Diam-diam ternyata Deplu menyimpan bakat-bakat terpendam di bidang
menari. Salah satunya adalah Esti Andayani, Direktur Kerjasama Teknik.
Dibalik pembawaannya yang kalem dan anggun, wanita kelahiran Yogyakarta
ini menguasai dasar macam-macam tarian seperti cha-cha, waltz hingga
poco-poco. “Sewaktu kecil yang saya pelajari pertama kali adalah tari
Jawa. Karena suka akhirnya secara bertahap mempelajari tarian lainnya”
ujarnya bersemangat.
Hobi
menari dari usia dini ternyata diteruskan sampai sekarang. Bahkan saat
ditempatkan di Jenewa lulusan FISIP UI ini pernah mengambil kursus dansa
ballroom selama 3 bulan di musim panas. “Karena kesibukan
pekerjaan belajarnya pun on and off. Alhasill terus-menerus masih
di tingkat dasar alias basic“ akunya dengan nada merendah. Tak
hanya gerakan tarian, wanita berparas ayu ini pun dengan fasih
menjelaskan sejarah terciptanya suatu tarian. “Dansa Tango Argentina
sebenarnya lahir dari rumah bordil. Maka dari itu antara pria dan wanita
jaraknya sangat dekat, tidak seperti tarian Tango standar ballroom”
jelasnya kepada AKSES.
Mengaku
paling menyukai tarian Latin tidak heran bila Ibu Esti, begitu sering
disapa, menjadi anggota klub dansa Salsa La Pareja. “Dulu
sepulang kerja saya sempatkan ikut latihan di Kafe Yasmin di Pasar
Festival. Lumayan kan daripada macet-macet di jalan? Tapi
sekarang susah cari waktu luangnya” tuturnya sambil terkekeh.
Berbekal
pengalamannya di bidang tarian, direktur cekatan ini akhirnya didapuk
sebagai pelatih dadakan untuk staf Deplu yang berminat belajar tarian
poco-poco. “Sebenarnya saya tidak bakat mengajar karena cenderung pelupa
dan hanya tahu variasi yang standar. Saya hanya menyediakan kaset musik,
merekalah yang aktif mengembangkan variasi lain” ujarnya santai. Tak
disangka dari latihan inilah sebanyak 6 variasi tarian poco-poco telah
tercipta. Untuk ke depannya penggemar fitness ini pun mengharapkan ada
sanggar tari di Deplu. “Seorang diplomat harus bisa menari meski hanya
tingkat dasar karena tarian merupakan salah satu alat diplomasi yang
ampuh, loh” imbuhnya mantap. Semoga saja dapat terwujud, amin...
Meski selalu
dikelilingi security officers yang super ketat dan terkesan
angker, tapi senyumnya tak pernah kering. Wajah yang kebapakan, rambut
yang keperakan ditambah kesantunan perilakunya, senantiasa menciptakan
kehangatan tersendiri bagi para tamunya. Bicaranya lancar, apa adanya
serta tanpa basa basi. Itulah kesan pertama AKSES saat bertandang ke
kediaman Mahmoud Abbas yang sederhana tapi nyaman di daerah perbukitan
kota Amman, Yordania, Juli lalu.
Ia dikenal
dengan sebutan Abu Mazen, Presiden Otoritas Nasional Palestina yang
selalu tampak fit di setiap kesempatan. Sebagai salah satu jajaran
puncak Fatah, optimisme hidup selalu tergambar dalam setiap ucapannya
meski urusan yang dihadapi bukan soal enteng. Mulai dari negosiasi
dengan Israel yang cenderung alot hingga penyelesaian konflik internal
yang rumit. ”Saya selalu bersemangat dan tidak akan menyerah kepada
keadaan,” akunya mantap. Untuk mencari solusi terbaik bagi rakyat
Palestina, ia bahkan rela pergi tanpa kenal lelah dan berkawan dengan
siapapun.
Kekuatan
besar dalam dirinya antara lain didapatkan dari rekan-rekan lamanya.
Mereka adalah pewaris inspirasi bagi sebuah perjuangan untuk meraih
kemerdekaan. ”Percaya tidak, saya masih ingat betul Mr. Natsir dengan
peci hitamnya yang khas. Juga kota Bandung yang menggelorakan semangat
kemerdekaan. Jujur saja, saya ingin selalu berbagi dengan Presiden dan
rakyat Indonesia,” ujarnya dengan mimik yang sungguh-sungguh. Kalau
begitu marhaba deh.
Seandainya
ada salah satu jawaban ganda dari sebuah pertanyaan, siapakah gerangan
pejabat Deplu yang kecil, manis, imut-imut tapi jago yoga? Jawaban yang
sahih tentu Kenssy Dwi Ekaningsih. Ibu dua putra ini selalu tampak
santai dan tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda stres di wajahnya
sepanjang hari. Senyumnya mengembang dan seolah-olah semua persoalan
enteng baginya. “Semua itu kan terpulang pada manajemen diri dalam
menyikapi sesuatu,” ujarnya kepada AKSES suatu hari.
Usut
punya usut, Sekretaris Ditjen Aspasaf ini ternyata memiliki banyak
kelebihan dari sisi spiritual dibanding sebagian lainnya. Jiwanya kental
menyatu dengan tradisi Jawa Yogyakarta diwariskan oleh almarhum sang
ayah. Karenanya, sejak kanak-kanak, jari-jarinya yang lentik telah fasih
memainkan aneka peralatan musik dan tarian tradisional. “Seni membuat
manusia lebih manusiawi dan mampu melihat sesuatu dari banyak aspek,”
katanya mengungkapkan pendapat pribadinya.
Itu
semua karena sang ayah adalah seorang dosen kampiun yang mengajarkan
kesenian Jawa di manca negara. Ketika pulang dari Amerika, didirikanlah
sanggar tari di Yogyakarta dengan para murid bule dan biaya gratis.
Bahkan sampai saat ini, sanggar tersebut masih aktif dan dihidupi
putra-putri almarhum. “Hari bahagia saya datang manakala punya waktu
cukup untuk menabuh gamelan atau mendengarkan gending-gending Jawa,”
ujarnya dengan mimik serius.
Selain itu,
keahlian yoga juga ditularkan almarhum. Olah
raga asal India ini bisa dipraktekkan di mana saja, tanpa mengenal
waktu. Bahkan, saat di pesawat terbangpun, mantan Kepala Bidang Ekonomi
KBRI Bangkok ini tidak lupa memainkan berbagai jurus tanpa diketahui
penumpang sebelahnya. Hanya saja, satu hal yang tidak pernah
dipraktekkannya, yakni menumpukan kepalanya sebagai kaki dan kaki
sebagai kepala. “Kalau itu saya lakukan, anak-anak saya pun pada lari
semua,” katanya mengakhiri pembicaraan.
Siapa bilang
jadi Duta Besar itu berat? Sungguh enteng menurut pengalaman HM.
Rozy Munir, mantan
Menteri yang sekarang menjabat Dubes RI untuk Qatar. Meskipun harus
menjalankan roda birokrasi dan meningkatkan hubungan kerjasama bilateral
Qatar - Indonesia, semua itu jauh lebih ringan dibanding kesibukan
sebelumnya. Sewaktu menjabat
peneliti di UI, Ketua BKPM maupun Panwaslu Pusat misalnya, nyaris semua
waktunya tersita. “Boro-boro
bisa rileks, berangkat pagi-pagi dan baleknya baru tengah malam. Dinamis
sih, tapi kadang stres” akunya sambil menunjukkan mimiknya yang serius.
Kini, saat
menjadi Duta Besar, waktu yang dimilikinya cukup longgar sehingga
kualitas hidupnya bisa ditingkatkan. Tidak heran bila wajahnya tidak
pernah tampak tegang dan selalu penuh senyum. Keluarganya pun
mendapatkan perhatian penuh darinya. “Di Doha ini, pertemuan saya dengan
keluarga yang intens membuat saya merasa inilah waktu paling berharga
dalam hidup,” kata Dubes yang humoris dan tidak suka dengan protokoler.So,
jangan heran bila para tamu-tamunya sering disuguhi aneka lelucon segar
sambil menyantap makanan khas Arab di salah satu sudut kota Doha yang
modern.
Sebagai
contoh, suatu ketika ia melontarkan alasan dasar ketidakcocokan antara
calon temanten Jawa-Batak dari sisi budaya. Ketika keluarga Batak
melakukan tes cara makan calon menantu asal Solo, kontan kecewa berat
dan murung. ”Kalau cara makannya saja lelet begitu, bagaimana dengan
kerjanya nanti. Sudahlah, putuskan saja tunanganmu itu,” kata calon
mertua asal Medan mengomentari cara makan calon menantu yang malu-malu.
Sebaliknya, ketika
terjadi tes makan calon menantu laki-laki asal Siantar di Jogja, calon
mertua yang Jawa-pun tidak kalah gusarnya. ”Bagaimana bisa punya menantu
Batak. Baru kenal saja makannya sudah telap-telep dan segunung.
Apa jadinya kalau kawin nanti. Bagian saya bisa-bisa juga diembat,”
cerita Rozy Munir yang disambut derai tawa tamunya.