Tengah seperti minyak dan gas, pertambangan, pertanian, telekomunikasi, energi, industri baja dan tembakau telah membuka kawasan itu terhadap pasar internasional. Hal ini sudah berlangsung selama sepuluh tahun terakhir, pasca peralihan sistim perekonomian mereka dari sosialis menjadi kapitalis. Latar belakang sejarah politik masyarakat wilayah ini merupakan perpaduan antara latar belakang Islam dan Timur. Budaya berbisnis di Asia Tengah juga hasil campuran unik antara imbas peninggalan budaya sosialis Uni Soviet dengan etika dan ramah-tamah khas Timur. Dalam berhubungan dengan mitra dagang dari negara-negara Asia Tengah, ada baiknya kita memperhatikan beberapa etika dalam berbisnis sebagai berikut.
Pakaian Walaupun masyarakat Asia Tengah mayoritas beragama Islam, namun adat kebiasaan yang ditampilkan dalam berpakaian dan berbisnis cukup moderat. Sesuai dengan formalitas kebiasaan ala Russia, pakaian yang umum digunakan dalam pertemuan resmi dan rapat biasanya berupa business suit three piece ala Barat, dengan model dan warna konservatif. Hal ini berlaku bagi pria maupun wanita. Jadi mitra dagang perempuan tidak harus mengenakan busana muslim, karena pemakaian setelan jas dan rok selutut pun sudah dianggap cukup rapih dan sopan. Mayoritas wanita dari Asia Tengah merupakan masyarakat Muslim yang moderat. Artinya peran perempuan dalam dunia bisnis sudah dianggap sebagai hal yang wajar dan bahkan esensial bagi kemajuan bisnis di kawasan tersebut. Jadi jangan segan menggandeng bisnis lokal yang dipimpin perempuan, dan sebaliknya tidak perlu segan mengirim delegasi bisnis seorang perempuan.
Kartu nama dan Protokol Formalitas awal dalam berbisnis dengan mitra dagang Asia Tengah sangat mementingkan peran kartu nama dan protokol. Hal ini merupakan imbas peninggalan birokrasi sosialis Russia, dimana kedudukan dan jabatan lawan bicara dipandang sebagai hal yang penting dan harus saling menyesuaikan. Dalam pertemuan pertama dengan mitra dagang, setelah penyambutan yang relatif formal, hal pertama yang akan dilakukannya adalah memberikann kartu nama. Pemberian kartu nama dilakukan secara timbal balik, yang menerima sebaiknya segera memberikan kartu namanya. Biasanya setelah itu akan diikuti dengan sambutan dari seorang pejabat senior dari mitra dagang setempat, yang akan memberi paparan umum mengenai latar belakang, bentuk dan keunggulan bisnis mereka. Menyambung sekapur sirih, mereka baru akan memasuki inti pembicaraan yang mengupas keinginan dan potensi untuk bekerjasama dengan calon investor / mitra dagang asing. Hal ini juga sebaiknya diperlakukan secara resiprokal. Setelah paparan dari mereka, kita juga seharusnya sudah mempersiapkan diri untuk memberi sambutan dan penjelasan mengenai potensi dan keunggulan bisnis kita, serta menunjukkan keinginan kuat untuk bekerja sama dengan mereka.
Bahasa Tubuh dan Etika Berbicara Etika bahasa tubuh yang berlaku dalam melakukan presentasi atau saat pengenalan awal di Asia Tengah seusai dengan norma formal kebiasaan Barat. Antara lain dengan berjabat tangan dengan erat, melakukan eye contact dengan lawan bicara, dan mempresentasikan diri dengan percaya diri namun tidak berlebihan. Namun dalam berdialog dengan lawan bicara, mereka masih mengakar pada adat kebiasaan Timur. Antara lain dengan banyak berbasa-basi di depan, upaya mengenal mitra dagang dalam tataran personal (menanyakan keluarga, keseharian, dsb), santun dalam mengemukakan pendapat (selisih pendapat tidak dikemukakan secara frontal), saling mengapresiasi upaya humor lawan bicara, dan menjauhkan diri dari kesan superior atau sombong. Seperti halnya sifat kebiasaan orang Timur pada umumnya, orang Asia Tengah juga masyarakat yang kurang suka bila lawan bicaranya terkesan ’mengajari’ apalagi memandang sebelah mata. Walaupun mungin banyak ditemui kendala dalam berbisnis, hindari pemilihan kata yang mengesankan bahwa mereka tidak setara atau bahkan ’tertinggal’. Salah dalam berucap dapat ditanggapi secara dingin atau bahkan emosional, dan dijamin pertemuan bisnis selanjutnya tidak akan berjalan lancar.
Ramah Tamah dan Bersosialisasi Dalam berbisnis dengan mitra dagang Asia Tengah, kita perlu mengerti etika beramah tamah sesuai budaya Timur. Pada dasarnya orang Timur senang hidup bermasyarakat dan bersosialisasi. Mereka juga masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai keluarga, memiliki penghormatan tinggi terhadap senioritas, dan memiliki perasaan kedaerahan dan kelompok yang kuat. Semua ini akan tercermin dalam cara mereka melakukan bisnis. Jangan heran kalau pada tahap penjajakan, kita dituntut untuk menghadiri banyak acara hiburan dan makan bersama agar dapat saling mengenal dan bernegosiasi halus. Ibaratnya orang pacaran, kalau kehadiran kita diterima dengan baik, maka kemungkinan besar mitra kita akan mencoba mengeskalasi hubungan kerjasama tersebut. Mereka dengan antusias akan menjamu kita di rumahnya, mengajak kita berkenalan dengan keluarga, berupaya mengenal kita secara personal bahkan hingga curhat personal kepada kita. Luangkanlah waktu untuk melakukan semua ini, karena dengan pendekatan secara personal dan emosional seperti ini sangat membantu dalam melancarkan kerjasama dengan mitra dagang kita. Hal ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kita terhadap adat kebiasaan mereka. Apabila di kemudian hari ditemui kendala, dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan saling pengertian. Dengan memperhatikan budaya dan norma berbisnis yang berlaku di Asia Tengah, diharapkan dapat melancarkan kerjasama dengan mitra dagang setempat dan menjadikan bisnis berjalan dengan effektif dan optimal.
|