|
Edisi X NOPEMBER 2008
Anda pengunjung ke
sejak 1 Oktober 2007
Last modified 13 November, 2008
|
Diminati tapi susah masuk Oleh : Arief Fadillah* & Nuradi Noeri
Kopi Indonesia cukup diminati di pasar Korea Selatan namun masuk melalui negara ketiga. Peningkatan teknologi pengolahan kopi harus dilakukan agar peluang dapat langsung direbut. ANGIN musim gugur yang sejuk berhembus pelan. Daun-daun kering gemerisik melayang diantara orang yang lalu lalang di jalan. Malam belumlah larut, lampu-lampu toko di sepanjang jalan terlihat semarak warna warni. Lee Hye Rim membenamkan kedua tangannya ke saku jaket sambil mempercepat langkah. Gadis ini terlihat bergegas menyusuri blok jalan yang dipenuhi coffe shop dan rumah makan di daerah Yoido, Seoul. Sambil sesekali melihat jam tangannya, Hye-rim celingukan membaca papan-papan nama kedai kopi. Mahasiswi seni musik di sebuah universitas di Seoul ini akhirnya memasuki sebuah cafe. “Ososeyo...” (selamat datang) sapa pelayan ketika gadis ini melangkah masuk. Kedai kopi yang tidak seberapa besar namun mempunyai interior yang indah itu terlihat sesak oleh pengunjung yang umumnya anak muda. “Ya..! Hyerima, iriwa..!” (hei Hyerim, kesini !) teriak sekelompok remaja yang duduk di sudut ruangan dan Hye-rim pun tersenyum menghampiri mereka. Hye-rim dan kawan-kawannya itu adalah diantara sekian puluh juta orang Korea yang mengunjungi coffe shop dan mengonsumsi kopi setiap hari. Penduduk negeri ginseng ini memang gemar menghabiskan waktu di kedai kopi. Apartemen mereka umumnya kecil dan tidak nyaman untuk menerima tamu sehingga pertemuan di kedai kopi adalah pilihan yang disukai. Berbagai kegiatan dilakukan sambil meneguk kopi. Mulai dari kencan, diskusi, sampai urusan bisnis. Terkadang sampai larut malam bahkan dini hari. Memang tidak ada pembatasan waktu bagi pengunjung, mereka dapat duduk dan ngobrol sepuasnya sampai toko tutup. Suasana dan interior coffe shop di Korsel umumnya membuat orang betah duduk berlama-lama. Kebiasaan orang Korea minum kopi menjadi pasar potensial yang diperebutkan oleh para pelaku bisnis kedai kopi. Persaingan terlihat dari ragam produk kopi yang ditawarkan, interior ruangan yang indah, alunan musik dengan audio system yang prima serta fasilitas lainnya seperti internet gratis kepada pengunjung.
Pasar kopi Korsel Walaupun terdapat ratusan kedai kopi dan mesin pembuat minuman cepat saji (vending machine), Korsel tidak termasuk negara yang banyak mengonsumsi kopi. Dalam peringkat negara pengonsumsi kopi di dunia yang diterbitkan oleh organisasi kopi internasional (International Coffee Organization – ICO), Korsel mengonsumsi hanya 1,8 kg kopi per orang per tahun. Dibandingkan dengan Jepang, masyarakat negeri Sakura ini menghirup kopi dua kali lebih banyak yaitu sekitar 3 kg per orang per tahun. Penikmat kopi tertinggi adalah Luxembourg dan Finlandia yang mengonsumsi rata-rata 17 kg dan 12 kg per orang per tahun. Namun demikian permintaan akan impor kopi di Korsel terus membengkak tiap tahun. Hal ini seiring dengan semakin gembungnya kocek penduduk the land of morning calm ini yang terlihat dari peningkatan pendapatan perkapita. Tahun 2007 pendapatan perkapita Korsel telah mencapai lebih dari US$ 20 ribu, naik 8,9% dibandingkan tahun 2006. Semua kedai kopi di Korsel menjual kopi impor karena negara ini ternyata tidak menghasilkan biji kopi. Setidaknya sebanyak 16 negara termasuk Indonesia membanjiri pasar kopi Korsel. Sebuah lembaga konsultasi perdagangan terbesar di Korsel yaitu Korea International Trade Association (KITA) menyebutkan bahwa pengekspor kopi terbesar ke Korsel antara lain Vietnam, Colombia dan Brazil. Indonesia duduk di posisi ke-13 dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,58 juta pada tahun 2007. Hal yang menarik adalah sejumlah negara pengekspor kopi ke Korsel ternyata tidak mempunyai perkebunan kopi. Jepang, Spanyol dan Jerman bukanlah penghasil kopi tapi nilai ekspor kopi mereka ke Korsel melebihi Indonesia. Kok bisa? Ternyata sebagian besar kopi dunia yang berada di pasar Korsel masuk melalui negara ketiga, termasuk kopi Indonesia. Seperti negara maju lainnya, Korsel mempunyai kepedulian yang tinggi akan standar kesehatan. Hal ini berdampak pada ketatnya pengawasan akan produk impor terutama bahan makanan. Untuk produk kopi, Korsel menetapkan sejumlah kriteria tertentu. Antara lain persentase kadar air, warna, jumlah bakteri, warna tar dan lain lain. Di sisi lain, sebagian besar penghasil biji kopi adalah negara berkembang yang belum memiliki teknologi memadai untuk menghasilkan kopi sesuai standar negara maju. Kondisi ini dipandang oleh sejumlah negara maju sebagai peluang bisnis. Ratusan ton biji kopi dikapalkan ke sejumlah negara di Eropa, Amerika Serikat dan Jepang untuk diolah. Walaupun tetap menggunakan nama asli dan negara asalnya namun packing dan label yang tertempel menunjukkan di negara mana kopi itu diproses. Label inilah yang membuka pintu pasar negara maju lainnya karena dianggap sudah memenuhi kualifikasi mereka. Korsel adalah salah satu pasar potensial untuk produk kopi. Peningkatan nilai impor kopi Korsel dalam lima tahun terakhir cukup mencengangkan. Laporan KITA menunjukkan bahwa nilai impor kopi tahun 2003 dibandingkan dengan 2007 terdapat pelonjakan besar yaitu sebesar 81%. Untuk tahun 2008, nilai impor kopi sampai bulan Mei meningkat 46% dibandingkan periode yang sama tahun 2007. Peningkatan ini tidak hanya disebabkan oleh kenyataan bahwa 90% orang Korea minum kopi, namun jumlah kedai kopi serta mesin penyaji minuman hangat juga merebak. Disamping itu penjualan minuman kopi dalam kemasan meningkat drastis hingga mencapai 20% dari penjualan seluruh produk minuman.
Kopi Indonesia Hye-rim terlihat langsung hanyut dalam obrolan teman-temannya. Kalau saja sebelum masuk kedai kopi itu ia mendongak keatas, gadis itu akan melihat foto candi Borobudur di dinding kedai kopi di lantai dua. Aroma kopi Toraja atau Mandaeling dari Indonesia pun akan segera tercium ketika pengunjung membuka pintu kedai kopi itu. Ju Bean, demikian nama coffee shop itu, terlihat dipadati pengunjung ketika AKSES menyambanginya beberapa waktu lalu. Kopi Indonesia merupakan menu khusus dan tidak selalu tersedia di sini. “Secangkir kopi Toraja Kalosi kami jual seharga 13 ribu Won” ujar Bin, pemilik kedai kopi itu. Dengan kurs 1 Won = Rp. 7,56 maka harga secangkir kopi Toraja di Seoul adalah kurang lebih sebesar 98 ribu Rupiah. Harga yang mahal dibandingkan dengan kopi lainnya yang berkisar antara 5 ribu sampai 9 ribu Won per cangkir. Selain kopi, Bin nampak banyak tahu tentang Indonesia. “Ini hadiah dari Atase Perdagangan KBRI Seoul” ungkapnya mengenai foto candi Borobudur yang dipajang di tokonya. Letak kedai kopi ini memang hanya beberapa puluh meter dari gedung Kedutaan Besar RI di Seoul.
Ju Bean hanyalah salah satu diantara puluhan warung kopi di Korsel yang menyajikan kopi Indonesia. Atase Perdagangan KBRI Seoul mendata bahwa ada 10 importir kopi Indonesia di Korsel. Hampir semua importir mendatangkannya dari negara ketiga terutama Jerman (American Coffee Gmbh) dan Jepang. Jenis kopi Indonesia yang diimpor ke negeri kimchi ini antara lain Arabica Toraja/Kalosi, Mandaeling dan Java Dampit. Sebuah importir kopi Korsel yang sempat ditemui Atperdag KBRI Seoul yaitu Koiners International beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa sebagian besar kopi Indonesia diimpor dari Hamburg, Jerman. “Kami membutuhkan sekitar satu setengah kontainer kopi Indonesia setiap bulan” ujar pimpinan perusahaan ini. Pihak Koiners juga menyatakan bahwa saat permintaan akan kopi Indonesia meningkat. “Ada pembeli yang menginginkan 8 ton kopi Indonesia per bulan” ujarnya. Tentu saja dengan standar kualitas yang ditetapkan oleh otoritas setempat. Selain biji kopi atau ekstrak kopi panggang, pasar kopi Korsel juga diramaikan oleh kopi instan dalam kemasan kaleng, tetrapack maupun gelas. Data yang ada menyebutkan bahwa pangsa pasar minuman kopi instan mencapai 20% dari seluruh produk minuman Korsel. Perusahaan yang terbanyak menjual kopi instan adalah Dongsuh Food dengan produk unggulan kopi mix Maxim. Produk ini saat ini masih peringkat teratas dalam jumlah penjualan kopi di Korsel. Informasi yang diperoleh Atperdag KBRI Seoul menyatakan bahwa Dongsuh menggunakan kopi robusta asal Vietnam dan Indonesia untuk sebagian besar produknya. Satu lagi jenis kopi Indonesia yang belakangan mempunyai penggemar di Korsel, kopi luwak. Keunikan kopi yang “diproduksi” oleh binatang luwak ini nampak sangat menarik perhatian sebagian konsumen kopi Korsel. Namun jenis kopi ini langka di pasar Korsel, kalaupun ada harganya sangat mahal. Itupun diimpor dari Eropa atau negara lainnya. Kopi Indonesia diminati walaupun mahal dan jarang. Kalau mata rantai ke negara ketiga dapat dihilangkan, bukankah ini peluang besar? Ketika Hye-rim dan teman-temannya keluar dari kedai kopi, angin dingin berhembus kencang. Daun-daun yang menguning berterbangan menerpa mereka. “Oooh... cuwo...” ( ah dinginnya..) ujar gadis itu sambil merapatkan jaketnya dan mendongak keatas. Matanya terpaku pada foto candi Borobudur di dinding kedai kopi lantai atas. “Cogo moya...?” (gambar apa itu ?).
*Arief Fadhilah, Atase Perdagangan KBRI Seoul
|