|
Edisi VIII Maret 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 30 March, 2008
|
Dengan cadangan minyak lebih dari 21 milyar barel dan jumlah penduduk sekitar 15 juta, serta pendapatan perkapita sebesar US$ 7.000, Kazakhstan adalah pasar yang menggiurkan untuk segera digarap. Kazakhstan adalah salah satu negara pecahan Uni Soviet yang disebut dengan Commonwealth of Independent States (CIS) di wilayah Asia Tengah. Pertumbuhan ekonomi negara ini belakangan terlihat cukup mengesankan. Dalam sepuluh tahun terakhir Kazakhstan telah mengalami transformasi yang mendasar, dari negara pasca Republik Sosialis Uni Soviet yang miskin menjadi negara anggota CIS yang ekonominya sangat dinamis. Setelah dijalankannya program reformasi ekonomi selama tahun 1995-1997, perekonomian mereka cenderung maju dengan pertumbuhan rata-rata 10%. Prestasi ini menjadikannya sebagai negara dengan perekonomian termaju diantara nagara-negara CIS lain. Kondisi tesebut dicapai karena kondisi politik dan keamanan stabil, sumber daya alam melimpah serta dilaksanakannya reformasi administrasi publik secara konsisten.
Dalam upaya menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah Kazakhstan menerapkan kebijakan pengembangan sektor industri berteknologi tinggi melalui penerapan Industrial Innovation Strategy bekerjasama dengan sektor usaha secara sinergis dan integral. Selain itu, keberhasilan mereka menjaga pertumbuhan ekonominya tidak terlepas dari pelaksanaan sejumlah kebijakan makro ekonomi dan didukung oleh kondisi eksternal yang kondusif terutama tingginya harga minyak. Berdasar Index of Economy Freedom yang dikeluarkan setiap tahunnya oleh Wall Street Journal, Kazakhstan juga termasuk negara yang masuk katagori mostly free. Penilaian tersebut mendasarkan pada 10 kebebasan ekonomi yaitu: kebebasan bisnis, keebasan perdagangan, kebebasan fiskal, kebebasan dari pemerintah, kebebasan moneter, kebebasan investasi, kebebasan finansial, property right, kebebasan dari korupsi dan buruh. Presiden Kazakhstan mengharapkan bahwa dalam waktu beberapa tahun kedepan Kazakhstan akan masuk ke dalam 50 negara maju dunia. Faktor-faktor pendukung antara lain adalah sektor industri yang mengalami perkembangan dan menyerap tenaga kerja sebanyak 325 ribu orang. Pada tahun 2006, perkembangan ekonomi Kazakhstan cukup stabil. Sejak 2003 pertumbuhannya mencapai sekitar 10% pertahun dan GDPnya pun meningkat 1,5 kali lebih cepat dari GDP Rusia. Awal Januari 2008, Wakil Perdana Menteri Kazakhstan Umirzak Shukeev menyatakan bahwa pendapatan perkapita tahun 2008 diramalkan mencapai US.$. 7.800,-. Pertumbuhan ekonomi yang cepat ini telah memberikan pengaruh positif bagi seluruh bagian masyarakat Kazakhstan termasuk tumbuhnya berbagai institusi politik, hukum dan sipil. Pemerintah Kazakhstan pun berharap dapat menjadi anggota WTO guna mengambil manfaat dari liberalisasi perdagangan dan investasi global. Guna memperbaiki kinerja perekonomian negaranya, sepanjang tahun 2007 Pemerintah Kazakhstan telah mengeluarkan kebijakan untuk menyederhanakan prosedur kepabeanan dan perpajakan dalam meminimalisasi tindakan korupsi serta mengamandemen undang-undang mengenai institusi perkreditan dan pencatatan kredit. Saat itu sempat ada rencana untuk mengeluarkan Undang-undang baru yang mengijinkan Pemerintah menghentikan kontrak kerjasama dengan para investor asing jika terjadi konflik. Rencana ini telah menimbulkan sejumlah kekhawatiran sejumlah investor asing. Pemerintah Kazakhstan telah menjatuhkan denda yang berat terhadap dua perusahaan energi atas tuduhan melanggar peraturan lingkungan serta terancam penghentian kontak kerja dengan pemerintah. Hubungan ekonomi antara Indonesia-Kazakhstan dalam perkembangannya berjalan baik walaupun masih memerlukan upaya-upaya aktif dalam meningkatkan hubungan kerjasama ekonomi dan perdagangan. Ekspor Indonesia ke Kazakhstan antara lain meliputi alat perekam atau reproduksi gambar, bagian pemutar kaset, minyak kelapa sawit dan turunannya, minyak kopra, tembakau, karet alam dan persenyawaan amino berfungsi oksigen. Sedangkan impor Indonesia dari Kazakhstan meliputi besi atau baja, produk setengah jadi besi atau baja bukan paduan dan susu pekat. Menurut data dari Badan Statistik Indonesia, neraca perdagangan kedua negara pada tahun 2006 mencapai US.$. 1,68 juta. Sedangkan hingga pertengahan tahun 2007 bernilai US.$. 5,27 juta. * Irwan Iding, Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Tashkent
|