|
Edisi VII Desember 2007
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 28 Desember, 2007
|
Malaysia adalah pasar yang menggiurkan bagi pengusaha Indonesia. Negeri Jiran berpendu-duk 25 juta jiwa itu, merupakan salah satu pasar yang gemuk bagi produk-produk ekspor Indonesia. Pendapatan per kapita mereka pun tinggi, mencapai US$ 13.000. Neraca perdagangan Indonesia - Malaysia selama lima tahun terakhir selalu menunjukkan surplus bagi Indonesia. Bahkan, tahun 2003, surplus perdagangan kita terhadap Malaysia mencapai angka US$ 1,3 milyar. Hitung-hitungan di atas hanya berdasar data ekonomi saja. Faktor kedekatan geografis dan kultural menjadi alasan lain untuk memaksimalkan potensi pasar kampung halaman Siti Nurhaliza tersebut. Karena Indonesia dan Malaysia berbatasan langsung, baik laut maupun darat, maka produk andalan kita relatif lebih mudah dipasarkan. Biaya pengiriman produk ekspor tentu tidak semahal jika pengusaha kita memasarkan produknya ke negeri Paman Sam atau ke Eropa, misalnya. Inilah faktor yang menguntungkan bagi pengusaha, khususnya usaha kecil dan menengah, yang ingin melebarkan sayap ke negara saudara serumpun ini. Tidaklah mengherankan jika faktor-faktor di atas membuat Malaysia sebagai negara tujuan ekspor nonmigas ke-lima Indonesia setelah Jepang, Amerika Serikat, Singapura dan Cina. Untuk periode Januari- Juni 2007 saja, angka ekspor non-migas Indonesia ke Malaysia sudah mencapai US$ 2 milyar. FURNITURE DAN HANDICRAFT Di antara produk ekspor nonmigas Indonesia yang jadi primadona adalah furniture dan handicraft. Indonesia yang kaya bahan baku berkualitas dan sumber daya manusia yang ahli di bidangnya, membuat furniture dan handicraftnya banyak diminati. Sebagai bukti, pengusaha Malaysia yang tergabung dalam Kuala Lumpur and Selangor Indian Chamber of Commerce and Industry (KLSICCI), datang ke Jawa Timur untuk menjalin kontak bisnis langsung dengan pengusaha Jawa Timur khususnya produsen furniture dan handicraft, akhir Oktober lalu. ’’Sebagai tahap awal kami membawa 20 delegasi untuk menjajaki sekaligus membuka perdagangan langsung dengan pebisnis dari Jatim,” ungkap Adolf Ludge, Presiden KLSICCI, sebagaimana dilansir oleh www.export-jatim.or.id. Ditambahkan dia, peluang kerja sama perdagangan di bidang selain furniture dan handicraft juga sangat terbuka. Selain itu, pihaknya sangat memfokuskan pada usaha kecil mengingat potensi produk industri yang berasal dari industri skala menengah ke bawah kedua daerah ini tidak jauh berbeda.
Dalam bidang produksi furniture dan handicraft, In KEJELIAN PENGUSAHA Potensi pengembangan pasar produk Indonesia ke Malaysia masih terbuka lebar. Yang dibutuhkan adalah kejelian pengusaha kita dalam mencari dan menyiasati peluang di Negeri Jiran tersebut. Kemiripan atau kesamaan budaya kedua negara ini, tentu merupakan nilai tambah yang bisa dimanfaatkan.
Produk-produk hasil pertanian Indonesia juga sangat potensial untuk melakukan penetrasi ke pasar Malaysia. Misalnya, mengekspor buah buahan, hasil pertanian serta produk olahannya. Rasa optimistis dan berani mencoba adalah modal yang tak kecil, mengingat pasar komoditas buah-buahan di Malaysia sudah dirajai oleh pengusaha Thailand. Tentu saja keberanian ini harus disertai dengan kualitas produk yang prima. Beberapa waktu lalu Indonesia sempat kebanjiran produk makanan asal Cina. Maka, tidak ada salahnya kita mencoba melakukan hal serupa terhadap pasar Malaysia. Produk-produk sejenis ini sangat beragam dan banyak dihasilkan oleh UKM Indonesia. Berbagai produk makanan olahan, terutama yang bernuansa tradisional, masih dapat dimaksimalkan pemasarannya. Hampir setiap daerah di Indonesia punya makanankhas yang sering dibawa sebagai oleh-oleh bagi orang yang berkunjung ke suatu kota. Maka, tak ada salahnya pengusaha makanan tradisional kita mencoba peruntungan di pasar Malaysia. Memanfaatkan kesamaan selera juga dapat dilakukan pada sektor industri lain, misalnya, garmen/tekstil, produkproduk perhiasan dan furniture. Tapi, UKM kita harus rajin memantau perkembangan pasar dan perilaku konsumen di Malaysia. Perlu disimak pula tren yang sedang berlaku di sana. PRODUK ANDALAN UKM INDONESIA Dalam berbagai kesempatan pameran dagang bertaraf internasional, tidak jarang produk-produk UKM Indonesia mampu mencuri perhatian pengunjung. Yang memikat perhatian itu, umumnya, produk-produk yang berciri khas tersendiri. Nah, itulah yang tersimpulkan kala KBRI Kuala Lumpur dan KADIN Indonesia Komite Malaysia menyelenggarakan pameran “Trend Indonesia 2007” di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia, 10- 13 November 2007. Produk unggulan yang ditampilkan di pameran tersebut, antara lain, batik, produk kulit, kerajinan tangan, ikan hias, spa, furnitur kayu, minyak makan, perlengkapan kantor, kain bordir, perhiasan dan batu mulia, produk elektronik dan lain-lain.
PELUANG ‘EKSPOR’ WARALABA Perkembangan pesat dan mulai ketatnya persaingan industri waralaba Indonesia membuka peluang pemilik waralaba Indonesia berekspansi ke Malaysia. Pada pameran waralaba terungkap bahwa ada potensi untuk mengekspor waralaba Indonesia, khususnya produk makanan dan herbal (termasuk usaha rumah kecantikan), ke Malaysia. Beberapa waralaba asli Indonesia memang telah berhasil mengembangkan sayapnya ke Malaysia. Yaitu, mulai dari usaha rumah makan sampai salon mobil. Waralaba makanan merupakan salah satu jenis waralaba yang diminati banyak investor. Sebab, selera lidah orang Indonesia dan Malaysia tidak terlalu berbeda. Alasan lain, investasi peralatan pada waralaba semacam ini relatif lebih rendah dibandingkan waralaba yang menggunakan peralatan berteknologi tinggi dalam pengoperasiannya. Agaknya, peluang membuka waralaba di Malaysia, khususnya waralaba berskala kecil – menengah di Malaysia, masih cukup terbuka, karena industri waralaba di Malaysia masih didominasi oleh waralaba asing yang bermodal besar. Waralaba lokal Malaysia pun masih belum berkembang sepesat Indonesia. Kendalanya adalah waralaba lokal Malaysia masih terbentur pada mahalnya sewa lahan usaha yang mencapai US$ 5–8 per meter. Belum lagi oleh masih enggannya sektor perbankan Malaysia mengucurkan kredit pada waralaba lokal berskala kecilmenengah. “Sebagaimana hambatan hambatan tadi, franchise lokal di Malaysia sulit menyaingi brand asing yang ada. Tidak seperti di Indonesia, brand franchise local yang tidak besar pun bisa berkembang” ungkap Shahrul Aslan Mohd Zulkifli, CEO Malaysian International Franchise Sdn Bhd, dalam seminar “Franchise & License Indonesia Expo 2007” di Jakarta Convention Center, November lalu. SAATNYA UKM BERGERAK Melihat berbagai fakta di atas, rasanya tidak berlebihan jika sekarang dianggap sebagai saat yang tepat bagi UKM Indonesia melebarkan jejaring pasarnya ke Malaysia. Meskipun masih banyak kendala yang dihadapi oleh UKM Indonesia, toh peluang untuk mengekspor produk-produk potensial Indonesia sangat sayang dilewatkan. Untuk itu, diperlukan inisiatif dari UKM itu sendiri, serta dukungan dari berbagai unsur pemerintah daerah, departemen terkait dan pengusaha yang sudah lebih mapan, agar produk-produk UKM Indonesia dapat berjaya di Malaysia.
|