HomeTentang kamiDari redaksi Surat pembaca   Kritik dan saran
aksesdeplu.com resmi online 1 Desember 2007                                                               AKSES majalah triwulan Ditjen ASPASAF Deplu untuk UKM Indonesia                                                 AKSES mengalirkan info peluang usaha di luar negeri dengan bahasa populer                                                              AKSES perdana terbit tanggal 2 Mei 2006                                                      AKSES menerima tulisan tentang peluang bisnis di luar negeri. Kirim artikel Anda dengan foto terkait ke akses@deplu.go.id                                               Redaksi AKSES mengharapkan bantuan teman2 di Pewakilan untuk mengirimkan tulisan re berbagai kegiatan promosi di negara akreditasi masing2 guna dimuat di rubrik berita terkini, kirimkan artikel tsb ke akses@deplu.go.id

 

Edisi X NOPEMBER 2008

Laporan utama

Wawancara

Info Pasar

Kontak usaha

Bursa kerja

Kiat-kiat

Renungan

Hukum

S o r o t

Jalan-jalan

F i g u r

Apresiasi

Siapa mengapa

Agenda

Alamat Perwakilan RI

 

 

 

Departemen Luar Negeri

Daftar Usaha Kecil & Menengah

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

Indonesian Trade Promotion Center

Kementerian Koperasi & UKM

UKM Online

 

 

 

Anda pengunjung ke

provided by hit-counter-download.com

sejak 1 Oktober 2007

 

 

Last modified 12 November, 2008

 

 

 

Esti Andayani

Terpaksa melatih dansa

Oleh: Noviyanti Nurmala

Diam-diam ternyata Deplu menyimpan bakat-bakat terpendam di bidang menari. Salah satunya adalah Esti Andayani, Direktur Kerjasama Teknik. Dibalik pembawaannya yang kalem dan anggun, wanita kelahiran Yogyakarta ini menguasai dasar macam-macam tarian seperti cha-cha, waltz hingga poco-poco. “Sewaktu kecil yang saya pelajari pertama kali adalah tari Jawa. Karena suka akhirnya secara bertahap mempelajari tarian lainnya” ujarnya bersemangat.

Hobi menari dari usia dini ternyata diteruskan sampai sekarang. Bahkan saat ditempatkan di Jenewa lulusan FISIP UI ini pernah mengambil kursus dansa ballroom selama 3 bulan di musim panas. “Karena kesibukan pekerjaan belajarnya pun on and off. Alhasill terus-menerus masih di tingkat dasar alias basic“ akunya dengan nada merendah. Tak hanya gerakan tarian, wanita berparas ayu ini pun dengan fasih menjelaskan sejarah terciptanya suatu tarian. “Dansa Tango Argentina sebenarnya lahir dari rumah bordil. Maka dari itu antara pria dan wanita jaraknya sangat dekat, tidak seperti tarian Tango standar ballroom” jelasnya kepada AKSES.

Mengaku paling menyukai tarian Latin tidak heran bila Ibu Esti, begitu sering disapa, menjadi anggota klub dansa Salsa La Pareja. “Dulu sepulang kerja saya sempatkan ikut latihan di Kafe Yasmin di Pasar Festival. Lumayan kan daripada macet-macet di jalan? Tapi sekarang susah cari waktu luangnya” tuturnya sambil terkekeh.

Berbekal pengalamannya di bidang tarian, direktur cekatan ini akhirnya didapuk sebagai pelatih dadakan untuk staf Deplu yang berminat belajar tarian poco-poco. “Sebenarnya saya tidak bakat mengajar karena cenderung pelupa dan hanya tahu variasi yang standar. Saya hanya menyediakan kaset musik, merekalah yang aktif mengembangkan variasi lain” ujarnya santai. Tak disangka dari latihan inilah sebanyak 6 variasi tarian poco-poco telah tercipta. Untuk ke depannya penggemar fitness ini pun mengharapkan ada sanggar tari di Deplu. “Seorang diplomat harus bisa menari meski hanya tingkat dasar karena tarian merupakan salah satu alat diplomasi yang ampuh, loh” imbuhnya mantap. Semoga saja dapat terwujud, amin...

 

 

Mahmoud Abbas

Tak kenal kamus menyerah

Oleh : M. Aji Surya

Meski selalu dikelilingi security officers yang super ketat dan terkesan angker, tapi senyumnya tak pernah kering. Wajah yang kebapakan, rambut yang keperakan ditambah kesantunan perilakunya, senantiasa menciptakan kehangatan tersendiri bagi para tamunya. Bicaranya lancar, apa adanya serta tanpa basa basi. Itulah kesan pertama AKSES saat bertandang ke kediaman Mahmoud Abbas yang sederhana tapi nyaman di daerah perbukitan kota Amman, Yordania, Juli lalu.

Ia dikenal dengan sebutan Abu Mazen, Presiden Otoritas Nasional Palestina yang selalu tampak fit di setiap kesempatan. Sebagai salah satu jajaran puncak Fatah, optimisme hidup selalu tergambar dalam setiap ucapannya meski urusan yang dihadapi bukan soal enteng. Mulai dari negosiasi dengan Israel yang cenderung alot hingga penyelesaian konflik internal yang rumit. ”Saya selalu bersemangat dan tidak akan menyerah kepada keadaan,” akunya mantap. Untuk mencari solusi terbaik bagi rakyat Palestina, ia bahkan rela pergi tanpa kenal lelah dan berkawan dengan siapapun.

Kekuatan besar dalam dirinya antara lain didapatkan dari rekan-rekan lamanya. Mereka adalah pewaris inspirasi bagi sebuah perjuangan untuk meraih kemerdekaan. ”Percaya tidak, saya masih ingat betul Mr. Natsir dengan peci hitamnya yang khas. Juga kota Bandung yang menggelorakan semangat kemerdekaan. Jujur saja, saya ingin selalu berbagi dengan Presiden dan rakyat Indonesia,” ujarnya dengan mimik yang sungguh-sungguh. Kalau begitu marhaba deh.

 

Kenssy D. Ekaningsih

Spiritulisme, Yoga dan Tari

Oleh : M. Aji Surya

Seandainya ada salah satu jawaban ganda dari sebuah pertanyaan, siapakah gerangan pejabat Deplu yang kecil, manis, imut-imut tapi jago yoga? Jawaban yang sahih tentu Kenssy Dwi Ekaningsih. Ibu dua putra ini selalu tampak santai dan tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda stres di wajahnya sepanjang hari. Senyumnya mengembang dan seolah-olah semua persoalan enteng baginya. “Semua itu kan terpulang pada manajemen diri dalam menyikapi sesuatu,” ujarnya kepada AKSES suatu hari.

Usut punya usut, Sekretaris Ditjen Aspasaf ini ternyata memiliki banyak kelebihan dari sisi spiritual dibanding sebagian lainnya. Jiwanya kental menyatu dengan tradisi Jawa Yogyakarta diwariskan oleh almarhum sang ayah. Karenanya, sejak kanak-kanak, jari-jarinya yang lentik telah fasih memainkan aneka peralatan musik dan tarian tradisional. “Seni membuat manusia lebih manusiawi dan mampu melihat sesuatu dari banyak aspek,” katanya mengungkapkan pendapat pribadinya.

Itu semua karena sang ayah adalah seorang dosen kampiun yang mengajarkan kesenian Jawa di manca negara. Ketika pulang dari Amerika, didirikanlah sanggar tari di Yogyakarta dengan para murid bule dan biaya gratis. Bahkan sampai saat ini, sanggar tersebut masih aktif dan dihidupi putra-putri almarhum. “Hari bahagia saya datang manakala punya waktu cukup untuk menabuh gamelan atau mendengarkan gending-gending Jawa,” ujarnya dengan mimik serius.

Selain itu, keahlian yoga juga ditularkan almarhum. Olah raga asal India ini bisa dipraktekkan di mana saja, tanpa mengenal waktu. Bahkan, saat di pesawat terbangpun, mantan Kepala Bidang Ekonomi KBRI Bangkok ini tidak lupa memainkan berbagai jurus tanpa diketahui penumpang sebelahnya. Hanya saja, satu hal yang tidak pernah dipraktekkannya, yakni menumpukan kepalanya sebagai kaki dan kaki sebagai kepala. “Kalau itu saya lakukan, anak-anak saya pun pada lari semua,” katanya mengakhiri pembicaraan.

 

 

 

HM Rozy Munir

The best time in life

Oleh : M. Aji Surya

 

Siapa bilang jadi Duta Besar itu berat? Sungguh enteng menurut pengalaman HM. Rozy Munir, mantan Menteri yang sekarang menjabat Dubes RI untuk Qatar. Meskipun harus menjalankan roda birokrasi dan meningkatkan hubungan kerjasama bilateral Qatar - Indonesia, semua itu jauh lebih ringan dibanding kesibukan sebelumnya. Sewaktu menjabat peneliti di UI, Ketua BKPM maupun Panwaslu Pusat misalnya, nyaris semua waktunya tersita. “Boro-boro bisa rileks, berangkat pagi-pagi dan baleknya baru tengah malam. Dinamis sih, tapi kadang stres” akunya sambil menunjukkan mimiknya yang serius.

Kini, saat menjadi Duta Besar, waktu yang dimilikinya cukup longgar sehingga kualitas hidupnya bisa ditingkatkan. Tidak heran bila wajahnya tidak pernah tampak tegang dan selalu penuh senyum. Keluarganya pun mendapatkan perhatian penuh darinya. “Di Doha ini, pertemuan saya dengan keluarga yang intens membuat saya merasa inilah waktu paling berharga dalam hidup,” kata Dubes yang humoris dan tidak suka dengan protokoler. So, jangan heran bila para tamu-tamunya sering disuguhi aneka lelucon segar sambil menyantap makanan khas Arab di salah satu sudut kota Doha yang modern.  

Sebagai contoh, suatu ketika ia melontarkan alasan dasar ketidakcocokan antara calon temanten Jawa-Batak dari sisi budaya. Ketika keluarga Batak melakukan tes cara makan calon menantu asal Solo, kontan kecewa berat dan murung. ”Kalau cara makannya saja lelet begitu, bagaimana dengan kerjanya nanti. Sudahlah, putuskan saja tunanganmu itu,” kata calon mertua asal Medan mengomentari cara makan calon menantu yang malu-malu.

Sebaliknya, ketika terjadi tes makan calon menantu laki-laki asal Siantar di Jogja, calon mertua yang Jawa-pun tidak kalah gusarnya. ”Bagaimana bisa punya menantu Batak. Baru kenal saja makannya sudah telap-telep dan segunung. Apa jadinya kalau kawin nanti. Bagian saya bisa-bisa juga diembat,” cerita Rozy Munir yang disambut derai tawa tamunya.